
'Dimana aku?'
"Mama... Papa... Kenapa kalian bisa ada disini? Dimana aku?"
Aku melihat sekeliling, terdapat hamparan luas rumput ilalang. Mama dan Papa ada bersamaku. Aku bahkan kini tengah berbaring di pangkuan Mama.
"Bangunlah sayang." Ucap Mama.
Perlahan aku bangun dan duduk disamping Mama dan Papa.
"Kita dimana Mah, Pah?" Tanyaku lagi.
Mama dan Papa hanya tersenyum seraya mengelus kepala dan pipiku lembut.
"Sayang, apapun yang terjadi kau harus kuat." Ucap Mama.
"Jadilah gadis Papa yang pemberani. Papa akan selalu ada bersamamu Nak." Sambung Papa.
Aku semakin dibuat bingung, setelah Mama dan Papa memelukku. Aku berusaha memegang wajah keduanya tapi tak bisa. Tanganku seolah menembus wajah mereka. Mereka hanya seperti bayangan yang tak bisa ku sentuh.
"Mah Pah..." Ucapku lirih.
"Mama dan Papa akan selalu menyayangimu." Ucap Mama.
"Sekarang, bangunlah. Dan ingat jadilah pemberani seperti gadis kecil Papa dulu. Jangan mudah menyerah." Sambung Papa lagi.
"Ayo sayang, bangunlah... Bangun...." Ucap keduanya bersamaan.
Seketika aku tersadar bahwa semua yang terjadi barusan hanyalah mimpi. Lalu dimana aku sekarang? Bukankah tadi aku tengah dirias?
'Ya Tuhan! Pernikahanku.'
Perlahan aku mulai mendapat kesadaran ku. Tangan dan kakiku terasa sakit. Ternyata semuanya karena aku diikat. Dan dibuat berbaring di jok belakang sebuah mobil.
'Apa aku diculik?'
'Apa yang harus aku lakukan?'
'Berpikir Velicia. Ayo berpikir.'
Jika mencoba duduk, dua orang di kursi depan akan langsung menyadari bahwa aku sudah sadar. Tapi, bagaimana caranya aku bisa melihat ke luar jendela jika aku tidak duduk. Aku berusaha menajamkan pendengaran ku, tapi tak ada yang bisa aku dengarkan. Karena suara deru mobil begitu keras. Hingga akhirnya mobil berhenti.
Aku berusaha fokus dan yakin bahwa mobil tengah berhenti di sebuah lampu merah. Aku lalu dengan cepat duduk dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Tolooong......" Teriakku.
Sontak saja dua orang pria yang mengenakan kaca mata hitam yang duduk didepan kaget dan menatap ke jok belakang.
"Heu apa yang kau lakukan?" Ucap salah seorang dengan sedikit berteriak.
"Lepaskan aku."
__ADS_1
"Tolong...." Teriakku lagi.
"Sekuat apapun kau berteriak, tak akan ada yang mendengar mu Nona." Ucap pria itu lalu mobil kembali melaju.
'Ya Tuhan. Sekarang apa lagi yang harus aku lakukan.'
"Kemana kalian akan membawaku?" Teriakku.
"Duduk dan diam lah Nona. Kau akan tahu sampai kota tiba ditujuan."
"Cepat lepaskan aku... Kalau tidak..."
"Anda mau melaporkan kami ke polisi? Hahaha silahkan saja. Untuk keluar dari mobil saja anda tidak bisa."
Aku terdiam, tak tahu berkata apa lagi. Aku lebih baik menyimpan tenagaku untu aku gunakan nanti daripada harus berteriak tak jelas sekarang. Karena tak ada gunanya juga. Kedua orang ini tak akan melepas ku begitu saja.
'Tapi, siapa dibalik semua ini?'
'Apa jangan-jangan Arnold?'
Setelah cukup lama mobil berjalan, mobil pun berbelok ke dalam sebuah hutan dan melewati jalanan yang agak berbatu. Aku bahkan harus menjaga keseimbangan ku agar tak terjatuh atau membentur mobil.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah villa yang berukuran cukup besar. Sepanjang perjalanan tadi, aku sudah menghafal rute perjalanannya. Tapi, apakah aku punya kesempatan untuk kabur? Sedangkan villa ini berada begitu jauh di dalam hutan.
'Ah, aku bisa memikirkannya nanti saja. Sekarang aku harus pandai-pandai memanfaatkan situasi.'
Kedua pria tadi membuka pintu mobil dan membawaku masuk ke dalam villa. Villa nya cukup besar dan sangat begitu terawat mengingat villa ini berada di tengah-tengah hutan. Ada begitu banyak penjaga yang berdiri di setiap sudut ruangan saat aku berjalan masuk ke dalam villa. Aku lalu dibawa masuk ke dalam sebuah kamar. Ikatan di tangan dan kakiku pun mereka lepas.
Kedua pria itu kemudian keluar dari dalam kamar dan segera menutup pintu. Terdengar suara pintu dikunci dari luar. Dan langkah kaki kedua pria itu pun menjauh. Aku mulai meneliti setiap sudut di kamar yang terletak di lantai atas ini.
Pertama aku masuk ke dalam kamar mandi, berusaha mencari celah yang mungkin saja ada kesempatan untukku kabur. Nihil, tak ada jendela ataupun lubang angin yang bisa ku lewati. Aku kembali ke dalam kamar dan membuka tirai. Ternyata jendelanya hanya terbuat dari kaca. Jika aku pecahkan, aku bisa segera kabur dari sini.
'Tapi bagaimana? Sedangkan diluar sana ada banyak sekali penjaga.'
Sebelum aku sempat kabur, mereka sudah lebih dulu mendengar pecahan kaca ini dan pasti akan langsung datang kemari. Sepertinya aku harus menunggu malam nanti untuk bisa kabur.
Cukup lama aku berputar-putar berpikir bagaimana caranya untuk bisa kabur. Tapi, nihil. Selain memecahkan kaca tak ada lagi yang bisa aku lakukan.
'Sebentar dulu, kenapa aku tidak menyadari bahwa ini bisa digeser.'
Ternyata jendela kaca yang ingin aku pecahkan ini merupakan sebuah pintu yang bisa aku geser dan sontak bisa dengan mudah terbuka begitu saja. Aku lalu keluar dan menuju balkon yang ada didepan kamar.
'Sekarang, bagaimana caranya aku turun?'
Saat tengah memikirkan bagaimana caranya untuk bisa turun, pintu kamar terdengar terbuka. Dan ternyata sosok pria itulah yang memang menjadi dalang dibalik semua ini.
Arnold berjalan mendekat ke arahku dengan senyuman liciknya.
"Selamat datang di istana kita Velicia. Aku harap kau suka. Dan..." Arnold berhenti berucap kala ia sudah berdiri di sampingku dan melihat ke bawah dari atas balkon. "Jangan pernah berpikir kau bisa kabur dari sini. Kamar ini cukup tinggi jika kau ingin meloncat. Kau sama saja akan membunuh dirimu sendiri. Dan aku yakin, kau bukan orang yang mudah menyerah." Lanjut Arnold.
"Kenapa kau lakukan semua ini?" Tanyaku dengan sangat kesal.
__ADS_1
"Apakah kurang jelas? Tentu saja karena aku tak mau kau menikah dengan Andreas. Kau hanya boleh menikah denganku." Jawab Arnold santai.
"Apa kau tak tahu malu, sampai menculik calon isteri kakakmu sendiri?" Teriakku.
"Aku! Menculik mu? Hahaha tidak akan ada yang menyadari bahwa kau diculik." Balas Arnold.
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin sekarang, Andreas sudah menemukan sebuah surat di ruangan tempat tempat kau dirias. Perlu kau tahu, surat itu menyatakan bahwa kau meminta maaf dan tak ingin menikah dengan Andreas hingga kau akhirnya kabur dari pernikahan kalian." Jawab Andreas.
Aku yakin, Andreas tidak akan percaya begitu saja dengan isi surat itu. Aku yakin Andreas pasti akan mencari ku.
"Kau ternyata memang tidak bisa berubah. Kau masih saja terobsesi denganku." Balasku dengan tenang.
"Tentu saja. Pria mana yang tak terobsesi dengan wanita secantik dirimu." Ucap Arnold berusaha memegang pipiku.
Namun, dengan cepat aku menampiknya.
"Jangan pernah coba untuk menyentuhku." Ucapku.
"Velicia, menikahlah denganku. Aku bisa memberikan lebih banyak dari yang diberikan Andreas padamu. Aku bisa membelikan mu seribu taman bermain yang jauh lebih besar dari yang diberikannya untukmu."
"Cih, kau ingin membelikan ku? Kau dapat uang dari mana? Bukankah semua uang yang kau punya itu berasal dari hartaku yang sudah aku sedekahkan untukmu?"
Raut wajah Arnold berubah marah karena ucapan ku. Ia mencengkram daguku dengan kasar.
"Jangan buat aku bertindak kasar padamu Velicia. Aku hanya ingin kau kembali menikah denganku, karena aku mencintaimu."
"Itu bukan cinta, tapi obsesi." Balasku.
"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas aku hanya menginginkan dirimu menjadi milikku." Ucap Andreas.
"Aku membenci dirimu. Sangat membenci dirimu. Dan satu hal yang aku tekankan padamu, bahwa aku tidak akan pernah mau kembali padamu." Ucapku.
"Kita lihat saja nanti, aku pasti bisa memaksamu. Tapi sekarang akan ku biarkan kau berpikir jernih. Kau hanya dibutakan oleh perhatian Andreas. Sedangkan didalam hatimu itu hanya ada diriku. Bukankah selama tiga tahun ini kau yang selalu memaksaku untuk mencintaimu? Kah bahkan rela aku gauli dengan cara apapun."
Ucapan Arnold membuatku begitu sakit hati. Tapi sudahlah, aku tidak mau berdebat dengannya. Sekarang yang harus aku lakukan adalah memikirkan cara untuk bisa keluar dari tempat ini.
Arnold lalu berjalan ke arah pintu. Dia hendak keluar dari dalam kamar.
"Oh ya, cepat ganti pakaianmu. Kau terlihat jelek mengenakan gaun pengantin itu. Nanti aku bisa memberikanmu gaun yang lebih indah." Ucap Arnold lalu menutup pintu.
"Lelaki sialaaan...." Teriakku.
Aku kembali menatap jauh diluar jendela. Kamar ini tidak menghadap halaman depan melainkan halaman belakang rumah. Ternyata di balik pagar rumah ini terdapat sebuah sungai kecil dan tak jauh dari sungai itu terlihat dengan jelas jalan raya. Hanya saja butuh perjuangan untuk bisa sampai ke jalan besar itu. Karena jika aku berniat kabur lewat situ. Aku masih harus melewati hutan dan baru bisa sampai kesana.
Tapi aku harus berusaha, aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat.
'Andreas, ku harap kau tidak percaya dengan palsu yang ditinggalkan Arnold itu.'
Andai aku punya cara untuk menghubungi seseorang. Setidaknya aku bisa menghubungi Jack. Karena hanya nomor ponselnya lah yang bisa ku hafal.
__ADS_1
Bersambung....