90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Akhir Kisah (Bab 80)


__ADS_3

Suasana pagi memang indah. Aku duduk di balkon rumah menikmatinya, sambil mendengar kicauan burung bernyanyi, dan segarnya embun pagi. Pohon-pohon di sekitarku seperti bicara kepadaku. "Selamat pagi Velicia".


Ketika mentari pagi mulai menampakkan sinarnya, dunia serasa lebih terang. Seterang hati manusia yang senantiasa bersyukur.


Bersyukur dari apa yang sudah dimilikinya. Bersyukur dari berbagai nikmat hidup. Terutama nikmat sehat yang sangat mahal harganya. Lebih mahal dari harta dunia manapun. Apalah artinya kaya harta, tetapi badan sakit-sakitan. Lebih nikmat lagi, kaya harta dan tubuh pun sehat. Tentu semua orang ingin seperti itu.


Indahnya suasana pagi membuatku bersyukur telah memilki tempat tinggal yang nyaman. Bisa mendengar ayam berkokok di pagi hari, dan kicauan burung yang saling sahut menyahut membuatku ingin menikmati lebih lama suasana pagi. Libur akhir pekan membuatku menikmati suasana pagi yang indah.


Claudia tiba-tiba memanggilku seraya berkata, "Mama jangan lupa mandi dulu. Katanya mau ke pantai."


Gadis itu masuk ke dalam kamar dengan masih mengenakan piyama motif boneka kucing berwarna biru favoritnya itu. Ia lalu berlarian menghampiriku dan memelukku. Gadis kecil yang kini sudah berusia 5 tahun ini nyatanya adalah anak Viona. Wanita yang sejak dulu selalu berselisih paham denganku.


'Jika Claudia tahu bahwa aku ini bukan Ibu kandungnya, apa yang akan dia katakan?'


Aku selama ini memang selalu menceritakan kisah tentang gadis kecil yang hidup bahagia sebagai anak adopsi. Claudia pun pernah berkata, "Seandainya kalau Claudia ini anak adopsi, dan Mama bukan Mama kandung Claudia. Claudia tetap sayang sama Mama dan selalu menganggap Mama sebagai Mama kandung Claudia." Ucapnya kala pertama aku menceritakan kisah tentang anak adopsi itu padanya.


Tapi, apa yang dikatakannya bisa dipercaya?


Bagaimana kalau dia akhirnya memilih kembali kepada Ibu kandungnya dan meninggalkan aku?


Aku tiba-tiba memeluk Claudia dengan erat. Air mataku jatuh begitu saja, lalu aku mencium pipinya berulang kali.


"Mama kenapa?" Tanya Claudia.


"Nggak. Mama cuma kelilipan aja. Mau Mama mandiin gak?" Ucapku balik bertanya.


"Gak perlu Mah. Claudia kan sudah besar." Balasnya lalu berlarian keluar kamar. "Claudia mau mandi sendiri Mah." Teriaknya.


Seiring kepergiannya, aku semakin larut dalam pikiranku. Aku menyayangi Claudia, sangat menyayanginya. Aku takut jika ia akan memilih tinggal bersama Viona saat dia bertemu nanti.


'Apa aku termasuk jahat Tuhan?'


Suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Andreas yang keluar dengan pakaian yang sudah siap untuk pergi ke pantai.


"Mau melamun sampai kapan?" Ucapnya sambil mendekat ke arahku.


Aku hanya terdiam, sambil melihat ke halaman depan rumah.


"Apa kau tengah memikirkan Viona?" Tanya Andreas lagi.


"Bagaimana jika Viona mengambil Claudia dariku?" Ucapku bertanya pada Andreas. "Faktanya bahwa Viona adalah Ibu kandung Claudia. Apalagi sejak dulu, Viona tak pernah berhenti merebut apapun yang sudah aku miliki." Lanjut ku.


Entah mengapa setelah mendengar ucapan ku, wajah Andreas berubah masam.


"Apa kau masih mempermasalahkan Viona yang merebut Arnold darimu?" Tanyanya.


Aku langsung tertawa mendengar pertanyaannya.


"Ayolah sayang. Aku sama sekali sudah tak memikirkan sedikitpun tentang adikmu itu. Aku hanya mengkhawatirkan Viona akan mengambil Claudia dariku. Itu saja." Ucapku.


"Aku yang akan menjamin bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi." Balas Andreas. "Sekarang mandilah, setelah itu kita bawa Claudia ke pantai. Mengenai kau yang ingin mengunjungi Viona, bisa kita bicarakan lagi nanti." Lanjut Andreas.

__ADS_1


Aku mengikuti ucapan Andreas dengan berjalan ke arah kamar mandi.


*********


Disinilah kami sekarang....


Pukul sepuluh pagi, kami sudah berada di pantai. Sesuai permintaan Claudia. Dia dan Andreas sang papa, tengah membangun istana pasir. Suara tawa Claudia terdengar nyaring. Dia tampak begitu bahagia jika kami membawanya berlibur ke pantai. Gadis kecil itu benar-benar mirip sepertiku yang sangat menyukai pantai.


Tepat di tengah hari yang terik, Claudia menghampiriku dan meminta dibelikan es krim. Dengan sigap Andreas pergi membelikannya. Dari rumah aku sudah membawa beberapa cup mie untuk bekal makan siang. Dengan lahap Claudia melahapnya.


"Enak Ma." Ucap Claudia yang membuatku tersenyum.


Andreas yang sudah kembali dengan sekantung es krim juga segera ikut makan.


Setelah agenda bermain di pantai usai. Pukul 4 sore, kami akhirnya meninggalkan pantai. Dan sesuai dengan yang sudah aku sepakati bersama Andreas adalah, kami akan mampir untuk bertemu dengan Viona.


Saat mobil yang dikendarai Andreas mulai masuk ke pekarangan rumah yang semalam tempat aku melihat Andreas menggendongnya, jantungku berdegup begitu kencang.


"Kita mau kemana Ma?" Tanya Claudia yang duduk di pangkuanku.


"Kita mampir ke rumah teman Mama ya sayang." Balasku.


"Siapa Ma? Tante Merry ya? Apa Tante Merry pindah rumah?"


Aku terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Claudia. Memang, sahabatku yang diketahui oleh Claudia hanya Merry. Selain itu, aku hanya memperkenalkan Claudia pada anggota keluarga saja. Seperti, Jack dan isterinya termasuk juga dengan Dara, sekretaris ku di kantor.


"Bukan sayang." Balasku akhirnya.


"Lalu siapa Ma?" Tanya Claudia lagi.


"Oohh..." Balas Claudia.


Andreas memang sudah menceritakan pada Claudia tentang anggota keluarganya termasuk Arnold. Namun, Andreas mengatakan bahwa Arnold tengah berada di luar negeri.


Kami bertiga lalu turun dari dalam mobil dan berjalan beriringan menuju teras rumah. Saat Andreas mengetuk pintu, seorang wanita berpakaian perawat membuka pintu dan tampak kaget melihat kedatangan Andreas bersamaku dan Claudia.


"Se-selamat datang Tuan. Bu Viona sedang duduk di taman belakang." Ujarnya.


Andreas lalu menggandeng tanganku dan juga Claudia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju taman belakang. Mataku langsung menangkap sosok Viona yang tengah duduk menggunakan kursi roda dan membaca sebuah buku.


Dirinya tampak begitu kuris dan sangat pucat. Tidak ada lagi Viona yang dulu terlihat cantik dan fashionable. Yang ada dihadapanku saat ini adalah Viona yang seperti mayat hidup. Ia mendongak dan tersenyum ke arah Andreas. Namun, senyumnya seketika hilang saat melihatku berdiri bersama Claudia tepat dibelakang Andreas.


"Ve-licia..." Ucapnya lirih menyebut namaku.


Pandangannya beralih pada gadis kecil yang tengah menggandeng tanganku. Matanya langsung memerah dan air matanya langsung mengucur begitu saja.


"Aku datang membawa Velicia dan Claudia, tidak apa-apa kan? Aku hanya ingin Velicia mengetahui semuanya." Ucap Andreas.


Viona hanya bisa mengangguk seraya mengusap air matanya berulang kali. Entah bagaimana ceritanya Claudia sudah berada dihadapan Viona dengan memberikan sapu tangan miliknya.


"Kenapa menangis? Claudia paling tidak suka melihat orang menangis." Ucapnya.

__ADS_1


Viona mengusap pipi Claudia dengan tangannya yang begitu kurus. Setelah itu Claudia mundur dan kembali berdiri di sampingku.


Aku lalu memutuskan bicara pada Viona berdua, sementara Andreas dan Claudia tengah pergi ke supermarket terdekat untuk membeli camilan.


"Aku tahu Claudia adalah anakmu, tapi...."


"Jangan berpikir yang macam-macam. Aku sudah menyerahkannya kepada Andreas dan padamu. Aku yakin sejak awal kalau kalian akan merawatnya dengan baik. Dan kau lihat sendiri kondisiku saat ini. Aku merasa usiaku sudah tak panjang lagi. Setelah kecelakaan itu, aku mengalami kelumpuhan dan berbagai komplikasi yang lainnya. Untungnya aku masih bisa berbicara." Tutur Viona dengan berderai air mata.


"Optimislah, kau pasti bisa sembuh. Lihat aku. Dulu dokter memvonis usiaku yang hanya bertahan 90 hari setelah aku mengetahui penyakit ku. Dan lihat sekarang, aku sudah melewati hampir 7 tahun dengan keadaan yang sehat. Berjuanglah, kita bisa membesarkan Claudia bersama." Ucapku.


Viona memelukku dengan air matanya yang masih saja berderai. Tubuhnya benar-benar kurus. Aku bisa merasakan tulang punggungnya saat mengelusnya.


Andreas dan Claudia kembali dengan membawa makan malam. Kami pun makan malam bersama di rumah yang ditempati Viona dan setelah itu pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang Claudia mengatakan sesuatu yang membuat aku dan Andreas terkejut.


"Mah, Pah. Kalau Tante Viona adalah Ibu kandung Claudia. Lalu siapa Papa kandung Claudia?" Tanyanya.


Aku dan Andreas saling tatap dan kehabisan kata-kata.


"Dari mana Claudia tahu?" Tanya Andreas.


"Kemarin malam, Claudia dengar Mama teriak dan nangis. Claudia tidak sengaja mendengar obrolan Mama dan Papa." Ucapnya polos.


Aku lalu memeluk Claudia dan menangis.


"Sayang, Papa kandung Claudia itu namanya Arnold. Dia adiknya Papa yang tengah berada di tempat yang jauh. Claudia akan bertemu dengan Papa suatu hari nanti." Ucapku berlinang air mata.


"Jangan nangis Ma. Siapapun orang tua kandung Claudia. Claudia akan tetap menyayangi Mama dan Papa, dan memilih untuk tetap bersama Mama dan Papa meski orang tua kandung Claudia nanti sudah berkumpul lagi." Ucap Claudia yang semakin membuatku memeluknya.


Sementara Andreas hanya mengusap kepala Claudia dengan lembut.


Claudia merupakan anak gadis yang pintar. Meski diusianya yang baru 5 tahun, Claudia seolah sudah mengerti dengan situasi yang terjadi. Aku dan Andreas akhirnya sering mengajaknya mengunjungi Viona. Ia perlahan menyapa Viona dengan sebutan Mama dan menyalaminya. Dengan polos ia mengatakan bahwa ia bahagia karena memiliki dua Mama.


Semuanya pun berjalan lancar, keluarga kami menjadi keluarga yang begitu bahagia. Dan aku harap akan seperti ini selamanya. Suatu hari nanti jika Arnold sudah keluar dari penjara, dia akan bisa menerima semua keadaan.


'Terima kasih atas nikmat hidup yang Engkau berikan Tuhanku.'


TAMAT....


****************


Halo semuanya, aku La-Rayya... ❤️


Apa kabar? Aku harap kalian semua selalu dalam keadaan sehat wal'afiat. Aamiin. 🤲🤲


Terima kasih ya, untuk kalian semua yang selalu hadir menunggu episode terbaru dari Novel ini hingga tamat di hari ini...


Terima kasih karena selalu mendukung dengan memberi like, komen positif, bahkan memberikan vote. Sekali lagi terima kasih yang sebanyak-banyaknya... 🙏🙏


Oh ya, jangan lupa baca juga karya La-Rayya yang lainnya ya. Dan sampai jumpa di Novel selanjutnya... 👋👋


Mampir terus ya di karya La-Rayya...

__ADS_1


Salam sayang...


La-Rayya ❤️


__ADS_2