
Sudah hampir satu minggu berjalan....
Claudia bekerja keras untuk menghadapi ujiannya. Adam merasa begitu senang. Dia tidak pernah melewatkan sedikitpun waktu untuk mendukung Claudia dan menyemangati dirinya. Adam juga membantu Claudia dengan membimbingnya belajar atau pun mendukungnya secara moral atau juga memijit kepalanya dan pundaknya setiap malam setelah selesai belajar. Adam juga mengantar nya ke kampus setiap hari dengan memberikan banyak ciuman dan pelukan. Membawakan makanan favorit atau es krim ataupun minuman kesukaan untuk Claudia.
Saat hari ketiga ujian Claudia, Adam juga membantunya belajar.
"Sayang, bisakah aku istirahat sebentar. Aku lelah." Ucap Claudia tiba-tiba.
"Tentu saja sayang. Kemari lah, aku akan memijit kepalamu." Balas Adam seraya memberikan isyarat kepada Claudia untuk mendekat dan duduk di atas pangkuan nya.
Mereka berdua duduk di lantai. Claudia mengikuti perintah Adam dengan duduk di atas pangkuan nya seraya meminum coklat panas yang dibuatkan oleh Nila untuknya.
"Tidak sayang, kepala ku tidak perlu dipijit." Ucap Claudia seraya menghentikan tangan Adam yang hendak memijit kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu bolehkah aku bermain dengan rambutmu, aku sangat menyukai rambutmu." Pinta Adam.
"Oke, lakukan saja." Balas Claudia.
Setelah itu, Claudia sibuk dengan ponsel nya. Layar ponselnya menunjukkan beberapa tempat yang ingin dia kunjungi ketika berada di New York nanti. Sebenarnya Adam memiliki rencana lain yang ada di dalam kepalanya saat ini, tapi dia tidak ingin membahas hal itu sekarang. Dia hanya mendengarkan setiap ucapan Claudia dengan tenang tersenyum dengan keceriaan yang diperlihatkan Claudia dari matanya.
Adam masih memainkan rambut Claudia.
"Sayang apa yang menjadi impianmu selama ini?" Tanya Adam.
Claudia menatap Adam.
"Dulu aku tidak punya mimpi apapun, tapi berbeda dengan sekarang. Saat suatu hari aku melihat seseorang dalam hidupku yang menginspirasi diriku untuk menjadi seseorang yang sukses. Aku ingin menjadi orang yang sukses sama seperti dirinya. Dia adalah idolaku dan aku ingin menjadi seperti dia"
Ucapan Claudia membuat ekspresi di wajah Adam menjadi bertanya-tanya.
"Siapa orang itu sayang? Apakah aku mengenalnya juga? Apakah dia itu guru atau dosen mu?" Tanya Adam.
Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Claudia mengangguk.
"Iya, dia adalah dosen ku."
"Oh... Yang mana? Aku mengetahui hampir semua dosen yang mengajar dikelas mu." Balas Adam yang semakin penasaran.
Claudia yang membelakangi Adam, sekarang berbalik dan memandangi Adam kemudian melingkarkan tangannya ke leher Adam. Adam yang bingung, terus menatap Claudia.
"Orang itu adalah kamu suamiku sayang." Balas Claudia.
Setelah menyadari apa yang dikatakan Claudia, wajah Adam merona malu dan itu terlihat jelas oleh Claudia.
"Apa??? Apakah kau..."
" Iya... iya... iya... Kau adalah idolaku, aku ingin menjadi orang yang sukses seperti dirimu, berkuasa seperti seorang bos. Aku ingin belajar dengan giat kemudian bekerja keras juga. Jadi aku bisa menjadi orang kaya yang bahkan bisa membuatmu tidak bekerja lagi. Kita bisa pindah ke pulau yang kau berikan untukku."
"Tidak bisa seperti itu, aku lah yang harus bekerja dan kau harus diam di rumah. Memasak, menjaga anak-anak kita dan menunggu aku di rumah. Aku akan kembali ke rumah setelah bekerja, setelah itu kau bisa mengurus ku dan saat itu kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Bahkan anak kita tidak akan mengganggu kita saat itu. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang harus kau perhatikan dan kau akan menyuapiku dengan tangan mu sendiri. Jika kau berani untuk mencintai anak kita lebih dari cintamu padaku, aku akan membunuh mu dan memberikan tubuhmu kepada buaya sebagai makanan mereka karena aku akan..."
Ucapan Adam terhenti karena Claudia sudah langsung menciumnya. Adam membalas menciumnya lebih dalam sampai Claudia kesulitan bernafas.
Claudia tidak dapat mengatakan bagaimana bahagianya dia melihat Adam yang seperti ini. Adam yang membuatnya begitu bahagia, cara adam yang menyebutkan tentang anak tanpa sedikitpun keraguan. Cara Adam yang mengatakan bahwa dia akan cemburu dengan anak-anak mereka.
Adam pun juga begitu bahagia mendengar ucapan Claudia. Bagaimana dia begitu mengidolakan dirinya. Claudia yang menjadikan dirinya sebagai inspirasi. Claudia yang cemburu untuk dirinya. Adam benar-benar jatuh cinta dengan gadis di hadapannya itu semakin besar setiap harinya.
Setelah ciuman itu berakhir, Adam kembali menyeka rambut Claudia dan berkata,
"Aku lebih tua dari mu dan aku ini juga suamimu. Aku memiliki hak yang aku punya untuk mendoakan mu. Jadi dengan hak yang aku punya, aku Adam Wijaya mendoakan mu sayang. Kau akan menjadi apapun yang kau inginkan. Suatu hari nanti, kau akan menjadi orang yang sukses seperti diriku. Tidak, bahkan lebih sukses dariku. Aku akan menunggu sampai hari dimana kau akan bekerja di perusahaan mu sendiri. Tapi bagaimanapun itu, aku lebih suka kau yang menunggu aku di rumah, memasak dan menjaga anak-anak kita. Dan setelah aku kembali ke rumah, kau akan menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak akan memberikan perhatian ku kepada orang lain, hanya kepadamu. Aku berjanji."
Mengucapkan hal itu, Adam lalu memeluk Claudia dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
***************
Hari ini adalah hari kelima Claudia melewati ujiannya. Hari ini dia menjalani dua ujian. Yang pertama tentang teori dan yang kedua praktik.
Dia sudah selesai dengan ujian pertamanya, dan dia punya waktu untuk istirahat 1 jam. Setelah itu melanjutkan ujian kedua.
Claudia mengirimkan pesan pada Adam.
'Pria tua...???'
Adam: 'Iya cinta?'
Claudia: 'Kau mana? Apa jam mengajar mu sudah selesai?'
Adam: 'Iya cinta, aku berada di ruangan ku. kemari lah.'
Claudia: 'Oke.'
Claudia memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya, kemudian berjalan menuju ruangan Adam. Saat masuk ke ruangan Adam, dia mendapati Adam tengah berbicara ditelpon menghadap jendela.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam ruangan Adam, Adam memberinya isyarat untuk duduk dan juga menunjuk ke arah sebuah paket yang berada di atas meja.
Claudia mengerutkan keningnya sebelum melihat ke dalam paket itu. Saat membukanya, di sana ada 2 cup bubble tea. Wajah Claudia sumringah, dia bertepuk tangan dan melihat kearah Adam yang memberikan cium jauh untuk dirinya dari tempatnya berdiri dan tersenyum kearah Claudia.
Tapi Claudia tidak langsung duduk, dia pergi ke arah Adam dan memeluknya. Adam membalas pelukan Claudia dan mengelus kepalanya kemudian melanjutkan obrolan ditelepon. Setelah selesai mengobrol di telepon, dia mengajak claudia ke arah meja dan membuat Claudia duduk di atas pangkuan nya.
"Tidur siang lah setelah kau selesai meminumnya." Titah Adam.
**************
Satu minggu ini berjalan dengan lancar dengan pasangan itu yang semakin mesra satu sama lain. Mereka begitu bahagia dan merasa nyaman.
Malam minggu ini, Adam bertanya pada Claudia.
"Sayang, aku harus menghadiri sebuah pesta dihari selasa. Hari dimana ujian mu telah selesai. Sebenarnya Megan sudah meminta aku untuk menjadi pasangannya menghadiri pesta itu sejak 1 tahun yang lalu, saat aku masih berada di Kanada. Saat itu aku tidak masalah dan mengatakan iya untuk menjadi pasangannya. Tapi sekarang aku sudah bersamamu. Aku ingin menanyakan padamu lebih dulu, apa kau mau ikut bersamaku pergi ke pesta itu?" Tanya Adam.
Claudia tengah menikmati makan malamnya dengan disuapi oleh Nila. Dia tampak berpikir beberapa saat. Nila dan Adam tampak gugup. Karena nama yang tengah dibahas saat ini, begitu sensitif untuk Claudia. Tapi nyatanya tidak terjadi apapun.
"Tidak sayang, kau tahu aku tidak ingin pernikahan kita atau hubungan kita diketahui oleh publik. Jadi aku baik-baik saja, jika kau pergi dengan Megan. Itu hanya sebuah pesta." Ucap Claudia.
Adam dan Nila, keduanya tampak terbelalak.
"Kenapa? Kenapa kalian berdua melihat aku seperti itu?" Ucap Claudia pada mereka berdua yang merasa tatapan keduanya aneh melihat kearah dirinya.
"Kau baik-baik saja dengan itu? Kau tidak marah padaku? Di, kau tidak bohong bukan? Aku tahu kau marah dan kau sebenarnya merencanakan sesuatu untuk melawan ku kan?" Tebak Adam.
Claudia ingin berteriak marah tapi karena tawa yang ditahan nya sejak tadi lebih ingin dia keluarkan.
Adam berdiri lalu menghadap Claudia dan berlutut di hadapannya. Kali ini Nila jauh lebih terkejut. Adam tengah berlutut di hadapan Claudia, memegang lutut Claudia yang tengah duduk di kursi.
Claudia sama sekali tidak terkejut, tapi itu tidak berarti dia suka melihat suaminya itu berlutut di hadapannya. Itu hanya karena mereka merasa nyaman di antara satu sama lainnya. Hal seperti itu tidak terlalu berlebihan bagi mereka berdua.
"Di, kau tidak berencana untuk melakukan sesuatu pembalasan yang bodoh kali ini kan? Tolong, aku bisa membatalkan rencana itu jika kau mau. Aku akan mengatakan kepadanya untuk pergi dengan orang lain saja. Itu tidak masalah. Ku mohon, katakan sesuatu Di." Ucap Adam terlihat khawatir.
Claudia memegang wajah Adam lalu mencium pipinya.
"Sayang, aku tidak merencanakan apapun. Aku tidak memikirkan apapun. Percayalah padaku. Aku mencoba untuk menghandle kepercayaan ku sendiri sayang. Jangan khawatir." Ucap Claudia yang membuat Adam merasa begitu bahagia dan lega.
**************
Hari ini merupakan hari terakhir ujian Claudia. Dia menelpon Adam setelah ujiannya selesai.
"Iya sayang." Adam menerima panggilan dari Claudia dengan cepat saat ia tengah berada ditengah-tengah meeting.
Adam tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat Claudia mengucapkan itu dengan nada yang terdengar menggemaskan. Dia tahu bahwa Claudia mengucapkan nada seperti itu untuk memohon kepadanya.
"Baiklah, tapi ingat pulang ke rumah secepat mungkin sayang. Maksudku tepat waktu, oke."
"Baik bos. Apa kau mau aku membawakan sesuatu untukmu?" Balas Claudia memutar mata malas kepada suaminya lewat telepon.
Setelah beberapa saat terdiam Adam kembali berbicara.
"Iya, aku ingin claudia yang baru di panggang dengan gula dan mentega. Di lumuri dengan saus coklat dengan beberapa potongan keju dan garam, juga sedikit bubuk cabai." Ucap Adam.
"Eeeyuuuuhhhh.... Makanan seperti apa yang kau inginkan itu. Manis, pedas, asin. Bagaimana kau bisa memakannya." Balas Claudia yang ikut menanggapi ucapan suaminya.
Adam tertawa terbahak-bahak. Bahkan para karyawan yang berada di ruangan meeting tampak terkejut mendengar bos dingin mereka itu tertawa seperti orang normal lainnya.
"Jangan hina makanan itu. Itu adalah menu favoritku." Ucap Adam semakin menggoda Claudia.
Claudia kembali memutar mata malas.
"Ngomong-ngomong, kau tidak akan mendapatkan makanan mu itu hari ini. Hari ini bahan-bahannya sedang habis." Balas Claudia.
"Kenapa sayang? Kumohon, kau tidak bisa melakukan ini padaku. Hentikan semua permainan ini. Kumohon, ujian mu juga sudah berakhir. Lalu apa lagi?" Kali ini Adam terdengar memohon.
"Adam... Adam... Adam... Aku tidak memainkan permainan apapun dengan mu, percaya padaku. Aku sangat lelah dan Naomi juga sudah memberitahu padaku bahwa kau mempunyai pekerjaan penting hari ini. Kau akan pulang larut, malam ini. Jadi jangan mencoba untuk melemparkan kesalahannya padaku." Balas Claudia.
Dengan kesal Adam berucap, "Kau dan komplotan mu itu... Hmmm... Baiklah, tapi setidaknya berikan aku beberapa makanan ringan. Aku pikir disaat aku kembali nanti, maksudku jika kau mau menunggu ku... Kau tahu maksudku kan..."
Claudia menjadi begitu merona karena ucapan Adam yang terdengar begitu nafsuan. Claudia mengutuk dirinya yang memiliki suami seperti itu dalam hati.
"Baiklah, aku akan menunggumu dan kau bisa mendapat beberapa makanan ringan. Tapi tidak lebih dari itu, aku ingin tidur."
"Baiklah, dah hati-hati. Jaga dirimu, aku mencintaimu." Ucap Adam.
"Daah.." Balas Claudia.
Adam memutuskan panggilan telepon dan ketika dia kembali untuk melanjutkan meeting seluruh orang yang berada di dalam ruangan menatap dirinya seperti mereka melihat hantu.
Pertama, Adam menghentikan meeting yang tengah berlangsung hanya untuk menerima panggilan pribadi.
__ADS_1
Kedua, Adam yang tertawa di telepon.
Ketiga, Adam berbicara dengan nada yang begitu berbeda, menyebutkan banyak nama panggilan sayang dan berkata-kata manis.
Keempat, Adam yang mengatakan love you saat memutuskan sambungan telepon.
Kelima, Adam yang tidak perduli berbicara dengan orang yang menelpon nya tepat dihadapan mereka semua.
Semua orang tampak terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Adam sejak beberapa bulan ini. Mereka yakin bos mereka itu tengah berkencan dengan seseorang. Tapi jika itu bukan Megan, lalu siapa? Apakah gadis itu? Gadis yang selalu datang ke kantor.
Keheningan para karyawan itu langsung buyar ketika Adam menggebrak meja dengan suara yang sangat keras. Dengan diam, Adam menatap ke arah mereka. Mereka semua langsung mengalihkan pikiran mereka dan kembali fokus pada meeting.
Malam itu, Adam kembali ke rumah larut malam dan Claudia memang menunggu dirinya. Keduanya memiliki malam romantis mereka dengan berpelukan dan berciuman sebelum mereka akhirnya tidur nyenyak. Adam sebenarnya belum puas, tapi dia tidak mau memaksa Claudia.
************
Hari berikutnya ketika Adam pergi ke kantor setelah sarapan. Jolie dan Nina datang untuk mengunjungi Claudia. Sebenarnya Claudia sangat terkejut saat melihat mereka datang, tapi dia berpikir mereka datang untuk mengunjungi dirinya karena dia yang sudah dekat dengan mereka sejak beberapa minggu belakangan. Jadi claudia menyambut kedatangan mereka dengan pelukan hangat, tapi Claudia tampak penasaran dengan raut wajah Jolie dan Nina yang terlihat ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
"Claudia apakah kau tahu bahwa Megan akan pergi ke pesta makan malam nanti?" tanya Nina.
Claudia tampak bingung dengan pertanyaan tentang pesta itu, dia pun menjawab, "iya aku tahu itu Kak Nina."
"Apa kau tahu dengan siapa dia pergi? Seluruh kota tahu itu. Sebenarnya Claudia, dia akan pergi dengan..." Ucap Jolie sambil menatap kearah Nina cemas.
"Dengan suamiku, aku tahu itu kak." Balas Claudia tersenyum kearah Jolie kemudian menghela napas.
"Kau tahu itu?" Nina bertanya, mereka berdua tampak cemas dan panik.
"Dan kau tidak masalah dengan hal itu?" Tanya mereka berdua.
"Kak, kalian berdua adalah orang yang memintaku untuk tidak membuat masalah ini terlalu serius dan tidak bereaksi berlebihan terhadap semuanya. Sekarang kalian berdua mencoba untuk membuatku bereaksi akan hal ini. Ini hanya sebuah pesta Kak. Aku tidak peduli dengan siapa dia akan pergi ke pesta. Tapi pada akhirnya nanti, dia akan kembali ke rumah juga denganku. Aku tahu dia tidak akan bisa tidur tanpa aku.
Lagipula, dia bahkan sudah memintaku untuk ikut dengannya. Dia ingin aku untuk menjadi pasangannya di pesta, tapi aku menolak. Jadi jangan khawatir. Dia adalah lelaki ku, dia akan selalu menomor satu kan aku dibanding segalanya." Jawab Claudia dengan percaya diri.
Jolie menepuk kepalanya sendiri karena frustrasi. Nina juga menggelengkan kepalanya karena jawaban Claudia, hal itu membuat Claudia bingung.
"Claudia.... Claudia... Oh, ya Tuhan. Ini bukan sekedar pesta biasa. Pesta ini hanya digelar 1 kali dalam satu tahun dan ini adalah pesta pertama bagi Megan. Karena dia sudah 18 tahun sekarang. Ini adalah saatnya bagi wanita di kota ini untuk menunjukkan dirinya. Menunjukkan kepada seluruh kota, siapa pasangan mereka. Orang-orang yang menghadiri pesta itu adalah orang kaya dan berkuasa. Wanita manapun yang membawa pasangan yang paling kaya atau yang paling berkuasa di antara yang lainnya, akan menjadi wanita yang paling kuat di kota ini.
Seluruh kota tahu, bahwa Megan adalah gadis favorit dari keempat pria yang paling berpengaruh di negara ini, terutama Adam dan Will. Mereka yakin bahwa dia adalah masa depan sebagai Nyonya William atau Nyonya Adam. Megan sudah mempersiapkan dirinya untuk pesta ini sejak 1 tahun yang lalu. Dia sudah memohon kepada Adam untuk menjadi pasangannya di hadapan kami, saat kami semua tengah makan malam bersama. Saat dia mulai memohon dan memaksa Adam untuk pesta hari ini, Adam tidak terlalu tertarik pada awalnya. Tapi kemudian dia mulai menggunakan drama yang penuh emosional dan akhirnya dapat meyakinkan Adam.
Jika dia menghadiri pesta itu dengan Adam hari ini, dia akan secara langsung mengambil posisi sebagai Nyonya Adam dari pandangan banyak orang.
Hidupkan televisi sekarang dan lihatlah channel berita. Seluruh kota sedang membicarakan tentang hal itu. Dia adalah berita utama hari ini. Dia sudah memberikan interview sejak pagi tadi dengan beberapa channel berita yang berbeda. Memberitahu mereka bahwa Adam adalah pasangannya malam ini.
Dia sudah mengumumkan tentang pasangannya sejak 1 tahun yang lalu. Untuk membuat dirinya tidak terlihat berbohong, jadi dia semakin memperlihatkan dirinya bersama Adam di tempat-tempat umum sejak Adam kembali dari Kanada. Meminta Adam untuk memberikannya pulau itu sebagai hadiah ulang tahunnya, menunjukkan kekuasaannya dengan mengundang keempat pria paling berpengaruh di negara ini secara bersamaan di pesta ulang tahunnya dan masih banyak hal yang lainnya." Ucap Jolie akhirnya selesai menjelaskan semuanya.
Claudia mendengarkan semuanya, semua hal yang dikatakan mereka berdua. Tapi tidak mengatakan apapun, dia terlihat tengah berpikir begitu dalam.
"Claudia, lakukan sesuatu. Kau tidak bisa membiarkan orang-orang berbicara tentang dia dan Adam secara terbuka sekarang. Kau tidak boleh membiarkan rumor ini menjadi begitu besar. Adam tidak peduli dengan semua ini, karena dia mencintaimu. Dia bahkan ingin kau menjadi pasangannya untuk pesta itu, tapi kau menolak. Tapi semua wanita yang ada di kota dan media peduli tentang hal ini. Tolong lakukan sesuatu." Ucap Jolie terlihat begitu putus asa dan panik.
"Iya sayang, kau harus menghentikan semua ini. Aku pikir ini adalah saatnya kau menunjukkan identitas mu. Katakan kepada semua orang, bahwa tidak ada calon Nyonya Adam di masa depan. Kaulah Nyonya Adam dan satu-satunya yang diinginkan Adam. Nyonya Adam yang sebenarnya." Ucap Nina berusaha meyakinkan Claudia.
"Tunggu sebentar, kalian berdua. Tunggu dulu. Kalian berdua terlalu banyak mengatakan hal yang langsung masuk ke dalam kepalaku. Aku butuh waktu untuk memproses semuanya." Ucap Claudia dengan frustrasi.
Claudia tetap tidak ingin pergi ke pesta untuk menjadi pasangan Adam. Terutama setelah mengetahui tentang apa yang dilakukan di pesta dan seperti apa pesta itu. Claudia sedikit pun tidak tertarik.
Nina menyalakan televisi.
"Lihatlah. Lihatlah sendiri, lihat bagaimana memalukan nya gadis itu memberikan interview kepada media, seperti dia sudah menjadi Nyonya Adam yang sebenarnya saja."
Apa yang dikatakan Nina memang benar. Gambar di televisi menunjukkan bahwa Megan tengah memberikan interview kepada para wartawan dengan wajah tersenyum kepada mereka lalu masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan.
"Nona Megan, apakah benar bahwa Tuan Adam Wijaya akan pergi sebagai pasangan anda malam ini?" Tanya seorang reporter.
"Sebenarnya mereka tidak percaya kepada orang lain untuk menemaniku. Mereka sangat khawatir tentang keselamatan ku dan keamanan diriku. Jadi daripada berpikir untuk mencarikan pasangan untukku, Tuan Adam sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi pasanganku. Walaupun sebenarnya dia sendiri tidak suka pesta seperti ini. Tapi untukku, kalian tahu sendiri lah...." Ucap Megan kepada para wartawan yang sengaja tidak meneruskan kalimatnya agar para wartawan dapat meneruskan kalimat itu sendiri dalam imajinasi mereka.
Claudia memutar mata malas melihat itu. Nina langsung mematikan televisi.
"Sayang, lakukan sesuatu. Ku mohon. Ini bukanlah hal yang bisa dilewati dengan mudah. Kau adalah istri yang paling berkuasa di kota ini sekarang. Bukan, sebenarnya di negara ini. Kau adalah Nyonya Adam Wijaya. Aku mohon sayang, kau harus menghentikan semua ini." Ucap Nina.
Pandangan Claudia fokus pada lantai. Dia tengah berpikir keras. Namun dia terlihat begitu tenang dan santai. Dia tidak panik ataupun cemburu, tapi dia tengah memikirkan sesuatu.
Bersambung....
Sekarang apa yang akan dilakukan Nyonya Adam Wijaya??
Bagaimana dia akan menghentikan semua rumor ini? Apakah dia akan melakukan sesuatu atau membiarkan semuanya terjadi?
Atau apakah dia akan berkelahi dengan Adam lagi?
*Bagaimana menurut kalian?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah juga ya*... 😁