90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Siuman (Bab 63)


__ADS_3

Di temani Angelica, aku menjaga Andreas malam ini. Gadis itu kembali setelah hampir 2 jam pergi. Dan ia kembali dengan membawa makanan dan pakaian ganti untukku. Kami mengobrol panjang lebar hingga tak terasa jam di dinding tembok rumah sakit menunjukkan pukul 10 malam. Ponsel Angelica berdering, dengan cepat gadis itu menerima panggilan itu.


"Halo..." Ucap Angelica cepat.


"Ya Tuhan, aku lupa." Ucapnya lagi.


Beberapa saat ia terdiam, mungkin lawan bicaranya tengah mengatakan sesuatu yang penting.


"Oke. Thanks ya udah ngingetin aku." Ucap Angelica yang akhirnya menyudahi panggilan.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Aku harus pulang. Kamu bisa jaga Kak Andreas sendiri kan?" Ucap Angelica balik bertanya.


"Tentu saja." Balasku.


"Ada tugas kuliah yang harus aku kumpulkan besok. Dan aku belum menyelesaikannya. Jadi aku harus...."


"Pulanglah." Ucapku. "Aku bisa sendiri disini. Jangan khawatirkan aku. Aku justru mengkhawatirkan mu yang harus pulang sendirian malam-malam begini." Lanjut ku.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa." Balas Angelica mulai bangun dari duduknya. "Aku titip Kak Andreas ya. Mungkin besok aku baru bisa balik setelah dari kampus. Segera telepon aku jika terjadi sesuatu."


"Tentu. Berhati-hatilah." Balasku.


"Siap kakak ipar." Balas Angelica tersenyum seraya berjalan keluar ruangan.


Kini tinggal aku seorang diri. Hanya bisa menatap Andreas yang belum juga sadarkan diri. Seperti yang Dokter katakan, setidaknya paling lambat ia akan sadar esok hari. Dan aku sudah tak sabar untuk menunggunya. Aku menggenggam jemari Andreas dan menciumnya penuh khidmat.


"Segeralah siuman. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku ingin kita segera menikah. Jangan ditunda lagi. Aku ingin kau jadi milikku, dan aku jadi milikmu seutuhnya. Tak akan ada lagi pengganggu dan penghalang diantara kita."


Entah sudah jam berapa ini, kantuk sudah mulai menguasai ku. Hingga aku memutuskan untuk merebahkan kepala ku di ranjang tempat tidur Andreas dengan posisiku yang terduduk akhirnya aku pun terlelap.


Entah bagaimana aku bisa berada di sebuah ruangan yang berbeda. Dan yang membuatku terkejut adalah aku yang mengenakan gaun pengantin. Aku melihat sekeliling, aku tengah berada di dalam sebuah ruangan seperti sebuah kamar hotel. Namun, semuanya serba kayu mulai dari dipan, kursi yang aku duduki hingga dinding dari kamar.


Aku melihat pantulan diriku di cermin yang tampak begitu cantik dengan mengenakan gaun putih serta sebuah tiara kecil yang bertengger di kepalaku.


'Ada apa ini? Apa aku akan menikah?' pikirku.


Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Papa dalam balutan jas berwarna hitam dan mengenakan dasi kupu-kupu. Papa terlihat sangat tampan, dengan senyuman yang mengembang ia melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ayo sayang, semuanya sudah menunggumu." Ucap Papa seraya mengulurkan tangannya padaku.


Aku meraih tangan Papa dan berjalan beriringan. Saat keluar dari dalam kamar, angin berhembus cukup kencang. Dan aku mulai tersadar bahwa aku tengah berada di tepi pantai. Perlahan Papa membawaku berjalan melintasi jalan setapak yang ditaburi kelopak mawar putih.


Hingga kami berdua akhirnya tiba di sebuah tempat dimana sudah ada banyak orang yang menunggu kami. Aku menatap lurus kedepan. Ternyata Andreas sudah berdiri menungguku dalam balutan jas berwarna hitam. Ia tampak sangat tampan. Aku menengok ke kiri dan ke kanan bergantian. Tampak Merry dan Hansen duduk berdampingan tersenyum ke arahku.


Sosok Mama berjalan mendekat ke arahku dan memelukku.


"Mama bahagia untukmu sayang." Ucap Mama.


Angelica tampak melambaikan tangan dengan senyuman khasnya. Aku dan Andreas berhadapan, kami berdua menampilkan senyuman yang paling bahagia. Dan yang membuatku bingung Andreas malah mengusap-usap kepalaku di depan orang banyak.


"Hei bangunlah." Ucap Andreas yang sontak langsung membuatku tersadar, ternyata semua itu hanyalah mimpi.


'Jika itu mimpi, maka Andreas.....'


Aku melihat ke arah Andreas, dan ternyata dia sudah duduk dan tersenyum ke arahku.

__ADS_1


"Hai gadis kecil." Ucap Andreas.


Mataku membelalak dan aku sontak memeluknya dengan cepat.


"Auu... Sakit." Lirih Andreas.


"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku lupa." Balasku melepaskan pelukan dengan cepat.


Andreas tersenyum lalu kembali memelukku dengan perlahan. Hangat sekali rasanya. Terasa sebuah kecupan mendarat di ubun-ubun ku.


"Maaf sudah membuatmu khawatir." Ucap Andreas.


"Bodoh." Balasku menepuk dadanya. "Kenapa kau minta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf. Kalau bukan karena aku, kau tidak akan seperti ini." Lanjut ku.


"Meski harus mati sekalipun tidak mengapa. Asal aku bisa mendengar suaramu lagi dan mengatakan kau mencintaiku saja sudah cukup."


"Jangan bicara begitu. Jika kau mati, bagaimana denganku. Aku janji akan mengatakan aku mencintaimu setiap hari. Asal kau jangan sampai melakukan tindakan bodoh yang akan mengancam nyawamu lagi." Ucapku cerewet.


"Iya-iya. Tapi bagaimana jika...."


"Jangan bicara lagi. Mulai sekarang kau harus mendengarkan aku. Aku akan merawat mu sampai sembuh. Kau harus makan, sejak kemarin kau belum makan malam. Jadi sekarang tunggulah disini aku akan...."


Cup...!!!


Belum selesai aku bicara Andreas sudah membungkam mulutku dengan menciumnya.


"Hei... Kau ini. Ini rumah sakit..." Protes ku.


"Kau cerewet sekali setelah bisa bicara lagi. Pelan-pelan saja." Balas Andreas. "Aku tidak lapar. Lagi pula dengan memberikan ciuman mu saja aku sudah kenyang."


"Omong kosong. Tunggulah sebentar, aku akan memanggil Dokter dan membawakan sarapan untukmu." Ucapku seraya berdiri.


"Aku serius, berikan aku ciuman itu. Maka aku akan segera sembuh."


"Ta-pi...."


"Jangan bicara lagi..." Ucap Andreas lalu mulai mencium ku dengan lembut.


Andreas semakin menarik kepalaku, dan semakin mendalam kan ciumannya hingga membuatku sulit bernafas. Andreas segera melepaskan aku. Kening kami beradu, mata kami saling menatap tajam.


"Bernafas lah, aku belum selesai." Ucap Andreas kemudian memiringkan kepalanya dan kembali mencium ku.


Aku mulai menikmati ciuman Andreas dan perlahan membalasnya. Tak lagi terpikirkan bahwa kami berciuman di dalam sebuah ruangan rumah sakit yang bisa saja ada CCTV atau bahkan seseorang yang masuk dan mendapati kami tengah berciuman. Kami berdua benar-benar terbuai dan terus saja berciuman. Hingga suara pintu yang tiba-tiba terbuka mengagetkan kami dan menghentikan aksi kami.


"Aaaa kalian berdua menodai mata suci ku...." Teriak Angelica.


Entah sudah seperti apa wajahku sekarang. Yang jelas aku sangat malu.


"Dasar pengganggu." Ucap Andreas.


Bukannya menghentikan aksinya Andreas malah kembali menarikku dan mencium ku dihadapan Angelica. Aku berontak dan mendorong Andreas dengan pelan.


"Ya Tuhan kakak. Setidaknya tunggulah hingga pulang ke rumah dan kalian sudah menikah." Lagi-lagi Angelica protes.


Aku memperbaiki posisi dudukku dan mendekat ke arah Angelica yang duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan.


"Hei, kau mau kemana? Kenapa malah meninggalkan aku setelah dia datang." Protes Andreas yang membuatku tertawa geli.

__ADS_1


Aku lalu duduk disamping Angelica yang ikut tertawa.


"Kau bilang tak akan kembali pagi-pagi." Ucapku.


"Ah tugas itu ternyata bisa dikirim via email. Pagi-pagi sekali aku sudah mengirimnya. Jadi aku bisa datang untuk menjenguk kakak ku yang ternyata sudah sadar dan malah mendapatinya tengah mesum denganmu." Ucap Angelica terbahak.


"Diam." Teriak Andreas.


"Lihat. Apa kau tak menyadari sesuatu kakak ipar? Kak Andreas tampak berubah setelah siuman. Dia tampak seperti bocah yang ingin bermanja-manja denganmu." Ucap Angelica.


Aku hanya tertawa dan menatap Andreas yang tengah melipat tangan dengan wajahnya yang tampak cemberut. Bagiku dia terlihat menggemaskan sekarang. Memang tampak berbeda dengan sosok Andreas yang biasanya terlihat tenang dan ramah. Andreas kali ini memang tampak seperti anak-anak yang menggemaskan.


"Oh iya. Apa kau sudah memanggil Dokter?" Tanya Angelica lagi, dan aku hanya menggeleng.


"Tentu saja. Aku lupa, bagaimana bisa kau memanggil Dokter. Sedangkan siluman itu menahan mu dengan ciuman mematikannya." Ucap Angelica yang membuatku semakin tertawa. "Tunggu disini. Aku akan memanggil Dokter." Lanjut Angelica berjalan keluar ruangan.


Baru saja pintu tertutup, Angelica kembali membukanya.


"Jangan mesum dulu. Takutnya Dokter akan pingsan melihat kelakuan kalian." Ucap Angelica kemudian menutup pintu kembali.


Aku tersenyum dan merapikan rambutku. Kali ini pandanganku beralih pada Andreas yang ternyata tengah menatapku dengan tatapan yang begitu nakal.


"Kemari lah." Ucapnya seraya menepuk ranjang.


"Tidak." Balasku.


"Kenapa kau terlihat takut? Aku tidak akan menggigit. Aku hanya akan mencium mu." Ucap Andreas.


"Ah kau ini. Aku tidak mau." Ucapku.


"Jangan sampai aku yang berjalan kesitu." Ancam Andreas.


"Jangan. Kau belum pulih." Balasku seraya berjalan ke arahnya lalu duduk di kursi di sampingnya. "Kau harus istirahat." Ucapku.


"Kalau begitu cepat berikan aku..." Andreas menunjuk bibirnya.


"Sabar. Tidak disini sayang. Tunggulah sampai kita menikah. Aku akan memberikannya padamu setiap hari." Ucapku.


"Setiap jam." Balas Andreas yang membuatku tertawa.


"Itu artinya kita harus menempel satu sama lain." Ucapku.


Andreas pun akhirnya tertawa dan meraih tanganku.


"Terima kasih sudah memilihku. Aku mencintaimu." Ucap Andreas. "Berjanjilah mulai sekarang kau akan memanggilku 'sayang'."


Aku mengangguk, Andreas lalu mencium tanganku tepat saat pintu terbuka. Aku dengan cepat menarik tanganku. Sosok Angelica berdiri dan tampak menepuk keningnya. Di belakang Angelica seorang Dokter ikut berjalan masuk dan mulai memeriksa Andreas. Aku berdiri di samping Angelica menjauh dari ranjang Andreas.


"Sudah ku bilang. Tunggulah sampai kalian di rumah. Kalian bisa melakukan apapun disana." Bisik Angelica.


'Gadis ini, benar-benar....' Aku memijit keningku yang berkedut.


Dokter mengatakan keadaan Andreas sudah membaik. Dan masih harus di rawat beberapa hari lagi untuk memastikan lukanya kering.


Tepat siang harinya Mama Andreas dan anggota keluarga yang lainnya datang membesuk Andreas. Semua orang tampak lega melihat kondisi Andreas yang akan segera pulih. Aku begitu senang dan berharap Andreas bisa segera keluar dari rumah sakit.


Para keluarga mulai kembali membahas tentang pernikahan kami. Tapi, entah kenapa pikiranku kini tertuju pada Arnold. Bagaimana dengan pria itu? Apa dia sudah di tangkap polisi atas perbuatannya ini?

__ADS_1


Satu-satunya harapanku tentang Arnold adalah, semoga dia tak lagi mengganggu hubunganku dengan Andreas. Lagi pula ada Viona yang harus dia cintai.


Bersambung....


__ADS_2