90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Viona Hamil (Bab 43)


__ADS_3

Sejak kejadian itu, tubuhku tiba-tiba kembali merasa sakit. Meski sudah minum obat yang diberikan Dokter, rasa sakit itu tak bisa hilang. Malah semakin parah.


Hari ini aku putuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Aku hanya bisa berharap bahwa semuanya tidak terlalu serius.


Tapi sebelum itu, aku harus pergi ke kedai teh Merry. Semalam dia sudah kembali dari agenda bulan madunya, dan hari ini dia memintaku untuk bertemu dengannya. Dengan menyetir mobil seorang diri selama tiga puluh menit, akhirnya aku tiba di depan kedai teh Merry.


Aku sudah mulai menerima semua keadaan yang menimpaku. Seandainya hari ini aku ditakdirkan untuk bertemu dengan Andreas, aku tidak akan mencoba untuk lari atau bersembunyi darinya. Biarkan dia melihatku. Jika dia ingin suatu penjelasan, maka akan aku jelaskan. Dan, apabila dia malah menghindar. Berarti dia sudah tak ingin bersama denganku lagi.


Saat langkah kaki ku masuk ke dalam kedai teh, para kucing langsung mendekati aku. Sepertinya mereka sudah mencium aroma tubuhku dari jauh. Karena yang aku tahu, kucing itu dapat mengenali seseorang dengan baik.


Merry yang melihat kedatanganku menghambur memelukku. Dia tampak begitu bahagia. Senyumannya begitu berbeda dari biasanya. Beberapa tahun belakangan ini aku tak pernah melihat senyuman di bibirnya sejak Hansen menghilang dari hidupnya secara tiba-tiba.


"Ayo duduk." Ucap Merry.


Aku mengikuti langkahnya yang menggandeng tanganku ke arah sebuah tempat duduk dengan bentuk kucing itu.


"Apa kabarmu?" Tanya Merry.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik." Jawabku.


Merry tersenyum, lalu memegang tanganku seraya mengusap punggung tanganku dengan pelan.


"Aku tahu apa yang tengah kau alami. Tapi setidaknya ceritakan padaku apa yang terjadi. Angelica memberitahu ku bahwa hubunganmu dan Andreas tengah renggang." Ucap Merry.


Aku menghela nafas panjang dan menatap Merry serius. Aku harus menahan semuanya, aku tidak boleh sedih lagi. Aku lalu tersenyum dan menaruh tangan kiri ku diatas tangan Merry yang memegang tangan kananku.

__ADS_1


"Semuanya baik-baik saja. Mungkin kami berdua perlu memahami satu sama lain lebih baik dulu." Balasku.


Merry tersenyum lalu mulai menceritakan tentang kegiatannya selama berbulan madu di desa sang suami. Mulai dari berkeliling kampung, menikmati suasana desa yang sejuk dan asri. Hingga pergi ke kebun bersama Hansen dan Sang Nenek.


"Aku ikut bahagia, dan aku berharap kau akan segera memiliki momongan." Ucapku.


"Harapan yang sama untukmu Vel. Aku ingin kau bahagia sepertiku. Segera menikah dan memiliki...." Ucapan Merry terhenti, ia lalu meminta maaf.


"Kenapa harus meminta maaf. Semua ini sudah ditakdirkan Tuhan untukku. Aku harus ikhlas menerima semuanya. Pada kenyatannya, jika nanti aku menikah. Aku tidak akan bisa memiliki seorang anak dari rahim ku sendiri. Mungkin saja alasannya karena aku memang tidak dipercayai oleh Tuhan untuk mengasuh seorang anak. Tapi aku akan tetap berusaha. Bisa jadi aku akan mengadopsi seorang anak dan berusaha menjadi orang tua yang baik. Itu pun kalau ada pria yang mau menikahi wanita yang sudah jelas tak bisa memberikan keturunan kepadanya." Ucapku.


Sejujurnya, dadaku sakit membayangkan bahwa jika aku bisa menikah lagi, maka aku tidak bisa memiliki anak. Tapi, tak apa. Aku kembali teringat akan ucapan Kakek penjaga makam itu. Aku harus ikhlas menerima takdir yang diberikan Tuhan padaku.


Setelah selesai mengobrol, aku lalu melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan utamaku, yaitu rumah sakit.


Aku tiba di rumah sakit setelah 15 menit berkendara. Setelah memarkirkan mobil, aku bergegas berjalan masuk ke dalam rumah sakit kemudian menemui Dokter spesialis yang menangani pasien kanker serviks.


"Itu hal umum terjadi, jika anda melakukan hubungan dengan suami, maaf terlalu keras." Ucap Dokter wanita yang terlihat menahan senyum itu.


'Ah, malu sekali.'


"Untuk itu saya sarankan, jika ingin berhubungan dengan suami, lakukan dengan pelan dan santai. Itu semua untuk mengindari rasa tak nyaman yang akan anda rasakan." Lanjut Dokter yang memiliki nama Amelia itu.


"Baik Dokter. Oh ya, Dokter. Kira-kira apa saja yang sebaiknya makanan yang saya hindari?" Tanyaku, karena selama berobat di luar negeri aku lupa menanyakan hal itu. Dokter disana hanya memberikanku obat dan memintaku untuk lebih banyak istirahat dan hanya mengurangi makan pedas.


"Saran saya hindari sayuran mentah. Karena pada masa penyembuhan kanker ada baiknya menghindari konsumsi sayuran mentah. Sayuran mentah berpotensi mengandung pestisida yang menempel pada daun sayuran. Hal ini tentu berbahaya tidak hanya untuk masa penyembuhan kanker, tapi juga untuk tubuh secara keseluruhan. Selain itu, untuk menghindari kandungan pestisida yang masuk ke dalam tubuh, anda juga harus menghindari makan buah-buahan yang kulitnya tidak perlu dikupas seperti anggur. Selain sayuran mentah, dan buah yang tak perlu di kupas, anda juga harus mengurangi konsumsi daging merah. Boleh mengonsumsi daging merah, dengan catatan dua minggu sekali atau lebih baiknya tidak sama sekali." Ujar Dokter itu.

__ADS_1


Aku mengangguk, sambil terus mendengarkan dengan fokus setiap ucapan yang keluar dari mulut Dokter berparas cantik ini.


"Menyembuhkan kanker dengan cara meditasi juga akan sangat baik untuk anda. Pertama posisikan tubuh dengan duduk tegak, lidah dilipat ke belakang, dan napas yang teratur. Dengan meditasi dan menjaga pola makan yang mengurangi bahan kimia masuk ke dalam tubuh. Kemungkinan kesembuhan akan semakin besar. Dan yang terpenting selalu konsumsi obat yang diberikan Dokter."


"Baik Dokter. Mulai hari ini saya akan melakukan semua saran Dokter.


Setelah selesai pemeriksaan dan konsultasi, aku akhirnya keluar ruangan Dokter dengan membawa resep obat yang harus aku tebus di apotek. Aku bergegas berjalan menuju apotek yang ada di lantai bawah.


Tanpa sengaja aku melihat sosok yang sangat mirip dengan Viona yang keluar dari ruang poli kandungan.


Kami berdua berpapasan. Aku sama sekali tak menatap wajahnya karena ingin menghindar. Tapi, Viona malah menarik tanganku dan mengajakku duduk di bangku panjang di depan ruang poli kandungan.


"Aku mau bicara." Ucap Viona.


"Katakan saja ada apa?" Tanyaku, ingin sengaja cepat-cepat menghindarinya.


"Aku hamil anak Arnold." Jawab Viona.


Aku berusaha bersikap tenang, meski gejolak di dalam dada begitu bergemuruh. Tak habis pikir dengan pria bernama Arnold ini. Pantas saja aku sampai terkena kanker serviks ini.


Apa itu semua karena Arnold yang sering gonta ganti pasangan? Pikirku.


"Velicia ku mohon padamu untuk meninggalkan Arnold. Karena bagaimanapun dia harus bertanggung jawab terhadap anak yang ada didalam kandunganku ini."


"Jangan pernah memohon padaku. Tapi memohon lah pada laki-laki yang menghamili mu. Karena dia lah yang masih terus mengejar ku." Ucapku mantap lalu pergi meninggalkan Viona yang duduk mematung.

__ADS_1


Aku sudah muak. Aku tak ingin lagi berurusan dengan manusia bernama Arnold dan Viona ini.


Bersambung....


__ADS_2