90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Mimpi Merry (Bab 23)


__ADS_3

Aku berbaring di tepi pantai sangat lama dan terus menatap langit malam bertabur bintang, sampai akhirnya aku merasakan tetes hujan mendarat di pipiku. Meski enggan, aku terpaksa bangun. Menatap sekitar yang sudah sangat sepi.


Aku pun berjalan gontai mengambil sepatu dan ponsel lalu meninggalkan pantai.


Setelahnya, aku tiba di rumah dengan diantar taxi online yang setia menungguku. Aku masuk ke rumah dalam kondisi sepi. Aku segera ke kamar mandi, membersihkan badan dan berganti pakaian


Setelah selesai, aku beranjak ke dapur. Belum makan sedari siang ternyata membuat perutku perih, tanganku bergerak mengambil mi instan dan hendak memasaknya.


"Dari tadi Non?" suara Bu Sumi tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.


"Eh, kirain Bu Sumi sudah tidur." balasku sambil menuang air ke dalam panci.


"Belum. Itu saya sudah masakin sup ikan. Nona tidak perlu masak mi." balas Bu Sumi.


Aku membalas dengan senyuman lalu beranjak duduk di meja makan menikmati sup ikan buatan Bu Sumi.


"Tuan Arnold di luar, Non."


Refleks tanganku berhenti memegang sendok.


"Setidaknya beri Tuan Arnold kesempatan untuk bicara, agar..."


Aku berdiri dan memandang Bu Sumi lekat.


"Buat apa? Kecuali kalau dia pecahkan kaca di sana, lalu bisa menatanya lagi, sama seperti semula tanpa menyisakan sedikit pun retak. Dan ... anggap saja itu hatiku," ucapku dengan dada yang bergemuruh menunjuk cermin yang menempel di dinding.


"Setidaknya Nona katakan pada Tuan Arnold kalau Nona sudah tak ingin bertemu. Mungkin...."


Aku melongos pergi keluar rumah tanpa membiarkan Bu Sumi menyelesaikan kalimatnya. Benar kata Bu Sumi, aku harus mengatakan pada Arnold bahwa aku tak ingin lagi bertemu dengannya.


Suara deras hujan yang jatuh ke bumi menemani kami berdua yang duduk di ruang tamu. Aku memandang keluar jendela yang tak lagi jelas, karena tertutup embun dan juga hujan deras.


"Terima kasih karena masih mau bertemu denganku, Velicia," ucap Arnold lembut.


Tubuhku menegang dengan pandangan masih menatap ke luar jendela.


"Kamu masih marah padaku?" Arnold bertanya lagi.


Aku hanya diam.


"Aku tidak akan memaksa untuk memaafkan dan melupakan kesalahanku, tapi ... bisakah kita mulai semua dari awal?"


Aku masih tak merespon.


"Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Bahkan sejak perpisahan kita, aku selalu memikirkan mu. Ingin sekali aku menjelaskan semuanya padamu, tapi aku tak berdaya saat itu. Sampai akhirnya kita benar-benar terpisah oleh keadaan. Maaf, Velicia."


Lagi-lagi aku hanya diam.


"Velicia.... izinkan aku memperbaiki semuanya. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya."


"Jangan kembali hanya dengan alasan ingin memperbaiki. Karena semua sudah selesai sejak kita bercerai, dan semua baik-baik saja saat kamu tak lagi di sisiku," balasku akhirnya.


Terdengar helaan napas panjang dari Arnold.


"Aku tidak akan memaksamu. Biarkan waktu yang akan menggerakkan hatimu jika memang ditakdirkan bersama. Dan mulai detik ini, jangan cegah aku untuk berjuang dan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Velicia."


Aku terkejut saat Arnold mengatakan itu. Seketika bibirku membentuk senyuman simpul dengan pandangan yang masih tak menatap Arnold.


Aku mencoba menenangkan gemuruh dada yang menyatukan rasa kecewa dan rindu jadi satu.


Ini menyakitkan!


Di satu sisi aku ingin berdamai dengan Arnold, tetapi di sisi lain rasa kecewaku kembali mendominasi. Untuk apalagi memperjuangkan hubungan dengannya, sementara usiaku sendiri hanya tinggal beberapa hari lagi.

__ADS_1


"Maaf, Velicia."


"Aku mau kamu pulang saja.," ucapku datar, tanpa sedikit pun menoleh padanya.


"Velicia ...."


"Cepat pulang!"


Aku kembali mengulang kalimat itu, dengan suara yang sedikit bergetar.


"Velicia..."


"Kenapa kamu muncul lagi di hidupku?" balasku yang tak sesuai dengan ucapan Arnold.


"Velicia, ayolah ... aku minta maaf."


Kali ini Arnold meraih tanganku dengan sedikit erat sampai aku kesulitan untuk melepaskan diri darinya.


"Kenapa kamu sangat mudah mengatakan kata maaf? Kenapa kita harus menemui ku lagi? Kenapa kau ingin bersamaku lagi, sementara acara pernikahan mu dengan wanita yang kau cintai sudah di depan mata?!"


Aku mengatur napas ku yang terasa sesak, karena sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri.


"Selama ini aku berjuang mati-matian untuk melupakanmu! Kamu tahu berapa banyak air mata yang ku tumpahkan? Berapa kali aku terus memanggil namamu untuk kembali, berharap semua itu cuma mimpi! Tapi aku lupa ... selama apa pun aku bermimpi, pasti akan terbangun juga! Dan saat bangun ... aku kembali merasakan sakitnya menerima kenyataan kalau kamu benar-benar pergi!" Aku berteriak di hadapan Arnold.


Wajah Arnold tampak terkejut, karena nada bicaraku yang terlalu keras.


"Hatiku tak lagi utuh sejak kamu memutuskan untuk menikahi wanita mu! Dan sekarang ... kamu tiba-tiba datang dan meminta maaf, setelah kita bercerai dan aku berjuang untuk melupakanmu? Sungguh, aku sangat iri bagaimana rasanya jadi kamu! Bisa pergi dan datang sesuka hati!" ucapku lagi, sembari menghapus air mata yang mulai keluar tanpa permisi.


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan orang jahat seperti kamu ...?"


Tak kuat menahan lagi, akhirnya aku menangis sejadi-jadinya. Tak peduli kalau terdengar Bu Sumi, yang ada saat ini aku hanya ingin meluapkan segala sesak di dada.


Arnold langsung menarik tubuhku dalam pelukannya.


"Maaf, Velicia. Maaf ...."


"Dengan apa aku harus menebus semua rasa bersalahku padamu, Velicia? Tolong beritahu aku, kumohon jangan terus menghindar seperti ini. Selama ini, aku juga sama tersiksanya denganmu. Maafkan aku, Velicia ...." suara Arnold terdengar bergetar. "Andai bisa bertukar hati, aku ingin merasakan semua derita yang kamu rasakan selama ini. Maaf, Velicia Maaf ...."


"Aku benci pria bernama Arnold! Aku benci saat mendengar namanya! Aku benci saat mengingat semua janji-janjinya! Aku benci kenapa harus mengenalnya! Aku sungguh benci padanya, tapi ... aku juga rindu padanya. Biasanya dulu dia akan menenangkan ku saat sedih, tapi sejak tiga tahun ini dialah sumber kesedihanku! Tolong sampaikan padanya, aku benci dia!" Aku memukul dada bidang Arnold berkali-kali, tanpa tenaga.


"Velicia ...."


"Bantu aku ... bantu aku untuk menghilangkan rasa kecewa ini padanya! Bantu aku untuk tidak membencinya lagi. Bantu aku ...." Isak ku.


"Sudah, Velicia. Cukup, maafkan aku."


Arnold semakin merengkuh tubuhku dan masuk dalam pelukannya. Hangat tubuh Arnold membuatku semakin menumpahkan air mata.


Tuhan ... aku bisa merasakan detak jantungnya lagi. Tetapi, bagaimana dengan hatinya?


Pelukan Arnold kian erat, dan aku merasakan sesuatu yang hangat menetes di punggung tanganku yang berada di dada Arnold.


Ia menangis?


"Izinkan aku menebus semua rasa bersalahku padamu, Velicia. Tolong izinkan aku." suara Arnold terdengar parau. "Kini aku mengakui bahwa aku mencintaimu. Aku akan melebur semua rasa benci mu dengan seluruh rasa cinta yang aku miliki. Jadi tolong izinkan aku memperbaiki semua. Maaf atas kebodohan ku dulu. Maaf, maaf, maaf."


Kami bersua hanyut dalam suasana haru beberapa saat, Arnold semakin erat memelukku. Sementara aku hanya diam membeku, sama sekali tak membalas ucapan atau pelukan itu.


Sepertinya ... aku sudah mati rasa.


"Takdirmu, pasti berjalan ke arahmu. Meski harus berkelok dan melewati banyak rintangan. Tugasmu hanya yakin dan percaya, kalau itu adalah yang terbaik menurut-Nya. Jangan membenci takdir, meski itu sangat menyakitkan, karena kita tidak tahu hadiah apa yang terbungkus di dalamnya." ucapan Jack kala itulah yang membuatku sedikit demi sedikit memaafkan semua keadaan yang menimpaku. Meski dengan separuh hati.


"Bisa aku minta tolong?" pintaku pada Arnold..

__ADS_1


"Katakan. Apa pun itu pasti–"


"Menjauh lah."


Arnold akhirnya pulang meski hujan masih begitu deras. Aku yakin dia tak akan lagi menemui ku setelah apa yang sudah ku katakan. Sungguh, aku tak ingin lagi bertemu dengannya. Biarkan ini jadi pertemuan terakhir kami. Nantinya dia akan bertemu denganku di tempat pemakaman.


Aku menghela napas panjang, entah salah atau tidak tindakan yang ku lakukan tadi. Yang jelas, aku merasa lega karena sudah mengungkapkan semua ganjalan di hati, tepat di depan orangnya langsung.


Sudah hampir dua jam aku termenung di ruang tamu sambil merebahkan tubuh di sofa panjang dengan mata yang terpejam, tetapi pikiran ke mana-mana.


"Tidak semua barang yang rusak itu harus dibuang, Non. Ada beberapa yang masih bisa diperbaiki lagi, begitu pula dengan sebuah hubungan. Jika ada masalah, yang harus dihilangkan dan diselesaikan itu masalahnya bukan hubungannya," ucap Bu Sumi yang tiba-tiba menghampiriku.


Aku menepuk sofa yang ada di sebelahku. Meminta Bu Sumi untuk duduk di sampingku.


"Tapi ada yang harus diinget, Non. Sekuat apa pun memperbaiki, pasti tidak akan pernah sama dengan awalnya. Jadi, sebisa mungkin jangan terlalu menaruh hati, karena jika suatu saat barang itu rusak lagi hati Nona masih utuh untuk Nona genggam," lanjut Bu Sumi sambil mengelus punggung tanganku dengan lembut.


Aku menatap Bu Sumi dengan lekat. Wanita ini adalah satu-satunya sosok wanita yang bisa ku anggap sebagai sosok Ibu. Sejak kecil dia memang selalu memberiku wejangan atau berbagai nasehat yang akan memacu semangatku lagi.


Bu Sumi ... semoga sehat selalu.


*********


Pagi menjelang....


Hari ini cuacanya sangat cerah. Setelah semalam hujan turun dengan begitu derasnya. Suara ponselku berdering di atas nakas. Dengan cepat aku mengambilnya.


Sebuah nomor tak dikenal, dengan cepat aku mengangkat panggilan itu.


"Halo Veli. Bagaimana kabarmu?" Terdengar suara wanita yang sangat ku kenal.


"Merry!" Seru ku.


Sejenak aku sampai lupa akan keberadaan Merry yang tengah di penjara. Bagaimana kabarnya sahabatku itu.


"Iya, ini aku Merry. Semalam aku bermimpi buruk tentangmu. Untuk itu, pagi-pagi sekali aku meminta izin pada sipir untuk bisa menelepon mu. Sulit sebenarnya mendapatkan izin dari mereka. Tapi kau tahu sendiri bagaimana aku."


Iya, aku tahu benar, bagaimana watak sahabatku itu. Jika dia sudah bertekad untuk melakukan sesuatu, maka dia akan memperjuangkannya mati-matian sampai bisa ia wujudkan.


"Aku baik-baik saja." Balasku berbohong. Padahal akhir-akhir ini kondisiku memang semakin memburuk.


Seperti yang di vonis kan Dokter, usiaku sepertinya memang bertahan 90 hari sejak pertama kali aku mengetahui penyakit ini. Dan kini, sisa waktuku hanya satu minggu lagi.


"Veli, katakan padaku yang sejujurnya. Sebelum masuk kemari, aku sering melihatmu merasakan sakit yang amat sangat. Dan, aku sering sekali bermimpi buruk tentangmu. Apa kau sedang...."


"Merry dengarkan aku." Aku menyela ucapan Merry. Kali ini mungkin sudah waktunya aku jujur padanya. "Hidupku sudah tak lama lagi."


"Kamu ngomong apa sih! Jangan bercanda gitu deh, gak lucu tau." Ucap Merry.


"Aku serius Mer. 83 hari yang lalu, Dokter mengatakan aku mengidap kanker serviks stadium 3. Dan, memvonis usiaku hanya bertahan 3 bulan lagi. Atau dengan kata lain 90 hari dan sekarang waktuku hanya 7 hari lagi."


Hening. Tak sedikitpun ku dengar suara Merry.


"Maafin aku Mer, aku tidak bisa membesuk mu. Aku tidak mau kau menangisi ku. Berjanjilah padaku bahwa kau akan terus bahagia." Ucapku dengan suara yang bergetar.


Terdengar suara isakan dari seberang telepon. Merry menangis, suara tangisannya terdengar begitu pilu.


Maafkan aku Merry karena sudah membuatmu menangis.


"Apa tak ada yang bisa kau lakukan? Terapi, atau berobat ke luar negeri, atau apapun itu. Kau tidak boleh menyerah secepat ini Veli."


Dan percakapan kami terus berlanjut, hingga akhirnya berakhir di menit ke 28.


Merry terdengar begitu sedih, ia mengatakan tak akan pernah memaafkan aku jika aku sampai tak menemuinya. Tapi, aku benar-benar tak ingin terlihat menyedihkan dihadapan Merry. Aku juga tak ingin membuatnya semakin sedih dengan bertemu aku.

__ADS_1


Sekarang yang harus aku lakukan untuk Merry adalah membuatnya bahagia bersama Hansen. Aku harus menemui Hansen dan memintanya untuk menerima Merry sebagai pendamping hidupnya.


Bersambung.....


__ADS_2