
Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke kedai teh Merry. Sekedar untuk menghibur diri karena tak ada yang bisa aku kerjakan di rumah. Merry menyambut ku dengan pelukan ketika aku tiba di kedai teh nya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Merry.
"Aku baik." Balasku lalu duduk bersandar.
"Sepertinya kau lelah sekali? Apa semalam Andreas membuatmu kelelahan?" Tanya Merry lagi.
"Gila. Bagaimana mungkin kau bisa berpikir seperti itu, sementara kau sendiri tahu bahwa Papa baru saja meninggal kemarin." Jawabku.
"Hehehe ya ku pikir karena kalian pengantin baru, jadi pasti akan melakukan ritual malam pertama." Ucap Merry dengan tertawa canggung.
"Sepertinya hal itu tidak akan terjadi dalam beberapa hari kedepan." Ucapku.
"Loh kenapa? Kok bisa gitu?"
"Ya karena kami masih dalam masa berkabung." Ucapku.
"Memangnya kalian berdua bisa menahan diri?"
"Kau ini mentang-mentang sudah punya suami, pertanyaan mu itu selalu absurd." Protes ku.
"Hahaha iya-iya maaf. Kalau gitu tunggu sebentar ya, aku mau siapin minum dulu."
"Kenapa kau tak minta karyawan mu saja." Ucapku.
"Khusus untukmu, aku tak pernah meminta karyawan untuk membuatnya. Kau hanya boleh meminum buatan ku saja."
"Ya sudah, terserah kau saja." Balasku.
Aku jadi kepikiran dengan apa yang dikatakan Merry.
'Apakah aku dan Andreas bisa menahan diri?'
Tentu saja bisa, pasti bisa. Akan sangat aneh rasanya, jika dalam keadaan berduka malah melakukan hubungan itu. Setidaknya kami harus sabar menunggu hingga masa berkabung usai.
'Ih kenapa aku malah kepikiran tentang itu?'
Aku menepuk kepala ku sendiri sambil tertawa.
Sore harinya aku kembali ke rumah dan mendapati Mama tengah memasak di dapur. Aku segera ikut membantunya yang terlihat seperti tengah memasak opor ayam.
"Maaf Ma, aku pulang terlambat. Tadi harus mampir ke rumah sakit untuk check up rutin." Ucapku.
"Tidak apa-apa sayang. Lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan Dokter?" Tanya Mama.
"Sel-sel kanker yang ada di tubuhku sudah hilang Ma. Tapi aku masih tetap harus meminum vitamin dan obat dari Dokter untuk menahan agar tak ada lagi sel-sel kanker yang berkembang." Jawabku.
"Syukurlah. Ayo sekarang kamu cobain ini. Udah enak belum?" Tanya Mama saat aku merasakan kuah opor ayam yang dimasak Mama.
"Pedas Ma." Balasku.
"Apa kau tak suka pedas? Andreas...."
"Suka pedas." Ucapku menyela Mama. "Aku juga suka pedas karena Andreas Ma."
Mama tersenyum penuh kehangatan ke arahku. Membuatku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Akhirnya kini aku bisa mendapatkan sosok seorang Mama dari Mama mertuaku yang sangat baik.
Hari-hari berikutnya hubunganku dengan Mama semakin dekat. Kami bahkan pergi berbelanja bersama.
Berbelanja termasuk salah satu kegiatan favorit bagi semua kaum wanita. Bukan hanya belanja kebutuhan rumah tangga saja, aku juga menemani Mama mertua saat sedang shopping item-item fashion atau furniture.
__ADS_1
Aku mencoba menunjukkan perhatianku dengan mengenali seleranya pada gaya berpakaian atau pilihan perabotan favoritnya. Tak lupa aku menyelipkan pujian tentang ketelitian Mama dalam membeli barang-barang berharga miring, maupun penampilannya yang selalu tampil anggun.
Namanya ibu tentu selalu tahu cara memanjakan anak tersayang. Maka dari itu aku meminta Mama mertua untuk mengajarkanku cara memasak menu kesukaan suami untuk mengisi quality time berdua.
Selain dapat menunjukkan kemampuan memasak yang cukup mumpuni, pembicaraan dengan Mama mertua pun bisa lebih mengalir dengan lancar. Bahkan, kesempatan ini pun juga bisa aku manfaatkan untuk mengenal pribadi suami lebih dalam dan mengenali menu makanan apa saja yang ia suka.
Baru beberapa hari mengarungi kehidupan rumah tangga, Mama nyatanya bisa jadi tempat untuk berkeluh kesah sekaligus mendapatkan saran yang cukup baik, mengingat pengalaman yang cukup panjang dalam menjalani pernikahan.
Dulu aku bertanya-tanya bakal punya mertua seperti apa. Di beberapa grup sosial media yang aku ikuti, mertua sering dikisahkan sebagai sosok durjana. Entah suka merecoki kehidupan rumah tangga sang anak, memarahi menantu, hingga membuat menantu menderita. Pendek kata, aku lebih sering membaca dan mendengar keluhan tentang mertua daripada pujian untuknya.
Pertama kali bertemu dengan Mama mertua ketika lamaran yang dilakukan Arnold dan keluarganya dulu. Aku langsung merasa ‘tenang’. Mama adalah sosok yang teduh.
Lalu setelah lamaran hingga ke pernikahan, aku mulai pendekatan ke Mama mertua via telpon mengingat beliau tinggal di kampung yang lumayan jauh. Kami membicarakan hal yang ringan-ringan saja.
Setelah menikah, aku baru menyadari betapa baiknya mama mertua.
Namun begitu berbeda dengan Arnold yang nyatanya memiliki sifat seperti Tuan Besar Setyawan. Namun, kini lain cerita karena aku sudah menjadi isteri dari Andreas.
Sifat penyayang Andreas agaknya juga menurun dari Mama. Ketika kami pulang kampung ke rumah Mama, sebelum menikah dulu, Mama mertua memperlakukan aku dengan begitu baik. Padahal Mama sendiri tahu bahwa aku pernah menikah dengan putera keduanya dan malah datang menemuinya sebagai calon isteri dari putera pertamanya lagi.
Betul kata orang, rezeki itu tak hanya tentang materi. Rezeki dari Tuhan itu sangat luas, salah satunya memiliki mertua yang baik hati.
Dulu, sebelum menikah, aku berdoa agar memiliki keluarga pasangan yang baik, tak hanya pasangannya saja yang baik. Dan doa itu dikabulkan Tuhan.
Tentu, kebaikan mertua yang utama adalah mendidik anak lelakinya dengan baik. Andreas pernah cerita kalau seumur hidupnya hanya pernah kena marah sekali. Mama memang selalu mengajarkan dan mencontohkan tentang bersikap lemah lembut.
Pengasuhan Mama yang menonjol lainnya adalah sikap terbuka beliau kepada anak-anaknya. Beliau akan bercerita tentang apa saja kepada anak, misalnya tentang kondisi orang tua. Selain itu, beliau juga suka mendorong anak untuk bercerita apa saja secara terbuka. Keterbukaan orang tua membuat anak merasa nyaman dan dekat.
'Semoga Mama mertua panjang umur dan selalu sehat!'
Andreas pulang tepat pada saat makan malam. Wajahnya begitu letih. Ia pasti kelelahan karena bekerja. Aku bergegas mengambil tas yang dia bawa. Dan membuka jas yang ia kenakan.
"Kau tidak perlu melakukan semua ini sayang. Aku bisa sendiri." Ucap Andreas.
Aku duduk ditepian ranjang dan Andreas langsung merebahkan kepalanya di pangkuanku. Ia menutup matanya, dan menghembuskan nafas panjang. Tampak dari raut wajahnya ia benar-benar begitu kelelahan. Aku mengusap wajah tampannya dengan lembut.
"Istirahatlah jika kau lelah. Jangan paksakan dirimu bekerja." Ucapku.
"Iya. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Ini juga mengenai perusahaan peninggalan Papa dan juga perusahaan Arista." Balas Andreas.
'Perusahaan Arista?'
Ah, kenapa aku bisa lupa. Sekarang Arnold kan di penjara, jadi otomatis perusahaan Arista tak ada yang menghandle.
"Sayang, maafkan aku karena belum bisa membawamu berbulan madu untuk saat ini. Tapi aku janji, aku akan segera membawamu keluar. Sabar ya." Ucap Andreas lagi.
"Sudahlah. Kenapa kau terus membahas itu. Aku baik-baik saja. Kenapa harus ada agenda bulan madu. Kita juga bisa bulan madu dimana saja." Ucapku tersenyum.
"Iya, iya. Sekarang jika kau mau menjalani tugasmu sebagai isteri. Ikut aku ke kamar mandi dan mandikan aku." Ucap Andreas.
"A-apa?" Aku tiba-tiba gugup.
"Ayolah gadis kecil. Bukankah kau sendiri yang bilang, kita bisa berbulan madu dimana saja."
"Ta-tapi...."
"Hahaha... Aku hanya bercanda sayang. Tapi aku serius mengenai mengajakmu masuk ke kamar mandi."
"Hah! U-untuk apa?"
"Keramas rambutku." Balas Andreas lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sesaat aku terdiam, dan tak tahu harus bagaimana. Aku termenung sembari menggigit bibirku.
"Ayolah gadis kecil. Aku sudah lelah menunggu." Ucap Andreas.
Meski kami sudah menikah, belum pernah sekalipun aku melihat tubuhnya. Jika aku masuk, bisa-bisa...
"Sayaaaang...." Teriak Andreas yang seketika membuatku berlarian masuk ke kamar mandi.
Aku menutup mataku saat masuk ke dalam dan membukanya perlahan.
"Ada apa?" Tanya Andreas.
Ternyata ia sudah berada di dalam bath up yang penuh busa. Dan hanya memperlihatkan kepalanya.
"Ayo cepat, keramas dan pijit kepalaku." Titah Andreas.
Aku tertawa dalam hati, ku pikir Andreas akan memperlihatkan tubuhnya padaku. Perlahan aku mulai menaruh shampo di kepala Andreas dan mulai memijitnya dengan lembut.
"Waah sayang, ternyata kau berbakat juga dalam memijat. Aku semakin mencintaimu." Ucapnya.
Setelah drama keramas berakhir, kami berdua turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama Mama dan juga Angelica.
"Ayo cepat. Ini tadi Mama masak opor ayam dibantu sama isteri kamu." Ucap Mama.
"Oh ya? Aku penasaran bagaimana rasanya." Ucap Andreas.
Aku mulai mengisi piring Andreas dengan nasi dan lauk lainnya. Dia pun mulai mencoba memakan opor ayam yang tadi ku buat bersama Mama.
"Ya Tuhan, rasanya lezat sekali. Sayang apa kau memasukkan bubuk-bubuk cinta ke dalamnya?" Ucap Andreas yang membuat Angelica tersedak.
"Apa-apaan ini? Sejak kapan Kak Andreas jadi bucin begini?" Protes Angelica.
Aku dan Mama hanya menahan tawa.
"Nanti kau akan merasakan sendiri bagaimana yang namanya jatuh cinta. Kau pasti akan lebih bucin dariku." Balas Andreas.
"Tidak akan pernah." Ucap Angelica.
*********
Satu minggu berlalu, semuanya sudah kembali normal. Hari ini Andreas tak berangkat ke kantor. Ia memberikan sebuah kotak hadiah kepadaku saat kami tengah duduk sarapan di ruang makan bersama Mama dan juga Angelica.
"Apa ini?" Tanyaku.
"Buka." Jawab Andreas.
Aku perlahan membuka kotak itu dan menemukan dua buah tiket pesawat dengan tujuan Swiss. Aku menatap Andreas heran. Dia hanya tersenyum.
"Tiket pesawat ya?" Tanya Angelica dan aku hanya mengangguk. "Cieee mau bulan madu nih ye..."
"Apa sih." Balasku.
"Bersiaplah kita berangkat hari ini juga." Ucap Andreas.
"Tapi, kita masih dalam suasana berkabung dan pekerjaan mu?"
"Jangan pikirkan itu semua. Ini sudah satu minggu. Dan masalah pekerjaan juga sudah ada yang menghandle di kantor."
"Sudahlah. Ini waktu untuk kalian berlibur. Sudah begitu banyak masalah yang kalian hadapi. Sudah saatnya untuk kalian bersenang-senang." Ucap Mama. "Pergilah."
Aku pun mengangguk dan beranjak ke kamar untuk mengemasi pakaian yang akan aku bawa.
__ADS_1
'Swiss aku datang....'
Bersambung....