
Perlahan kesadaran ku kembali. Aku membuka mata dan mendapati diriku tengah berbaring di pangkuan Arnold.
'Sepertinya aku di dalam mobil sekarang.' pikirku.
Hidung dan telapak kaki ku terasa hangat dengan aroma minyak kayu putih yang menguar di hidungku. Aku mendongak menatap Arnold yang juga tengah menatapku.
"Velicia, syukurlah kau sudah siuman. Sabar ya, sebentar lagi kita tiba di rumah." Ucap Arnold dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir.
Tenagaku terlalu lemah. Sekedar untuk membalas ucapan Arnold saja, aku tak mampu. Tubuhku benar-benar tak bisa diajak bekerja sama.
Tak lama, mobilpun berhenti. Dengan lembut, Arnold mengangkat tubuhku dalam gendongannya. Lalu membawaku masuk ke dalam rumah.
"Nona Veli kenapa Tuan?"
Suara Bu Sumi terdengar begitu mengkhawatirkan aku.
"Bi, minta tolong segera siapkan makanan dan obat untuk Velicia. Dia begitu lemah, mungkin tak sempat makan tadi." Ucap Arnold.
"Baik Tuan." Balas Bu Sumi.
Arnold menggendongku menaiki anak tangga satu persatu. Sorot matanya terlihat fokus menatap ke depan. Sementara aku, memandangi wajah Arnold yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus di rahangnya.
'Apa dia tak sempat mengurus dirinya sendiri?'
Arnold yang aku kenal dulu tak akan pernah membiarkan sedikitpun bulu-bulu halus itu menutupi rahangnya. Ia selalu rutin membersihkannya. Tapi, yang aku lihat kini sungguh berbeda.
'Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Apa karena saat ini jarak kami cukup dekat?'
Setelah mencapai lantai atas, Arnold lantas menuju kamar dan meletakkan tubuhku dengan sangat pelan ke atas tempat tidur. Ia lalu membuka sepatu yang aku kenakan. Kemudian menuju lemari dan kembali dengan membawa pakaian tidur.
"Apa yang mau kau lakukan?" Ucapku saat tangan Arnold hendak menyentuh kancing baju yang aku kenakan.
Entah dari mana tenagaku berasal. Tadi nya aku sama sekali tak dapat bicara. Namun, kali ini suaraku spontan keluar begitu saja.
"Apalagi? Aku mau membantumu mengganti pakaian." Ucap Arnold.
"Ti-tidak perlu. Aku bisa sendiri." Ucapku terbata-bata.
"Kenapa? Apa kau malu? Bukankah aku sudah sering melihat tubuh mu yang polos itu?" Balas Arnold.
Blush!
Entah sudah semerah apa wajahku saat ini. Ucapan Arnold tiba-tiba membuatku malu. Untung saja Bu Sumi datang di waktu yang tepat.
Bu Sumi datang membawa sup ikan yang sudah aku masak tadi. Tak lupa Bu Sumi juga membawa botol obat yang aku tinggalkan di meja makan tadi.
"Serius? Sup ikan? Velicia, sepertinya kau memang masih mencintai aku." Ucap Arnold saat Bu Sumi meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja disamping tempat tidur.
"Omong kosong." Ucapku.
__ADS_1
"Hahaha mengaku sajalah." Kata Arnold. "Oh ya, Bu Sumi tolong bantu Velicia untuk mengganti pakaiannya. Aku akan menunggu di luar." Sambung Arnold lalu berjalan keluar kamar.
Aku menghela nafas panjang, kemudian mulai mengganti pakaianku dengan piyama berwarna navy yang dipilihkan Arnold untukku tadi dengan bantuan Bu Sumi.
"Sepertinya Tuan Arnold benar-benar ingin rujuk Nona." Ucap Bu Sumi..
Aku tak menggubris ucapan Bu Sumi.
"Nona, saya bisa melihat kalau Tuan Arnold itu sangat tulus." Lagi-lagi aku tak menggubris ucapan Bu Sumi.
Setelah selesai mengganti pakaian, aku meminta Bu Sumi untuk mengusir Arnold dari rumah.
"Baik Nona. Saya akan meminta Tuan Arnold untuk pergi." Ucap Bu Sumi.
Baru saja hendak mengambil mangkok berisi sup ikan, pintu kamarku kembali terbuka. Aku melihat Arnold berjalan mendekat ke arahku.
"Mau apa lagi?" Tanyaku.
"Aku akan menjagamu malam ini." Balas Arnold.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kau pulang saja." Ucapku dengan ketus.
Arnold masih berdiri di depanku. Ia hanya menatapku.
Saat hendak berdiri untuk mengambil mangkuk sup ikan, aku malah oleng. Sepertinya tenagaku belum pulih betul.
"Kan aku sudah bilang. Kau belum kuat, biarkan aku membantumu." Ucap Arnold lagi.
"Aku sudah memintanya untuk pulang." Balas Arnold.
"Kau itu...."
"Sudah, lebih baik sekarang buka mulutmu dan makan." Arnold menyela ucapan ku dan malah menyodorkan sesendok sup ikan di depan bibirku.
Aku hanya diam seraya menatap Arnold kesal.
"Ayolah, apa kau mau terus-terusan sakit?" Ucapnya.
Aku kemudian membuka mulut dan mulai makan. Sesekali Arnold ikut mencoba sup ikan yang aku buat itu dengan sendok yang sama dengan yang aku gunakan.
"Tumben, kali ini sup buatan mu enak." Ucap Arnold.
"Bu Sumi yang buat." Ucapku bohong.
"Oh, kalau begitu kau harus belajar dengan Bu Sumi untuk membuat sup ikan seenak ini. Agar suatu hari nanti kau bisa membuatkannya untukku."
"Mimpi saja." Ucapku pelan.
"Hah. Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Arnold.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku sudah kenyang. Tolong ambilkan obatku." Titah ku pada Arnold.
"Siap Tuan Putriku." Balas Arnold.
Andai saja sejak awal pernikahan, Arnold memperlakukan aku selembut ini. Mungkin, aku tidak akan perduli, meski di masa lalu aku mencintai Andreas. Aku pasti bisa mencintai Arnold. Tapi, kini yang ada, setiap melihat Arnold aku selalu merasa sakit hati dengan segala luka yang diberikannya untukku.
Aku terluka dengan perlakuannya, perselingkuhannya dengan Viona. Atau, aku memang salah anggap. Arnold sejak awal memang berpacaran dan mencintai Viona.
Jadi, apa aku yang harusnya disebut pelakor?
Arnold membuyarkan lamunanku dengan memberikan aku obat dan segelas air.
"Hei lagi lamunin aku ya? Aku tahu, aku ini tampan. Jadi, kamu tidak perlu menghayal tentang aku. Aku sudah ada di depanmu. Kau boleh melakukan apapun padaku. Peluk boleh, cium boleh, itu juga boleh." Ucap Arnold.
"Kau kehabisan obat ya?" Balasku.
Arnold hanya tertawa lalu aku mengambil obat dari tangannya dan mulai meminumnya.
"Terima kasih." Ucapku.
Arnold tersenyum kemudian menaruh gelas yang aku berikan padanya ke atas meja. Ia kemudian merapikan selimutku.
"Sekarang tidurlah. Aku akan ada disini menemani kamu." Ucapnya.
"Arnold." Panggilku.
"Iya..." Balasnya.
"Untuk apa kau melakukan semua ini? " Tanyaku.
"Sudah aku katakan, aku akan berusaha merebut hatimu kembali. Aku mencintaimu." Jawabnya.
"Kalau aku minta sesuatu apa kau akan mengabulkannya?" Tanyaku lagi.
"Tentu saja. Katakan, apa yang kau inginkan."
"Aku mohon, lepaskan aku. Jangan merusak hubungan keluarga Arista dan keluarga Ardana." Ucapku.
"Aku tidak akan merusak hubungan kedua keluarga jika kau mau kembali padaku." Ucap Arnold.
"Aku tidak bisa. Kau bukanlah orang yang selama ini aku cintai."
"Kalau begitu, aku akan berusaha untuk membuatmu mencintai aku."
"Tidak akan bisa!" Teriakku.
"Velicia, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu, apalagi sampai membuatmu bersatu dengan Andreas. Sekarang lebih baik kau tidur. Ini sudah larut."
"Kau egois." Ucapku lalu berbaring dan menutup tubuhku dengan selimut hingga kepalaku.
__ADS_1
Bersambung.....