90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Pantai (Bab 13)


__ADS_3

Aku dan Merry kenal sejak lama, sebelum aku menyukai Arnold, karena itu dia tahu semua PIN ku. PIN yang ku pilih adalah tanggal pertemuan ku dengan Arnold.


31122008 (31 Desember 2008).


Perjalanan pulang rasanya lebih singkat daripada saat kami pergi ke desa itu. Aku begitu lelah, tubuhku rasanya seperti sudah remuk semua.


Setibanya di rumah, aku langsung merebahkan diriku di sofa karena pusing. Ku harap Merry baik-baik saja dalam perjalanan pulang. Baru saja merebahkan diri, nada ponselku terdengar berdering. Ada nomor tak dikenal yang meneleponku. Karena penasaran, aku menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Halo mantan Nyonya Setyawan." Ucap seorang perempuan yang suaranya sangat familiar di telingaku.


'Viona.'


Aku tak menjawab apa-apa, aku hanya ingin mendengar apa yang akan dia katakan padaku.


"Kasihan sekali kamu, Veli. Suamimu sebentar lagi menikahi aku, statusmu akan berubah dalam beberapa bulan. Tapi aku sudah mengambil statusmu sejak aku kembali dari luar negeri. Jadi mulai sekarang akulah istri dari Arnold bukan kau. Akulah Nyonya Setyawan, bukan kau lagi."


Aku tetap saja diam, benar-benar malas mengatakan apa-apa padanya.


Sepanjang percakapan Viona terus berbicara seorang diri, dan aku hanya sebagai pendengar. Dia terus saja memamerkan kehebatannya padaku atas Arnold.


"Kau tahu, 3 tahun lalu seharusnya aku yang mendapatkan status sebagai istri Arnold, dan sekarang aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya jadi hak ku." Ucap Viona lagi.


Telingaku yang mulai panas, membuatku akhirnya merespon.


"Sudah selesai? Sekarang giliran aku yang berbicara. Aku tidak peduli kau mau menikah, menjadi istri Arnold, atau menjadi Nyonya Setyawan. Silahkan saja, ambillah posisi itu. Aku memberikannya padamu secara percuma. Ambillah barang bekas ku. Dan satu hal lagi, kau dan Arnold juga masih belum menikah, ayahmu dan Papa Arnold juga masih belum merestui kalian.”


"Veli......"


Tutt....!!!


Aku langsung memutuskan panggilan telepon. Karena malas menghiraukannya lagi aku memblokir nomornya agar dia tak menggangguku lagi.

__ADS_1


Aku berdiri lalu bergegas pergi ke tepi pantai, itu tempat Arnold melamar ku dulu.


Matahari belum redup ketika aku tiba di bibir pantai, walau pendarnya tidak lagi menyengat seperti saat pertama menghempaskan duduk di sebuah bangku kayu, di bawah pohon di pinggir jalan yang menghadap langsung ke arah asal matahari itu.


Ombak ramah mengawal keli dan riak yang mengejar tepian. Di sana Arnold pernah berlutut dihadapanku, memberikanku sebuah cincin sebagai tanda ia meminang ku. Ku pikir dia juga mencintaiku, hingga aku menerimanya begitu saja karena hatiku yang kelewatan bahagia.


Aku masih di sini saat terang sudah tidur. Lalu, sinar matahari bertekuk dipelukan malam. Cahaya lampu yang memantul di wajah air laut mengilap kan terang yang timbul tenggelam di pagut hitam.


Di tepi pantai seberang jalan yang masih ditumbuhi bakau, suara mobil menderu saling mendahului, namun tegak ku masih beku dalam ragu. Lalu senyap, hanya terdengar rintihan angin yang tidak sabaran melindas suasana gelap.


Malam semakin pekat, kepalaku terasa semakin berat. Kutarik langkah kaki pulang. Belum sempat roda mobilku tenang melaju, suara ponsel membuyarkan konsentrasi ku.


Nama Arnold terpampang nyata dilayar ponselku. Aku kembali menepikan mobilku dipinggir jalan.


"Ayolah Velicia, sudah kukatakan aku mau berpacaran denganmu." Ucap Arnold.


Aku sebenarnya malas mendengarkan ucapannya, karena aku tak mau dikasihani oleh dirinya. Namun Arnold tetap bersikukuh.


Aku kembali mengingat kesepakatan yang ku katakan pada Arnold dulu, kalau dia tidak akan bertemu Viona lagi selama 2 bulan sebelum pernikahan untuk fokus pacaran denganku.


"Baiklah kalau kau bersungguh-sungguh. Jadi kau harus melakukannya dengan 2 syarat. Pertama, jangan mengungkit nama Viona di hadapanku, termasuk kau tidak boleh bertemu dengan Viona selama 2 bulan kecuali aku yang mengungkitnya; kedua, dan yang ke 2, kita tidak boleh berhubungan intim." Ucapku mengajukan persyaratan.


Penyakit ku semakin parah dan aku tidak akan sanggup menahan sakitnya saat berhubungan badan dengan Arnold.


"Baiklah, aku setuju akan persyaratan mu." Balas Arnold.


Aku sama sekali tak menyangka bahwa Arnold akhirnya menyanggupi apa yang aku inginkan. Aku bahkan sudah pasrah dengan keadaan hubunganku dengan Arnold. Dan kini dia malah mau memberiku kesempatan untuk menjadi wanita yang dicintainya meski hanya kurang dari 90 hari saja.


Beberapa hari berlalu, setelah persetujuan atas kesepakatan ku itu, Arnold malah tak pernah muncul lagi. Memberikan kabar pun tidak, apalagi sampai menemui ku.


'Apa Arnold hanya mempermainkan aku saja?'

__ADS_1


Aku berjalan ke lantai bawah memainkan piano dan mulai memainkan Sleep in the deep sea. Perasaanku melebur seiring irama piano yang ku mainkan sendiri. Air mataku luruh tak tertahankan.


Bayangan tentang Mama dan Papa menari di hadapanku. Terutama Mama, sepertinya Mama kini duduk di sampingku, mengajariku memainkan piano.


Aku menutup mataku, dan kini terbayang wajah Arnold yang tengah tersenyum padaku. Usianya yang semakin bertambah tidak malah membuatnya terlihat semakin tua. Rahangnya terlihat semakin kokoh, dia terlihat semakin matang dan sangat tampan.


Beberapa saat aku terdiam, kemudian bangkit dari dudukku lalu menuju dapur. Membuka lemari pendingin mengambil beberapa buah berry dan mulai membuat smoothie.


Dengan langkah pelan, aku kembali ke dalam kamar membawa smoothie yang tadi ku buat mengambil sebuah buku tentang cancer's survival dan duduk di samping jendela.


Aku mulai membaca dari satu lembar ke lembaran yang lainnya, sambil sesekali meminum smoothie yang aku buat.


Mataku terus fokus memandangi setiap baris kata yang tersusun di dalam buku.


'Apa aku bisa bertahan?' pikirku.


Di dalam buku, menceritakan seorang wanita yang mengidap kanker yang sama denganku. Namun, dia dapat mematahkan vonis yang diberikan dokter. Dokter mengatakan usianya hanya mampu bertahan enam bulan. Namun, dengan semangatnya yang besar, ia bangkit dan berusaha melawan penyakitnya hingga bisa bertahan lebih lama, hingga sampai dua tahun.


Tapi beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar bahwa sang penulis buku pada akhirnya harus menyerah juga dengan ganasnya kanker yang menyerang tubuhnya.


Itu artinya penyakit ini memang sulit untuk disembuhkan. Tapi paling tidak, dengan perawatan yang baik kita dapat bertahan lebih lama dari yang di vonis kan oleh dokter.


"Apakah aku termasuk orang yang diberikan kesempatan itu?"


Aku kembali melamun. Meski pada akhirnya usiaku memang hanya bertahan kurang dari 90 hari lagi. Tapi, setidaknya aku harap aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang sangat aku cintai.


Tiba-tiba pandangan mataku menangkap sosok Arnold yang tengah berdiri di depan rumah. Ia juga tengah melihat ke arahku. Kemudian ponselku berdering. Ku lihat dia memegang ponsel di telinganya, memberi kode agar aku mengangkat telepon darinya.


'Apa aku harus mengangkatnya?'


Dengan perasaan yang tak menentu akhirnya aku mengangkat telepon darinya dan berkata,

__ADS_1


“Ada apa mencari ku?”


__ADS_2