
Sudah hari ke 4, dan Arnold belum juga mau membebaskan aku. Setiap harinya aku selalu mencari cara agar bisa keluar dari villa ini. Namun, tetap saja gagal. Andreas maupun Jack sepertinya kehilangan jejak tentang diriku. Arnold sepertinya benar-benar melakukan semuanya dengan teliti hingga tak ada yang bisa melihat kesalahan yang bisa mengarahkan hilangnya aku karena dirinya.
Sejak hari itu, aku tak lagi bertemu Viona. Aku tak tahu apakah dia benar-benar berniat menolongku atau tidak. Yang jelas dua hari ini aku tak lagi bertemu siapapun selain si pelayan yang mengantar makanan, termasuk juga Arnold.
Aku begitu lelah berpikir, untuk apa dia harus mengurungku? Padahal aku sudah menolak dan mengatakan bahwa aku tidak akan pernah mau kembali lagi padanya.
Sore ini, aku memilih berdiri di pinggir balkon dan menatap ke arah sungai. Jika aku bisa kabur dari villa ini lewat halaman belakang, aku bisa kabur melewati sungai dan berjalan melewati hutan. Tapi, aku perlu bantuan untuk mengalihkan perhatian para penjaga.
Suara pintu terbuka, Arnold berjalan masuk ke dalam kamar dan menarikku masuk.
"Jangan berdiri terlalu pinggir. Nanti kau bisa jatuh." Ucap Arnold.
"Aku lebih baik jatuh ke bawah dan mati mengenaskan daripada harus dikurung setiap hari disini menjadi tawanan orang sepertimu." Ucapku menampik tangan Arnold yang berusaha memegang daguku.
"Kau semakin berani saja ya."
"Memang apa yang bisa membuatku takut. Kau? Aku tidak takut padamu." Ucapku.
"Kau benar-benar menantang ku. Aku tidak akan segan-segan lagi padamu."
"Kau tak ada bedanya dengan pria gila yang sering berjalan di sepanjang jalan dengan pakaian compang camping. Bahkan bagiku mereka jauh lebih baik darimu yang nyatanya jauh lebih gila." Ucapku.
Aku benar-benar tak tahan melihat Arnold. Aku ingin sekali menyumpahinya. Namun, tindakanku nyatanya memang memancing kemarahannya. Arnold mendorongku ke tempat tidur dan mencekik leherku. Aku meronta berusaha untuk terlepas darinya. Namun, cengkraman Arnold semakin kuat.
Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri dengan menendangnya. Tapi, lagi-lagi Arnold tak bergeming dan semakin menindih ku. Arnold akhirnya berhasil mencium ku dengan paksaan. Aku menggigit bibirnya, dia membalas menggigitku hingga terasa luka.
Air mataku mengalir di pipi. Jujur saat ini aku takut jika Arnold bertindak lebih jauh. Aku takut dia akan menodai ku seperti waktu itu. Jika itu terjadi, aku lebih memilih mati. Aku tidak akan sanggup menampakkan wajahku lagi dihadapan Andreas.
Ternyata setelah begitu beringas mencium ku, Arnold akhirnya melepaskan aku dan berdiri lalu berjalan hendak keluar kamar.
"Itu hukuman untukmu karena sudah melawan denganku. Lain kali aku akan melakukan yang lebih lagi jika kau terus melawan."
Aku menangis dan bersumpah akan membenci Arnold sepanjang hidupku.
"Aku bersumpah, bahwa sepanjang hidupku aku akan membenci dirimu." Teriakku.
"Kau boleh membenciku sepanjang hidupmu. Selama kau ada di sisiku itu tidak akan jadi masalah." Ucap Arnold lalu menutup pintu dengan keras.
Tidak, aku tidak tahan lagi. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Sudah aku putuskan, apapun yang terjadi. Malam nanti, aku harus bisa pergi dari tempat ini.
Sejak sore hari, aku mulai mencari pakaian atau kain yang bisa aku sambung satu persatu untuk menjadi tali dan bisa aku ikatkan ke besi tralis yang ada di pinggir balkon. Tali yang aku buat, bukan aku gunakan untuk turun, tapi aku punya rencana lain.
__ADS_1
Malam hari saat aku pikir si pelayan masuk, ternyata yang masuk adalah Viona. Hal ini bisa jadi kesempatan lebih baik lagi jika Viona memang benar mau menolongku.
"Apa kau benar mau menolongku?" Tanyaku pada Viona seraya menarik tangannya menjauh dari pintu.
"Tentu saja. Itulah kenapa aku kemari sekarang, karena Arnold sedang tidak ada disini." Balas Viona.
"Kalau begitu, lakukan sesuai rencana ku." Ucapku pada Viona.
Aku mulai membisikkan semua rencana yang ingin aku jalankan. Dan Viona mengangguk mengerti. Dia pun keluar dari kamar dan tak lama setelah itu seperti biasanya pelayan yang membawa makan malam untukku masuk ke dalam kamar. Sementara aku sudah bersembunyi di dalam lemari.
Aku mengintip dari dalam lemari dan melihat raut wajah kaget dari pelayan itu melihat tali yang aku buat menjuntai turun ke halaman belakang. Wanita muda itu berteriak dan berlari keluar kamar.
Suara keributan mulai terdengar di halaman belakang. Perlahan aku keluar dari dalam lemari dan mengintai dari lantai atas, banyak pengawal yang mulai memeriksa ke halaman belakang. Namun, saat lampu dimatikan dan tak lama suara mobil Viona terdengar keluar dari halaman depan mereka semua kembali berlari ke halaman depan.
Aku akhirnya berusaha turun dengan mengendap-endap memanfaatkan kegelapan dan diterangi sinar temaram bulan yang masuk ke dalam rumah, aku berusaha sebisa mungkin keluar dengan cepat ke belakang rumah.
Aku yakin para pengawal itu tengah mengejar mobil Viona. Tapi tak mungkin semuanya, pasti masih ada yang berjaga. Jadi, aku harus berhati-hati.
Aku akhirnya bisa keluar dari halaman belakang rumah dengan memanjat dinding pekarangan dan langsung menuju sungai. Sebuah cahaya senter mengenai tubuhku.
"Itu dia... Cepat kejar..." Teriak seorang lelaki.
Dengan cepat aku berlari berusaha menyebrangi sungai yang nyatanya lumayan dalam. Aku berusaha berenang dengan cepat dan berharap tidak ada buaya muara yang tiba-tiba menerkam ku. Aku harus bisa lolos dari orang-orang itu.
"Bagaimana sekarang? Apa aku berani masuk ke dalam hutan ini?" Ucapku dengan bibir bergetar.
Tapi cahaya senter yang mulai banyak menyoroti ku membuatku segera kabur. Tak perduli lagi dengan kakiku yang mulai sakit karena menginjak duri dan ranting-ranting kayu yang berserakan. Suara-suara mobil diseberang hutan semakin membuatku semangat untuk kabur. Hingga akhirnya aku berhasil keluar dari hutan dengan tubuh yang penuh luka lecet karena semak-semak.
Semoga ada orang yang mau berhenti, dan bukannya takut dengan penampilanku saat ini. Mengingat ini malam hari, jadi wajar jika ada orang yang tidak percaya bahwa ada seorang wanita di tempat seperti ini.
Meski takut ditabrak, aku memberanikan diri berhenti tepat di tengah jalan saat dari jarak yang cukup jauh, aku melihat sebuah cahaya lampu mobil mendekat.
Ckiitttt.....!!
Mobil itu berhenti mendadak. Jarak satu meter lagi, aku bisa tertabrak jika si pemilik mobil tidak segera mengerem. Tampak seorang pria paruh baya bertubuh gendut turun dari mobil. Ia menatapku penuh pertanyaan.
"Tolong saya Pak. Bawa saya pergi dari sini." Ucapku.
"Kamu manusia kan? Bukan hantu?" Ucap pria itu dengan wajah yang terlihat sedikit ketakutan.
Aku memegang lengannya begitu saja. Dia pasti kaget karena suhu badanku yang dingin karena tadinya berenang di sungai.
__ADS_1
"Tolong Pak. Saya diculik, saya baru saja kabur." Balasku.
"Tapi, kamu tidak bisa duduk di depan. Karena sudah ada anak dan isteri saya." Ucap pria itu.
Perlahan istri dan anak yang disebut Bapak itu keluar dari dalam mobil.
"Tolong Bu, Pak, saya bisa duduk di belakang." Ucapku.
Mobil milik Bapak ini ternyata merupakan mobil bak terbuka yang tengah mengangkut sayuran ke kota. Kedua pasangan suami isteri itu saling berpandangan.
"Tolong Pak. Turunkan saya dimana saja. Asal cepat bawa saya dari sini." Ucapku memohon.
Aku begitu takut para pengawal Arnold bisa datang tiba-tiba dan membawaku kembali ke villa itu.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanya sang istri dari pemilik mobil.
"Saya mau ke kota Bu." Ucapku. "Tolong cepat Pak, Bu. Saya takut mereka akan menangkap saya lagi." Lanjut ku.
"Baik, baik. Ayo naik." Ucap Bapak si pemilik mobil.
Sebelum mobil melaju, aku sempat meminjam ponsel pemilik mobil itu untuk menelepon Jack.
"Kau dimana?" Tanya Jack panik.
"Aku sedang pulang ke kota. Ceritanya panjang. Tolong aku, hubungi Andreas. Aku akan tiba di kota esok pagi di pasar tradisional." Ucapku.
"Katakan padaku, siapa yang sudah melakukan semuanya?" Tanya Jack.
"Ceritanya panjang. Tapi, semua ini disebabkan oleh Ar...."
Tutt...
Panggilan terputus, dan saat aku melihat ponsel ternyata sudah mati total. Ah sudahlah, yang penting aku sudah menghubungi Jack. Dia pasti sudah memberi tahu Andreas.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan berhenti beberapa kali. Akhirnya mobil bak terbuka yang aku tumpangi tiba di pasar tradisional di kota saat matahari sudah terbit.
Tak lupa aku berterima kasih pada pemilik mobil dan berjanji akan membalas kebaikan mereka suatu hari nanti.
Aku berjalan pelan melewati pasar yang mulai ramai orang. Tatapan orang yang melihatku membuatku merasa tak enak. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku. Tatapan mereka jelas-jelas menunjukkan kebencian.
'Apa aku sudah melakukan kesalahan?'
__ADS_1
'Ya Tuhan, semoga Andreas bisa segera menemukanku disini.'
Bersambung....