90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
45. Adam Badmood


__ADS_3

Endra keluar dari dalam ruangan bersama Adam. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, dia langsung mulai memutarkan rekaman suara dari ponsel nya.


Adam terlihat tenang dan santai. Dia mendengarkan rekaman suara itu tanpa ekspresi apapun, tanpa adanya tanggapan dari dirinya, tapi dia juga tidak berkata apapun.


"Tuan Adam, tolong jangan salah paham kepadanya. Aku memberitahukan padamu, dia itu bukan orang yang akan dengan mudah berselingkuh dari pasangan mereka. Dia tidak akan pernah berpikir tentang hal itu. Dia hanya datang kemari untuk kabur darimu. Dia tahu bahwa kau akan menemukan dia di tempat biasanya. Kami berdua hanya... sudahlah, lupakan saja. Tuan Adam, kau adalah sahabat dari Dom, kakakku. Kau tahu aku tidak akan pernah mengkhianati mu, bukan. Aku tidak tahu jika aku harus menjadi orang pertama yang memberitahukan mu, tapi aku berpikir jika aku harus menunggunya untuk mengatakan hal itu. Dia tidak akan pernah melakukannya. Tuan Adam, dia mencintaimu."


Kata yang diucapkan Endra membuat ekspresi di wajah Adam berubah sesaat, ia melihat kearah Endra.


"Benar Tuan Adam. Dia memberitahu kepada kami semua, dia jatuh cinta kepadamu tapi dia masih tidak percaya kepadamu sepenuhnya. Dia hanya butuh perhatian mu, percaya padaku. Semuanya terlihat seperti kaulah orang yang benar-benar berjuang dengan hubungan kalian, tapi itu semua tidak benar. Ketika cinta itu datang dialah orang yang paling mencintai dan menyayangi. Dia mencintaimu sepenuh hatinya. Kau hanya perlu untuk menunjukkan semua perasaanmu padanya. Satu kali dia percaya padamu, dan dia akan mulai menunjukkan perasaannya padamu. Percaya padaku Tuan Adam. Kau adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Orang lain berpikir bahwa dialah orang yang paling beruntung dalam hubungan kalian. Kau sering mengganggu nya, kau juga mencintainya begitu dalam. Tapi percaya padaku, hari itu akan segera datang. Ketika kau bisa menyadari bahwa kau lah orang yang paling beruntung. Iya Tuan Adam, Claudia Arista adalah seorang pasangan yang paling didambakan oleh semua orang.


Aku tahu dia terkadang begitu tidak masuk akal. Jika kau adalah orang lain, aku akan memberikan mu saran untuk menceraikan dirinya dan biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Karena tidak semua orang atau siapapun itu bisa begitu teguh untuk memilih sebuah hati yang pernah terluka untuk dicintai dan dihargai. Tapi kau adalah Tuan Adam Wijaya dan aku sudah pernah melihat bagaimana kau bisa merubah dirinya menjadi lebih baik dalam waktu 3 bulan ini. Kau adalah orang yang paling tepat untuk nya. Kau memiliki keteguhan hati dan kesabaran untuk menghadapi dirinya. Kau mengambil inisiatif untuk membuatnya menjadi lebih disiplin dan berusaha untuk membuat masa depan yang lebih cerah untuknya. Dan itulah kenapa aku memberitahukan padamu.


Aku memohon padamu, tolong bersabarlah sedikit lagi dan tolong buat dia percaya padamu. Dia membutuhkan seorang pria, pria seperti dirimu. Aku tidak dapat mempercayai orang lain untuk bersama dengannya selain dirimu. Tolong, jika dia memang memiliki rasa ketidak percayaan pada Megan, lakukan sesuatu Tuan Adam. Lakukan sesuatu untuk membuat dirinya mengerti akan situasi yang terjadi dan apa yang sebenarnya menjadi prioritas mu."


"Dia benar Dam...."


Naomi datang dari arah belakang, dia juga ikut bersama Adam ketika datang ke hotel ini. Tapi langkahnya harus berhenti di tempat parkir karena sebuah panggilan penting.


"Apa kau ingat? Aku pernah mengatakan semua hal ini padamu juga. Dia tahu bagaimana caranya untuk mencintai dan dia adalah jenis orang yang mencintai dengan sepenuh hati. Semua rasa cemburu dan ketidakpercayaan diri yang dia miliki, adalah bukti bahwa dia jatuh cinta padamu. Lakukan sesuatu agar kau bisa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Jika Claudia Arista mulai mempercayai dirimu, dan kemudian menunjukkan rasa cintanya padamu. Aku bukannya mau lebih-lebih kan semuanya." Naomi juga mulai mengatakan semuanya.


Setelah beberapa lama terdiam Adam lalu mulai berbicara.


"Kenapa kalian berdua mengajari aku tentang istriku sendiri? Apakah kalian tidak berpikir bahwa aku tahu semua ini? Apa aku ini terlihat begitu naif pada kalian semua? Apakah aku memberi tahu kalian bahwa aku percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, atau apapun yang gadis nakal itu katakan padaku. Apa kalian tidak bisa berpikir bahwa aku bisa melihat cinta yang dia berikan untukku juga? Dia tinggal bersamaku, aku bisa melihat itu semua. Aku tahu dia dengan baik. Aku tahu dia bisa menjadi begitu nakal dan menjadi gadis yang begitu pemarah. Tapi dia tidak akan pernah selingkuh dariku. Kenapa kalian semua tidak bisa berpikir bahwa aku sangat mencintainya. Aku ini seorang pebisnis. Aku tidak akan pernah mencintai seseorang, jika aku tahu bahwa orang itu tidak pantas untuk dicintai. Aku tahu kesayanganku itu adalah orang yang begitu murni dibanding yang lainnya dan itulah kenapa aku sangat mencintainya. Aku memang sering mengganggu nya karena dia memang pantas untuk diganggu."


Naomi dan Endra terdiam.


"Kalian berdua jangan khawatir, aku akan membuatnya percaya kepadaku. Aku bertaruh dia akan sangat percaya kepadaku. Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Aku tidak akan pernah melepaskan dia jauh dari hidupku. Tidak perduli bagaimana keras kepala dan kekanakan dirinya." Ucap Adam.


Naomi dan Endra mengangguk.


"Naomi, sekarang kau jelaskan semua masalah yang tengah kita hadapi kepada Endra. Dia bisa melindungi Claudia juga. Dia adalah orang yang lebih sering bersama Claudia. Dan Endra, dengarkan Naomi dengan baik dan jangan menjadi panik. Aku sudah mengatasi semuanya, jadi kau hanya perlu mengingatnya dalam pikiranmu." Ucap Adam sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


Ketika masuk ke dalam kamar itu, gadis yang ada di atas tempat tidur itu ternyata sudah tidur dengan dengan nyaman memeluk bantal.


'Siapa yang mengatakan bahwa gadis ini bisa membuat orang lain mengejar dirinya.'


"Ya Tuhan gadis ini, benar-benar..."


Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu mengangkat tubuh Claudia, menggendongnya pulang ke rumah.


******************


Hari berikutnya saat Claudia bangun, dia menemukan dirinya sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Dia tahu benar bahwa siapa yang sudah membawanya ke kamar ini. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian turun ke lantai bawah dan mendapati Megan tengah sarapan. Gadis itu tersenyum ke arahnya.


"Selamat pagi Tante Claudia, ayo kesini sarapan dengan ku." Ucap Megan.


'Hah, sekarang dia mencoba untuk menawarkan sarapan di rumahku sendiri.' Claudia menggerutu kesal dalam hati.


"Nona Muda, anda sudah bangun. Ayo silahkan duduk. Koki sudah membuat makanan favorit anda, duduklah. Kami akan menyuapi anda." Ucap Nila yang datang dari dalam dapur.


"Makanan favoritku? Yang benar saja. Ini bukan makanan favoritku. Ini adalah makanan yang selalu monster itu minta untuk aku makan." Claudia berucap dengan nada yang terdengar begitu marah.


Nila mencoba menahan tawanya.


"Tuan mengatakan bahwa anda sudah kehilangan berat badan anda selama empat hari ini. Jadi anda harus makan lebih banyak." Balas Nila.


Claudia memutar mata malas sembari duduk di kursinya dengan kesal.


Nila mulai menyuapi Claudia ketika....


"Nona Muda, yang mana yang lebih cocok untuk halaman belakang?" Tukang kebun datang dan bertanya kepada Claudia dengan memegang dua buah pot di tangannya, satu mawar merah dan satu lagi mawar warna kuning.


Claudia tampak bingung.


"Bagaimana aku bisa memberitahu mu? Kau lah tukang kebunnya." Ucap Claudia dengan makanan yang penuh dalam mulutnya.


"Tapi anda adalah ratu di rumah ini. Pilihan anda akan menjadi yang terbaik. Saya bingung dimana harus meletakkan semua ini. Tolong bantu saya Nona Muda."


Claudia semakin tampak bingung, dia terlihat berpikir beberapa saat. Tapi tetap tidak bisa memutuskan apapun.


"Emmmmm... Yang berwarna merah taruh di halaman belakang dan yang berwarna kuring disamping kolam." Ucap Claudia tanpa berpikir lebih dulu.


Tukang kebun tampak sangat senang dan mengangguk kan kepalanya sebelum keluar rumah.


Kemudian beberapa menit berikutnya seorang pelayan datang dan membungkuk di hadapan Claudia.


"Selamat pagi Nona Muda, saya mendapat 2 buah jas ini dari kamar Tuan Adam. Saya tidak mengerti yang mana yang harus dicuci dari kedua jas ini. Keduanya sama-sama tergeletak di atas tempat tidur, jadi saya bingung."

__ADS_1


Claudia semakin bingung dan tidak bisa berkata-kata.


"Kenapa kau berikan kepadaku? Hah, baiklah. Aku tidak pernah melihat dia mengenakan pakaian yang ini. Aku rasa ini tidak perlu dicuci. Jadi aku pikir ini sudah dicuci. Tapi, ya aku melihatnya menggunakan celana ini kemarin. Mungkin ya ini harus dicuci tapi aku tidak yakin. Kenapa kau tidak bertanya kepadanya?" Balas Claudia dengan wajahnya yang terlihat benar-benar tampak bingung.


"Saya sudah bertanya kepada Tuan sejak pagi tadi. Tapi Tuan sedang marah-marah. Tuan bahkan tidak sarapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tuan melewati sarapan pagi ini. Saya sangat takut untuk berbicara dengan Tuan." Ucap pelayan itu menjelaskan kepada Claudia lalu membungkuk sebelum pergi.


"Apa yang terjadi dengan rumah ini, hari ini. Kenapa semua orang begitu aneh?" Claudia mulai berpikir.


Ketika dia mengingat kenapa Adam bisa marah, dia memutar matanya malas dan mulai terdiam.


Nila menggelengkan kepalanya tersenyum manis ke arah Claudia.


"Nona Muda, anda adalah bos dari rumah ini mereka harus bertanya semuanya pada Anda. Semua ini adalah tugas Nona. Kami tidak pernah bertanya kepada Nona, karena Nona masih baru di rumah ini. Tapi Nona harus mulai mengambil tanggung jawab ini. Nona harus mulai belajar tentang semua ini perlahan. Saya juga akan menanyakan kepada Anda, apa yang harus dimasak oleh koki. Semua orang di rumah ini akan bertanya kepada anda tentang tugas mereka. Rumah ini sejak dulu tidak memiliki ratu di dalamnya. Para pelayan juga memang sedikit malas, dan tidak bekerja dengan baik. Nona harus mulai merubah semuanya. Mulailah bersikap sesuai posisi Anda, Nona. Rumah ini membutuhkan seorang Ratu, seorang bos." Ucap Nila sebelum kembali menyuapi Claudia dengan suapan terakhirnya.


Claudia mendengar semuanya dengan wajah yang aneh. Dia masih memproses semua yang di ucapkan dan dikatakan Nila dalam kepalanya, lalu dia mendapat sebuah panggilan telepon.


"Erik?" Ucap Claudia sebelum mengangkat panggilan telepon itu.


"Apa....." Claudia tidak dapat mengatakan apapun karena ucapannya dihentikan oleh suara Erik yang berteriak.


"Nona Muda. Oh, Nona Muda yang baik hati. Tolong selamatkan kami, kami akan mati hari ini, tolong." Ucap pria dari seberang telepon yang terdengar begitu panik.


"Apa maksudmu Erik? Apa yang terjadi? Kenapa kau terdengar begitu panik?"


"Nona Muda, bos hari ini sangat-sangat marah sejak pagi tadi. Dia memberikan tugas yang sangat berat pada kami. Dia baru saja memecat 6 orang pagi ini secara berturut-turut. Dia berteriak pada semua orang dan marah kepada mereka. Dia tidak bisa menerima kesalahan sedikitpun yang kami buat. Tolong bantu kami sekarang juga. Dia sekarang berada di ruang meeting berteriak dan memarahi semua orang di tim penjualan. Selamatkan kami Nona Muda."


"Tapi apa yang bisa aku lakukan? Apakah aku ini seorang Wonder women, atau cat women." Claudia berteriak pada Erik.


"Anda bisa, hanya anda yang bisa menolong kami. Tolong telepon bos sekali saja. Bicara padanya, katakan sesuatu padanya. Dia akan menjadi tenang."


Claudia tampak terkejut dengan mulutnya yang menganga dan matanya yang membelalak sempurna.


"Omong kosong, apa yang bisa aku katakan padanya. Bagaimana mungkin jika aku meneleponnya, dia bisa menjadi tenang. Jika dia memang tengah marah, dia juga pasti akan berteriak kepadaku." Ucap Claudia.


"Hah, apakah anda bercanda. Nona Muda. Tuan... Tuan Adam, akan berteriak kepada anda. Anda.... hah, tidak akan pernah. Tolong Nona Muda, telpon dia dan katakan sesuatu. Sesuatu yang manis atau penuh cinta atau jika tidak bertengkar lah dengannya apapun itu Nona Muda tol....."


"ERIK....." Ucapan Erik terhenti karena suara teriakan yang begitu keras.


Mata Claudia juga membelalak terkejut mendengar suara teriakan itu, dia menelan ludahnya.


"Di dalam sedang ada meeting dan kau disini tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon. Beraninya kau, apakah kau...."


Kali ini Erik yang menyela ucapan Adam. Dia mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar ponselnya ke wajah Adam.


Adam terdiam sesaat, tapi kemudian dia menyadari bahwa pada layar ponsel Erik terdapat nama Nyonya Adam. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia mengambil ponsel itu dan menaruhnya di telinganya.


"Iya, ada apa?" Tanya Adam.


Orang-orang yang ada di ruangan meeting dan orang lainnya yang melihat itu tampak terkejut seperti melihat hantu, kecuali Erik. Perubahan drastis suara Adam adalah hal yang membuat semua orang terkejut, sangat terkejut.


Claudia juga sangat takut tapi lebih kesal sejak pagi tadi. Tapi dia dapat mengontrol dirinya.


"Aah mmmmm, aku tengah berpikir. Bisakah aku membawakan makan siang untukmu?" Ucap Claudia tanpa menyadari apa yang dia katakan.


"Apakah kau mencoba untuk meminta maaf?" Tanya Adam.


Claudia berteriak kesal. "Meminta maaf, aku... hah... Tidak, tidak akan pernah, bye."


"Kau, jangan berani untuk memutuskan panggilan..." Adam mencoba untuk memperingatkan Claudia tapi panggilan itu sudah terputus dia menatap kearah Erik yang tampak takut.


Sekarang rencananya untuk membuat Tuan Adam menjadi luluh, sepertinya tidak berjalan mulus.


'Ya Tuhan, Nyonya Adam. Kau seharusnya mengatakan sesuatu yang romantis atau hal yang baik.'


Erik berdoa kepada Tuhan ketika Adam menatapnya dengan tajam.


Adam mengembalikan ponsel Erik.


"Minta Nona Muda mu, untuk menelpon ku kembali di ponsel ku. Sama seperti yang kau katakan kepadanya tadi. Kau ingin menjadi mata-mata baginya, maka jadilah. Minta dia untuk menelpon, jika dia tidak menelpon aku, aku akan memecat mu dan semua orang itu." Ucap Adam dengan geram dan menunjuk ke arah semua orang yang ada di ruangan meeting.


Adam lalu keluar dari ruangan itu menuju ruangannya sendiri.


Sementara Claudia menaruh teleponnya di meja dan mengumpat kesal.


"Hah, bagaimana pria tua itu berpikir bahwa aku akan meminta maaf padanya. Hmmm harapanmu terlalu tinggi." Claudia terus menggerutu.


"Wow Erik, siapa itu tadi? Siapa yang kau telepon hingga membuat Tuan Adam semakin marah? Siapa orang itu?" Para karyawan bertanya kepada Erik.

__ADS_1


Dengan senyum penuh kebanggaan di wajahnya, Erik berkata, "itu adalah bos dari bos kita. Jangan khawatir, ini masalah pribadi. Pertama-tama, biarkan aku menelpon dia lebih dulu atau kita semua akan dipecat. Tapi tentu saja dia akan menyelamatkan aku, aku adalah favoritnya tapi kalian semua akan dibuang begitu saja." Ucap Erik sebelum menelpon Claudia lagi.


Setelah menghabiskan waktu 5 menit untuk memohon kepada Claudia, Claudia akhirnya setuju.


"Sekarang tunggu dan lihat saja Tuan Adam akan menghentikan semua kekesalan nya pada kita semua." Ucap Erik memberi tahu semua orang dengan senyuman yang bangga dari wajahnya.


Adam sedang ada di ruangannya menatap ponselnya, menunggu sebuah panggilan masuk. Akhirnya layar ponselnya menyala dengan nama 'Istriku Sayang' tertera di layarnya.


Sebuah senyuman mengembang di wajah Adam. Dia lalu mengangkat panggilan itu.


"Pria tua, apa sebenarnya masalahmu? Kenapa kau begitu sensitif?" Teriak Claudia pada Adam.


"Kau tahu alasannya dengan baik." Jawab Adam.


Claudia menjadi begitu marah.


"Baik, dasar kau bajingan. Aku minta maaf, aku akan datang membawakan makan siang mu. Jadi tolong, lepaskan semua karyawan di perusahaan. Semua orang yang kau pecat, batalkan pemecatan mereka saat aku tiba nanti. Aku akan memasakkan sup kesukaanmu, oke yang mulia." Ucap Claudia menggoda Adam.


Adam berusaha keras untuk menahan amarah nya.


"Baiklah, seperti yang kau katakan yang mulia." Balas Adam yang juga menggoda Claudia balik, lalu dia mendengar suara panggilan itu dimatikan.


Adam menahan senyuman di wajahnya dan dia kembali ke ruangan meeting sementara Claudia melempar ponselnya ke atas meja dengan wajah yang kesal.


"Aaaarggghhhh... Nila ayo ikut denganku ke dapur, panggil koki. Aku sangat membenci pria ini." Ucap Claudia sebelum beranjak pergi ke dapur.


Nila dengan diam mengikutinya dan tersenyum.


Megan melihat semua itu, mendengar semua itu. Setelah Claudia sudah tidak lagi terlihat, dia akhirnya menghela napas panjang dan memutar matanya dengan malas.


"Dia begitu penuh dengan arogansi di dalam dirinya. Dia hanya seorang gadis berandalan, kenapa semua orang terus menyukai dia. Apakah dia itu seorang ratu atau semacamnya. Om Adam sudah berubah begitu banyak. Dia tidak pernah berbicara padaku dengan nada yang dia gunakan seperti hari itu. Ketika dia datang untuk meminta parfum itu kembali. Apa yang sudah dilakukan oleh berandalan ini yang tidak bisa aku lakukan. Kenapa dia begitu menjengkelkan, selalu bertingkah seperti dia yang mengatur dunia ini. Dan kita semua orang lain harus mengikuti apa yang dia katakan. Kenapa Om Adam mau melakukan semua yang dia katakan."


"Karena dia adalah Ratu nya." Ucap Naomi dari arah belakang berjalan mendekati meja makan."Ini adalah kehidupan pribadi Adam. Claudia sendiri adalah masalah pribadi Adam, jadi kita biarkan saja Adam mengatasi masalahnya sendiri. Bukan begitu?" Ucap Naomi.


Megan lalu terdiam setelah itu...


Bersambung....


Claudia adalah masalah pribadi Adam. Waaah, aku sangat suka apa yang dikatakan Naomi.


Aku menunggu komentar dari kalian.


Episode berikutnya, Adam akan begitu nakal pada Claudia.


*Oh ya, satu hal lagi. Aku punya novel yang baru aja aku publish. Kali ini temanya fiksi modern, tentang seorang pria yang jatuh cinta pada gadis indigo.


Ryuga Oliver, berondong berusia 20 tahun yang jatuh hati pada Amanda Yumi, 28 tahun, seorang dokter anak. Memiliki kemampuan meramal masa depan.



Nih, aku kasih sedikit spoiler tentang ceritanya.....


**********************


Seorang gadis yang membawa payung hitam itu masuk kedalam toko dan setelah beberapa menit dia keluar. Kemudian dia melangkah dan membuka payungnya dan Ryu tidak dapat mempercayai apa yang terjadi selanjutnya.


Langit biru yang begitu cerah berubah menjadi hitam dan petir mulai menggelegar dan hujan mulai turun dengan sangat deras saat gadis itu mulai berjalan.


'Apakah dia seorang penyihir? Ataukah dia seorang pawang hujan? Atau seorang malaikat?'


Rasa penasaran Ryu mendorongnya untuk segera berlari keluar dan bertanya kepada gadis itu semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.


"Hai Nona payung hitam." Teriak Ryu tanpa berpikir dan membuat dirinya basah karena hujan lagi.


"Apakah memang hobi mu berlari basah-basahan di tengah hujan?" Tanya gadis itu segera saat dia melihat kedatangan Ryu.


"Bolehkah aku mengetahui siapa namamu?" Tanya Ryu tanpa pikir panjang takut jika gadis itu akan kembali menghilang.


Gadis itu tersenyum dan terdiam sesaat sebelum memberitahu Ryu


"Amanda Yumi, hanya seorang manusia biasa. Bukan penyihir jahat yang membawa payung hitam."


'Apakah dia membaca pikiranku?'


"Aku Ryuga Oliver, manusia biasa juga dan sama sekali bukan orang aneh. Tolong berteman lah denganku."


Kuy coba baca ya, siapa tahu kalian suka....

__ADS_1


__ADS_2