
Claudia membuka matanya perlahan, cahaya matahari terasa menusuk matanya. Pagi ini, matahari bersinar sangat terang. Claudia masih berbaring di tempat tidur dengan nyaman dan tak ingin beranjak dari sana.
Claudia tengah memikirkan sesuatu, kemudian ia berkata, "Papa, aku sangat merindukanmu." Kemudian tersenyum sedih dan kembali menutup matanya.
Dua tahun lalu, Andreas, Papa Claudia meninggal dunia mengikuti Mama nya, Velicia, yang sudah lebih dulu meninggal saat Velicia berusia 10 tahun. Claudia tumbuh tanpa kasih sayang sang Mama. Mama kandungnya Viona juga jauh lebih dulu meninggal.
Semenjak kepergian Velicia, sang Papa, Andreas memang menjadi pria yang sibuk bekerja. Bahkan kesehatannya menurun karena hal itu. Mengenai Papa kandungnya sendiri, Claudia tak pernah sekalipun mengunjungi Arnold. Ia benar-benar seperti tumbuh sendiri dan bahkan menjadi gadis yang begitu nakal.
Sebelum meninggal, Andreas sudah jauh-jauh hari merencanakan pernikahan Claudia dengan Adam, putera dari seorang sahabatnya yang tinggal di Jakarta. Dan setelah pernikahan itu terjadi, Claudia langsung di boyong untuk tinggal di Jakarta, meninggalkan kota kelahirannya Ternate, dengan segala kenangannya.
Meski sudah menikah, Claudia sama sekali belum pernah melihat wajah suaminya. Aneh bukan? Memang seperti itulah adanya.
Ponsel Claudia berdering. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel yang bergetar itu diatas meja. Dia membuka notifikasi dan ada begitu banyak pesan yang masuk. Tebak kenapa? Karena hari ini adalah ulang tahunnya. Teman-temannya mengirim pesan dan ucapan selamat padanya. Tapi, dari semua pesan yang ada, ada satu pesan yang mencuri perhatiannya. Sebuah pesan dari nomor yang tak pernah ia simpan namun, ia mengetahui siapa pemiliknya. Claudia membuka pesan itu.
Dari: +6287********6
Happy Birthday, aku harap kau selalu sehat dan bahagia. Doa terbaik untukmu.
Claudia memutar bola mata dengan malas saat membaca pesan itu.
"Mesin ATM itu memintaku untuk menjadi lebih ramah dari pada sebelumnya." Ucap Claudia tanpa sedikitpun terkesan karena mendapat ucapan selamat dari suaminya sendiri.
Claudia meletakkan ponselnya diatas tempat tidur, kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah ia kembali ke kamar, sebuah pesan baru kembali masuk. Claudia melempar handuk yang digunakan mengeringkan rambutnya ke atas kursi lalu beranjak mengambil ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur.
Dari: +6287********6
Kau sudah membaca pesanku, berarti kau sudah bangun tidur. Hadiah mu menunggu dilantai bawah, aku harap kau menyukainya. Jika tidak, minta pada Doni untuk menggantinya. Ada pilihan yang lain juga.
Sekali lagi, selamat ulang tahun.
Claudia kembali memutar bola matanya dengan malas kemudian melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia tahu bahwa hadiah yang diberikan suaminya itu pasti sesuatu yang besar dan mahal. Terakhir kali, suaminya memberikannya sebuah mobil sport baru. Dan kali ini, dia tak tertarik untuk melihat hadiahnya. Ia lalu bersiap-siap dan segera turun ke bawah.
Saat Claudia keluar dari kamarnya, dia mendapati para pelayan seisi rumah sudah berbaris rapi menyambut kedatangannya dengan tersenyum ke arahnya termasuk Erik, Naomi dan Desi. Tepat saat ia berada di tangga paling bawah semua pelayan menunduk memberikan selamat padanya.
Erik merupakan seorang pengawal pribadi yang di minta suami Claudia untuk menjaga dan menyiapkan segala kebutuhannya. Sementara Naomi adalah seorang wanita yang sudah dianggap sebagai kakak oleh Claudia. Dia merupakan puteri dari Merry dan Hansen yang merupakan sahabat kedua orang tuanya. Dan Desi merupakan seorang pelayan utama di rumah yang menyiapkan segala keperluan Claudia di rumah.
"Selamat ulang tahun Nona Muda." Ucap mereka bersamaan.
Claudia ingin menampar wajah mereka semua karena sudah begitu riuh dan membuatnya malu. Tapi dia tetap diam dan menganggukkan kepalanya sopan kemudian berjalan menuju meja makan.
Erik dan Naomi ikut duduk di kursi mereka disamping Claudia. Dia menatap mereka dengan malas. John menyugar rambutnya.
"Selamat ulang tahun...." Ucapnya.
Claudia mengucapkan terima kasih dengan berbisik karena merasa malu. Kemudian ia melihat ke arah Erik yang terlihat begitu bersemangat, dan kembali memutar bola matanya malas.
"Baiklah, baiklah. Kau selalu seperti lebih bersemangat dibanding aku mengenai hadiahnya. Cepat bawakan padaku." Titah Claudia.
Erik tersenyum dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam koper yang dibawanya lalu memberikannya pada Claudia lengkap dengan sebuah pulpen. Claudia terlihat bingung dan mulai membaca isi kertas itu. Baru saja ia membaca dua baris isi kertas itu, ia langsung menatap ke arah Erik dan Naomi.
"Apa ini?" Tanya Claudia pada pria bernama Erik itu.
"Isi dari surat ini menyatakan, The Starlight yang merupakan sebuah mall dan pusat belanja dan juga meliputi bioskop, tempat spa, kolam renang, restoran, toko-toko, salon, game zone dan yang lainnya, mulai hari ini menjadi milik Anda. Nona Claudia Arista Setyawan, adalah pemilik baru dari The Starlight. Baru satu tahun tempat itu diresmikan dan merupakan milik Tuan Muda, tapi mulai sekarang tempat itu secara resmi sudah menjadi milik Anda Nona. Dan juga seperti yang saya katakan tadi, semua yang ada di dalamnya termasuk makanan, pakaian, dan hal lainnya gratis untuk Anda." Ucap Erik yang membuat Naomi terlihat terkejut.
Claudia terlihat bersikap biasa saja.
"Dan apalagi yang mau dia berikan, jika aku boleh tahu." Ucap Claudia tenang.
Erik kembali mengeluarkan dua kertas lainnya dari dalam kopernya dan tersenyum bangga. Ia mulai membacakan isi kertas yang pertama.
"Sebuah pulau terpencil di sisi sebelah selatan negara kita, berada di tengah-tengah samudera dengan sebuah villa yang baru dibangun dan fasilitas lainnya menjadi milik Anda seorang Nona."
Claudia mendengarkan dengan serius.
"Yang kedua, sebuah kapal pesiar mewah dengan layanan kelas bintang tujuh dan segala fasilitas lainnya menjadi milik Anda."
Claudia terlihat berpikir sesaat kemudian menatap Erik.
"Aku mau semuanya." Ucap Claudia akhirnya.
Naomi tampak tidak percaya.
__ADS_1
"Di...."
Erik menggelengkan kepalanya ke arah Naomi.
"Baiklah, tinggal tanda tangani semua kertas ini saja." Ucap Erik.
Kali ini giliran Claudia yang terkejut sampai menutup mulut dengan jemarinya. Ia tak percaya bahwa Erik akan setuju begitu saja.
"Tuan Muda memang sudah menyiapkan semuanya untuk Anda. Awalnya Tuan Muda ingin memberikannya satu persatu di setiap ulang tahun Anda. Tapi jika Anda menginginkannya sekarang juga tidak masalah."
Claudia tak dapat berkata apa-apa. Tapi dia tak mau kalah, ia lalu menandatangani semua kertas itu, hanya untuk memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak terprovokasi karena semua pemberian dari suaminya itu. Setelah itu, ia bergegas keluar rumah dengan cepat.
"Nona.... Nona Muda.... Anda belum sarapan. Nona Anda mau kemana?" Teriak Desi sang pelayan yang terus memanggil Claudia, tapi dia terus saja berjalan.
Naomi ikut berlari keluar mengikuti Claudia.
"Claudia berhenti, tunggu dulu. Claudia, tenanglah. Kau terlalu berlebihan." Ucap Naomi. "Tidak ada yang salah dengan semua pemberiannya, kau menganggapnya salah karena kau tidak pernah bisa menerima pernikahan kalian." Naomi terus mengikuti Claudia.
"Benarkah Kak, aku terlalu berlebihan! Aku?" Claudia terlihat kesal. "Semua hadiah ulang tahun yang disiapkannya ini, aku ulangi disiapkan olehnya ini, hanya untuk menunjukkan kekuasaan dan uangnya saja, hanya itu." Claudia berteriak pada Naomi.
"Nggak Di, kau juga harus melihat dari sisi positifnya. Mungkin dia memberikan semua ini bukan hanya untuk menunjukkan bahwa dia punya uang, tapi juga untuk menutupi..."
"Untuk menutupi ketidak hadirannya, bukan?" Claudia menyela ucapan Naomi. "Aku tahu Kak, aku tahu semuanya. Dia melakukan semua ini hanya untuk menutupi ketidak hadirannya saja. Aku tidak menginginkan semua ini."
Claudia menghela napas panjang, kemudian kembali berbicara.
"Apa yang telah dia lakukan selama hampir 2 tahun pernikahan ini sebagai seorang suami? Baik, biarkan aku memaparkannya. Dia pergi ke Kanada di pagi hari pernikahan kami, meninggalkan isterinya seorang diri ditemani para tamu dan pelayan-pelayan. Kemudian saat aku menolak untuk tinggal di rumahnya dan kembali ke tempatku sendiri, dia malah mengirimkan semuanya kemari. Dia menyiapkan semua keperluanku mulai dari pakaian yang mahal, sepatu bermerk, parfum mahal dan yang lainnya. Ada tiga mobil yang terparkir di garasi dan salah satunya merupakan hadiah ulang tahunku tahun lalu, dan dia memberiku sebuah kartu kredit tanpa batas untuk memenuhi semua kebutuhanku, hanya itu." Ujar Claudia panjang lebar. "Ah tidak, satu hal lagi. Dia mengirimkan hanya 4 sms dalam dua tahun ini padaku. Pertama, saat hari ulang tahunku di tahun lalu. Kedua di hari jadi pernikahan, ketiga di tahun baru, dan yang terakhir pagi tadi, hanya itu saja. Tolong Kak, beritahu dia, aku tidak menginginkan semua ini. Aku menginginkan kebebasanku." Teriak Claudia.
"Kau mendapatkan semua kebebasan mu Di. Ya, dia memang melakukan semua ini untukmu, tapi apakah kau pernah melakukan sesuatu untuknya? Setidaknya melakukan hal seperti yang dia lakukan? Mungkin setelah itu kalian berdua bisa berbincang. Apakah kau pernah mengucapkan terima kasih atas semua yang diberikannya padamu? Ah, lupakan terima kasih. Apakah kau pernah menelepon dan memarahinya karena mengirimkan mu semua barang mewah dan bermerk yang kau inginkan atau tidak? Apakah kau pernah meneleponnya untuk memintanya kembali? Siapa yang tahu, mungkin saja dia mau kembali." Naomi mencecar banyak pertanyaan pada Claudia.
Claudia terdiam.
"Dan kebebasan. Kapan kau tidak pernah bebas? Kau menjalani hidupmu sesuai keinginanmu. Tidak ada seorangpun, baik itu pelayannya atau pengawalnya termasuk aku dan Erik yang melarang mu. Kami semua tahu, kau menjalani semuanya untuk menghilangkan rasa frustrasi mu. Kau bahkan tidak pernah menggunakan kartu kredit yang diberikannya. Kau hanya menggunakan uang dari peninggalan perusahaan Papa mu. Dia selalu bertanya padaku dan Erik kenapa kau tak pernah menggunakan kartu pemberian darinya. Dan kami mengatakan, kau akan menggunakannya saat kau butuh nanti. Sekarang, katakan padaku Di, apakah aku pernah ikut campur dalam kehidupanmu selama ini?"
Naomi mengeluarkan semua uneg-uneg nya dan menatap Claudia yang berdiri mematung dengan wajah yang datar dan matanya yang berair.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau perduli. Seperti yang aku katakan tadi, aku hanya menginginkan kebebasan. Aku ingin bercerai darinya. Aku ingin terbebas dari pernikahan ini." Ucap Claudia kemudian berlalu meninggalkan Naomi yang hanya bisa berdiri menatap kepergiannya.
Di sebuah kamar hotel berbintang, di lantai 20. Terdengar suara musik menghentak dengan keras. Ada banyak muda mudi yang minum-minum dan mabuk. Mereka berdansa dan menari tanpa beban.
Seluruh ruangan tampak berantakan. Sekelilingnya tampak kabur karena asap rokok dan bau alkohol bertebaran menusuk hidung. Di dindingnya terdapat dekorasi beberapa balon dan sebuah tulisan,
'Happy Birthday Di'
Di sudut ruangan, ada sekumpulan orang yang duduk melingkar mengitari meja sembari minum alkohol dan menatap seorang pria yang berdiri diatas meja sambil menari dengan hanya mengenakan celana dan bertelanjang dada.
Pria itu berhenti menari dan turun dari atas meja. Lalu duduk disamping Claudia.
"Sekarang giliran mu." Ucapnya menunjuk Claudia.
Claudia menggeleng.
"Ayolah, apa ada suatu hal yang tidak bisa dilakukan Claudia?" Ucap pria bernama Endra itu.
"Biar aku saja." Tiba-tiba seorang wanita bernama Rose yang merupakan sahabat Claudia yang berdiri diatas meja dan mulai menari.
Semua orang menyemangati Rose dan Claudia hanya bisa memutar bola mata dengan malas.
Endra memeluk Claudia dari belakang dan mulai mencium tengkuknya.
"Hei Rose, turunlah. Cepat turun." Teriak Endra. "Kau tidak cocok menari disitu, gerakan mu terlalu kaku. Wanitaku bisa sakit mata jika terus melihatmu menari. Turunlah, kau bisa menari besok di kampus."
"Endra sialan." Teriak Rose. "Aku akan membunuhmu, hanya karena wanita mu tidak suka melihatku menari kau mengacaukan penampilanku." Ucap Rose.
Semua orang tertawa.
"Tenanglah Rose. Hari ini adalah ulang kekasihnya. Endra menyiapkan acara, dan kita disini untuk bersenang-senang." Ucap seorang pria bernama Bam sembari tertawa.
"Baiklah, aku akan memutar botolnya sekarang." Ucap Rose.
Permainannya memang seperti itu. Kebanyakan dari mereka memilih tantangan dan menjadikan permainan semakin menarik.
__ADS_1
Dan kali ini kembali giliran Claudia yang membuat semua orang bersorak.
"Ayo Claudia...." Sorak mereka semuanya.
"Oke fine. Cepat katakan, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Claudia.
"Bermesraan dengan Endra didepan kami." Teriak salah seorang yang ikut dalam permainan yang membuat semua orang bersorak setuju.
"Seriously? Apakah aku ini tampak seperti bintang film biru yang akan melakukan semuanya dihadapan kalian semua? Jika kau merasa begitu horny, pergilah menonton film biru, atau bercintalah dengan siapapun disini." Ucap Claudia kesal.
Endra tertawa dan mulai mencium pipi Claudia.
"Ayolah Di, kau akan melakukannya denganku? Apakah kau tidak mau melakukannya dengan teman pria mu ini?" Tanya Endra.
Claudia menggeleng, "tidak akan pernah meski dalam mimpi." Balas Claudia.
"Aku punya ide." Teriak Rose.
"Jangan lagi." Balas Claudia. "Awas saja kalau kau sampai memintaku untuk mencium yang aneh-aneh." Protes Claudia.
"Tidak, akan. Aku menantang mu untuk mencium orang pertama yang kau lihat saat keluar ke lobi hotel ini nanti."
Claudia pun menuruti permintaan mereka. Ia berdiri di pintu diikuti semua temannya. Dalam hati ia berharap bahwa orang yang ditemuinya bukan orang aneh, atau lebih baik jika tidak ada orang sama sekali.
Claudia menarik napas dengan panjang kemudian membuka pintu dan menuju lobi hotel. Dia tak mendapati ada orang disana. Ia merasa begitu senang dan segera berbalik ke arah teman-temannya.
"Tidak ada siapapun disini." Ucapnya pelan.
Namun semua temannya tersenyum penuh arti dan menaikkan alis mereka mengisyaratkan pada Claudia untuk berbalik.
'Mati aku.'
Claudia berbalik dan mendapati seorang pria yang baru saja masuk ke dalam hotel. Seorang pria tampan dengan memakai setelan jas berwarna abu-abu tengah menatap arloji di tangannya. Pria itu hendak berjalan menuju lift. Claudia berbalik menatap temannya.
"Lakukan." Titah mereka semua.
Claudia berjalan pelan, namun ia dengan cepat berlari saat pria itu hendak masuk ke dalam lift dan menghalangi jalannya untuk masuk.
Pria itu tampak bingung dan heran.
"Ya, apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya pria itu.
"Maafkan aku." Ucap Claudia dengan suara yang terdengar mabuk.
"Maaf untuk apa?" Pria itu semakin terlihat bingung.
"Untuk ini."
Claudia langsung berjinjit dan memegangi kerah kemeja pria itu dan langsung menciumnya. Pria itu begitu terkejut sampai tidak bisa bereaksi, saat ia hendak bereaksi Claudia sudah melepaskan ciumannya dan berlari sekencang mungkin kembali ke dalam sebuah ruangan dimana ada semua teman-temannya dan langsung menutup pintunya dengan keras.
Claudia berdiri di belakang pintu dan mengatur napasnya.
"Ya Tuhan, apa kau tahu siapa yang baru saja kau cium?" Ucap Diana.
"Siapa yang perduli, yang penting Claudia sudah melakukan tantangannya." Ucap Bam.
"Memangnya siapa pria itu?" Tanya Rose penasaran.
"Iya, siapa pria itu?" Tanya yang lainnya.
"Dia itu, Adam Wijaya" Jawab Diana.
Ada yang terdengar terkejut, dan ada pula yang sekedar memberi respon, 'oooohh.'
Sementara Claudia sendiri, berdiri mematung dengan mata yang membelalak dan tak ada yang menyadarinya.
'Adam Wijaya? Pria yang aku cium tadi adalah Adam Wijaya Suamiku? Apa yang dia lakukan disini? Di negara ini? Kapan dia kembali? Apa dia mengenaliku?'
Semua pertanyaan itu berkecamuk dipikiran Claudia.
Bersambung....
__ADS_1