90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Ke Kantor Polisi (Bab 67)


__ADS_3

Malam harinya, suasana duka masih menyelimuti kediaman Papa. Untuk pertama kalinya aku masuk ke dalam kediaman utama keluarga Setyawan tanpa disambut oleh pria berwajah khas orang timur itu.


'Ah, memang seperti yang sering orang katakan. Kalau sudah tiada akan sangat begitu terasa bahwa kehadiran seseorang yang meninggalkan kita itu benar-benar berharga.'


Ada banyak pelayat yang datang untuk mendoakan Papa di malam ini. Bahkan Mama juga kali ini setelah puluhan tahu, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki kembali di rumah yang dulunya pernah ia tinggali bersama Papa. Raut wajah Mama masih memancarkan kesedihan yang mendalam. Andreas berusaha untuk menenangkan Mama. Sementara aku memilih duduk di ruang tamu bersama dengan Merry saat para tamu satu persatu mulai meninggalkan rumah keluarga Setyawan.


Aku dan Merry hanya duduk berdua, karena suaminya, Hansen tengah berbincang dengan Jack yang juga hadir di kediaman Keluarga Setyawan.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Merry padaku.


"Jujur saja, perasaanku campur aduk Mer. Di lain sisi, aku tengah bahagia karena pernikahanku dengan Andreas akhirnya terlaksana. Di sisi lain, aku juga sedih karena di hari pernikahanku Papa harus meninggal secara tragis." Jawabku. "Apa mungkin semua ini memang karena kesalahanku?" Kini aku balik bertanya.


"Semuanya sudah takdir. Kenapa kau harus menyalahkan dirimu sendiri? Ini sama sekali bukan kesalahanmu. Yang salah itu justru Arnold yang sudah menghilangkan nyawa Papa nya sendiri. Mau itu disengaja atau tidak, tetap saja dia memang dari awal datang ke pernikahanmu guna untuk membunuh seseorang. Atau langsung saja bisa dikatakan dia berniat membunuh Andreas." Balas Merry. "Aku masih ingat, Tuan Besar Setyawan sebenarnya ingin membujuk Arnold agar tak bertindak bodoh. Namun, karena dasar Arnold nya udah emosian gak bisa dibujuk. Dan kau tahu sendiri bagaimana kelanjutannya." Lanjut Merry.


Seperti yang dikatakan Merry. Aku ingat jelas bahwa Papa memang tengah berusaha untuk merebut senjata api yang dipegang Arnold. Namun, entah bagaimana ceritanya hingga senjata api itu bisa meledak dan mengenai Papa. Sungguh, aku tak pernah menyangka bahwa hal ini bisa terjadi.


Setelah puas mengobrol dengan Merry dan ia harus segera pulang, aku berjalan masuk ke ruang keluarga. Bertemu dengan Jack yang juga pamitan karena harus langsung terbang ke kota sebelah.


"Jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Ucap Jack.


"Tenang saja Jack. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Lagi pula aku sudah punya suami yang bisa menjagaku 24 jam." Balasku.


"Tapi bagiku, kau tetaplah adik kecilku." Ucap Jack seraya mengusap kepalaku. "Kalau begitu aku pergi sekarang. Titip salam ku untuk suamimu. Maaf aku tidak bisa menemui suamimu karena dia terlihat sedang sibuk mengurus Mama nya." Lanjut Jack.


"Aku akan menyampaikan salam mu pada Andreas.," Balasku.


Jack pergi dan menyisakan aku berdiri seorang diri menatap ruang keluarga yang ternyata sudah kosong.


'Kemana perginya Andreas?'


Saat aku melihat ke arah taman yang terdapat di samping rumah, tampak Andreas tengah duduk bersama dengan Mama. Aku pun berjalan mendekati mereka.


"Velicia, mari duduk disini." Ucap Mama.


Aku berjalan mendekat dan langsung duduk di samping Mama. Aku mengusap lembut punggung Mama. Sementara Andreas memilih pergi ke ruangan lain.


"Mama tidak percaya semua ini terjadi. Mama bukan menangisi kepergian Papa Setyawan. Tapi, Mama hanya kecewa dengan semua yang telah terjadi. Kenapa harus sampai seperti ini?" Ucap Mama dengan air mata kembali berlinang.

__ADS_1


"Maa...."


"Arnold pasti akan dihukum berat. Dan untuk membayangkannya saja, Mama sudah tak kuat. Tapi apa yang bisa dikatakan, semuanya telah terjadi. Bagaimanapun, Andreas tetap bersalah. Jadi dia memang sudah seharusnya di hukum." Lanjut Mama.


Dan malam ini, kami semua memutuskan untuk menginap di rumah utama keluarga Setyawan. Malam yang seharusnya menjadi malam pengantinku, kini malah jadi seperti ini. Aku dan Andreas tidur terpisah karena aku harus menemani Mama karena Angelica tak mau menginap di rumah seseorang yang bukan anggota keluarganya.


**************


Pagi menjelang...


Aku dan Andreas sudah berada di dalam mobil hendak menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan sebagai bahan penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian atas kasus penembakan yang menyebabkan Papa meninggal dunia.


Kami akhirnya tiba di kantor polisi dan langsung masuk ke ruangan penyelidikan. Masuk kesana kami mulai di cecar banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi. Dengan tenang aku dan Andreas menjawab setiap pertanyaan uang diajukan. Setelah 1 jam, akhirnya kami diperbolehkan untuk pulang.


Saat keluar ruang penyelidikan, kami secara tak sengaja bertemu Arnold. Entah mengapa aku menjadi semakin iba saat melihat kedua tangannya diborgol. Kami berdiri berhadapan di lorong kantor polisi. Arnold seperti tengah ingin mengucapkan sesuatu. Namun, polisi segera menariknya pergi untuk kembali ke dalam sel.


'Arnold, andai saja kau tidak melakukan semua ini. Sekarang kau pasti tengah ongkang kaki di rumahmu.'


Andreas tak mengatakan apapun dan langsung menarik tanganku untuk keluar dari kantor polisi.


"Sayang maaf karena belum bisa menemanimu hari ini. Padahal hari ini adalah hari pertama setelah kita menikah. Maafkan aku." Ucap Andreas saat ia ikut masuk ke dalam rumah.


"Tak mengapa sayang. Aku mengerti dengan keadaan yang terjadi. Jangan terlalu kau pikirkan tentang aku. Urus dulu semua pekerjaan yang harus kau selesaikan. Setelah itu semua sudah selesai, nanti kita bisa punya waktu kita sendiri." Balasku.


Andreas mengangguk dan tersenyum lalu memelukku. Ia kemudian mencium keningku lalu berjalan ke arah pintu. Namun, ia berhenti tepat di pintu rumah dan berbalik menatapku.


"Ada apa?" Tanyaku.


Bukannya menjawab, Andreas malah langsung mendekatiku dan mencium ku dengan kuat. Ini ciuman pertama kami setelah menikah. Awalnya Andreas melakukannya dengan lembut. Namun, lama kelamaan menjadi sedikit bernafsu. Ia bahkan tak mau melepaskan aku dalam waktu lama.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu..." Ucap Andreas mencium seluruh wajahku.


"Iya aku tahu. Sekarang pergilah." Ucapku.


"Sekali lagi." Ucap Andreas kemudian kembali menciumku penuh *****.


Setelah merasa cukup puas, Andreas lalu berjalan keluar pintu.

__ADS_1


"Aku sudah tak sabar untuk malam pengantin kita. Tapi untuk saat ini, aku tak bisa. Ada banyak hal yang harus aku lakukan. Tunggulah sebentar, dan aku akan langsung membawamu berbulan madu." Ucap Andreas yang membuat pipiku terasa menghangat.


Setelah Andreas pergi, aku kembali ke kamar dan menatap bayangan diriku di cermin. Aku menyentuh bibirku yang tadi diciumi Andreas.


"Dicium saja aku sudah malu begini. Bagaimana kalau..."


Aku jadi tertawa sendiri jika membayangkan hal itu terjadi. Tapi untuk saat ini, kami harus menunda semua agenda bulan madu karena masih dalam suasana berkabung dan Andreas juga masih ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Hari ini aku hanya bisa menghabiskan waktuku di rumah saja menemani Mama yang pada akhirnya memutuskan untuk tinggal bersamaku dengan Andreas dan juga Angelica di rumah. Sementara rumah lama ku, aku biarkan kosong tapi tetap di rawat oleh Bi Sumi dan para penjaga lainnya.


Mama dan Angelica tengah keluar rumah untuk berbelanja. Sementara aku diam di rumah dan duduk di depan piano. Untuk pertama kalinya, hari ini setelah begitu lama. Aku kembali memainkan piano. Memainkan lagu favorite ku 'Sleep in the deep sea'.


Bayangan Mama kembali terbayang saat aku masih kecil dulu. Mama seolah duduk di sampingku dan ikut memainkan piano bersamaku. Aku menutup mata dan mendengarkan alunan piano yang aku mainkan sendiri. Irama piano benar-benar membuatku tenang.


'Ma.. aku sudah bahagia sekarang...'


Tak lama Mama dan Angelica pulang. Kami menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol sembari memakan salad buah buatan Mama.


"Mama harap, tak ada lagi masalah yang menimpa keluarga kita. Terutama padamu Velicia. Mama ingin kamu dan Andreas hidup bahagia selamanya. Hingga memiliki keturunan dan...."


Ucapan Mama terhenti, sepertinya Mama menyadari bahwa Mama telah salah bicara.


"Maafkan Mama...."


"Gak apa-apa Ma. Justru aku yang minta maaf karena gak bisa ngasih cucu buat Mama. Aku harap Mama bisa..."


"Sudahlah sayang. Tidak masalah jika kalian tidak punya anak. Yang terpenting kalian bisa terus hidup bahagia. Toh nanti Mama bisa mendapatkan cucu dari Angelica." Ucap Mama.


"Ngomong apa sih. Nikah aja belum." Balas Angelica.


"Iya. Tapi suatu hari nanti kamu kan akan menikah juga." Balas Mama.


"Terserah Mama saja." Ucap Angelica seraya kembali fokus memakan salad buahnya.


Bibirku boleh saja tersenyum dari luar. Tapi jujur saja, dalam hati aku kecewa pada diriku sendiri karena tak bisa memberikan keturunan pada Andreas. Aku hanya bisa mengharap sebuah keajaiban.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2