
Waktu menunjukkan pukul 8 malam....
Adam berada di ruang kerjanya, tengah fokus menatap layar laptopnya mengurus masalah pekerjaan. Hingga sebuah panggilan telepon mengalihkan perhatiannya.
'Istriku Sayang'
Adam tersenyum saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya itu. Dia kemudian menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.
Adam: "Selamat malam."
Claudia: "Aku siap."
Adam berusaha menahan tawanya yang ingin meledak.
Adam: "Siap untuk apa?"
Claudia memutar mata malas, berusaha menahan emosinya.
Claudia: "Untuk persyaratan apapun yang kau ajukan itu."
Adam semakin berusaha menahan tawanya.
Adam: "Bisakah kau menjelaskan apa itu istriku sayang?"
Claudia benar-benar berusaha menahan emosinya.
Claudia: "Aku siap untuk tiga bulan itu."
Kali ini Adam berusaha menahan diri agar tidak bersorak kegirangan.
Adam: "Baiklah, aku akan mengirim berkas yang perlu kau tanda tangani."
__ADS_1
Claudia: "Ada sesuatu yang ingin aku katakan lagi padamu."
Adam: "Katakanlah."
Claudia: "Aku benci padamu."
Adam: "Oke baik. Selamat malam."
Adam lalu memutus sambungan telepon kemudian tersenyum memandang layar ponselnya.
Naomi memberikan kepada Adam sebuah card memori yang penuh dengan gambar Claudia. Dan sekarang, Adam begitu sibuk memandangi setiap foto yang berada dalam galeri ponselnya itu. Selama ini galeri ponselnya selalu kosong, tapi hari ini galeri itu dipenuhi setidak 3010 foto Claudia.
Semua foto Claudia itu diambil dengan sengaja oleh Naomi saat berada di rumah. Saat itu, Naomi begitu susah payah ingin membangunkan Claudia di pagi hari, tapi gadis itu tak kunjung mau bangun. Melihat wajah Claudia yang terlihat imut saat tertidur, membuat Naomi berinisiatif mengambil fotonya yang lalu dikirimkan pada Adam hari ini.
"Dan aku sudah mulai mencintaimu." Ucap Adam seraya mencium layar ponselnya. "Aku menunggu saat-saat akan terbangun di pagi hari dan melihatmu seperti ini di sampingku."
***********
Claudia menerima sebuah berkas saat jam 9 malam yang diantarkan oleh supir Adam.
Claudia lalu masuk ke dalam kamar, merebahkan diri diatas tempat tidur. Merasa sudah lebih tenang karena perceraian sudah ada di depan matanya dan tentu saja sudah disetujui oleh Adam sendiri.
Beberapa menit kemudian, Claudia menerima sebuah panggilan telepon. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Claudia langsung menjawabnya.
"Halo..." Ucap Claudia.
"Bereskan barang-barang mu dan segera turun ke bawah. Supir sudah menunggumu." Ucap seseorang di seberang telepon yang suaranya begitu familiar di telinga Claudia.
Sontak saja Claudia melompat dari atas tempat tidur, dan menatap layar ponselnya. Dan benar saja, yang memanggilnya adalah pria yang baginya sangat menyebalkan itu. Rahang Claudia mengeras.
"Apa maksud mu? Untuk apa aku membereskan barang-barang ku? Dan kenapa supir mu masih ada di bawah?" Tanya Claudia.
__ADS_1
"Karena kau, istriku sayang akan pindah tinggal bersamaku di rumah ku, mulai hari ini." Jawab Adam.
Claudia terbahak.
"Hah, sejak kapan kau harus memutuskan agar aku pindah ke tempatmu apalagi tanpa persetujuan dariku. Apakah aku pernah mengatakan bahwa aku ingin tinggal denganmu?" Tanya Claudia lagi.
"Tidak juga. Tapi, kau sudah menandatangani kontrak dan poin nomor 1 adalah kau harus tinggal bersamaku." Jawab Adam.
Claudia sontak berlari ke lantai dasar menemui supir itu untuk kembai meminta berkas yang ditandatanganinya tadi, Claudia ingin membacanya. Claudia merasa begitu bodoh karena tidak membacanya lebih dulu.
Dan, tebak! Supir yang mengantar surat kontrak tadi sudah tidak ada. Dan yang ada saat ini adalah supir baru dengan membawa mobil yang lebih besar.
"Nona Muda, selamat malam. Bagaimana kabar Anda? Wah, Anda sudah tumbuh semakin dewasa. Ngomong-ngomong, dimana barang bawaan Anda yang harus saya bawa masuk ke dalam mobil." Tanya supir itu.
"Dimana dia?" Tanya Claudia tanpa menjawab pertanyaan supir itu dan malah menanyakan dimana keberadaan supir yang tadi.
"Dimana, siapa Nona?" Tanya supir yang saat ini berdiri di hadapan Claudia tampak bingung.
"Supir itu, supir yang tadi." Ucap Claudia seperti seseorang yang depresi.
"Oh dia, dia sudah pergi. Saya disini untuk menjemput Nona." Balas supir yang berada di depan Claudia.
Claudia mendapat panggilan telepon lagi.
"Dasar kau, Adam Wijaya bajingan..." Teriak Claudia langsung saat menjawab telepon.
"Siapa yang mengajarimu untuk tidak membaca sebuah dokumen lebih dulu sebelum menandatanganinya? Oh ya ngomong-ngomong, aku akan selalu membantumu. Aku akan mengirim copyan surat kontrak itu agar kau bisa membacanya lebih jelas, dan ya. Kau tidak akan bisa mengubahnya karena kau sudah menandatanganinya. Cepatlah datang, aku menunggumu." Ucap Adam lalu memutuskan panggilan telepon.
Claudia terus merutuki dirinya sendiri karena tidak lebih dulu membaca isi surat kontrak itu. Dia merasa benar-benar sudah terjebak. Bagaimanapun caranya ingin bebas, sudah tidak akan bisa lagi. Adam benar-benar sudah mengerjainya.
Claudia begitu kesal, hingga ingin meninju wajah Adam jika bertemu nanti.
__ADS_1
"Tunggu pembalasan ku Adam Wijaya." Ucap Claudia.
Bersambung....