90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
14. Menangis


__ADS_3

Claudia sangat tidak senang dengan kehadiran Adam dalam hidupnya. Tapi, keduanya memang seperti punya koneksi yang membuat keduanya terus berhubungan.


Disinilah Claudia sekarang....


Claudia berdiri di depan pintu gerbang kampus, menunggu kedatangan Adam yang akan datang menjemputnya. Ia tak ingin para sahabatnya tahu tentang semua yang sebenarnya antara dirinya dan Adam.


Tepat pukul 2 siang. Sebuah mobil yang sama, berhenti tepat di hadapan Claudia yang memang berdiri di pintu gerbang. Dengan cepat Claudia masuk ke dalam mobil.


Adam tertawa kecil.


"Kenapa kau terlihat begitu ketakutan? Aku sudah berjanji padamu, bahwa tidak akan ada orang yang tahu tentang pernikahan kita, setidaknya sampai 3 bulan ini berakhir." Ucap Adam.


"Yaah, dan itulah alasan mengapa kau mengantar dan menjemput ku menggunakan mobil eksklusif mu ini. Jadi, semua orang dengan jelas menebak akan kehadiranmu. Apa kau tidak tahu bahwa hanya ada 3 orang yang mempunyai mobil seperti ini, dan kau salah satunya. Tidak bisakah kau menggunakan mobil yang lain saja?" Tanya Claudia memutar mata malas. "Terima kasih banyak padamu, karena setidaknya hampir seluruh mahasiswa berpikir bahwa kau adalah Sugar Daddy ku. Dan ada mahasiswa lainnya yang beranggapan bahwa gadis seperti aku tidak akan bisa menjadi sugar baby seseorang. Tidak bisa ku bayangkan jika aktor itu tidak pergi ke luar negeri, orang-orang pasti sudah menggosipkan bahwa aku berhubungan dengannya. Begitu juga dengan si kolektor mobil itu. Dia sedang tidak ada di kota ini, jadi satu-satu orang yang menjadi fokus orang-orang kampus hari ini adalah kamu. Untuk itu mereka mulai menyebarkan rumor bahwa kau memang sugar daddy ku." Ucap Claudia mengoceh sejak saat masuk ke dalam mobil.


Adam hanya mendengarkan Claudia sambil terus memandangi bibirnya. Fokus Adam tertuju pada bibir Claudia yang terlihat seperti bergerak sangat pelan saat berbicara. Dunia Adam seolah berpusat pada bibir Claudia, semua yang ada di sekelilingnya seperti bergerak lamban. Adam benar-benar terhipnotis oleh bibir tipis Claudia.


Tiba-tiba ia merasakan semuanya seolah bergoyang. Dan saat kesadaran kembali, ia mendapati bahwa Claudia yang tengah menarik pakaian yang dikenakannya lalu Claudia mengguncang tubuh Adam. Wajah Claudia sangat dekat dengan Adam. Pandangan matanya begitu tajam dan menyeramkan. Seolah ingin langsung membunuh Adam, atau memakannya hidup-hidup.


"Adam bajingan, kau tidak mendengarkan aku. Dasar mesum, berhenti menatapku seperti itu." Teriak Claudia.


Mata Claudia seperti sepuluh kali membesar disaat ia tengah marah. Wajahnya memerah, begitu juga dengan kedua pipinya. Tampak begitu merah sekali. Adam yang melihatnya justru menjadi gemas karena tampilan Claudia yang saat ini mengenakan kaos berwarna merah dan dengan wajahnya yang memerah, bagi Adam membuat Claudia tampak seperti tokoh animasi Angry Bird yang berwarna merah itu.


Jarak antara keduanya yang begitu dekat, membuat Adam merasakan sesuatu yang berbeda. Ia malah berbalik mendorong Claudia ke kursinya hingga membuat gadis itu kaget. Kini, Adam yang memegang kendali. Ia sepeti menindih tubuh Claudia. Wajah Claudia yang tadinya memerah karena marah, berubah jadi merona pink karena rasa malu.


Adam mengusap pipi Claudia, lalu berbisik di telinganya, "ya, aku memang mesum, dan hanya padamu saja."


Suara Adam yang lembut, membuat jantung Claudia berdebar sangat cepat. Ia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


"Kurang ajar, cepat pergi dariku atau aku akan...."


"Teruslah bicara seperti itu, maka aku akan mencium mu. Bibirmu benar-benar menggoda imanku." Ucap Adam.


Claudia semakin dibuat berdebar, tak pernah ada orang yang pernah bicara padanya seperti itu. Posisi mereka yang seperti ini, sebenarnya sudah terjadi sebelumnya di dalam kamar di kapal malam itu. Adam bahkan pernah berbisik di telinganya, tapi semuanya terasa berbeda dengan hari ini.


Claudia lalu melingkarkan tangannya ke leher Adam dan seperti menarik Adam mendekat ke arahnya. Pipi keduanya bersentuhan, membuat sensasi dalam tubuh Adam semakin memanas. Adam sendiri tak tahu apa yang dipikirkan Claudia hingga menarik dirinya semakin mendekat.


Adam memberanikan diri mencium pipi Claudia hingga membuat napas gadis itu terdengar memburu. Adam dapat merasakan pipi Claudia memanas saat bersentuhan dengan kulitnya. Adam membiarkan Claudia melakukan apapun yang ia inginkan.


"Kau ingin mencium ku?" Tanya Claudia dengan suara yang terdengar mendesah.


Hal itu membuat Adam semakin panas dan akan lepas kontrol jika Claudia terus berbicara dengan nada seperti itu.


"Sangat ingin sekali." Bisik Adam di telinga Claudia.


Claudia menarik Adam semakin dekat dengannya, bahkan jarak antara keduanya sudah tidak ada pemisah lagi. Hidung keduanya sudah beradu. Kali ini Adam dapat merasakan kuku Claudia menyentuh dadanya. Adam lalu beralih mengarahkan wajahnya ke leher Claudia. Claudia mendongak, membuat Adam leluasa untuk menjamah lehernya.


"Berapa banyak uang yang akan kau berikan padaku untuk ciuman kali ini?" Tanya Claudia.

__ADS_1


Adam langsung membeku, matanya memanas. Ia memejamkan mata sesaat mencoba menguasai dirinya.


"Hentikan mobilnya sekarang!" Titah Adam pada sang supir dengan mata yang masih tertutup.


Mobil mengerem mendadak dan berhenti di pinggir jalan. Adam langsung keluar dari dalam mobil.


Claudia kembali duduk bersandar di kursinya, tersenyum dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Ia mengusap air matanya agar tak membasahi pipinya, tapi air mata itu terus keluar begitu saja.


Di sisi lain, Adam terlihat begitu marah saat keluar dari dalam mobil. Ia melihat sebuah papan penunjuk jalan lalu meninjunya sekali, dua kali, hingga tiga kali. Adam berusaha mengontrol diri karena membenci dirinya sendiri.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa aku bisa begitu bodoh! Bagaimana bisa aku menanyakan pertanyaan seperti itu padanya? Aku tidak pernah berbicara seperti itu terhadap orang lain, lalu kenapa aku bisa mengatakan hal itu kepadanya? Kenapa dari sekian banyak orang di dunia ini, aku harus mengatakan hal itu padanya? Aku bukan orang yang seperti ini. Tapi, aku sendiri yang membuat dia berpikir bahwa aku orang seperti ini. Dia berpikir buruk tentang diriku. Tuhan tolong aku, aku mencintainya. Bagaimana caraku untuk menghapus kenangan buruk itu darinya?" Ucap Adam menangis.


Adam terduduk di trotoar dan tampak menitikkan air mata. Dari dalam mobil, Claudia dapat melihat semuanya. Ia menatap Adam dan entah kenapa ia seperti ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Adam. Claudia menangis sambil terus mengusap air matanya yang terus saja mengalir.


Claudia menyadari bahwa Adam telah berdiri dan mulai menghisap sebatang rokok dengan sangat cepat, ia terlihat begitu depresi. Dan dalam waktu kurang dari satu menit ia sudah selesai merokok lalu mengusap wajah dengan tangannya. Kemudian merogoh sesuatu mengambil permen karet dari dalam saku celananya lalu memasukkan ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan kasar. Ia lalu berjalan kembali ke arah mobil.


Claudia tidak mengucapkan satu katapun saat Adam masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Adam. Ia tetap diam. Sehingga sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam membisu. Claudia awalnya berniat untuk minta maaf pada Adam. Namun, ia berpikir akan lebih baik jika semuanya berjalan seperti saat ini. Dengan ia terus membuat Adam kesal, maka Adam akan dengan cepat menandatangani surat cerai itu.


Mobil berhenti, Claudia tidak mengerti dimana mobil yang ia tumpangi berhenti. Adam keluar dari dalam mobil, kemudian membuka pintu untuk Claudia. Claudia memutar mata malas ke arah Adam lalu turun.


Claudia kemudian menyadari bahwa ia tengah berdiri di depan gedung Akademi Menari.


"Kenapa kita ada disini?" Tanya Claudia seraya melihat ke arah Adam.


Adam tak melirik ke arah Claudia dan langsung menjawab, "ayo masuk ke dalam, maka kau akan tahu jawabannya nanti disana." Adam lalu berjalan masuk.


"Tidak, aku tidak mau masuk. Aku tidak mau pergi ke manapun sampai kau memberitahu aku alasannya." Ucap Claudia keras kepala.


Claudia sangat ingin menampar wajah Adam, tapi dia berusaha menahan emosinya. Dia memang sangat suka menari. Naomi sudah sering menyarankannya untuk ikut masuk ke dalam akademi tari, tapi Claudia terus saja tidak perduli.


Sore itu, Adam mulai mengecek hasil belajar Claudia di kampus. Mulai dari hasil catatannya di buku hingga memberinya sebuah tugas yang harus ia selesaikan dalam waktu seminggu.


Adam bahkan meminta Claudia untuk duduk belajar dihadapannya, sementara ia sendiri sibuk dengan laptopnya. Adam mengatakan, jika Claudia tak berhasil menyelesaikan tugas yang ia berikan dalam waktu satu minggu, maka ia akan membuat Claudia menjalani home schooling, maka jika itu terjadi, Claudia tidak akan pernah bisa bertemu dengan teman-temannya lagi.


Claudia memang menyukai apa jurusan yang ia pelajari sekarang. Tapi, dengan harus menyelesaikan semua pembelajaran dan mendapat nilai terbaik dalam waktu tiga bulan membuatnya sedikit frustrasi. Apalagi selama 3 tahun belakangan ia tak pernah lagi tertarik dengan belajar. Tapi Claudia tetap ingin membuktikan pada Adam bahwa ia akan berhasil dan dengan cara seperti itu, ia dapat bebas dari Adam.


"Sudah cukup sekarang." Ucap Claudia seraya menutup buku dan laptopnya dengan wajah marah.


Adam tak menatapnya sedikitpun.


"Aku sudah selesai sekarang, aku mau pergi. Aku sudah menghafal semua yang ada di dalam buku catatan. Aku merasa pusing." Ujar Claudia lagi.


Adam mendongak, melihat ke arah Claudia yang berdiri dan membenarkan posisi kacamata yang ia kenakan.


"Kau belum selesai mengerjakan semuanya. Masih ada 4 halaman lagi, kau tidak boleh keluar dari sini sebelum menyelesaikan semuanya." Ucap Adam tenang.


"Kau.... Apa kau tuli? Aku sudah lelah. Aku juga pusing, aku bisa mati sebentar lagi. Apa kau tidak mengerti?" Teriak Claudia.

__ADS_1


"Kau tidak akan mati. Itu hanya kelelahan sedikit saja. Kau hanya belum terbiasa menggunakan isi kepalamu untuk belajar selama ini. Sekarang duduk, aku akan meminta pelayan untuk membawakan mu teh hijau. Itu akan membuatmu lebih segar dan tenang." Ucap Adam seraya mengangkat gagang telepon rumah dan menghubungi pelayan.


"Apa? Tidak, tidak, tidak. Aku tidak suka teh. Aku tidak mau minum teh, aku lebih suka kopi." Protes Claudia.


"Tidak bisa, kopi tidak baik untuk kesehatanmu. Kau masih terlalu muda. Kopi akan mengganggu siklus tidurmu, duduk dan tenanglah. Teh hijau akan membantumu." Ucap Adam bersikukuh.


Claudia berusaha menahan dirinya untuk tidak mengumpat.


'Apakah aku sedang tinggal disebuah pusat rehabilitasi? Apakah aku tengah dibawah pengawasan seorang ahli kesehatan dan rehabilitasi? Kenapa Om-Om ini selalu saja menggunakan cara kunonya memperlakukan aku. Tuhan, ku mohon. Tolong aku.' ucap Claudia dalam hati.


'Bagaimana bisa para wanita itu menganggap dia ini pria yang paling tampan dan sangat berpengaruh di negara ini? Dia sangat kuno. Apa yang membuat para wanita itu tergila-gila padanya? Apa yang akan mereka dapatkan dari Om ini? Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara berciuman yang benar. Bagaimana bisa dia memuaskan wanita diatas ranjang. Aku pikir dia tidak akan berstamina. Berapa usianya saat ini? 40, ah mungkin 50! Ngomong-ngomong, aku harus memanggilnya apa? Tuan? Adam? Tidak, tidak, tidak. Om!!! Papa!!!'


Claudia terus saja bergumam dalam hatinya, seraya tersenyum sendiri membayangkan tentang keburukan Adam yang ia buat-buat sendiri. Hingga seorang pelayan, akhirnya datang membawakan teh hijau dan Claudia pun harus menyelesaikan tugas yang diberikan Adam.


Malam harinya setelah makan malam, Claudia berjalan menuju kamarnya dan mendapati Adam tengah berdiri sambil merokok di balkon. Claudia tak menghiraukannya lalu masuk ke dalam kamarnya.


Hari ini, Claudia merasa begitu lelah, dia hendak mematikan ponselnya hingga sebuah pesan singkat masuk.


Pria Tua: 'Selamat malam, tidur yang nyenyak. Aku minta maaf.'


Claudia memutar mata malas lalu mengetik pesan balasan.


'Kau minta maaf untuk apa? Karena mengirim pesan padaku?'


Pria Tua: 'Aku tidak tahu. Tapi aku akan terus meminta maaf untuk semuanya sampai kau memaafkan aku dan melupakan semuanya.'


Claudia kembali membalas pesan itu.


'Bagus. Lanjutkan.'


Sebuah pesan baru kembali datang, namun dari nomor yang berbeda.


+6287******866


'Sayang, aku sudah kembali. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat ingin memelukmu. Aku mencintaimu.'


Claudia sama sekali tidak terkejut. Ia seperti sudah mengetahui kapan semuanya terjadi. Claudia hanya terlihat khawatir. Dia terlihat takut. Dia lalu menaruh kembali ponselnya ke atas meja dan bergegas tidur. Dari wajahnya, sangat tidak bisa dibaca apa yang ia pikirkan sekarang.


Bersambung....


Hai semuanya.....!!!


Apa kabar? Semoga tetap sehat ya...


Maaf ya, jika up nya selama ini selalu telat dan kadang ada waktu dimana libur up sehari.... 🙏🙏


Semoga kalian semua tetap setia nunggu karya ini up ya... 😊😊

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah juga ya... 🥰🥰


Finishing: 3:50 WITA


__ADS_2