
Hari ini, aku bangun dengan perasaan yang sangat bahagia.
Semalam aku bermimpi sangat indah. Aku bertemu Mama dan Papa. Aku memperkenalkan Andreas kepada mereka. Kami berempat duduk di bawah sebuah pohon rindang seperti tengah piknik. Papa berpesan pada Andreas untuk selalu menjagaku dan tak akan pernah membuat ku sedih apalagi sampai menangis.
'Sepertinya mimpi itu sebuah pertanda dari Mama dan Papa kalau mereka setuju dengan hubunganku dengan Andreas.'
Selesai sarapan, aku berniat untuk pergi ke taman bermain. Karena aku sudah menjadi pemilik dari taman bermain itu, jadi aku akan berusaha menjalankan semuanya dengan baik agar bisa terus berkembang dan disukai banyak orang. Seperti yang akan aku lakukan hari ini. Aku akan mulai menunjuk orang-orang yang berkompeten dalam menjalankan taman bermain itu.
Baru saja berjalan keluar rumah menuju mobil, sebuah mobil sporty warna putih memasuki halaman rumahku. Aku tersenyum menyambut kedatangan si pemilik mobil, yang tak lain adalah lelaki yang kini sudah menjadi tunangan ku itu.
'Andreas.'
Mobil Andreas berhenti tepat di depan rumahku. Ia lalu keluar dari dalam mobil dan menghampiriku dengan membawa bunga mawar putih dan sebatang coklat.
'Selalu saja...'
"Ini untukmu gadis kecilku..." Ucap Andreas sambil menyodorkan bunga dan cokelat itu padaku.
"Apa kau tidak bosan untuk memberikan ini padaku?" Tanyaku sambil mencium bunga itu.
"Tidak. Selama kau menyukainya, aku akan terus memberikannya padamu." Jawab Andreas yang membuatku tersenyum. "Sekarang, ayo ikut aku."
"Kemana?" Tanyaku.
"Bertemu Papa."
"Apa?"
Aku terkejut mendengar jawaban Andreas. Dia ingin mengajakku menemui Tuan Besar Setyawan sekarang juga.
"Untuk apa?"
Aku sebenarnya belum siap untuk bertemu dengan Tuan Besar Setyawan, apalagi setelah perceraian ku dengan Arnold. Dan sekarang aku malah bertunangan dengan putera sulungnya.
'Bagaimana ini?'
"Tadi pagi-pagi sekali, Papa meneleponku. Dia meminta untuk bertemu denganku sekaligus dengan dirimu juga." Ucap Andreas yang membuatku semakin gugup.
Andreas mungkin dapat melihat kekhawatiran dari wajahku. Ia mendekat dan mengusap pipiku lembut.
"Apa yang kau khawatirkan? Apa kau takut bertemu dengan Papa?" Tanya Andreas.
Aku tak menjawabnya dan hanya memandang wajahnya dengan mendongak. Andreas memang jauh lebih tinggi dari aku. Jika berdiri berdampingan, kepalaku hanya tepat sampai di dadanya. Mungkin itulah kenapa dia selalu memanggilku, 'gadis kecil.'
"Tenanglah sayangku. Mungkin Papa hanya akan bertanya tentang hubungan kita. Lagi pula, cepat atau lambat kita berdua akan tetap menemui Papa untuk meminta restu. Meski aku rasa itu tidak perlu, tapi Papa tetaplah orang tuaku. Jadi tenang saja. Tidak akan ada yang berani menyakitimu selama ada aku bersamamu." Ucap Andreas kemudian mencium keningku.
Ada rasa aman yang aku rasakan kala Andreas mencium keningku.
Kami pun berangkat menuju kediaman Tuan Besar Setyawan. Setelah berkendara selama 30 menit, akhirnya kami tiba di sebuah gerbang besar berwarna hitam. Dua orang security membuka gerbang itu untuk kami. Andreas pun membawa mobilnya masuk ke dalam rumah besar bergaya eropa itu.
Tetap saja, meski sudah menyiapkan diri tapi aku tak bisa membohongi diriku bahwa aku merasa gugup sekali memasuki halaman rumah ini. Selain karena datang bersama Andreas, aku juga khawatir akan bertemu dengan Arnold. Mengingat tempramen nya yang buruk jika bertemu dengan Andreas kala bersamaku.
Andreas membukakan pintu mobil untukku, dan menyodorkan tangannya untuk aku genggam. Kami lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.
Sesekali Andreas mencium punggung tanganku. Mungkin ia berusaha untuk membuatku tenang. Tapi jujur saja, yang dia lakukan malah semakin membuatku gugup.
"Selamat datang... Selamat datang..." Ucap Tuan Besar Setyawan kala aku dan Andreas tiba di ruang keluarga.
Andreas dan aku lalu duduk berdampingan dengan tangan yang tetap saling mengait. Tuan Besar Setyawan tampak sangat angkuh. Ia duduk dengan kaki kanannya dinaikkan dan di topang oleh lutut sebelah kiri sambil digerak-gerakkan. Kali ini aku juga melihat sesuatu yang tak pernah dilakukan Tuan Besar Setyawan selama ini dihadapanku, yaitu merokok dengan sebuah cerutu yang besar.
'Apa ini? Kenapa Tuan Besar Setyawan seperti ini?'
__ADS_1
Pandanganku beralih pada sosok pria yang menuruni anak tangga. Dia terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Rambutnya dibiarkan memanjang, begitu juga dengan kumisnya. Dan yang membuat aku tercengang adalah caranya berpakaian.
Selama ini Arnold tak pernah berpakaian seperti itu dihadapanku. Ia selalu mengenakan jas ataupun kemeja dan terlihat rapi. Namun, kali ini penampilannya sangat berbanding 180°. Ia berjalan dengan rambut yang berantakan, mengenakan sandal jepit dan baju kaos oblong putih yang tampak kebesaran dan celana yang sangat pendek. Atau lebih tepatnya mengenakan kolor berwarna hitam dengan gambar tulisan-tulisan yang entah apa.
"Arnold, setidaknya kau harus berpakaian rapi di depan tamu." Ucap Tuan Besar Setyawan.
"Untuk apa? Toh Velicia juga pernah melihatku tanpa busana." Jawab Arnold santai.
Aku menunduk malu, tak enak hati dengan pria yang ada disamping ku. Namun, Andreas justru menggenggam tanganku semakin erat.
"Aku baik-baik saja sayang." Bisik nya di telingaku.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Langsung saja ya." Ucap Tuan Besar Setyawan. "Velicia, aku ingin kau dan Arnold rujuk. Dibandingkan dengan menikah lagi dengan Andreas, alangkah lebih baiknya kau kembali bersama mantan suamimu. Itu semua demi kebaikan keluarga kita dan juga perusahaan. Bagaimanapun Perusahaan Arista tetap membutuhkanmu. Meskipun, sebenarnya sekarang Arnold lah yang menjadi CEO nya."
"Tidak. Aku dan Velicia sudah bertunangan. Dan kami akan segera menikah karena kami saling mencintai. Lagipula apa untungnya bagi Velicia untuk kembali dengan Arnold, jika selama ini dia tak bahagia. Dan apakah kalian lupa bahwa selama ini pernikahan Velicia adalah sebuah kesalahan karena yang dia cintai adalah diriku dan bukan Arnold." Balas Andreas.
"Kalau memang dia tak bahagia, kenapa dia selalu menikmati permainanku setiap malam meski aku memaksanya?" Ucap Arnod dengan wajah yang sebenarnya terlihat marah. Namun, sangat jelas ia tengah berusaha menahan amarahnya itu.
"Karena dia pikir kau itu adalah aku. Sadarlah, Velicia sama sekali tak pernah mencintaimu. Dan kini dia sudah bersamaku, dia mencintaiku dan aku mencintainya. Tak ada lagi yang bisa kau lakukan." Ucap Andreas.
Arnold terlihat semakin marah dan berdiri ia tampak ia menerjang Andreas. Namun, dengan cepat aku berdiri dihadapan Amdreas dan berteriak,
"Arnold, lepaskan aku. Biarkan aku bahagia bersama Andreas dan kau bisa menikah dengan Viona."
"Tidak Velicia. Aku tidak mau menikah dengan Viona. Aku hanya mencintai kamu." Balas Arnold berusaha memegang tanganku.
"Velicia dengarkan Arnold. Jika kau kembali rujuk dengannya, kau bisa mengelola kembali perusahaan mu. Dan kalian bisa hidup bahagia lagi." Kali ini Tuan Besar Setyawan yang mencoba membujukku dengan ikut berdiri.
Andreas ikut berdiri di belakangku. Namun, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Mungkin ia menunggu aku mengatakan sesuatu.
"Velicia, aku janji tidak akan menyakiti atau menduakan kamu lagi. Aku hanya akan mencintai kamu. Tolong Velicia, kembalilah denganku." Ucap Arnold.
"Aku tidak perduli padanya. Aku sudah melupakan dia. Bahkan jauh sebelum kau pergi dari kota ini." Jawab Arnold.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan anak yang tengah dikandung Viona?"
Ucapan ku sontak membuat mata Arnold dan Tuan Besar Setyawan membulat sempurna.
"Ha-hamil?" Ucap Arnold terbata-bata.
"Iya hamil." Balasku dengan tersenyum. "Selamat ya, kau akan menjadi seorang Papa. Dan selamat juga untukmu Tuan Besar Setyawan. Sebentar lagi, kau akan menjadi seorang Kakek. Oh ya, yang menjadi pertanyaan ku adalah, jika kau memang sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Viona sejak kepergian ku waktu itu, lalu bagaimana bisa kandungan Viona masih belum terlihat. Apa mungkin kalian masih berhubungan akhir-akhir ini? Ah, tapi itu semua bukan urusanku lagi. Lagipula aku juga sudah akan menikah dengan Andreas, pria yang selama ini aku cintai. Jadi, ku mohon jangan pernah ganggu hidupku lagi. Dan urus saja Viona, karena dia lebih membutuhkan dirimu." Ucapku panjang lebar.
"Velicia, kau tahu betul bagaimana liciknya wanita bernama Viona itu. Dia pasti bohong. Dia tidak mungkin mengandung anak dari Arnold." Ucap Tuan Besar Setyawan.
"Tuan Besar Setyawan, aku tahu Viona seperti apa. Dia memang wanita yang akan melakukan apapun demi uang dan juga Arnold. Tapi untuk berhubungan dengan pria lain. Hmmm aku rasa tidak. Karena Viona sejak awal sudah tergila-gila pada putera mu ini." Ucapku seraya menunjuk Andreas. "Lagi pula sekarang kalian sudah punya banyak uang. Jadi gampang saja, jika kalian ragu lakukan saja tes DNA untuk membuktikan semuanya." Balasku.
"Velicia, aku...."
Andreas menepis tangan Arnold yang berusaha memegang tanganku.
"Sudah cukup. Kau tidak berhak menyentuh wanitaku. Dan seperti yang kalian berdua dengar. Velicia tidak akan pernah kembali rujuk. Karena dia mencintai aku dan akan menikah denganku. Jadi simpan semua basa-basi kalian." Ucap Andreas.
"Kau memang anak pembangkang Andreas." Ucap Tuan Besar Setyawan. "Dan untukmu Velicia. Apa kau pikir kau akan bahagia menikah dengan Andreas? Dia tidak memiliki apapun. Aku juga tidak akan memberikannya sepeserpun warisan. Kau..."
"Aku tidak butuh itu Tuan Besar Setyawan." Ucapku menyela ucapannya. "Aku bahkan merelakan harta yang aku punya untuk kalian berdua. Jadi, apa yang membuatmu berpikir bahwa aku ingin memiliki kembali harta itu dengan menikah bersama Arnold. Hhmmm tidak. Barang yang sudah aku sedekahkan tidak akan aku ambil lagi, termasuk juga Arnold. Bagiku kau sudah seperti barang yang tak lagi berguna untuk aku pakai. Jadi untuk apa aku memungut mu lagi." Ucapku.
Aku tahu apa yang aku katakan memang keterlaluan. Tapi, aku hanya ingin mereka berdua tahu bahwa aku sama sekali tak ingin kembali lagi bersama dengan Arnold. Lagipula aku penasaran akan seperti apa tindakan Arnold jika aku menghinanya.
Dan ternyata, Arnold tampak marah dan berusaha menarik tubuhku. Tapi dengan cepat Andreas berdiri di depanku dan menjadi tameng untuk melindungi ku.
__ADS_1
"Apa yang mau kau lakukan? Apa kau ingin memukulnya?" Ucap Andreas memegang tangan Arnold yang sudah hendak menampar aku. "Kau memang tak pernah pantas untuk Velicia." Ucap Andreas seraya mendorong Arnold hingga tersungkur.
"Velicia maafkan aku. Aku tak sengaja, aku hanya emosi." Teriak Arnold saat aku dan Andreas berjalan keluar dari ruang keluarga.
Tiba di dalam mobil, aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Andreas.
"Apa kau pikir semua yang aku katakan tadi kelewatan?" Ucapku balik bertanya.
Andreas memegang kedua pipiku dan membuatku menatap wajahnya.
"Semua yang kau katakan benar dan sama sekali tidak ada yang kelewatan. Wajar saja kau mengatakan Arnold sebagai barang bekas. Karena bagaimanapun, dia juga sudah berbuat terlalu jahat padamu. Jadi untuk apa kau pikirkan. Dan kau juga lihat sendiri bagaimana tempramen nya. Baru saja kau menyebutnya begitu, dia sudah hampir melayangkan tangannya ke wajahmu." Jawab Andreas.
"Tapi, aku rasa...."
Belum selesai aku bicara Andreas sudah mencium bibirku, membuat aku tak dapat melanjutkan ucapan ku.
"Sudah ya. Jangan dipikirkan lagi. Sekarang lebih baik kita pulang. Masih ada banyak hal yang harus di persiapkan."
"Ha?"
"Iya. Bukankah kita akan menikah. Jadi mulai hari ini, kita berdua harus mulai menyiapkan semuanya." Ucap Andreas seraya mengusap kepalaku lembut.
Mobilpun melaju meninggalkan rumah Tuan Besar Setyawan. Dari spion depan mobil, aku bisa melihat Arnold tengah berdiri di depan rumahnya menatap mobil yang kami tumpangi berjalan keluar dari halaman rumahnya.
"Apa kau kasihan padanya?" Tanya Andreas tiba-tiba.
Aku langsung menatap wajah Andreas yang tengah fokus menyetir.
'Berarti dia juga melihat Arnold?'
"Gadis kecil. Kalau kau memang mencintai dia, kau tidak perlu terpaksa untuk menikah denganku." Ucap Andreas yang membuatku kecewa.
'Apa-apaan dia ini? Kenapa malah bicara yang tidak-tidak.'
"Aku melihat raut wajahmu berubah sedih saat melihat Arnold lewat kaca spion. Jika kau tidak...."
"Berhentiiii...." Teriakku.
Seketika Andreas mengerem mendadak.
"Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah yang kebingungan.
Aku langsung turun dari dalam mobil dengan perasaan kecewa. Aku berjalan menyusuri trotoar dengan cepat. Andreas menyusul ku dengan mobilnya dari belakang dan berhenti tepat di depanku. Namun, aku kembali berjalan. Terdengar suara Andreas menutup pintu mobil dan berlari ke arahku.
"Kau marah padaku?" Tanya Andreas yang sudah memegang tanganku.
"Lepaskan aku." Balasku.
"Maafkan aku." Ucap Andreas.
"Kau jahat." Teriakku seraya memukul dadanya. "Kau pikir, aku ini wanita apa. Aku sudah mengatakan aku mencintai kamu, dan sekarang kamu malah mengira aku mencintai dia. Apa kau pikir aku ini hanya menganggap mu sebagai pelarian semata. Kau ini jahat, jahat sekali. Padahal aku...."
Cup!!!
Di jalanan yang ramai mobil lalu lalang Andreas mencium ku. Aku berusaha melepasnya, tapi Andreas semakin memperdalam ciumannya hingga membuatku menyerah dan pasrah. Entah sudah semerah apa pipiku ini. Yang jelas aku malu, pasti ada banyak pasang mata yang melihat kami berciuman.
"Maafkan aku." Ucap Andreas pada akhirnya melepaskan ciumannya. "Aku hanya tak suka melihat pandangan matamu yang seolah kasihan terhadap Arnold. Aku cemburu, aku tak ingin kau memandang lelaki lain." Lanjut Andreas.
Aku tersenyum lalu memeluknya dengan erat. Terdengar jelas suara detak jantungnya yang berdebar kencang.
__ADS_1
"Aku mencintaimu dan berjanji tidak akan memandang pria lain lagi." Ucapku yang membuat Andreas tersenyum dan kemudian mencium keningku dengan lembut.
Bersambung....