
Hari itu sekitar pukul 12.30 malam, Claudia bangun karena mendapat sebuah panggilan telepon.
Claudia: "Halo, siapa ini?"
Penelpon: "Ini aku sayang. Kau menghapus nomor teleponku dari kontak mu?"
Rahang Claudia mengeras, ekspresi di wajahnya sudah tidak beraturan. Marah, khawatir, terkejut dan semuanya.
Claudia: "Apa yang kau inginkan? Beraninya kau menelpon aku? Lagi, Calvin?"
Calvin: "Apa kau masih marah kepadaku? Baiklah aku tidak heran, kau berhak marah kepadaku. Tapi aku benar-benar menyesali keputusan yang aku buat, bukan hanya sekarang. Tapi aku sudah menyadarinya sejak tahun lalu. Sayang, aku ingin hubungan kita kembali. Aku ingin meminta maaf padamu. Tolong maafkan aku. Aku akan datang ke kota dalam waktu dua minggu ke depan."
Claudia: "Aku tidak peduli. Aku juga tidak ingin hubungan kita kembali, tidak juga ingin kau kembali dalam hidupku. Jadi menjauh lah. Jika kau ingin kembali ke kota ini, silahkan saja. Kau orang yang bebas, aku tidak akan menghentikan mu. Tapi aku tidak ingin kau kembali lagi ke dalam hidupku."
Calvin: "Kita lihat saja nanti. Aku tahu kau tidak bisa melupakan aku. Aku juga tahu, kau tidak bisa mencintai orang lain karena aku. Kau terluka dan masih tetap seperti itu. Aku janji padamu sayang, aku akan melakukan semuanya untukmu."
Claudia semakin kesal, ia lalu memutuskan panggilan telpon dan menaruh teleponnya kembali ke atas meja.
**********
Seminggu berikutnya di hari sabtu....
Adam sudah membuat Claudia belajar sepanjang hari dari pagi sampai siang hari. Saat ini, Claudia tengah berbicara dengan Endra via telepon.
Claudia terus saja menanyakan kepada Adam, adakah cara lain untuk membuat mereka bisa bercerai. Tapi seperti biasanya, apapun yang Claudia lakukan pada akhirnya, ia tetap merasa kecewa. Tidak ada jalan lain selain perceraian yang digagas kan oleh Adam. Meski Claudia akan mengajukan perceraian ke pengadilan, ia pun tidak akan mungkin bisa menang melawan suaminya itu.
Tapi kemudian Endra memberitahukan satu poin lain kepada Claudia. Dan hal itu membuat Claudia merasa sangat marah dan merasa dibodohi selama ini.
'Kenapa Naomi tidak memberi tahu aku tentang hal ini sebelumnya? Mereka semua benar-benar pembohong dan penghianat. Aku benci mereka semua.' Ucap Claudia dalam hati.
"Terimakasih Endra. Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintaimu karena kau memberitahu aku tentang hal ini. Suatu saat nanti, jika aku berhasil dengan hal ini, aku akan memberikanmu ciuman yang yang asli. Aku janji padamu." Ucap Claudia.
Claudia memutuskan panggilan telepon lalu wajahnya terlihat begitu merah karena dipenuhi amarah.
__ADS_1
Iya, Endra akhirnya tahu bahwa Claudia telah menikah dengan Adam Wijaya. Claudia terpaksa mengatakan kebenaran itu kepada Endra. Kenapa? [
Karena Endra mengetahui semua insiden yang terjadi di dalam ruangan Dekan hari itu. Endra tidak mengatakan hal itu kepada siapapun. Dia sama sekali tidak mempunyai niat untuk mempermalukan dirinya sendiri di kampus.
Endra melihat saat Claudia dibawa keluar oleh Adam dari gedung kampus dengan menggandeng tangannya. Lalu keesokan harinya, dia mengajak Claudia untuk berbicara berdua di kantin dan saat itulah Claudia mengakui semuanya.
Claudia membuka pintu ruang kerja Adam dengan kasar dan langsung masuk tanpa permisi lebih dulu.
Adam mengangkat kepalanya setelah memandang kearah laptop, dia melihat Claudia dengan tatapan yang heran.
"Di, ada apa ini? Aku sedang bekerja. Pergilah habiskan waktu mu dengan Nila atau Jono." Ucap Adam sebelum kembali menundukkan kepala menatap laptopnya.
Claudia memutar matanya. Ia lalu berjalan mendekat kearah sisi meja Adam lalu dengan kasar menutup laptop Adam. Adam masih mencoba untuk bersabar.
Claudia lalu memutar kursi Adam agar bisa berhadapan dengannya. Kemudian mengeluarkan sebuah kertas yang merupakan surat perceraian lalu memperlihatkan kepada Adam. Claudia lalu merobek kertas itu menjadi dua bagian. Adam sekarang terlihat terkejut. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menghela napas.
"Di... Ku harap kau tahu apa yang kau lakukan." Ucap Adam.
Claudia menunjukkan wajah yang sedang tidak bercanda.
"Bagaimanapun aku sangat bahagia dan tidak masalah dengan hal itu. Tapi apakah aku boleh tahu, bagaimana dan kenapa?" Tanya Adam.
"Karena aku tidak butuh perceraian sekarang. Aku juga tidak mau menyelesaikan kesepakatan tiga bulan itu dengan mu." Ucap Claudia dengan wajah yang terlihat tampak emosi dan marah.
Adam tetap diam dan mencoba mendengarkan apa yang akan dikatakan istri kesayangannya itu.
"Menurut aturan hukum yang berlaku, pasangan suami istri yang berpisah selama 2 tahun atau lebih itu otomatis dikatakan sudah bercerai. Tapi aku tidak membutuhkan tanda tanganmu lagi untuk bercerai. Karena aku memang sudah bercerai denganmu. Aku bukan istrimu lagi. Jika kau masih saja ikut campur dalam hidupku atau menunjukkan sikap bos mu itu aku akan mengusir mu jauh dari hidupku."
Kata terakhir yang diucapkan Claudia membuat Adam tertawa kecil.
'Mengusir ku? Baik aku akan membantunya untuk menemukan pengacara terbaik di kota ini untuk melawan ku di pengadilan. Gadis ini sangat menggemaskan bagaimana mungkin aku bisa mengontrol diriku agar tidak tergila-gila padanya. Gadis ini begitu naif.'
"Dengar sayangku, pertama-tama untuk kau ketahui, untuk bercerai secara otomatis, pasangan suami istri tidak harus berpisah selama dua tahun. 3 bulan saja itu sudah dikatakan bercerai. Tapi selama ini aku selalu memberikanmu nafkah yang cukup. Meski itu tidak termasuk nafkah batin. Tapi setidaknya aku selalu memenuhi semua kebutuhan mu. Dan kau sendiri tidak pernah bermasalah dengan hal itu. Andai saja sejak 3 bulan awal pernikahan kau langsung mengajukan perceraian, ya kau mungkin saja bisa menang melawan ku. Tapi aku tidak bisa menjamin 100% juga. Apa kau tidak berpikir apa yang akan dikatakan pihak pengadilan kepadamu, kenapa dari sekian lama kau baru mengajukan perceraian sekarang."
__ADS_1
Claudia tampak semakin kesal.
"Kedua pasangan suami istri yang berpisah tempat tinggal seharusnya berpisah itu karena keduanya memang ingin mengakhiri pernikahan. Dan itu tidak termasuk dalam kasus kita. Kita berpisah tempat tinggal karena aku pergi bekerja. Jadi tidak ada hal yang bisa membuat kita secara otomatis bercerai." Lanjut Adam.
Claudia tampak bingung, wajahnya menyiratkan bahwa ia memang dalam keadaan linglung.
"Ketiga sayangku..." Adam berdiri dan melangkah semakin mendekati Claudia.
Claudia melangkah mundur hingga membuatnya terpojok oleh meja.
"Pengadilan membutuhkan bukti untuk perpisahan yang mana aku tidak bisa membuktikannya. Bagaimana denganmu sayangku?" Tanya Adam.
'Kenapa dia terus saja memanggilku sayang, sayangku... Dan lainnya.' pikir Claudia.
Adam sangat dekat dengan Claudia, dimana Claudia dapat merasakan hembusan napas Adam di leher dan wajahnya. Claudia merasa dadanya sesak. Wajahnya merona merah, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Dan bagian terburuknya adalah Claudia kehilangan kekuatan untuk mendorong Adam menjauh darinya.
"Dan yang terakhir, biar aku memberitahukan mu ini..." Ucap Adam seraya semakin mendekati Claudia lalu menciumnya.
Hal itu membuat Claudia merasa seperti kehilangan kesadarannya. Claudia mematung diet kehilangan fungsi tubuhnya untuk bisa bergerak. Untungnya bagi Claudia, ciuman Adam tidak terlalu lama.
"Sejak tinggal berpisah, tidak ada dari kita berdua yang melakukan tugas sebagai suami istri. Jika kau mengijinkan aku aku ingin melakukan tugasku sebagai suami malam ini." Ucap Adam seraya mendaratkan sebuah ciuman di pipi Claudia.
Keduanya berada dalam posisi yang begitu intim sekarang. Kaki Claudia berdiri di lantai tetapi bagian tubuh atasnya, sepenuhnya berbaring di atas meja. Sementara Adam menunduk dan menempat kedua tangannya diantara kepala Claudia.
"Jadi lebih baik kau tetap menjadi istriku atau melanjutkan kesepakatan yang kita buat dalam waktu 3 bulan." Ucap Adam sebelum mengangkat tubuh Claudia untuk bisa berdiri.
Setelah berdiri, Claudia langsung mendorong Adam menjauh darinya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak ingin bercerai denganku? Kau sendiri pun tahu bahwa aku tidak mencintaimu. Kau juga tidak mencintaiku. Kau punya Tante Nadia itu dan wanita lainnya dalam hidupmu. Lalu kenapa? Apa kau ingin balas dendam? Apa yang kau inginkan dariku? Tolong beritahu aku aku akan melakukannya. Tanda tangani saja surat perceraian itu kumohon." Pinta Claudia.
Ada mengusap kepala Claudia dengan lembut dan dan memegang helai rambutnya.
"Kau istri kecil kesayanganku. Kau masih terlalu muda untuk mengerti tentang ketertarikan. Dan dia bukan siapa-siapa dalam hidupku aku bahkan tidak pernah menatap wajahnya lama. Tapi kau tidak bisa mengerti. Dan sepertinya tidak akan pernah bisa." ucap Adam.
__ADS_1
Bersambung.....