90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Kembali ke Ternate (Bab 26)


__ADS_3

3 bulan pasca operasi besar, kondisiku mulai membaik. Meski, aku masih harus mengkonsumsi obat-obatan pengurang rasa sakit yang kadang-kadang masih datang secara tiba-tiba. Selain itu Dokter juga memberikanku obat yang harus aku minum setiap hari guna menekan agar kanker tak kembali bersarang di tubuhku.


Hari ini, aku memutuskan kembali ke tanah kelahiran ku, kota Ternate. Setelah tiga bulan berada di negeri orang, aku rindu akan kota kecil ku itu. Rindu akan suasananya yang menenangkan. Rindu akan keramahan setiap orang disana yang selalu tersenyum kala disapa. Rindu akan aroma air laut di pinggir pantai yang menjadi tempat favorite ku.


Ah, sungguh. Aku sudah sangat tidak sabar untuk kembali.


"Berhati-hatilah disana. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu. Jangan pendam semuanya sendiri. Ingat untuk meminum obat dan vitamin yang Dokter berikan padamu. Ingat...."


"Ya , ya, ya,...... Aku mengerti. Kenapa sih kau itu selalu cerewet." Ucapku memotong ucapan Jack.


"Karena kau adik kecilku. Dan aku perduli padamu." Balas Jack seraya mengacak rambutku.


"Ayolah Jack, kita sedang di bandara. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Aku ini wanita dewasa." Ucapku kesal seraya merapikan rambutku.


"Tapi kau selalu menjadi adik kecil bagiku." Balas Jack.


Jack selama ini memang selalu memperlakukan aku seperti gadis kecil yang sangat senang untuk ia jahili. Meski begitu aku sebenarnya bisa memahami setiap sikapnya itu. Dia hanya menunjukkan rasa sayangnya kepada adik perempuannya ini.


Saat ini aku dan Jack tengah berada di bandara. Kami masih mengantri untuk melakukan pengecekan berkas-berkas untuk bisa kembali ke tanah air.


Zaman sekarang, sebagian orang mungkin sudah pernah naik pesawat. Namun ada juga orang yang belum berkesempatan naik pesawat. Dan, ini bukan kali pertama bagiku untuk naik pesawat. Sudah entah berapa kali aku menggunakan pesawat, tapi tidak tahu kenapa hari ini untuk pertama kalinya aku merasa takut untuk naik pesawat.


Sesaat sebelum masuk ke dalam pesawat usai melakukan pengecekan tiket, data diri, dan menuju gerbang keberangkatan perasaanku begitu takut. Aku menggenggam tangan Jack dengan kuat.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." ucap Jack menenangkan ku, ia seolah mengerti bahwa aku tengah merasa takut.


Sampai waktu keberangkatan tiba, dan semua penumpang dipanggil untuk naik ke pesawat. Jack dan aku lantas mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket.


Aku sangat fokus memperhatikan setiap instruksi keselamatan dari pramugari. Pramugari mempraktekkan demo tentang keselamatan pada saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai dari cara memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, sampai mengenakan pelampung keselamatan dan masker oksigen.


Jack mengelus kepalaku lembut lalu mencubit hidungku.

__ADS_1


"Velicia, kenapa serius sekali? Sampai aku yang duduk disebelah mu tak kau hiraukan." goda Jack.


"Iihh Jack, aku hanya takut. Takut kalau terjadi apa-apa. Makanya dari tadi aku fokus lihat pramugari itu." Balasku.


"Tenanglah adik manis, semuanya akan baik-baik saja. Aku juga kan sudah menawarkan mu untuk naik jet pribadi saja. Agar lebih enak dan nyaman berdua. Tapi kau malah maunya naik pesawat biasa." ucap Jack..


"Jack, aku bosan pakai jet pribadi. Sekali-sekali aku mau juga merasakan bagaimana pengalaman naik pesawat seperti orang kebanyakan." balasku tersenyum.


Ya, selama ini aku memang hanya menggunakan jet pribadi yang aku sewa untuk membawaku sekedar keluar dari kota Ternate untuk urusan bisnis..


Ketakutan ku pun perlahan-lahan mulai hilang ketika pesawat mulai take off. Bagi banyak orang momen krusial dalam penerbangan pesawat adalah ketika take off dan landing.


Usai take off perasaan ku kembali tenang. Saat itu aku begitu menikmati berada di atas ketinggian tiga puluh lima ribu kaki. Melihat pemandangan berupa gumpalan awan.


Perjalanan udara yang memakan waktu sekitar hampir dua jam dari bandara di di luar negeri menuju bandara di kota terdekat dengan Ternate.


Muncul lah pemberitahuan bahwa pesawat akan siap landing di Bandara tujuan. Saat itu, penumpang diminta untuk tetap tenang dan kembali menggunakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat meja, dan menaikan penutup jendela karena pesawat akan mendarat.


Setelah itu, aku dan Jack turun dari pesawat dan kembali berganti pesawat. Kali ini kami memilih menggunakan pesawat jet pribadi. Agar lebih nyaman dan cepat tiba di kota Ternate.


Hingga akhirnya setelah beberapa saat kami pun tiba di kota Ternate, kota kelahiran ku.


"Akhirnya kita sampai juga." ucapku dengan girang..


"Iya, bagaimana perasaanmu?" Tanya Jack.


"Aku baik-baik saja. Seharusnya kau tidak perlu mengantarku sampai kemari. Aku bisa sendiri." Kataku.


"Sudahlah, aku hanya ingin memastikan bahwa adik kecilku ini selamat sampai tujuan. Sekarang ayo pulang ke rumah. Setelah memastikan semuanya baik, aku akan langsung kembali. Masih ada banyak urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan." Balas Jack.


"Jack.... Kau bisa kembali sekarang juga." Ucapku.

__ADS_1


Aku merasa tak enak karena telah merepotkan Jack.


"Kau ingin aku balik sekarang juga? Wah tega sekali kau tak membiarkanku istirahat lebih dulu di rumah." Ucap Jack dengan raut wajah yang dibuat-buat seolah sedih karena tengah aku usir.


"Ya sudah, terserah kau saja. Ayo berangkat."


********


Malam harinya Jack langsung kembali ke rumahnya di kota sebelah setelah memastikan semua yang aku butuhkan sudah tersedia.


Aku memutuskan untuk makan malam di luar rumah. Di sebuah restaurant yang dulu sering aku datangi. Secara kebetulan, tanpa di sangka-sangka. Aku bertemu dengan Arnold. Dia memandangku dengan tatapan yang asing.


"Kau siapa?" tanya Arnold padaku saat kami berpapasan di pintu masuk restaurant.


Aku tak menggubris ucapan Arnold, ia kemudian berlalu begitu saja meninggalkan aku yang berdiri mematung. Arnold sepertinya memang sudah tidak mengingatku lagi. Dia pasti sudah melupakan aku.


Bukankah itu lebih bagus!


Aku kembali ke rumah setelah menyelesaikan makan malam ku. Tiba-tiba ponselku berdering. Menampilkan nama mantan Papa mertuaku.


"Velicia, Arnold telah melupakanmu sejak setelah hari pernikahan. Dia dan Viona tidak jadi menikah." Ujat Tuan Besar Setyawan.


"Tuan Besar Setyawan, sepertinya anda salah mengerti. Aku kembali bukan untuk Arnold, melainkan untuk menemui Andreas." Ucapku.


Helaan nafas Tuan Besar Setyawan terdengar sangat jelas di telingaku.


"Andreas dan keluarganya tidak terlalu akrab. Aku juga kesulitan untuk mencari Andreas. Kau harusnya memilih Arnold karena bagaimanapun dia....."


"Maaf Tuan Besar Setyawan. Aku merasa diriku tidak seharusnya terus terikat dengan Arnold. Sudah ku katakan sebelumnya, aku harus menemui Andreas." Ucapku seraya memutuskan sambungan telepon.


Aku pergi ke dapur mengambil air minum, kemudian meminum sejumlah besar obat. Aku hampir saja melompat karena kaget, saat menyadari bahwa Arnold tengah berdiri di depan pintu rumahku.

__ADS_1


Bukankah Arnold tidak mengenalku lagi? Tapi kenapa dia datang mencari ku? Apa dia melakukannya secara tak sadar?


__ADS_2