90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
33. Marah


__ADS_3

Pagi berikutnya....


Claudia turun dari lantai atas menuju ruang makan dengan wajah yang masih terlihat kesal. Matanya menatap sosok pria yang duduk di seberang meja.


Adam menelan ludah, dan berusaha menyapa Claudia dengan gugup.


"Selamat pagi cinta..." Sapa Adam dan tak direspon oleh Claudia.


Gadis itu meminum susu coklatnya seraya sibuk menatap layar ponselnya.


'Dia adalah seorang pria yang berlebihan.' tulis Claudia di akun media sosialnya.


Adam juga tengah menatap layar ponselnya.


Claudia mendapat komentar dari Tuan A.


'Apa yang dia lakukan sekarang?'


Claudia membaca komentar itu. Darahnya seketika kembali mendidih mengingat apa yang dilakukan oleh pria itu semalam.


'Masalah pribadi. Aku tidak bisa memberitahukan mu.' tulis Claudia membalas komentar Tuan A.


Para sahabat Claudia juga ikut berkomentar. Claudia beralih menuju grup chatting mereka dan mulai membahas tentang masalah apa yang tengah dihadapi Claudia saat ini.


'Kalian jangan berani-berani untuk menyebut nama pria bajingan itu dihadapan ku. Dia... Dia meninggalkan aku ditengah situasi yang sudah tak bisa ku tahan karena dia yang mencumbu ku selama kurang lebih setengah jam. Apa kalian bisa percaya itu? Aku malah harus mengatasi masalahku sendiri dengan menahan diri. Dia bilang, dia ingin tidur karena lelah. Dasar pria tua. Aku yakin dia itu tidak kuat di ranjang. Itulah alasan kenapa dia melakukan itu semua.' Claudia menulis komentar yang cukup panjang.


Claudia lalu meletakkan ponselnya diatas meja untuk mulai sarapan tanpa melirik sedikitpun ke arah Adam. Joni datang untuk menyajikan makanan Claudia. Saat itulah Adam mencoba untuk memaksa Claudia bicara padanya.


"Jadi, kau masih kesal karena semalam aku tidak jadi meniduri mu, hah?"


Mata Claudia membelalak, dia tidak mengangkat kepalanya. Joni tengah berdiri disampingnya. Claudia ingin dirinya ditelan bumi, dia tak sanggup menerima hal memalukan yang dikatakan Adam barusan. Claudia tetap diam, dan Adam mulai bicara kembali.


"Maafkan aku sayang, karena tidak bisa memuaskan mu semalam. Aku janji itu tidak akan terjadi lagi. Tapi kau tenang saja. Kau bisa menjadi kapten dan aku yang menjadi perahunya. Kau bisa memakai gaya apapun yang kau mau."


Claudia ingin menangis, dia tidak dapat mengatakan apapun. Dia lalu membuka akun sosial medianya.


'Dasar pria bajingan yang tidak tahu malu. Dia bahkan tidak perduli bahwa Koki masih ada disini.' Claudia menjadi begitu geram.


"Baiklah, aku akan membiarkanmu memegang kendali malam nanti. Aku menyerah, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Kau bisa berteriak sepuas hatimu malam nanti sampai besok pagi."


Wajah Claudia semakin memerah, ia menjadi kesal dua kali lipat.


"Berhentilah bermimpi. Aku tidak akan pernah tidur denganmu. Selamanya. Aku akan tidur di asrama kampus mulai besok malam. Diana dan Bam sudah sangat merindukan aku. Aku sudah tidak pernah bermain dengan mereka sejak kau masuk dalam hidupku." Balas Claudia. "Dan untuk malam ini, hmmmm malam ini, ya benar. Aku mengutuk mu untuk terjebak bersama si Nadia itu sepanjang malam. Maka aku akan tidur dengan tenang di kamarku malam nanti."


Adam tertawa kecil mendengar ucapan Claudia.


"Aku tidak mengerti dengan apa hal terakhir yang kau katakan. Kutukan itu sangat tidak masuk akal. Tapi untuk yang pertama kau katakan, terima kasih sudah mengingatkan aku." Adam berdiri lalu mengusap bibirnya dengan tissue setelah selesai sarapan.


"Besok ada sebuah pesta ulang tahun yang harus kita hadiri. Kau akan ikut denganku." Ucap Adam mengalihkan pembicaraan.


Claudia tampak bingung.


"Apa? Kenapa? Apa kau lupa dengan kesepakatan kita? Aku tidak mau menghadiri acara apapun dan tampil di depan publik denganmu." Protes Claudia.


Adam mendekat ke arah Claudia lalu mengusap rambutnya dengan lembut.


"Pesta ini hanya dihadiri oleh kerabat dekatku saja. Lebih tepatnya sudah seperti keluarga. Dom dengan kekasihnya Jolie, Will, Kim dan Nina, aku dan kamu, hanya itu saja. Akan ada beberapa orang luar yang datang, tapi tidak banyak. Dan aku tidak bisa mengajak orang lain untuk menjadi pasanganku pergi ke sebuah pesta yang lebih terlihat seperti perkumpulan keluarga itu. Dan aku hanya memiliki dirimu sebagai keluargaku. Benarkan?" Ucap Adam.


Claudia menatap Adam tajam.

__ADS_1


"Pesta ulang tahun siapa itu?" Tanya Claudia yang penasaran.


"Megan Lovita." Jawab Adam dengan tersenyum.


Adam ingin menjelaskan sesuatu, tapi sebuah panggilan telepon menghentikannya.


Claudia tampak berpikir keras.


'Siapa Megan Lovita?' Claudia berpikir keras tapi tidak mau bertanya pada Adam, jadi dia menyimpan rasa penasarannya sendiri.


Adam kembali setelah selesai dengan panggilan teleponnya. Ia mencium pucuk kepala Claudia, dimana Claudi sendiri tengah menikmati sarapannya. Claudia semakin terlihat bingung.


"Selamat untukmu sayang. Permohonan yang kau buat diterima." Ucap Adam.


"Permohonan? Dimana?" Tanya Claudia.


Jadwal ujian Claudia yang cukup dekat, yakni jurang dari satu bulan membuatnya kebingungan. Permohonan pembelajaran apalagi sekarang? Jika ada program tambahan yang harus ia jalani, akan membuatnya kesulitan. Dia bahkan berhenti dari kelas tari, itupun karena Adam yang memintanya. Setidaknya sampai ujiannya berakhir.


"New York. Itu adalah tempat impianmu untuk belajar kan? Kau terpilih, dan permohonan mu juga disetujui. Setelah kau berhasil disini dengan semester pertamamu. Maka selanjutnya kau harus lebih fokus melanjutkan pembelajaran mu selama tiga bulan disana. Aku juga sudah mendapatkan surat keputusannya. Mereka sudah ingin memberikannya padamu, tapi aku melarang mereka karena aku ingin kau fokus menyelesaikan tahun pertamamu disini." Ujar Adam.


Wajah Claudia tampak sumringah. Ia merasa begitu bahagia. Mimpinya menjadi kenyataan. Tempat yang akan ditujunya adalah sebuah universitas ternama dan terbaik di dunia. Claudia bahkan sampai memeluk Adam dan mengucapkan terima kasih.


Tapi dalam hati, Adam sangat tidak bahagia. Dia sudah melakukan semuanya dan mengatur semuanya, karena semua itu memang impian terbesar Claudia. Dia sebenarnya sama sekali tidak menginginkan semua ini, dia pikir Claudia setidaknya akan merasa sedikit sedih karena mereka akan terpisah jarak dan waktu. Tapi, yang ada Claudia sangat bahagia. Adam menjadi dilema antara bahagia dan sedih. Tapi semuanya sudah menjadi mimpi Claudia selama ini, dan kebahagiaan Claudia adalah prioritas utama Adam.


******


Pagi itu, Claudia menjelaskan semua yang terjadi pada para sahabatnya. Apa yang terjadi padanya semalam, pertengkaran, hukuman yang diberikan Adam, dan juga masalah surat pemberitahuan itu. Semuanya.


Para sahabat Claudia merasa bahagia untuknya.


"Wow Di, kita harus memberikan dunia ini kepadamu untuk menyelamatkan semuanya dari kehancuran. Kau menjadi sangat beruntung setelah menikah dengan Adam." Diana berkomentar.


"Di, kau seharusnya tidak begitu. Kau jangan sampai membuatnya pusing seperti itu. Kau sangat beruntung karena menjadi istrinya. Dia sangat mencintaimu. Menjadikanmu sebagai seorang ratu. Kebanyakan wanita di negara ini bermimpi untuk menjadi Nyonya Adam, saat ini. Dan kau sudah menjadi Nyonya Adam dan tinggal bersamanya. Jangan menganggap semuanya terlalu serius. Kau tidak tahu seberapa banyak wanita yang tergila-gila padanya yang bahkan rela melepaskan pakaian mereka dihadapannya. Dan kau malah berencana untuk membuatnya memohon padamu? Kau harus belajar untuk lebih menahan dirimu. Jangan biarkan dia menahan semua rasa yang ada terlalu lama. Kau tahu benar dia bisa saja mengajak wanita lain hanya dengan memainkan matanya maka dia sudah bisa mendapat pasangan yang bisa memuaskannya dalam waktu semalam. Percaya padaku, kau bukanlah satu-satunya wanita yang bisa ditemukannya di dunia ini."


Para sahabatnya terus mengingatkan Claudia untuk menghargai Adam. Bagaimana dia harus bersikap lebih sabat terhadap Adam. Bagaimana ia harus berbicara dengan tutur kata yang baik. Bagaimana ia harus menghilangkan sifatnya yang mudah marah. Bagaimana banyaknya wanita diluar sana yang menjadi pesaingnya. Claudia mendengar semuanya, tapi tetap saja terlihat malas.


'Memangnya kenapa kalau dia berkencan dengan wanita lain di luar sana. Toh kami menikah hanya sebagai status di sebuah kertas saja. Kami akan bercerai dalam waktu kurang dari satu bulan lagi. Dia sudah memutuskan untuk aku agar bisa menjauh darinya. Seperti aku perduli saja. Fokus ku saat ini adalah untuk belajar. Kepada siapapun kalian yang tertarik untuk menjadi Nyonya Adam, silahkan ambil saja tempatku. Karena kau tidak akan pernah perduli. Kenapa semua orang meminta agar aku menghormatinya. Aku tidak akan pernah melakukannya. Jadi, jika dia memang ingin melakukannya dengan wanita lain, silahkan saja. Aku sama sekali tidak perduli.' ucap Claudia dalam hati.


Iya, Claudia marah karena Adam yang ingin mengirimnya ke New York. Memang benar semua itu adalah mimpinya, tapi itu dulu saat jiwanya masih bebas dan tidak ada orang lain yang bisa membuatnya sebagai alasan untuk tidak pergi. Tapi sekarang, dia mencoba untuk memberikan kesempatan pada pernikahan mereka. Dan mencoba untuk hidup bahagia bersama. Tapi, Adam malah melakukan semua ini, dan malah membuat Claudia berpikir bahwa Adam hanya main-main dengannya.


***********


Malam harinya....


Claudia kembali ke kamarnya setelah makan malam. Adam belum juga kembali ke rumah sejak sore tadi. Adam menelpon Claudia dan memberitahunya tadi, bahwa ia tidak bisa pulang awal. Claudia lalu mengejeknya.


"Aaah, aku tahu. Kutukan ku pasti sedang terjadi kan?"


Claudia kembali ke kamarnya dan langsung tertidur lelap. Pukul 02.00 dini hari, Adam baru bisa kembali ke rumah. Dia ingin segera membersihkan diri, ia merasa begitu lelah. Setelah selesai mandi, dan minum susu hangat, dia berjalan menuju kamar Claudia. Membuka pintunya dengan pelan, ia tak ingin membangunkan Claudia. Ia lalu masuk ke dalam selimut Claudia kemudian memeluknya dengan erat.


Adam akhirnya menemukan kenyamanan dan kedamaian nya dalam pelukan Claudia.


"Kau selamat malam ini sayang, tapi tidak dengan besok. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu besok. Aku bodoh karena sudah membuang kesempatan yang aku punya malam itu. Aku sangat menginginkan mu sayang. Besok, aku akan membuatmu menjadi milikku. Kita lihat saja." Ucap Adam kemudian tertidur pulas.


Keesokan harinya....


Claudia turun dari lantai atas dan berteriak memanggil nama Adam seraya menghentakkan kakinya.


Adam tahu benar alasannya, tapi berpura-pura tidak bersalah. Dia tetao melanjutkan sarapannya. Claudia berjalan mendekatinya lalu berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Dam... Kau benar-benar pria mesum. Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau melakukannya?" Teriak Claudia.


Adam tidak menjawab, dia terus menahan tawanya. Claudia sangat ingin meninju wajah tampan milik Adam.


Claudia bangun di pagi hari lalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Namun saat melihat bayangan dirinya di cermin, ia begitu kaget karena mendapati seluruh leher dan dadanya dipenuhi tanda merah bekas kecupan yang diberikan Adam. Claudia mencoba memikirkan dan merasakan sesuatu, apakah semalam telah terjadi sesuatu. Tapi ia sama sekali tidak merasakan apapun selain mendapati tanda merah itu.


"Sayang, aku tidak bisa mengontrol diriku. Leher mu yang seksi dan begitu putih seperti sebuah kanvas, membuatku berpikir untuk memberikan sebuah lukisan yang cantik disana. Dan jujur saja, aku ingin berhenti saat kecupan yang pertama. Tapi karena kau mengeluarkan suara yang mendesah membuatku panas. Aku jadi terus menerus melakukannya." Ucap Dam merasa sedikit bersalah karena berbohong dan juga gugup.


Claudia hendak memegang kerah leher kemeja yang dikenakan Adam, namun tak jadi karena sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Adam.


"Ah sayang, stylist akan tiba dalam waktu 10 menit. Kau harus bersiap-siap. Mereka juga akan membantumu untuk menutupi semua ini. Sebenarnya aku tidak ingin kau menutupinya, tapi seperti ya kau pasti ingin menutupinya. Cepat habiskan sarapan mu.


"Ini masih terlalu pagi. Pestanya akan dimulai malam nanti kan? Tanya Claudia bingung.


"Iya benar. Tapi kita sudah harus bersiap jam 12. Atau kita akan terlambat tiba disana nanti." Balas Adam.


*****


Claudia keluar dari kamar mandi, dan terkejut saat mendapati kamarnya dipenuhi dengan peralatan para desainer, stylist, dan makeup artis.


"Relaks Nona. Kami semua akan membuat Anda bersinar seperti bintang di pesta malam ini." Ucap Desainer penuh percaya diri.


"Sekarang bukan waktunya." Ucap Claudia seraya melihat ke arah jam di dinding.


"Tapi, ada banyak hal yang harus kami lakukan Nona." Ucap mereka semua seraya menuntun tangan Claudia untuk duduk di kursi yang berada di depan meja rias.


Setelah dua jam lamanya, Claudia akhirnya turun ke lantai bawah dengan mengenakan gaun berwarna biru gelap, rambut yang ujungnya dibuat keriting, make up yang membuat wajahnya terlihat bersinar dan mengenakan hells yang juga berwarna biru.


"Aku sangat bahagia. Kerja kerasku akhirnya terbayar sudah. Nona Claudia tampak sangat cantik." Ucap Desainer yang disetujui oleh yang lainnya.


"Terima kasih semuanya." Ucap Claudia.


Mereka semua lalu pergi setelah mendapat bayaran dari Claudia.


Claudia keluar rumah, dimana Adam sudah menunggunya dengan limosin.


Adam membukakan pintu, membantu Claudia masuk ke dalam mobil.


"Sayang, kau sangat cantik. Kita harus berangkat sekarang juga, teman-temanku sudah berada di pesta menunggu kita." Ucap Adam.


"Apa kita tidak datang terlalu cepat?" Tanya Claudia dengan ekspresi yang terkejut.


"Mereka memberitahu sudah ada disana sejak satu jam yang lalu, jadi aku baru bisa memberitahukan mu sekarang." Balas Adam.


"Untuk apa sebenarnya aku harus ikut kesana?" Tanya Claudia seraya menghela napas.


"Apakah kau lelah sayang?" Tanya Adam.


"Kenapa kau bertanya?" Balas Claudia.


"Sejak pagi tadi kau selalu menghela napas yang terdengar begitu berat. Dan kau juga terus marah-marah." Ucap Adam.


"Apa memang terlihat seperti itu?" Tanya Claudia lagi.


Adam tertawa kecil lalu berkata, "Sayang, jika kau lelah, lebih baik kau tidur saja dulu sampai kita tiba di pesta."


"Tidak, aku tidak bisa tidur. Mereka semua sudah bekerja keras. Mereka melarang ku untuk tidur, atau make up ku bisa berantakan." Ucap Claudia lalu bersandar di kursi.


Bersambung....

__ADS_1


Ingat untuk selalu tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga yaa


__ADS_2