90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Pantai (Bab 61)


__ADS_3

Andreas melakukan segala cara untuk membuat aku sembuh. Dia sudah memanggil Dokter terbaik untuk melakukan pemeriksaan terhadapku, dan tetap saja aku tak bisa mengeluarkan suaraku. Aku hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan.


Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku. Tapi setidaknya sekarang aku sudah tidak seperti patung lagi. Aku sudah bisa tersenyum dan menampilkan ekspresi marah dan juga yang lainnya. Hanya saja suaraku yang belum bisa aku kembalikan lagi.


Semalam Andreas menawarkan padaku untuk pergi ke pantai. Tentu saja aku segera setuju, karena aku sangat menyukai pantai. Siapa yang tidak suka pergi ke pantai? Ada banyak hal yang bisa dilakukan di pantai, seperti menikmati keindahan laut, berenang, bermain voli pantai, hingga melakukan berbagai kegiatan olahraga air.


Pergi ke pantai memang menyenangkan, apalagi jika dilewatkan bersama orang terkasih seperti Andreas.


Hari ini pun Andreas membawaku pergi ke pantai sejak pagi sekali.


Setibanya di pantai, aku dan Andreas langsung berjalan-jalan di pinggir pantai. Dengan langit yang berwarna biru dan semilir angin sepoi-sepoi yang terasa sejuk, kami menikmati waktu berjalan di sekitar tepi pantai.


Meskipun terbilang masih pagi, tapi sudah cukup banyak orang yang berada di pantai. Sebagian menikmati waktu berjemur, dan sebagian lainnya dengan aktivitas olahraga air. Aku yang sudah lama tak bermain air merasa tertarik karena melihat orang yang berenang segera menarik tangan tangan Andreas untuk kembali ke mobil untuk mengambil pakaian ganti.


Sebelumnya aku selalu datang ke pantai karena ingin meredakan kesedihanku. Tapi kali ini, aku benar-benar ingin bersenang-senang bersama Andreas.


Tak sabar karena pantai yang sudah memanggil-manggil aku pun langsung meluncur ke dalam air, menyentuh, dan bersalaman dengan air laut.


"Kau benar-benar masih seperti gadis kecil ku." Ucap Andreas mengusap kepalaku lembut.


Aku hanya tersenyum dan terus bermain air. Rasanya begitu menyenangkan. Begitu tenang dan damai. Dari pinggir pantai, ternyata Andreas tengah mengambil gambar diriku dengan kamera yang ia bawa. Aku tersenyum saat dia mengerlingkan mata ke arahku.


Jujur saja, sebenarnya aku tak bisa berenang. Jadi, aku hanya bermain air di tempat yang tidak terlalu dalam.


Pandanganku beralih pada teriakan orang-orang yang tengah bermain banana boat. Mereka terlihat bersenang-senang dan berteriak kencang. Aku jadi berpikir, mungkin jika aku naik banana boat dan terjatuh di dalam air, aku bisa berteriak karena takut. Aku berlarian ke arah Andreas dan menarik tangannya lalu menunjuk ke arah banana boat.


"Yakin mau naik itu?" Tanya Andreas yang aku balas dengan anggukan.


"Tapi...."


Aku segera mengambil ponsel Andreas yang tergantung di lehernya dan menuliskan alasanku kenapa ingin bermain banana boat.


"Benar juga." Ucap Andreas setelah membaca apa yang aku tulis. "Kalau gitu ayo. Siapa tahu dengan ketakutan itu bisa membuatmu berteriak." Lanjut Andreas seraya mencubit pipi kiri ku.


Aku yang tak bisa berenang awalnya ragu tapi karena sudah siap untuk mencobanya demi bisa berteriak akhirnya memberanikan diri main banana boat bersama Andreas. Jadilah aku duduk paling depan, kemudian Andreas, dan diikuti beberapa orang lainnya naik banana boat. Aku meminta kepada nakhoda banana boat untuk tidak di jatuhkan ke laut karena aku takut tenggelam.


Tapi, apalah daya ternyata dijatuhkan juga, alhasil aku panik. Meski begitu aku tak jua bisa berteriak. Suaraku rasanya seperti terhenti di kerongkonganku. Banyak air yang masuk ke hidung dan telingaku, rasanya asin, dan aku merasakan seperti akan tenggelam. Namun, ketika aku mencoba menapakkan kaki ke dasar, ternyata aku bisa berdiri.


"Hahahahahhaha..."

__ADS_1


Suara tawa Andreas begitu keras, saat aku mencari sumber suara ternyata dia berdiri tak jauh dariku.


"Airnya tidak dalam gadis kecil." Ucap Andreas seraya berjalan mendekatiku.


Aku menampilkan wajah cemberut pertanda aku kesal karena ditertawakan. Padahal niat hati aku hanya ingin menggodanya.


"Maaf-maaf. Jangan cemberut gitu dong. Aku pikir gadis kecil ku ini bisa berteriak karena takut. Nyatanya suaramu memang bandel. Belum juga mau keluar." Ucap Andreas mengusap kepalaku lembut.


Andreas lalu memegang tanganku, hendak mengajakku untuk ke tepian. Aku sedikit kesusahan berjalan di dalam air. Hingga Andreas akhirnya memintaku untuk naik ke punggungnya.


"Biar aku gendong. Kalau menunggu kamu berjalan bisa sampai sore nanti kita tiba di tepian." Ucap Andreas.


Aku melihat ke kiri dan kanan. Ada begitu banyak orang. Aku malu nantinya dilihat orang, jadi aku kembali memilih berjalan. Tanpa aku duga, Andreas justru menggendong tubuhku dari depan. Aku berontak dengan memukul-mukul dadanya yang masih mengenakan rompi pelampung warna oranye.


"Makanya kalau malu aku gendong begini. Lebih baik aku gendong di punggung saja. Ayo cepat naik." Ucap Andreas seraya menurunkan ku lalu membungkuk.


Ah, aku memang tak pernah bisa menolak apa yang dikatakan pria ini.


Sampai di tepian aku langsung mencari air minum untuk menghilangkan pengeng di telinga karena kemasukan air laut yang asin. Setelah itu aku meminta Andreas mengubur diriku di pasir putih. Hanya setengah badan saja yang terkubur. Rasanya seru karena sebagian tubuhku hilang.


Andreas kembali mengambil kameranya lalu mengambil gambar diriku yang hanya terlihat tinggal badan saja tanpa kaki.


Makanan yang disajikan dari restoran pinggir pantai tempat kami memesan sangat enak. Ada banyak aneka seafood dengan bumbu saus yang berwarna merah yang langsung di sajikan di atas meja tanpa alas. Kami pun mulai lahap memakannya.


"Pelan-pelan saja. Kau sampai belepotan begini." Ucap Andreas seraya mengusap sudut bibirku dengan tissue.


Aku tersenyum ke arahnya. Pria dihadapanku ini benar-benar menjagaku dengan baik.


Dengan perut kenyang, aku kembali mengajak Andreas berjalan-jalan santai di pinggir pantai sambil menyalakan kamera dan mengambil beberapa video. Sesekali Andreas tak ragu untuk mencium pipiku meski ada begitu banyak orang yang juga tengah bermain di pantai.


Saat matahari mulai sedikit bersahabat kami pun kembali bermain-main dengan ombak. Aku mencoba berselancar menggunakan pelampung yang di sewa Andreas. Dia mengajariku bagaimana caranya berselancar dan ternyata menyenangkan juga meski kadang air laut masuk ke telinga.


Berhubung hari sudah sore kami pun mandi untuk bersih-bersih badan karena rambut penuh dengan butiran-butiran pasir. Andreas menggandeng tanganku menuju tempat pemandian umum yang tersedia di pantai itu.


Setelah bersih dan wangi, sebelum pulang kami pun masih sempat berfoto-foto, dan berniat menunggu sunset. Dan hal yang tak ku inginkan pun terjadi. Kebetulan atau tidak kami bertemu dengan Arnold. Ada rasa takut yang mulai menguasai diriku kala melihat raut wajah penuh dendam yang di tunjukkan Arnold. Aku sontak berdiri di belakang Andreas dan memeluknya dengan erat saat Arnold berjalan mendekati kami.


"Wah, wah, wah... Kebetulan sekali aku bisa bertemu dengan sepasang sejoli disini." Ucap Arnold.


"Mau apa kau?" Tanya Andreas.

__ADS_1


"Aku ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Balas Arnold.


"Siapa yang kau sebut milikmu? Buka matamu lebar-lebar, disini tak ada apapun yang merupakan milikmu." Ucap Andreas lagi dengan penuh penekanan.


"Kau merebut wanita milikku. Jadi aku kemari untuk mengambilnya lagi." Kali ini Arnold berusaha mendekatiku.


Aku yang semakin takut semakin mengeratkan pelukanku pada Andreas.


"Jangan pernah bermimpi untuk bisa menyentuhnya lagi." Andreas dengan keras mendorong tubuh Arnold hingga membuat pria itu tersungkur.


"Berdirilah disini. Aku akan menyelesaikan semuanya." Ucap Andreas padaku.


'Apa ini? Apa mereka mau berkelahi?'


Andreas berjalan mendekati Arnold yang baru berdiri. Perkelahian keduanya pun tak terhindarkan. Aku tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa meringkuk di bawah sebuah pohon yang berada di pinggir pantai sambil melihat kedua pria dihadapanku itu saling berkelahi.


Orang-orang juga sepertinya enggan untuk melerai keduanya. Orang-orang justru sibuk mengabadikan kejadian itu dengan ponsel mereka. Aku heran dengan kelakuan orang-orang di masa kini. Bukannya melerai justru mereka malah sibuk sendiri. Seperti tengah menonton acara tinju bebas.


Aku yang sudah tak tahan, akhirnya berdiri dan hendak melerai mereka. Tapi kejadian berikutnya membuat mataku membulat sempurna. Kala aku melihat Arnold mengambil sebuah pisau dari balik jaket yang ia kenakan dan menusuk tepat di perut Andreas.


Aku syok hingga tanpa sadar akhirnya aku bisa berteriak dan memanggil nama Andreas.


"Andreaaaasss...." Teriakku.


Aku berlari dan segera memeluk Andreas yang terkapar di pasir dengan bersimbah darah. Aku menangis sejadi-jadinya, dan mengusap wajah Andreas. Kejadiannya begitu cepat hingga membuat orang-orang yang melihat kejadian ini tampak berdiri mematung. Sepertinya mereka juga sama sepertiku, syok dengan apa yang terjadi.


"Andreas... Ku mohon bertahanlah. Huuu.... Tolong...." Teriakku berusaha membuat orang-orang mendekat.


Andreas memegang wajahku dan berkata dengan lemah, "Tolong jangan menangis. Aku bahagia karena sudah bisa mendengar suaramu lagi." Ucap Andreas lalu ia tak sadarkan diri.


"Aaaaaaa.... tolong." Lagi-lagi aku berteriak.


"Andreas ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu Andreas." Ucapku seraya mengusap-usap wajah Andreas.


Aku lalu mendongak dan menatap Arnold yang berdiri mematung dengan tangannya yang masih memegang pisau.


"Penjahat. Kau harus bertanggung jawab dengan semua perbuatan mu." Ucapku.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2