
Malam hari setelah seharian berada di kantor, aku dan Andreas berbaring di tempat tidur setelah makan malam. Aku merebahkan kepala ku di dada bidang Andreas. Posisi seperti ini memang menjadi posisi favorite kami berdua saat tengah bersantai.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Andreas. "Apa semuanya lancar?"
"Hmmm semuanya lancar. Rasanya kembali ke masa lalu saat aku disibukkan dengan urusan kantor." Balasku.
Andreas mengusap pipiku lembut.
"Aku tak ingin kau lelah. Jika kau merasa kelelahan dengan pekerjaan ini, kau lebih baik beristirahat di rumah." Ucap Andreas.
"Tidak apa-apa. Justru aku senang sekali, karena sudah ada kegiatan yang bisa aku lakukan."
"Baiklah. Tapi ingat, jangan memaksakan dirimu." Ucap Andreas lagi seraya mencubit hidungku.
Aku tersenyum dan menatapnya lekat. Dengan perlahan Andreas menciumku saat aku mendongakkan kepalaku melihatnya.
"Sayang, apa aku bisa pergi mengunjungi Arnold?" Tanyaku ragu-ragu.
Aku takut Andreas akan berpikir yang tidak-tidak denganku. Sejak tadi siang di kantor, aku sudah memutuskan untuk pergi membesuk Arnold. Dan, berharap Andreas bisa setuju karena aku benar-benar ingin berbicara langsung dengan Arnold. Toh dia tidak akan pernah bisa lagi untuk menyakitiku.
"Tentu saja, pergilah. Aku yakin kau pasti ingin menanyakan hal mengenai perusahaan mu." Balas Andreas tenang.
"Bagaimana kalau kau ikut menemaniku. Aku hanya tidak ingin kau bisa berpikir bahwa aku akan..."
"Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau kau pergi sendiri?" Andreas menyela ucapan ku. "Pergilah sayang, aku percaya padamu."
Aku memeluk pinggang Andreas erat. Pria ini memang sangat mencintaiku. Perlahan dengan penuh kehangatan, kami berdua bercumbu mesra. Saling memberikan sentuhan dan kasih sayang. Aku bahagia sekali memiliki Andreas menjadi suamiku.
Pagi harinya, aku memutuskan untuk pergi menggunakan mobilku sendiri ke rumah tahanan tempak Arnold menjalani hukumannya. Sementara Andreas berangkat lebih dulu ke kantor.
"Hati-hati sayang, hubungi aku jika terjadi sesuatu." Ucap Andreas seraya mencium keningku sebelum pergi ke kantor tadi.
Disinilah aku saat ini. Berada di pelataran parkir rutan tempat Arnold di tahan. Seumur hidupku, baru kali ini aku mengunjungi yang namanya penjara. Aku hanya sering melihatnya di berita-berita atau mendengar tentang penjara dari orang-orang saja.
Yang aku tahu, penjara menjadi tempat di mana orang-orang yang telah melakukan pelanggaran hukum mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setiap tahanan menerima ganjaran atas kasus dan masa masa tahanan yang berbeda-beda. Namun, mereka bisa saja berada dalam satu sel dan tidur di tempat yang sama.
Dari penuturan orang-orang yang aku dengar, selama menjalani masa hukuman, para tahanan tidak diperbolehkan keluar sampai masa hukumannya berakhir. Hanya keluargalah yang bisa menjenguk mereka sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Aku yakin, momen bertemu bersama sanak keluarga menjadi saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh para tahanan untuk melepas rindu dengan orang yang mereka sayangi.
Tapi, kali ini aku menjenguk mantan suamiku. Orang yang pernah menjalani hidup selama 3 tahun bersamaku. Dan kini kami menjadi orang asing dan kehidupan kami berdua berbalik 180°
Aku yang tak pernah berkunjung ke penjara menjadi sedikit bingung harus berjalan ke arah mana. Tapi, untungnya ada beberapa orang yang juga sepertinya hendak membesuk seseorang. Karena tampak mereka membawa beberapa bungkus makanan. Aku pun mengikuti langkah mereka masuk melewati gerbang.
__ADS_1
Ternyata kami harus mengambil nomor antri masuk, lalu mendaftarkan diri. Setelah itu memberikan informasi siapa yang akan dijenguk, lalu akan dipanggil untuk dipersilakan masuk sesuai nomor antri.
"Mau jenguk siapa Mbak?" Tanya seorang ibu-ibu yang mengenakan jilbab besar.
"Mau jenguk teman Bu." Balasku.
"Saya mau jenguk anak saya yang baru di penjara dua bulan." Ucap Ibu itu memberitahuku tanpa aku bertanya padanya. "Anak saya di hukum karena mengambil kayu bakar di lahan yang katanya milik sebuah perusahaan. Padahal sejak dulu kami sudah bergantung hidup dengan mengambil kayu atau ranting-ranting sebagai kayu bakar di lahan itu. Tapi saya bisa apa Mbak. Saya hanya buruh tani miskin yang untuk makan saja masih harus numpang bekerja di lahan orang. Mana ada uang untuk bayar pengacara." Ujar Ibu itu.
Sungguh, miris sekali mendengar penuturannya. Di lihat dari raut wajah dan kulit tangannya Ibu itu sepertinya memang pekerja keras. Aku tanpa ragu mengelus punggung tangan Ibu itu.
"Yang sabar ya Bu." Ucapku.
"Saya sudah ikhlas menerima semuanya. Meski saya harus menghidupi dua anak-anak saya yang sekarang sudah masuk sekolah menengah. Anak saya yang di penjara mungkin seusia sama Mbak. Dia tulang punggung keluarga. Dan setelah dia di penjara hidup kami semakin susah. Tapi, saya kembalikan lagi. Ini semua ujian yang Tuhan berikan untuk saya agar menjadi manusia yang lebih sabar." Ucap Ibu itu dengan mata berkaca-kaca.
Tak lama nomor antrian Ibu itu disebut. Ia pun pamit masuk dengan menenteng tas kresek hitam. Aku penasaran dengan apa isi dari kresek hitam itu. Apakah dia membawakan makanan yang enak untuk anaknya mengingat seperti yang dikatakannya padaku, bahwa ia hidup susah.
Giliran nomor antrian ku disebut. Punggung tangan ku diberikan sebuah cap atau stempel, sebagai tanda bahwa aku adalah pengunjung. Kemudian barang bawaan diperiksa secara teliti oleh Petugas Lapas. Tak hanya itu, bahkan tubuhku tak luput dari pemeriksaan. Khusus laki-laki akan diperiksa oleh Petugas laki-Laki juga. Dan khusus pengunjung wanita akan di periksa oleh Petugas Lapas Perempuan di ruangan khusus.
Setelah pemeriksaan yang cukup ketat usai, maka aku melewati ruangan khusus lagi yang dijaga oleh Petugas lapas, baru kemudian bisa bertemu dengan orang yang ingin di besuk. Sebelum bertemu dengan orang yang kita jenguk, Petugas lapas akan mengumumkan atau memanggil nama orang yang dijenguk menggunakan pengeras suara.
Ternyata di area khusus tempat bertemunya antara narapidana dan Keluarga yang menjenguk sudah banyak. Ramai sekali, sudah nampak seperti pasar. Ada yang bersenda gurau, bercerita, dan ada juga yang beradegan mesra namun tetap sopan. Sepertinya mereka itu adalah suami istri yang jarang bertemu. Jadi aku memaklumi saja dan aku mencoba untuk memalingkan wajah agar tidak melihat kemesraan mereka.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Arnold.
"Aku datang bukan untuk berbasa-basi." Balasku. "Aku ingin mendengar sebuah penjelasan darimu." Lanjut ku.
"Aku lihat kau semakin sehat saja. Dan, kau juga tampak bahagia. Aku ikut bahagia untukmu." Ucap Arnold.
Aku menghela nafas panjang. Jujur saja, aku tak ingin berbasa-basi dengannya. Aku hanya ingin mengetahui alasan apa yang membuatnya memberikan kembali perusahaan Arista padaku. Kemarin Merry mengatakan padaku lewat telepon, 'seharusnya kau senang karena perusahaan mu bisa kembali. Untuk apa lagi kau menemui pria itu.'
Dan aku hanya bisa menjawab, 'aku ingin tahu alasannya. Itu saja.'
"Baiklah. Sekarang akan aku katakan bahwa aku memutuskan mengembalikan perusahaan itu padamu karena memang kau lah yang berhak atas semuanya. Kau lah pemilik aslinya. Kalau aku tidak kembalikan padamu, perusahaan itu bisa bisa saja sudah bangkrut."
"Lalu bagaimana dengan Viona? Bagaimana dengan anak yang tengah dikandungnya?"
"Aku punya tabungan untuknya."
"Baiklah, terserah kau saja." Balasku tak ingin lagi berdebat dengannya.
"Maafkan aku, karena selama ini sudah menyusahkan mu. Untuk Viona, kau tidak perlu memikirkannya. Aku sudah bertemu dengannya kemarin dan memberitahu semuanya padanya. Aku pikir dia sudah mengerti dan pasti dia tak akan menyusahkan mu lagi. Baiklah. Ku pikir hanya itu saja yang dapat kita bahas. Aku akan masuk kembali. Berbahagialah Velicia Arista." Ucap Arnold lalu meninggalkanku seorang diri.
__ADS_1
Bingkisan yang tadinya aku bawakan untuknya, lupa aku berikan. Aku hanya membawakannya makanan, berupa roti dan snack lainnya.
Aku menghela nafas panjang memikirkan akan aku apakah makanan ini. Di saat aku kebingungan dan melihat sekitar. Pandanganku fokus pada Ibu-ibu yang tadi mengobrol denganku sebelum masuk ke ruangan ini. Aku langsung berdiri dan berjalan mendekatinya. Ternyata anak ibu itu memang terbilang masih muda, dan sepertinya seumuran denganku.
Keduanya sontak mendongak saat aku berdiri mendekati mereka. Namun, aku nyatanya lebih fokus dengan bungkusan hitam yang ada dihadapan pria itu. Terdapat sebuah rantang kecil dengan nasi dan lauk yang hanya ikan asin dan sayur daun singkong. Sontak aku terenyuh, dan hampir saja air mataku menetes. Tadinya ku lihat dari jauh pria itu tampak begitu lahap memakan makanan itu dengan wajah yang sumringah.
"Ehh Mbak. Sudah selesai ya jenguk temannya. Kenalin ini anak saya, namanya Ridho." Ucap Ibu itu yang sontak membuyarkan lamunanku.
Aku hanya mengangguk sopan ke arah pria yang berkulit sawo matang itu.
"Mmmm Bu, maaf sebelumnya. Ini saya punya sedikit makanan ringan untuk anak Ibu." Ucapku seraya menyerahkan kantong kresek warna putih dengan logo sebuah minimarket itu.
Dengan sumringah Ibu itu menerima apa yang aku berikan dan melihat isinya. Mata keduanya berbinar melihat isi dari kantong plastik yang aku berikan.
"Terima kasih ya Mbak...." Ibu itu terlihat seperti tengah menanyakan namaku.
"Velicia." Ucapku.
Melihat ibu itu tersenyum, aku merasa begitu senang.
"Mak, bawa saja pulang untuk adik-adikku. Mereka pasti senang." Ucap Ridho.
"Tidak usah Nak. Kamu lebih lebih membutuhkannya."
"Semuanya buat Mas saja. Nanti untuk adik-adik Mas akan saya berikan yang lain." Ucapku.
Setelah pembicaraan yang panjang, aku dan ibu itu akhirnya keluar. Dan seperti ucapan ku tadi, aku ingin mengajak ibu itu pergi berbelanja. Tapi Dara menelepon dan memintaku segera ke kantor. Aku akhirnya menepi di sebuah ATM yang ada dipinggir jalan dan mengambil sejumlah uang dan memberikannya pada ibu itu.
"Ini untuk Ibu. Maaf saya tidak jadi membawa Ibu berbelanja."
"Tidak Nak, ini terlalu banyak. Ibu tidak bisa menerimanya."
"Saya ikhlas Bu. Lain kali saya akan main ke rumah Ibu. Salam ya untuk anak-anak Ibu." Ucapku setelah menurunkan Ibu itu tepat di pinggir jalan menuju rumahnya.
Aku belum juga beranjak saat Ibu itu berlarian menuju rumahnya yang terlihat jelas dari pinggir jalan. Tampak dua orang anak remaja perempuan berlarian ke arah Ibu itu yang terlihat kegirangan. Ternyata rumah mereka memang termasuk rumah yang tidak layak huni.
'Ya Tuhan....'
Aku memang sudah seharusnya pandai-pandai bersyukur atas kehidupan yang Tuhan berikan kepadaku. Sejak melihat Ibu tadi dan keluarganya, hatiku menjadi tergerak untuk melakukan lebih banyak lagi kebaikan untuk orang lain. Aku yakin, suamiku pasti akan mendukungku.
Bersambung....
__ADS_1