
Aku menatap kotak kado berwarna biru yang diberikan oleh Arnold itu. Lalu dengan perlahan membukanya, dan mendapati ada banyak foto diriku di dalamnya. Aku mulai melihat satu persatu foto yang rata-rata memperlihatkan keseharian yang aku lakukan setelah memutuskan untuk bercerai dengan Arnold.
Tampaknya Arnold meminta seseorang untuk memotret diriku. Terbukti dari setiap foto itu menunjukkan bahwa seseorang yang memotret ku itu pasti mengikutiku sepanjang hari.
Di bagian paling bawah kotak, terdapat sebuah kertas ucapan. Perlahan aku mulai membacanya.
'Dear Velicia Arista....
Selamat ulang tahun yang ke 24. Aku mendoakan agar kau selalu sehat dan panjang umur. Terima kasih sudah mau bersabar menghadapi sikapku selama 3 tahun. Terima kasih karena selalu menjadi isteri yang terbaik untukku. Meski aku selalu bersikap buruk padamu.
Aku tidak bisa memberikan hadiah yang istimewa padamu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku akan selalu mencintaimu. Aku sadar bahwa aku sudah sangat jahat kepadamu. Tapi, satu hal yang ingin aku sampaikan, bahwa aku sama sekali tidak mengetahui tentang kehamilan mu di masa lalu. Apalagi sampai aku yang mencelakai mu hingga membuatmu keguguran.
Kemarin, Viona telah mengakui semuanya bahwa semua itu adalah ulahnya yang membuatmu keguguran. Meski begitu, kau mungkin tidak perduli lagi dengan apa yang aku katakan. Tapi sekali lagi aku katakan padamu. Aku sangat mencintai dirimu. Lihatlah sebagai buktinya, aku selalu mengikuti kemanapun kamu pergi. Untuk memastikan bahwa kamu akan baik-baik saja.
Dan satu hal yang paling penting yang akan aku katakan padamu, AKU TIDAK AKAN MENYERAH. Aku akan membuatmu kembali padaku.'
Cih, awalnya aku pikir Arnold akan meminta maaf dan mau melepaskan aku. Nyatanya pria itu tetap saja egois. Mengenai masalah keguguran yang aku alami dulu tetap saja karena kesalahannya yang tak bisa melindungi ku.
Aku begitu kesal hingga tak menyadari bahwa Andreas sudah berdiri di sampingku sejak tadi.
"Hadiah dari Arnold?" Tanya Andreas yang aku jawab dengan anggukan.
Tampak raut wajahnya berubah seperti orang ya g tengah kecewa. Namun, dengan cepat berubah dengan menampilkan senyumannya.
Acara ulang tahun itupun usai tepat pukul 12 malam. Dan kejutan yang aku dapat selanjutnya adalah ternyata Andreas sudah menyewa satu hotel ini untuk sekeluarga. Hingga aku tak perlu pulang ke rumah.
"Tidurlah." Ucap Andreas saat mengantarku ke depan pintu kamar yang disewa khusus untukku.
Sebelum masuk, Andreas mencium keningku dengan lembut dan lumayan lama. Setelah itu ia pergi dan tak menengok ke belakang lagi.
Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati semua kado yang diberikan orang-orang sudah terkumpul di atas tempat tidur. Seperti anak kecil yang sangat bahagia diberi kado yang banyak, seperti itulah aku saat ini. Aku begitu bersemangat membuka satu persatu hadiah yang diberikan orang-orang.
Mungkin semua orang yang hadir mengetahui bahwa aku menyukai warna biru, hingga semua hadiah yang diberikan dominan berwarna biru. Mulai dari dress, tas, hingga ada yang memberikanku boneka kecil berwarna biru.
Setelah lelah membuka semua hadiah, aku mulai membaringkan tubuhku. Masih dengan gaun Cinderella aku akhirnya tidur dengan lelap.
********
Hari ini, aku tengah membantu Merry di kedai teh nya. Merry tengah mengadakan promosi besar-besaran untuk memberitahu kepada para pelanggannya tentang kedai tehnya yang memiliki cabang di dalam taman bermain.
__ADS_1
Setelah acara promosi usai, aku memilih duduk di kursi pojokan ruangan kedai teh sambil sesekali menikmati teh buatan Merry. Saat tengah asyik menyesap secangkir teh hijau, aku tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Viona di hadapanku.
'Ada apa lagi ini?' pikirku.
Viona lalu duduk begitu saja tanpa aku persilahkan. Aku menatapnya dengan tajam.
"Maafkan aku." Ucap Viona tanpa basa-basi.
"Kau minta maaf karena apa?" Tanyaku padanya.
"Aku terlalu banyak melakukan kesalahan padamu. Termasuk merebut Arnold darimu. Kau pasti sudah mengetahui bahwa akulah yang bertanggung jawab atas gugurnya kandungan mu dahulu."
Ucapan Viona kembali membuka luka lamaku dan membuatnya menjadi perih lagi.
"Aku tahu." Balasmu dengan cuek.
Terlihat raut wajah Viona begitu kaget mendengar jawaban dariku.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau pikir aku akan marah-marah dan menyakitimu untuk membalas perbuatan mu?" Ucapku.
Viona tertunduk, untuk pertama kalinya aku dapat melihat raut wajah bersalah dari wanita itu. Selama ini dia selalu menampakkan wajah sombongnya dihadapanku.
"Jadi kau sudah tidak menyalahkan Arnold?" Tanya Viona.
Bagiku Arnold memang tetap bersalah. Kenapa? Karena dia tak pernah memperhatikan aku. Saat aku keguguran itu, aku masuk rumah sakit dan harus di rawat inap selama 2 hari. Apa dia pernah menanyakan dimana aku selama dua hari tak pulang-pulang? Nyatanya tidak. Dia malah sibuk dengan Viona.
"Velicia, apa kau membantuku?" Tanya Viona lagi.
"Apa kau serius? Kau ingin meminta bantuan dariku?"
Viona mengangguk, dia lalu membuka kacamata hitam besar yang ia gunakan. Tampak lebam berwarna ungu kehitaman dibawah matanya yang juga bengkak.
"Ada apa denganmu?" Tanyaku dengan terkejut.
"Arnold yang melakukan semua ini padaku. Dia menanyakan tentang keguguran yang terjadi padamu dan aku menceritakan yang sesungguhnya terjadi. Tapi yang aku dapat dia malah memukuliku. Kau tahu Velicia, aku selama ini selalu mencintai Arnold bagaimanapun tempramen nya. Apa kau masih ingat mengenai uang yang kau berikan padaku untuk memintaku menjauh darinya? Itu semua dia sudah mengetahuinya." Ujar Viona.
Aku semakin terkejut dengan apa yang diucapkan Viona. Jadi Arnold memang sudah tahu apa yang dilakukan Viona. Tapi dia memang selalu cuek dan tak menghiraukannya. Termasuk saat dulu Viona memfitnahku telah menyuruh seseorang untuk menculik dan melecehkannya.
Wah, Arnold. Entah apalagi yang tak ku ketahui tentang dirimu.
__ADS_1
"Satu hal yang tak diketahui oleh Arnold adalah kehamilan mu. Arnold dulu memang sangat mencintaiku. Tapi, aku tak mau mengambil resiko hingga aku bertindak seperti itu. Aku takut Arnold akan meninggalkan aku setelah tahu kau mengandung anaknya. Maafkan aku Velicia." Ujar Viona yang mulai menitikkan air mata.
Aku terdiam, tak tahu harus melakukan apa. Ingin hati menenangkan Viona, tapi sakit hati yang aku rasakan akibat perbuatannya padaku selama ini membuatku mengurungkan niatku.
"Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Aku pikir setelah kalian bercerai dan dia mendapatkan semua yang dia dan Papa nya inginkan dia bisa puas dan segera menikahi aku. Nyatanya Arnold mengulur waktu dan sampai sekarang tidak mau menikahi ku. Dia bahkan mau meninggalkan aku yang dalam kondisi hamil seperti ini. Aku tahu, Tuan Besar Setyawan memang tidak menyukai aku dan lebih memilih dan menyayangi kamu. Tapi Arnold, dia melakukan semua ini padaku. Dia ingin meninggalkan aku yang selama ini selalu mendukungnya, menemaninya, bahkan seluruh tubuhku aku berikan padanya jauh sebelum kalian menikah. Saat kalian sudah menikah pun Arnold dengan sadar mengunjungi ku di luar negeri hanya untuk menghabiskan malamnya bersamaku. Lalu, sekarang yang dia lakukan malah seperti ini. Dan disaat aku tengah mengandung anaknya." Lagi-lagi Viona terisak.
"Apa dia tak kau menikahi mu?" Tanyaku.
Viona menggeleng.
"Arnold tipe laki-laki yang ambisius. Jika sesuatu yang sudah jadi miliknya akan direbut orang lain. Maka dia akan sebisa mungkin untuk merebut kembali apa yang dia inginkan. Dan itu adalah kamu. Selama ini dia memang tidak memperhatikanmu karena kau yang tergila-gila padanya. Namun, setelah mengetahui bahwa kau mulai menjalin hubungan dengan Andreas. Dia jadi tidak bisa menerimanya dan tetap ingin memilikimu. Apalagi ia mendapat dukungan dari Tuan Besar Setyawan." Jawab Viona.
Arnold tak ingin melepaskan aku, bukan karena ia mencintaiku. Tapi karena dia terobsesi denganku dan tak ingin kalah dari Andreas.
Ya Tuhan, kepalaku rasanya sakit sekali.
Tiba-tiba Viona berdiri dan langsung berjalan keluar tanpa berpamitan.
'Ada apa dengan wanita itu?' pikirku.
Tepat setelah kepergiannya, dari belakang seseorang mengelus kepala ku dan menciumnya dengan lembut.
"Andreas."
"Hai sayangku. Apa yang kau bicarakan dengan wanita tadi?" Tanya Andreas yang membuatku membisu.
Andreas tersenyum lalu mengelus pipiku.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Sekarang ayo ikut aku. Aku punya kejutan kecil untukmu." Ucap Andreas menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Kejutan apa lagi?" Tanyaku.
"Kalau diberitahu namanya bukan kejutan lagi." Jawab Andreas seraya berjalan menuju pintu.
"Merry, aku pinjam dulu sahabatmu." Teriak Andreas yang membuat pengunjung kedai teh melihat ke arah kami.
"Bawa saja. Asal kembalikan dia dengan bentuk semula." Teriak Merry dengan gelak tawanya.
Dari tadi Merry memang duduk di meja kasir melihatku berbicara dengan Viona. Ia tak mau ikut campur atas urusanku dengan Viona. Meski aku tahu, wanita hamil itu sejak dulu ingin menjambak rambut Viona karena sudah membuat pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu cacat seumur hidup. Tapi, Merry akhirnya sudah bisa menerima takdir yang Tuhan berikan kepadanya. Sama seperti diriku yang kini menerima takdir yang Tuhan berikan kepadaku.
__ADS_1
Aku harap, laki-laki yang tengah menggenggam erat tanganku ini akan selalu mencintai diriku apapun yang terjadi padaku di kemudian hari.
Bersambung......