
Mereka akhirnya turun dari helikopter dan berjalan menuju parkiran dimana mobil mereka berada.
Kim dan Dom berjalan menuju mobil mereka bersama pasangan masing-masing setelah berpamitan dengan Adam, Claudia dan Megan.
Adam dan dua gadis itu juga pergi menuju mobil mereka. Megan berjalan lebih dulu, disusul Claudia dan Adam yang berjalan di belakangnya.
Megan membuka pintu di bagian kursi samping pengemudi lalu masuk ke dalamnya.
"Cepatlah Tante Claudia, ini sudah larut malam. Kau sudah mengantuk bukan? Kau bisa beristirahat di kursi belakang dengan leluasa. Itulah kenapa aku mengambil posisi duduk di depan." Ucap Megan.
Claudia tampak terkejut.
'Tentu saja aku tahu ini sudah larut. Dia pikir, apa yang sedang dilakukannya sekarang. Aku adalah istri Adam. Akulah yang seharusnya duduk di kursi itu, bukan dia. Aaargghh, gadis ini mulai membuatku kesal.' pikir Claudia.
Adam bergegas membukakan pintu belakang untuk sang istri, sama seperti yang biasanya ia lakukan. Dia mengulurkan tangan kirinya untuk membantu Claudia naik ke atas mobil. Claudia menatap Adam dengan marah.
'Wow, apakah gadis itu begitu penting sampai dia tidak bisa memintanya untuk duduk di bangku belakang saja?' pikir Claudia sebelum mengabaikan tangan Adam lalu masuk ke dalam mobil.
Saat itulah Adam menyadari bahwa istrinya sedang kesal.
Dia membungkuk, memasukkan kepalanya ke dalam mobil dan bertanya.
"Ada apa sayang?" Tanya Adam.
Claudia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil dan menutup matanya.
"Tidak ada, hanya mengantuk saja." Balasnya tanpa membuka mata.
Tapi, bukannya mendengar suara pintu mobil tertutup, Claudia malah merasakan napas Adam yang berhembus di lehernya. Claudia membuka matanya dan mendapati Adam begitu dekat dengannya, tengah memasang sabuk pengaman miliknya, menyelesaikan pekerjaan yang memang biasa ia lakukan. Dia lalu mengangkat kepala Claudia, lalu mencium bibirnya dengan cepat.
"Baiklah, aku mencoba membawa kita pulang ke rumah secepat mungkin, oke. Beristirahatlah sebentar disini." Ucap Adam seraya mengusap pipi Claudia lalu menutup pintu mobil kemudian bergegas duduk di kursi pengemudi.
Mobil melaju dengan cepat di tengah kegelapan. Duduk di kursi belakang, Claudia melihat keluar lewat jendela. Hanya ada kegelapan, ia masih terjaga. Cahaya lampu mobil lainnya saja yang sesekali tampak terlihat menerangi jalanan.
Duduk di samping kursi pengemudi, gadis belia itu sejak tadi terus berbicara dan sesekali cekikikan mengobrol dengan Adam hal ini dan itu. Adam sama sekali tidak melawannya bicara. Hanya sesekali menjawab, 'hmmm' dan 'iya' saja.
Apa yang Claudia tidak sadari adalah, bahwa sejak tadi suami terus melihat kondisi dirinya melalui kaca depan mobil. Mengeceknya apakah ia tidur atau tidak. Claudia tidak tahu bahwa suaminya tidak pernah mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti yang ia lakukan saat ini. Adam tidak pernah melewati batas kecepatan maksimum aturan mengemudi. Tapi hari ini dia melakukannya karena Claudia yang mengantuk. Dia juga ingin segera tiba di rumah secepat mungkin.
Mobil itu akhirnya melambat sat tiba di sebuah kawasan perumahan elit. Melihat area itu, Claudia berpikir bahwa apartemen itu merupakan pemberian Adam kepada Megan. Sang Sugar Daddy dan semuanya.
Claudia menutup matanya agar tidak menghiraukan kedua orang itu.
Megan hendak bersiap keluar dari dalam mobil. Tapi, Adam menghentikannya.
"Tunggu dulu, di luar sangat gelap. Biarkan aku mengantarmu sampai ke pintu apartemen mu." Ucap Adam.
'Mengantarmu sampai pintu apartemen? Hah, kau pikir aku sebodoh itu? Penjaga malam pasti berkeliling mengamankan seluruh area ini. Memangnya ada bahaya apa disini? Hah, ciuman selamat malam mungkin, ya benar. Pasti itu.' pikir Claudia dengan perasaan yang semakin kesal.
__ADS_1
Claudia sama sekali tidak menyadari bahwa Adam setelah keluar dari dalam mobil, lebih dulu melihat ke arahnya. Untuk memastikan apakah Claudia tidur dengan nyenyak atau tidak. Ia kemudian pergi dengan perlahan dan diam agar tidak membangunkan istrinya itu.
Setelah menyadari bahwa kedua orang itu telah pergi, Claudia kembali membuka matanya.
************
Sudah dua puluh menit lamanya, Claudia masih menunggu di dalam mobil. Tapi tidak ada tanda-tanda akan kemunculan Adam. Dia sangat penasaran, sekaligus merasa dibodohi.
'Bajingan itu pasti tengah tidur dengan gadis itu. Yaah, tentu saja. Lagipula sejak pagi tadi dia begitu nafsuan. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menunggunya sampai dia selesai bercinta?'
Claudia begitu kesal, ia lalu keluar dari dalam mobil dengan penuh amarah. Melihat ke sekeliling area sekali lagi, lalu berjalan keluar menuju gerbang perumahan.
Sepuluh menit kemudian, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Adam. Claudia memutar matanya dengan malas lalu menjawab panggilan itu. Namun belum sempat ia mengatakan sesuatu, pria diseberang telepon lebih dulu berbicara.
"Cinta, kau dimana?" Claudia dapat merasakan kepanikan dari suara Adam.
"Aku sedang berjalan pulang ke rumah, tentu saja. Apa kau pikir aku akan menunggu kalian berdua selesai bercinta. Atau kau berpikir bahwa aku akan ikut naik ke lantai atas itu untuk menonton adegan dewasa yang kalian berdua lakukan secara langsung?" Teriak Claudia.
Untuk beberapa saat, Adam terdiam mendengar ucapan sang istri.
"Cinta, aku melihat dua orang asing berada disekitar apartemennya. Jadi aku hanya...." Adam tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena sambungan telepon mereka sudah terputus.
Dia terus menelepon beberapa kali setelah itu. Tapi Claudia terus saja menolak panggilan darinya.
Claudia tengah mencoba untuk memesan taksi untuk dirinya sendiri. Tapi, aplikasi taksi online itu tidak berjalan dengan baik karena Adam yang terus saja menelepon membuat jaringan menjadi buruk. Claudia pun merasa putus asa saat ini.
"Dasar Adam Wijaya bajingan. Apa masalahmu hah? Aku disini berusaha memesan taksi untuk diriku sendiri. Tapi kau merusak jaringan ponselku. Berhenti meneleponku." Teriak Claudia saat menjawab panggilan Adam lalu sambungan telepon terputus.
'Apakah Adam memang memutuskan panggilannya? Sialan.' umpatnya dalam hati.
Tapi setelah itu, sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya. Sorot lampunya begitu menyilaukan mata Claudia, membuatnya berbalik dan menutup matanya seraya berjalan menjauh.
Seseorang keluar dari dalam mobil, sekarang Claudia menyadari bahwa pria itu adalah suaminya. Adam berjalan mendekati Claudia lalu menarik lengannya untuk ikut bersamanya masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan aku. Aku tidak ingin masuk ke dalam mobilmu. Aku tidak ingin kembali ke rumahmu. Lepaskan aku Adam. Aaaargggghhh...."
Tapi Claudia akhirnya masuk ke dalam mobil dan Adam sudah dengan cepat memasangkan sabuk pengaman padanya. Saat Claudia berhasil membukanya kembali dan ingin keluar dari dalam mobil, Adam sudah dengan cepat mengunci pintu mobil itu.
Claudia tak bisa melakukan apapun, ia hanya melihat ke arah keluar jendela dengan ekspresi penuh kemarahan sementara Adam kembali memasangkan sabuk pengamannya.
"Cinta, dia hanyalah seorang gadis kecil yang kami berempat asuh secara bersama. Kau seharusnya tidak berbicara seperti itu tentang kami berdua. Aku adalah Om nya. Dan aku memperlakukannya seperti seorang keponakan. Aku hanya mengecek keamanan dari area tempat tinggalnya saja, dan berbicara dengan pihak keamanan tempat itu. Dia memang hidup seperti itu sayang. Beberapa daru musuh papanya masih selalu mengancam dirinya.
Sayang, kau adalah istriku. Kau harus mengerti akan tanggung jawabku. Dan kau harus selalu berada di sampingku dengan segala tanggung jawab ini. Aku tahu kau sudah terbiasa dengan perhatian yang aku berikan hanya kepadamu. Tapi sekarang kau hanya cemburu karena kau berpikir bahwa aku juga memberikan perhatian lebih padanya. Tapi bukan seperti itu. Tempatmu di hatiku akan selalu menjadi tempatmu. Dan hanya untukmu sayang. Semua perhatianku hanya untukmu. Percaya padaku." Adam terus saja bicara sementara Claudia memilih diam.
Setelah mobil berhenti di depan rumah, Claudia keluar dari dalam mobil dan berlari secepat kilat. Menolak untuk bicara dengan Adam yang juga berlari dibelakangnya. Belum sempat Adam masuk ke dalam kamar Claudia, pintu sudah di banting dengan keras dihadapan wajah Adam.
Adam masih berdiri di depan pintu dan terus mengetuknya beberapa kali. Tapi Claudia sama sekali tidak membukanya. Adam lalu kembali ke kamarnya. Dia tidak bisa tidur, kemudian tangannya beralih mengusap sudut matanya, dia tidak menyadari bahwa sudut matanya terasa basah. Tapi satu hal yang dia sadari adalah, dia sangat merindukan Claudia. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tidur dengan Claudia yang berada di dalam pelukannya. Dia tahu dia tidak bisa tidur, tapi terus mencoba. Dia lalu mengingat kutukan yang diberikan Claudia kemudian menghela napas membayangkan bagaimana ia berencana untuk menghabiskan malam romantis dengan Claudia namun malah berakhir dengan tidur seorang diri.
__ADS_1
*********
Claudia bangun terlambat keesokan paginya. Dia memang sengaja melakukannya agar tidak perlu bertemu dengan Adam. Ia kemudian turun dari dalam kamar untuk sarapan. Adam sendiri sudah berangkat ke kantor.
Claudia sendiri seperti merasa merindukan pelukan hangat dan sapaan yang selalu di lakukan Adam di meja makan.
Claudia tengah sibuk mengunyah roti yang diberi selai cokelat, saat seorang pengawal pribadi Adam tiba-tiba datang menghampirinya.
"Selamat pagi Nona Muda. Ini untuk Anda. Bos yang mengirimnya." Ucapnya seraya meletakkan sebuah paper bag di atas meja dan membungkuk memberi salam pada Claudia.
Claudia melihat ke dalam paper bag itu, ada satu set parfum. Dia sama sekali tidak mengenali merk dari parfum itu. Tapi ada empat set dari aroma yang berbeda. Dan merk dari semua itu adalah 'D'care'. Claudia sama sekali tidak pernah mendengar merk itu.
"Aku tidak mau menerimanya. Kirimkan kembali pada Bos mu." Ucap Claudia kemudian kembali menyantap rotinya.
Pengawal itu tampak gugup, ia tampak menelan ludah sebelum berbicara.
"Nona, ini adalah hadiah dari Bos, spesial untuk Anda. Bos menyiapkannya sendiri. Bos tidak pernah memilih atau membelikan hadiah untuk orang lain secara pribadi. Perasaan Bos tengah tidak baik sejak pagi tadi. Tapi setelah Bos melihat semua ini, Bos menjadi bersemangat dan tampak senang." Ucap pelayan itu berusaha menjelaskan tentang Bos nya.
Claudia tertawa kecil.
"Benarkah? Bahagia? Bagaimana kau bisa tahu? Apakah dia tersenyum?" Tanya Claudia menginvestigasi pengawal itu.
"Nona, seperti yang Anda ketahui. Tuan tidak tersenyum, tapi dari sorot matanya dapat dilihat tampak sangat bahagia." Balas pengawal itu.
"Dan bagaimana dengan Megan? Bagaimana dia memilih hadiah untuknya?" Tanya Claudia.
"Bos juga memilihkan untuknya juga. Tapi, Nona ada sesuatu yang spesial..." Pengawal itu tidak bisa menjelaskan bahwa hadiah itu adalah hadiah yang spesial karena Claudia sudah mengangkat tangannya yang membuat pengawal itu berhenti berbicara.
Claudia mengetahui tentang merk itu setelah membaca sebuah kertas yang ada didalam paper bag itu.
D'care adalah merk kosmetik terbaru yang baru saja di perkenalkan oleh AW grup, perusahaan milik Adam yang di persembahkan untuk sang Ratu tercinta, Claudia Wijaya. Adam sendiri yang memberikan nama merk itu. Hanya beberapa sahabat dekat dan para karyawan yang mengetahui hal itu. Dimana orang lain berpikir bahwa D itu adalah untuk Dam, atau singkatan dari nama Adam, yang sebenarnya D itu untuk Di atau singkatan nama Claudia.
Adam menginginkan Claudia untuk memiliki sampel pertama dari produk parfum itu. Keempat aroma parfum itu dipersembahkan khusus untuk Claudia.
Tidak hanya itu saja, ada beberapa produk kosmetik lainnya yang berada dibawah merk baru itu.
"Tapi aku tidak menginginkan ini. Sekarang beritahu aku, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak menyukai semua ini. Apakah aku harus tetap menyimpannya mengabaikan rasa tidak suka ku? Tidak bukan? Jadi bawa semua ini pergi." Ucap Claudia dengan menampilkan senyumnya yang penuh kepalsuan.
"Emmmm Nona, akan lebih baik jika Anda sendiri yang pergi ke kantor untuk mengembalikan semuanya pada Tuan. Tuan akan membunuh saya jika saya mengembalikan ini sendiri padanya."
Claudia memutar mata malas seraya berdiri.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri." Ucap Claudia kesal.
***********
Saat Claudia baru menginjakkan kakinya ke dalam kantor Adam, Adam baru saja selesai meeting yang sangat penting. Itulah kenapa dia tidak bisa menunggu sampai Claudia bangun pagi ini. Bagaimanapun Adam juga sebenarnya sangat tidak suka pergi ke kantor dengan tidak menatap wajah Claudia lebih dulu.
__ADS_1
Adam kembali ke ruangannya dan memberitahu salah satu sekretarisnya untuk tidak mengganggu dirinya di dalam ruangan karena dia sedang ingin beristirahat. Adam mempunyai tiga orang sekretaris, yaitu Nadia, Hilda dan satu lagi seorang pria bernama Samuel.
Bersambung....