
Toko itu mulai sunyi dan kosong lagi. Kemudian setelah itu pria itu menatap Claudia yang ada di bawahnya. Sama seperti Claudia, dia juga tidak bisa berhenti menatap Claudia. Pria itu melihat seluruh wajah Claudia dengan matanya yang menghitam. Dan Claudia sendiri melihat pria itu dengan matanya yang melebar. Claudia menelan ludah sebelum bicara,
"Hai Tuan Tampan, apakah kau akan mencium ku sekarang?"
Ucapan Claudia membuat mata pria itu menyipit karena heran.
"Tidak, tidak, maksudku... itulah yang terjadi di drama sinetron. Jadi aku pikir...." Claudia berusaha menjelaskan.
"Bagaimana jika aku melakukannya?" Tanya pria itu.
Claudia langsung merona, dia benar-benar terlihat gugup.
"Berapa usiamu tanya pria itu?"
Mereka masih di posisi yang sama.
"Aku 16 tahun, dan kamu?" Tanya Claudia.
Pria itu mengusap pipi Claudia dengan ibu jarinya lalu menjawab,
"Aku 28 tahun."
Claudia merasa semakin malu, dia lalu menelan ludah nya.
Dan kemudian....
Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Claudia dan langsung mencium pipi kiri Claudia. Waktu terasa berhenti beberapa detik, Claudia semakin gugup sekarang napasnya bahkan terasa berat.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan hidupku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, seseorang memikirkan tentang keselamatan ku. Bahkan tanpa mengetahui identitas asli ku, kau mencoba untuk menyelamatkan aku."
Claudia dapat merasakan suara pria itu terdengar kejam.
Pria itu lalu mencium pipi kanan Claudia sama seperti yang pertama kali dia lakukan, lalu berucap,
"Terima kasih karena sudah memperlakukan aku seperti orang normal lainnya."
Claudia tidak mengatakan apapun, dia terus saja menelan ludah. Pria itu lalu menatap Claudia. Mereka berdua sangat dekat, dan hanya berjarak beberapa inci saja dari wajah mereka masing-masing. Hidung mereka bahkan sudah bersentuhan. Claudia tidak menolak, dia merasa suka seperti ini. Apapun yang akan terjadi selanjutnya, seperti episode di sebuah drama favoritnya.
Pria itu lalu menutup matanya bersamaan dengan Claudia lalu bibir mereka bersatu. Pria asing itu menciumnya. Claudia tidak menciumnya balik, karena dia tidak tahu bagaimana caranya. Jadi dia hanya diam dan tidak melakukan apapun, sementara pria asing itu sangat hebat dalam mencium dirinya.
Pria itu menarik lengan Claudia dan menaruh nya di lehernya sendiri. Lalu dia menarik tubuh Claudia dari lantai lalu mendekatkan tubuhnya dan membuat Claudia duduk di pangkuan nya tanpa melepaskan ciuman itu.
Satu tangan pria itu berada di dada Claudia dan tangan yang lainnya meraba seluruh tubuh Claudia yang begitu terasa di seluruh pakaian yang dikenakan Claudia.
Claudia masih sangat muda dan dia juga tidak memiliki pengalaman. Dia membiarkan suaranya yang mendesah keluar begitu saja dari dalam tenggorokannya. Hal itu membuat pria itu juga mengerang. Dia lalu melepaskan bibir Claudia. Saat itu Claudia langsung tampak begitu malu.
Posisi mereka tetap seperti itu dengan kening keduanya yang menempel. Claudia bernapas begitu berat, dia berusaha mengatur napasnya lagi.
Pria itu mencium leher Claudia tepat di bawah telinganya.
"Aku sudah langsung menyukaimu." Ucap pria itu.
Claudia langsung memerah seperti tomat. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri karena malu.
Pria itu mulai bicara lagi lalu mencium seluruh leher Claudia sambil berbicara,
"Aku punya pekerjaan penting yang harus aku selesaikan. Kau akan dibawa ke tempat yang aman dari sini sekarang dan pergilah ke arah barat sama seperti yang sudah kau lakukan tadi, hmmmmm...." Ucap pria itu.
Claudia mengangkat kepalanya karena merasa bahwa pria itu tengah mencium seluruh lehernya.
Dia pun menjawab, "hmmmmm..."
Pria itu sekarang kembali memeluk Claudia dengan erat dan mencium bibirnya lagi.
"Aku akan menemui mu lagi nanti. Aku pasti akan menemuimu. Berjanjilah padaku bahwa kau akan menjadi milikku saat aku menemukanmu." Ucap pria itu.
Claudia tidak menjawab, dia benar-benar hilang akal. Bahkan dia bisa saja tidak mendengarkan apa yang diucapkan pria itu. Dia tengah dicium oleh seorang pria asing yang tampan. Untuk kedua kalinya, dia tidak mendengar apapun yang dikatakan pria itu. Tapi hanya menjawab dengan berdehem saja.
Pria itu kembali mencium Claudia beberapa saat. Kemudian saat akan berpisah, dia memeluk Claudia sekali lagi, sebelum membiarkan Claudia pergi.
**************
Claudia kembali ke rumah malam itu dengan wajah yang memerah dan jantungnya yang berdegup kencang. Claudia merasa ada kupu-kupu yang menari di dalam perutnya. Dia pun pergi untuk naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Ma, dia adalah pasangan yang ditakdirkan untukku. Aku menyukai dia. Dia sangat tampan dan baik. Apakah aku melakukan kesalahan membiarkan dia mencium ku?" Ucap Claudia pada foto mama kesayangannya yang bergantung di dinding kamarnya.
__ADS_1
Foto Velicia bergantung di dinding kamar Claudia dengan menampilkan senyumnya yang indah.
Claudia mengusap figura sang Mama.
"Aku sangat merindukanmu Ma. Aku mendapatkan ciuman pertamaku dari orang asing. Jadi aku ingin memberitahukan semuanya ini kepada Mama saja." Claudia mulai menangis.
Namun keesokan paginya saat Claudia turun ke lantai bawah untuk sarapan, sang papa Andreas tengah menonton televisi. Papa nya menyapa dirinya, Claudia hanya mengangguk dan beralih pergi ke dapur mengambil sarapannya untuk yang dibawa kembali ke kamarnya. Tapi saat dia kembali ke tangga, sebuah wajah yang sangat familiar terlihat di layar televisi yang membuat Claudia kembali dan fokus melihat televisi.
'Itu benar, itu adalah dia. Pria asing yang sudah mencium ku kemarin.'
Berita menginformasikan bahwa seorang mafia terbesar di negara ini, Tuan Sean telah menyerahkan diri kantor polisi pagi tadi. Sebenarnya orangnya sudah ditangkap oleh polisi lebih dulu dan ditahan kemarin saat tengah malam. Kemudian pria itu pergi ke kantor polisi sendirian untuk menyerahkan dirinya sendiri.
Dia mengatakan bahwa dia ingin membantu polisi untuk menemukan informasi yang berkaitan dengan mafia tapi hal itu dilakukannya untuk meringankan hukuman yang akan diberikan kepadanya.
Claudia begitu terkejut dan tidak dapat berbicara. Dia bahkan tidak dapat bergerak sedikitpun. Lalu dia berlari dengan kencang ke arah kamarnya menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dan mulai menangis dengan keras.
"Ma, aku sangat bodoh. Dia adalah seorang kriminal. Dia adalah seorang mafia. Aku pikir, aku sudah menyelamatkan dia."
Claudia terus menangis, sesenggukan dan mengusap air matanya dikedua pipinya yang merah. Claudia mengusap bibirnya dengan kasar dengan menggunakan sweater yang digunakannya.
"Dia mencium ku, kriminal itu, dia.... arrrrggghhhh...."
Claudia terus mengusap bibirnya berharap bahwa ciuman itu akan terhapus dari bibirnya tapi tetap saja hal itu tidak bisa membuat Claudia merasa puas.
Claudia berlari kearah kamar mandi dan berdiri di bawah shower. Dia merasa tubuhnya sangat kotor.
'Bagaimana aku bisa begitu bodoh. Orang asing itu adalah mafia dan seorang kriminal. Aku membiarkan pria itu memeluk tubuhku, aku bahkan menyukainya.'
Claudia sangat membenci dirinya sendiri akan semua itu.
Claudia menghabiskan dua sampai tiga hari berikutnya tanya di dalam kamar. Tapi kemudian dia melupakan tentang hari itu insiden itu dan pria itu.
Setelah itu di tahun yang sama, dia juga mulai berhubungan dengan Calvin.
Sekarang, Claudia mengingat kenapa nama papa Megan terdengar begitu familiar di telinganya. Claudia mendengar berita itu sendiri pagi itu, bahwa papa Megan lah orang yang sebenarnya menangkap orang pertama dari grup mafia itu. Kemudian timnya datang dan menangkap mafia itu sampai semuanya ditangkap.
Claudia masih menyesali kejadian hari itu, dia membenci dirinya sendiri tentang insiden itu. Tiba-tiba perasaan bersalah yang aneh itu membuat dia merindukan suaminya. Dia lalu menelpon suaminya.
"Hai sayang..." Ucap Adam.
"Sayang, apa aku bisa pergi ke kantormu sekarang?" Tanya Claudia.
Lalu dia ingin melihat suaminya, memeluk suaminya dengan erat. Dia hanya ingin suaminya berada disamping dirinya begitu dekat untuk menghilangkan semua perasaan bersalah pada dirinya yang terjadi di masa lalu.
"Sekarang? Baiklah, datang saja." Balas Adam.
*************
Hari itu, Claudia dan Adam pulang lebih cepat. Adam tidak ingin terlalu lama berada di kantor. Jadi dia pulang lebih cepat. Mereka pulang ke rumah dan langsung makan malam. Terjaga sepanjang malam, mengobrol dan bermesraan.
Adam tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi malam ini. Karena sebelumnya dia sudah berjanji kepada istrinya. Tapi Claudia sendiri yang memulai cuman itu. Dia sendiri lah yang menarik tangan Adam untuk meraba seluruh tubuhnya. Adam tidak merasa ada yang aneh, dia tetap menyukai itu.
***********
Sudah tiga hari sejak saat itu dan semuanya berjalan dengan baik. Adam dan Claudia menghabiskan waktu mereka seperti pasangan yang sempurna. Dan hari ini adalah hari minggu.
Claudia tengah mencoba untuk memasak makanan favorit Adam yaitu sebuah dessert hari ini untuk makan siang.
Claudia lalu mendapat sebuah panggilan telpon. Dia meminta Nila untuk tetap melihat makanan itu di dalam oven. Kemudian dia pergi untuk mengangkat telepon ketika dia menjawab panggilan telepon yang ada di atas meja itu, dia melihat bahwa itu adalah sebuah panggilan dari Megan.
Claudia memutar mata malas dan mengangkat telepon itu.
"Halo Claudia. Apa kau tahu, di mana aku sekarang?" Tanya Megan dengan suara yang terdengar begitu ceria.
Claudia tidak menjawab apapun, dia kembali memutar matanya dengan malas.
"Tebak saja. Apa kau tahu, suamimu sekarang ada bersamaku. Kami tengah belanja bersama sambil berkencan. Dia bilang bahwa ini adalah kompensasi untukku karena malam itu dia meninggalkan aku. Dia juga minta maaf padaku. Apakah kau membutuhkan sesuatu? Aku bisa meminta padanya untuk membelikan sesuatu untuk mu." Ucap Megan lagi.
Claudia terdiam sesaat dan kemudian tertawa dengan begitu keras.
"Benarkah? Oh ya Tuhan. Kau adalah orang yang sangat sangat penting untuk dirinya. Aku mengerti." Ucap Claudia dengan suara yang mengejek.
"Ha ha ha ha, kau tidak percaya padaku bukan? Baiklah, cek saja media sosial. Aku sudah memposting foto selfie kami berdua yang sedang berada di mall." Balas Megan.
"Jadi, kau sebenarnya mencoba untuk membuktikan semuanya ha? Tapi kenapa kau berpikir bahwa aku harus tahu di mana suamiku berada hanya dengan melihat postingan mu. Apakah kau berpikir dia memperlakukan aku sama seperti dia memperlakukan dirimu? Bahwa dia akan meninggalkan aku sendirian menunggu dirinya dan kemudian aku harus tahu dimana dirinya berada dengan seseorang hanya melalui internet.
__ADS_1
Kau seharusnya berterima kasih kepada ku. Akulah orang yang memaksa dia untuk pergi berbelanja bersamamu. Dia sebenarnya bisa saja marah kepadaku, karena sudah merusak rencananya yang ingin berdiam diri di rumah, bersantai di hari minggu dan bercinta sepanjang hari denganku. Aku lalu mengatakan kepadanya, aku akan membiarkan dia menikmati tubuhku sesuai dengan yang dia inginkan malam nanti. Oh ya Tuhan, kau tidak tahu bagaimana marahnya dia kepadaku karena memintanya untuk pergi bersamamu." Ucap Claudia.
Dengan suara napas yang terdengar begitu berat dari sambungan telepon di seberang sana. Claudia dapat menebak dengan mudah, bahwa gadis yang menjadi lawan bicaranya itu tengah marah besar. Claudia tersenyum dan melanjutkan bicaranya.
"Lagi pula, kau itu hanya sebuah tanggung jawab dari suamiku. Jadi, untuk menjadi istri yang baik bagi suamiku, aku harus membantunya dengan tugasnya bukan. Aku tidak bisa membiarkan orang lain berpikir, bahwa suamiku gagal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk membuat dirimu selalu bahagia. Itulah kenapa aku membiarkan dia pergi bersamamu dan tentang apa yang aku inginkan, jangan khawatir. Dia sudah memberitahuku apa yang ingin dia belikan untuk ku. Lihat saja di sosial medianya, hmmmm. Bye."
Claudia lalu memutuskan sambungan telepon dengan wajahnya yang terlihat mengejek.
Di waktu yang bersamaan, Megan langsung melihat akun sosial media milik Adam. Dan apa yang dikatakan Claudia, memang benar. Adam sudah memposting sebuah gambar dua buah baju tidur. Satu berwarna biru navy dan satunya berwarna hijau.
Caption: 'Dia akan terlihat seksi dengan pakaian ini, bukan begitu? Menurut kalian, mana yang seharusnya aku beli untuknya? Jika dia tidak menelpon aku dalam waktu 10 menit setelah melihat postingan ku ini. Aku akan membeli keduanya.'
Megan memutar mata malas, dia terlihat begitu marah. Sementara di sisi lain Adam tengah menerima sebuah panggilan telepon.
"Halo sayang."
Para penjaga toko saling melihat satu sama lain. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka melihat Adam Wijaya tersenyum dan berbicara dengan lembut kepada seseorang. Seluruh negeri tahu sekarang bahwa Adam sudah menikah dan dia benar-benar mencintai istrinya. Tapi orang juga tetap begitu terkejut menyaksikan Adam untuk pertama kalinya dengan mata mereka sendiri. Mereka melihat Adam yang terlihat begitu mencintai istrinya dengan mata kepala mereka sendiri.
"Sayang, kau bilang, kau akan membelikan ku sebuah piyama tidur yang menggemaskan. Lalu apa itu?" Tanya Claudia.
Adam tertawa kecil.
"Tapi sayang, ini juga pakaian tidur. Bahannya terbuat dari sutra dan warnanya sedikit, khheemm. Tapi beritahu aku, mana yang paling kau suka?" Tanya Adam.
"Keduanya sangat indah, tapi aku..."
"Baiklah, kalau begitu bungkus keduanya." Ucap Adam kepada sales itu untuk membungkus kan kedua pakaian itu.
"Hah, Adam. Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku. Kau tidak membiarkan aku untuk memilih salah satunya." Protes Claudia.
"Sayang, kau bilang bahwa keduanya sangat indah." Ucap Adam.
"Kau tahu Adam, kau sebenarnya sudah memilih untuk membeli keduanya. Dan kau hanya berpura-pura untuk menanyakan kepada ku. Kau benar-benar pembohong. Kembalilah ke rumah dengan cepat. Aku akan memberikan sekotak penuh cabai pedas di tubuhmu hari ini." Ucap Claudia berteriak.
"Tidak masalah. Aku akan menunggu dessert manisnya. Jadi, itu akan membantuku untuk mengurangi rasa pedas dari cabai itu. Simpel bukan." Balas Adam.
************
Malam itu setelah selesai bercinta, pasangan itu berbaring di tempat tidur dalam pelukan masing-masing. Adam masih memeluk Claudia seperti tengah memeluk boneka beruang.
"Sayang, kapan aku akan pergi New York? Apakah setelah hasil ujian ki keluar?" Tanya Claudia.
Wajah Adam seketika langsung berubah. Tapi dia kemudian tersenyum kearah Claudia dan berkata,
"Iya setelah hasil ujian mu keluar, kau akan pergi sendiri dan aku sudah menyiapkan semuanya untuk mu disana. Sebuah rumah mungil yang indah, seperti yang kau suka. Nila akan pergi bersamamu. Jadi kau tidak akan merasa sendirian di sana. Aku juga sudah mengatur seseorang yang berpengalaman di sana sebagai sopir mu. Dia akan membawamu ke manapun kau ingin pergi."
Claudia tetap terdiam menatap suaminya dengan wajah datar.
"Ku mohon sayang, jangan katakan bahwa kau tidak mau menerima semua ini. Jika kau tidak mau menerima semua ini, aku akan merasa begitu khawatir di sini. Kau tahu aku bukan?" Ucap Adam lagi.
Claudia menghela napas sebelum menjawab.
"Baiklah, aku tidak akan menolak apapun. Membiarkan Nila pergi bersama ku adalah hal yang sangat baik. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya." Ucap Claudia seraya mencium bibir suaminya terus-menerus.
Adam pun tertawa akan hal itu.
"Tapi jangan khawatir. Mengenai tender yang aku beritahukan kepadamu waktu itu. Tender itu sangat penting bagiku. Karena itu juga berhubungan dengan mu. Aku akan membuka perusahaan baru, membuka Wijaya Grup di New York City. Yang pertama berhubungan dengan bagian industri. Kemudian kami akan perlahan-lahan mengirimkan seluruh industri kami ke sana. Aku akan berada di sana bersamamu beberapa bulan setelah nya." Ujar Claudia.
Hal itu membuat Claudia terkejut.
"Apa? Benarkah Adam? Kau.... Kenapa kau tidak memberitahu aku apapun..." Ucap Claudia dengan gemas.
Claudia lalu memeluk suaminya dengan erat mendekat ke arahnya kali ini. Claudia memberikan ciuman yang bertubi-tubi kepada Adam.
"Suamiku sayang... Kau yang terbaik. Tapi kenapa harus menunggu beberapa bulan. Kenapa tidak bersamaan denganku?" Claudia bergelayut manja seperti anak kecil.
Adam tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.
"Karena aku punya pekerjaan penting yang harus aku selesaikan disini lebih dulu sayang." Ucap Adam.
Hanya Adam yang tahu kenapa dia mengirim Claudia jauh dari negara ini sendirian. Adam harus menghadapi semuanya yang berhubungan dengan Megan dan hal lainnya di sini di negara ini, hanya untuk mengamankan kehidupan pernikahannya yang bahagia bersama istrinya.
'Dia sudah kembali. Kali ini bukan hanya orang-orangnya saja yang datang. Dia sendiri sudah kembali. Aku tidak bisa membiarkan dirimu berada di negara ini. Tidak akan pernah. Kau adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan dia menang. Pertarungan akan dimulai hanya ketika kau sudah aman di sana, keluar dari jangkauan nya.' pikir Adam.
Bersambung....
__ADS_1