
Disinilah aku sekarang. Di sebuah desa kecil yang pernah aku kunjungi bersama Merry beberapa waktu yang lalu. Aku hendak mengunjungi Hansen.
Mobil yang dikendarai sopirku berhenti tepat di depan gubuk yang ditinggali Hansen dan neneknya. Belum turun dari dalam mobil, aku melihat Hansen tengah duduk di teras rumah bersama sang nenek. Keduanya terlihat tengah mengobrol ringan. Terlihat dengan sangat jelas, ada tawa yang menghiasi bibir Hansen.
Ah, Hansen. Andai kau bisa tertawa dan tersenyum seperti itu di hadapan Merry. Aku yakin, gadis itu pasti akan sangat bahagia.
Ku langkahkan kakiku berjalan masuk ke pekarangan rumah yang ditinggali Hansen. Dapat ku lihat raut wajahnya yang terkejut melihat kedatanganku.
"Selamat siang Nek, Hansen." Sapa ku dengan ramah.
"Eeh, Nona Velicia kan?" Tanya nenek Hansen yang hanya ku jawab dengan sebuah anggukan dan senyuman.
Tak ku sangka beliau masih mengingatku dengan usianya yang terbilang sudah sepuh. Padahal kami hanya bertemu satu kali saja.
"Wah, nenek masih ingat saya ya?"
"Tentu saja Nenek ingat. Kamu itu gadis yang sangat cantik dan baik. Terus, dimana teman kamu yang dulu pacarnya Hansen itu?"
Sontak aku melirik ke arah Hansen yang tampak dingin duduk di samping sang nenek.
"Itulah kenapa saya datang kemari Nek. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Hansen mengenai kekasihnya itu." Ucapku.
"Tentu sa...."
"Dia bukan kekasihku." Terlihat raut wajah Hansen sangat marah.
Sang Nenek berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap-usap punggung pria itu berkali-kali.
"Kalau begitu Nenek masuk ke dalam dulu. Mau buatkan kamu minum."
"Tidak perlu Nek. Jangan repot-repot."
"Kamu itu tamu di rumah Nenek. Jadi wajar saja, Nenek sebagai pemilik rumah harus menyediakan minum untuk tamu. Sekalian, kalian berdua bisa mengobrol saat Nenek pergi."
Nenek Hansen yang rambutnya sudah berwarna putih itu berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Hansen, masih menampakkan ekspresinya yang dingin.
"Hansen aku...."
"Kalau tujuanmu datang kemari untuk memintaku kembali pada Merry. Lebih baik kau lupakan saja. Karena aku tidak akan pernah kembali lagi padanya." Hansen menyela ucapan ku.
"Jadi benar dugaan ku dan Merry. Selama ini kau memang sengaja lupa ingatan untuk melupakan Merry."
Aku kesal sekali, kenapa Hansen harus berpura-pura amnesia.
"Bukan urusanmu." Balas Hansen sinis.
__ADS_1
"Tentu saja ini urusanku, karena Merry itu sahabatku." Suaraku sedikit meninggi karena kesal dengan sikap Hansen.
"Hansen dengarkan aku. Aku kemari bukan karena permintaan Merry. Tapi, ini inisiatif ku sendiri. Aku hanya tidak tega melihat sahabatku yang paling baik menderita seumur hidupnya hanya karena memikirkan kamu. Merry itu...."
"Itu bukan masalahku. Lebih baik kau pulang saja." Hansen tak mau mendengarkan aku.
Pria ini benar-benar membuatku kehilangan kesabaran.
"Maafkan atas kelancangan bicaraku saat ini Hansen. Tapi kalau boleh aku bilang, kamu itu benar-benar b*doh. Dengan kondisimu yang seperti ini seharusnya kamu bersyukur bahwa Merry masih mencintai dan bahkan mau menerima kekurangan kamu. Coba kamu pikir sendiri, apa masih ada wanita lain yang mau menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki yang berkebutuhan khusus seperti dirimu. Sekali lagi maaf atas kelancangan ku Hansen. Tapi, sepertinya tidak akan ada wanita yang mau hidup denganmu selain dari Merry." Ujar ku panjang lebar.
"Kau tidak mengerti. Justru karena hal ini lah yang membuatku tidak mau kembali kepada Merry. Karena aku hanya akan menyusahkan dia. Aku hanya akan membuatnya repot jika harus mengurusku yang seperti ini. Aku memang sangat mencintai Merry. Tapi aku tidak mau dia menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan mengurus diriku yang tidak bisa melakukan apapun. Merry berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku." Ucap Hansen dengan air matanya yang mengalir.
Sejak awal aku mengerti sekali kenapa waktu itu Hansen sengaja amnesia. Ya, karena inilah alasannya. Hansen tak ingin memberi beban pada Merry. Tapi, apa yang bisa aku lakukan. Sementara Merry sendiri sudah bersedia sejak dulu menerima bagaimanapun keadaan Hansen.
"Jujur, sebagai sahabat Merry awalnya aku juga sudah menasehatinya agar dia berpikir lebih matang lagi untuk menerima dirimu. Karena, jika ia hidup bersamamu dia hanya akan mengurus dirimu saja. Tapi apa kau tahu, Merry sama sekali tidak perduli. Kau tahu sendiri bagaimana watak Merry. Sekali ia bertekad maka ia akan mempertahankannya."
Hansen terdiam, ia menunduk dan menutup wajahnya.
"Aku malu dengan kondisiku...." Isak Hansen.
"Hansen, Merry sangat mencintaimu. Bertahun-tahun sejak kau menghilang, Merry tak pernah lagi membuka hatinya untuk laki-laki lain. Dia hanya mencintai dirimu, dan hanya dirimu. Dan ironisnya, sekarang dia sedang berada di dalam penjara, dan lagi-lagi, semuanya karena dirimu." Ucapku.
"Di penjara! Karena aku! Bagaimana....."
Aku memotong ucapan Hansen, sekilas melirik wajahnya yang berubah khawatir.
"Apa?" Raut wajah Hansen semakin tak karuan.
"Iya. Merry kesal dan langsung menabrak wanita itu dengan mobilnya." Ucapku.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Hansen kembali bertanya.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Dia sekarang berada di penjara dan sebentar lagi akan bebas. Dan aku berharap saat bebas nanti dia akan bisa melihatmu. Dan kau bersedia menemani hari-harinya."
"Tapi...."
"Aku tidak mau mendengar kata tapi. Intinya kau harus mau." Ucapku.
Setelah pembicaraan yang cukup lama. Akhirnya aku berhasil membujuk Hansen untuk kembali pada Merry.
"Aku pulang dulu. Nanti tepat di hari kebebasan Merry, aku akan meminta sopirku untuk datang menjemputmu"
******
Setelah perjalan pulang yang panjang dan begitu melelahkan, akhirnya aku tiba di Villa. Tubuhku begitu lemah, aku ingin beristirahat sebentar dengan memejamkan mata.
__ADS_1
Saat terbangun dari tidur, aku menyadari bahwa diriku berada di ruang inap sebuah rumah sakit.
Sejak kapan aku berada disini?
Sejenak aku sadar sebuah tangan kekar tengah menggenggam erat tanganku dengan posisi kepalanya yang miring dan tidur.
"Jack!" Seruku.
Jack terbangun lalu tersenyum.
"Kau akhirnya sadar juga." Ucap Jack.
"Sebenarnya kau dimana? Kenapa aku tiba-tiba ada disini?"
"Aku akan membawamu pergi berobat. Semalam Bu Sumi melaporkan padaku tentang kondisimu semakin memprihatinkan. Jadi aku akan membawamu hari ini juga saat matahari sudah terbit.
"Terlambat Jack, bukankah 7 hari lagi aku akan meninggal? Apa lagi yang bisa kita lakukan."
"Aku sudah menemukan seorang dokter yang akan mengoprasi dirimu. Meski kemungkinan kesembuhannya hanya 0,01 persen. Tapi apa salahnya mencoba daripada tidak sama sekali." Ujar Jack.
'Operasi? Baiklah, akan ku coba. Tapi jika kemungkinan buruk terjadi, maka aku yang terpenting adalah pengacaraku tetap akan menyerahkan semuanya pada Arnold. Lelaki yang sangat aku cintai.'
"Aku setuju. Tapi aku punya satu syarat." Ucapku pada Jack.
"Kau ini. Cepat katakan." Balas Jack.
"Aku ingin kau pergi ke penjara. Merry akan bebas beberapa hari lagi. Katakan padanya untuk mengumumkan kematian ku di hari aku akan melaksanakan operasi." Ucapku.
"Apa kau sudah gila." Jack membentak ku.
"Tidak Jack. Kali ini tolong halangi aku. Aku hanya pesimis bahwa operasinya akan berjalan mulus. Jadi apapun yang terjadi, aku ingin Merry mengumumkan kematian ku. Jika aku masih bisa hidup, nanti nya aku bisa kembali lagi untuk memulai semuanya."
Jack terlihat berpikir. dan akhirnya menyetujui permintaanku..
Bersambung....
Terima kasih atas kesediaan kalian membaca karya receh ini. Jangan lupa berikan.....
Like 👍
Komen 💭
Hadiah 🎁
Vote 🎟️
__ADS_1
Salam sayang....
La-Rayya ❤️