90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
66. Keputusan Claudia


__ADS_3

Claudia merasa begitu terluka. Namun entah bagaimana dia bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Dia lalu ngambil ponselnya dari dalam saku celananya, kemudian dia langsung menelpon seseorang.


"Dasar kau bajingan. Bagaimana kau bisa melakukan semua ini? Aku akan membunuhmu. Dia adalah sahabat baikku." Teriak Claudia pada ponsel nya.


"Wah wah wah wah, jadi itu benar." Ucap Sean dengan suara yang bergema.


Claudia masih terdiam dan tampak begitu marah.


"Ketika aku mencari tahu tentang dirinya, kebanyakan orang yang mengatakan bahwa dia adalah kekasih mu. Aku sama sekali tidak percaya, karena aku melihat dirimu yang selalu bersama dengan suamimu. Tapi sekarang kau menelpon ku dan bertingkah seperti ini, aku jadi merasa bahwa rumor itu sepertinya benar.


Maksudku, kau bahkan tidak bereaksi seperti ini ketika suamimu pulang ke rumah dengan terluka. Aku lah yang menelpon mu dan kemudian kau terlihat seperti, lihatlah suamiku pulang dan mengatakan hal lainnya penuh percaya diri. Tapi kau tidak pernah berteriak kepadaku seperti ini.


Ini artinya tes yang aku lakukan berhasil. Kau punya hubungan sesuatu dengan pria ini hah? Tidak, tentunya tidak romantis seperti hubunganmu dan suamimu. Tapi antara kau dan dia ini hubungan kalian tampak begitu lembut di dalam hatimu. Aku tidak akan mengatakan bahwa kau dan dia adalah sepasang kekasih. Aku bisa mengerti mereka tidak tahu bahwa kalau kau sudah menikah. Jadi mereka berpikir bahwa kalian berdua adalah sepasang kekasih. Tapi itu semua meyakinkan bahwa pria ini adalah orang yang terpenting dalam hidupmu. Wow, aku memilih target yang benar. Sekarang, aku butuh untuk memilih target yang lainnya. Biar aku tebak siapa yaaahh...."


"Diam lah tutup mulutmu dan tetaplah diam." Teriak Claudia. "Kau menginginkan aku bukan? Kau akan menghentikan semua ini jika kau mendapatkan aku, maukah kau melakukannya?" Tanya Claudia.


Hal itu membuat Sean merasa tertarik.


"Iya sayang. Tentu saja aku akan menghentikan semuanya. Saat aku sudah mendapatkan mu, aku akan sibuk dengan dirimu sepanjang hari bukan? Jadi, kapan aku bisa mempunyai kesempatan untuk melakukan hal yang lainnya?" Ucap Sean dengan perasaan yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan.


'Saat aku mendapatkan mu, aku akan sibuk denganmu sepanjang hari. Kapan aku bisa mempunyai kesempatan untuk melakukan hal yang lainnya.' Claudia mencatat ucapan Sean itu dalam pikirannya.


"Kau akan meninggalkan keluargaku dan teman-temanku kan? Kau tidak akan mengganggu mereka lagi bukan?" Ucap Claudia lagi.


"Tentu saja akan aku lakukan sayang. Aku tidak akan melihat mereka lagi, semua perhatian ku akan tertuju padamu sayang." Ucap Sean.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku datang kepadamu? Apakah kau akan memperkaos ku, atau kau akan menjual ku kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab?" Tanya Claudia.


"Haaah yang benar saja sayang! Bagaimana kau bisa berfikir hal seperti itu? Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal seperti itu kepadamu. Aku hanya menginginkan dirimu untuk diriku sendiri. Aku mencintaimu bagaimana aku bisa.... Aaahh... Jangan katakan hal seperti itu lagi sayang. Aku akan membawamu ke Australia. Aku punya bisnis di sana. Aku juga akan menikah denganmu dan hidup bahagia di sana sayang."


"Australia ! Kapan?" Tanya Claudia.

__ADS_1


"Dalam dua atau tiga minggu lagi. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku yang ada di negara ini. Dan untuk menyelesaikan semuanya aku butuh waktu dua atau tiga minggu. Dan aku sudah memulainya sekarang." Ucap Sean penuh bahagia.


"Baiklah, tunggu aku di menara xxxx jam 02.00 siang besok. Aku akan ada disana." Ucap Claudia.


Sean tidak bisa mempercayai apa yang didengar nya. Jadi dia bertanya lagi kepada Claudia untuk mengulang ucapannya lagi. Claudia pun mengulang apa yang dikatakannya tadi.


"Oh ya Tuhan... Sayang apakah kau serius? Wow, aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung setelah beberapa tahun ini. Kau akan menjadi milikku. Kau akan hidup bersama ku. Aku akhirnya bisa memanggilmu milikku. Sayang, aku tidak bermimpi bukan? Oke sayang, aku akan menunggu. Aku akan menunggumu. Tapi kau tidak bisa mengubah keputusanmu lagi nanti sayang." Ucap Sean memperingatkan Claudia.


Claudia memutar mata malas.


"Bahkan jika aku merubah keputusanku, kau pasti punya cara untuk memaksa aku lagi bukan." Ucap Claudia kesal.


Sekarang hal itu membuat Sean bangga kepada dirinya sendiri.


"Aaaawww sayangku, kau mengenalku dengan sangat baik. Aku mencintaimu sayang. Aku akan menunggu dirimu besok." Ucap Sean dengan senang lalu memutuskan sambungan telepon itu.


Setelah sambungan telepon terputus, Claudia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Dia lalu terduduk di lantai dengan memeluk lututnya seraya menangis.


Claudia menghabiskan waktu sekitar 30 menit disana, menangis dan menyiapkan pikirannya untuk keputusan yang dibuat saat ini. Adam tengah mengobrol dengan seseorang di ponselnya , ketika Claudia masuk kembali ke dalam ruangan nya dengan tersenyum.


"Baiklah, aku akan menelpon mu lagi nanti." Ucap Adam menyudahi sambungan teleponnya.


"Sayang, kau dari mana saja? Aku sangat khawatir padamu. Kau sudah membawa keluar bekas makanan itu ke koridor dan kau tidak kembali lagi. Kenapa kau membutuhkan waktu yang begitu lama?" Tanya Adam yang memang terlihat khawatir itu.


Claudia tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum melihat kearah Adam dengan penuh cinta. Dia lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk dekat dengan suaminya. Adam pun langsung menarik Claudia dan memeluknya, kemudian mencium leher Claudia, dan pipinya.


"Aku hanya melihat-lihat di sekitar rumah sakit. Aku merasa bosan berada di dalam ruangan ini


" Jawab Claudia seraya mengusap kepala suaminya dan menghayati semua momen itu dengan menutup matanya.


Malam itu, saat mereka saling bermesraan, Claudia menangis. Dia mencurahkan segala perasaan cintanya pada ciumannya itu. Cinta dan seluruh perasaan yang dia miliki dalam hatinya.

__ADS_1


Semua mereka lakukan saat bermesraan, bahkan Claudia tidak menghalangi Adam melakukan apapun pada tubuhnya, apapun yang diinginkan dan diharapkan Adam tetap disetujui Claudia. Adam memberikan tanda merah di seluruh tubuh Claudia, dia tampak begitu frustrasi dengan hasrat yang dimilikinya. Claudia dapat merasakan hal itu. Dia hendak mencoba untuk menghentikan Adam sebelum semuanya terlalu jauh.


"Jangan khawatir sayang, aku sudah bicara dengan dokter. Aku bisa melakukannya, lukaku sudah jauh lebih baik sekarang. Aku hanya perlu berhati-hati untuk tidak membuat tekanan di lengan ku ini, itu saja." Ucap Adam.


Claudia merasa begitu malu. Dia tidak bisa mengerti, apakah dia akan menangis atau tertawa.


"Ada apa sayang? Apa kau tidak menginginkannya? Aku mohon sayang, aku merindukanmu, aku membutuhkanmu. Junior ku sudah begitu kesakitan merindukan dirimu, ku mohon." Ucap Adam memohon kepada istrinya.


"Kau berbicara dengan dokter tentang hal ini? Apa yang sebenarnya dokter katakan?" Tanya Claudia yang tampak begitu malu.


"Iya, aku bertanya kepadanya. Lalu apa masalahnya? Aku hanya bertanya kepada dokter, bagaimana dengan kondisi fisik ku saat ini? Dokter pun menjawab bahwa kondisiku sudah lebih baik dari sebelumnya. Jadi aku bertanya, apakah aku bisa melakukan sesuatu aktivitas fisik dengan istriku? Dokter bilang aku bisa melakukannya, tapi aku harus hati-hati saat melakukannya. Aku tidak boleh memberikan tekanan pada lengan kiri ku karena hal itu akan memperparah kondisiku. Jadi aku bertanya lagi, apakah bisa dengan cara lain. Dia pun menjawab tentu saja, tapi minta istrimu untuk tidak mencakar punggungmu saat kalian melakukannya." Ucap Adam menjelaskan dengan wajahnya yang terlihat berbeda.


"Aaaiissshhh, dasar kau pria mesum. Diam lah." Ucap Claudia lalu menutup wajahnya di dalam selimut. "Aaarrrggghhh kenapa, kenapa kau mempermalukan aku Dam? Bagaimana aku bisa berhadapan dengan dokter itu lagi sekarang?" Ucap Claudia dari dalam selimut.


"Ha ha ha ha ha, baiklah aku berbohong tentang kalimat terakhirnya. Tapi yang lainnya adalah benar. Sekarang ayolah sayang, biarkan aku mempunyai malam yang indah bersamamu. Kumohon." Ucap Adam seraya tertawa dan menarik dirinya masuk ke dalam selimut.


Mereka akhirnya melakukannya malam itu, meski sebenarnya Adam masih terus meminta lagi, tapi Claudia menghentikannya. Adam menaruh kepalanya di dada Claudia dan akhirnya tertidur di sana. Tapi Claudia tetap terjaga sepanjang malam, berfikir bagaimana dia bisa kabur dari rumah sakit. Will dan Dom sudah mengatur keamanan yang sangat ketat di sekitar rumah sakit. Bagaimana pun, itu juga permintaan dari Adam.


Akhirnya Claudia memikirkan suatu rencana dan menghela napas. Dia mencoba membebaskan dirinya dari pegangan tangan Adam dan pergi ke kamar mandi kemudian kembali untuk duduk di samping tempat tidur Adam. Claudia lalu menulis sebuah surat untuk Adam. Kemudian dia kembali ke atas tempat tidur setelah menaruh surat itu disamping meja. Claudia masuk ke dalam selimut dan memeluk Adam. Dia menghabiskan waktu sepanjang malam menatap suaminya, mencium wajahnya, menghargai suaminya, dia tidak menangis malam itu.


Claudia tidak ingin menghabiskan waktunya untuk berduka, dia ingin untuk menghargai kehadiran suaminya selama yang ia bisa.


Bersambung....


Bagaimana cara Claudia bisa kabur dari rumah sakit?


Bagaimanakah reaksi dari Adam? Apakah dia masih bisa tenang seperti biasanya? Apakah dia masih bisa percaya pada istrinya?


Selanjutnya..


Pertama kali bertemu...

__ADS_1


__ADS_2