
Hari berikutnya, Adam mengantar Claudia pergi ke kampus. Lalu ia kembali ke kantor. Dia akan kembali ke kampus Claudia saat siang hari nanti. Dan sebelum kembali ke kampus Claudia, Adam harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor.
"Di... Apa kau berencana untuk membolos dari kelasku? Aku memperingatkan mu, awas saja kalau kau sampai berani melakukan itu. Aku akan menggantung mu di pohon secara terbalik jika aku tidak melihat mu berada di kelasku nanti."
Adam terus berbicara sementara Claudia terlihat sibuk dengan hal lainnya. Calvin mengirimi nya pesan sejak tadi pagi. Dia sudah berada di kota ini.
(Sayang aku sudah kembali, aku sangat merindukanmu. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Tunggulah beberapa hari lagi, setelah aku selesai dengan pekerjaanku, aku akan langsung menemui mu. Apakah kau juga merindukan aku sayang?)
Claudia mulai mengetik pesan balasan dengan wajah sebal.
(Siapa bilang aku merindukanmu? Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Tapi jangan pernah mencoba untuk menemui ku. Atau aku tidak akan segan-segan padamu. Kau akan bertanggung jawab atas kematian mu sendiri.)
"Di.. Di... Apakah kau mendengarkan apa yang aku katakan?" Adam bertanya seraya mengguncang pundak Claudia.
"Aah, iya... iya... Aku mendengar mu. Aku akan setuju dengan apapun yang kau katakan."
Sebenarnya Claudia tidak mendengar apa yang Adam katakan. Tapi yang dia tahu, selama dia setuju dengan apapun yang dikatakan Adam, itu akan menjadi jawaban yang benar bagi Adam.
******
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Claudia tengah sibuk membeli es krim seharga lima puluh ribu per cup nya. Mata kuliah terakhirnya tadi begitu rumit. Dia sebenarnya sangat menyukai mata kuliah yang tadi, hingga dia sangat fokus memperhatikan setiap apapun yang disampaikan oleh dosennya.
Claudia merasa begitu lelah, teman-temannya juga masih berada di dalam kelas. Hingga ia memutuskan untuk membeli es krim. Claudia memesan es krim rasa coklat dengan taburan berbagai macam topping di atasnya.
Kurang dari 30 menit es krim yang dipesan Claudia melalui online itu akhirnya datang dan diantar oleh seorang kurir yang berdiri di depan gerbang kampus.
Claudia berjalan kembali ke arah kelasnya dengan menikmati es krim itu dan dia tidak menyadari bahwa dirinya sudah terlambat 5 menit untuk kelas selanjutnya. Tepat saat dia berjalan di tengah lapangan bola basket, seseorang menyapa nya.
"Apakah es krimnya begitu enak Nona Claudia Wijaya?"
Hanya ada beberapa orang di kampus ini yang memanggilnya dengan sebutan Claudia Wijaya. Sebenarnya bukan beberapa, hanya Dekan saja. Claudia melihat kearah asal datangnya suara dan dia melihat sosok itu. Pria yang tidak diharapkan kehadirannya oleh Claudia saat ini, di tempat ini, Adam Wijaya.
Berdiri di seberang lapangan dengan tangan masuk ke dalam saku celana, ia mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan lengan yang panjangnya menutupi hingga sikunya. Mahasiswa lain berdiri di belakang Adam dan melihat kearah Claudia juga secara bersamaan.
Saat itulah Claudia menyadari bahwa saat ini adalah mata kuliah yang diajarkan oleh Adam. Claudia merutuki kebodohannya sendiri. Lalu dengan perlahan ia mengangguk kan kepalanya.
"Wah, kalau begitu kau pergi saja nikmati es krim itu di bawah pohon sana. Kau bisa mengikuti kelas dari sana, dan untuk mahasiswa yang lainnya ikut aku masuk ke dalam kelas." Ucap Adam dengan nada yang terdengar begitu dingin, membuat mahasiswa lainnya langsung mengikutinya.
Claudia merasa dipermalukan. Dia menggertakkan giginya karena kesal. Lalu pergi ke bawah pohon, berdiri dan memilih fokus menikmati es krimnya tanpa melihat kearah kelas.
"Dasar pria arogan. Kau ingin aku menikmati es krim ku? Maka baiklah, aku akan melakukannya Pak Dosen." Ucap Claudia kesal.
Di dalam kelas, Adam mulai mengajarkan para mahasiswa, tetapi matanya tetap fokus pada seorang gadis yang berdiri di bawah pohon di luar kelas itu. Gadis itu terlihat berantakan saat menikmati es krimnya karena ada bekas es krim di ujung hidung dan dagunya.
Claudia akhirnya selesai menikmati es krimnya. Dia bahkan tidak menyadari bagaimana para gadis yang berada di dalam kelas terus menatap suaminya, sementara suaminya sendiri malah terus menatap dirinya.
"Sudah selesai Nona Claudia?" tanya Adam dengan mengeraskan suaranya agar Claudia bisa mendengarnya dengan jelas.
Claudia mengangkat kepalanya lalu membuang cup es krim ke dalam tempat sampah. Ia lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangannya, ia terlihat bingung.
"Karena ini hari pertama, maka aku akan mengakhiri kelas lebih cepat. Tapi, dosen ini belum juga selesai denganmu Nona Claudia. Semuanya, Nona Claudia akan mentraktir kalian semua dengan es krim yang baru saja dia nikmati. Apa kau tidak masalah dengan itu?" Ucap Adam yang membuat seluruh kelas bersorak kegirangan.
Sementara Claudia sendiri membelalakkan mata.
"Apa? Kenapa?" Teriak Claudia masih tidak percaya.
__ADS_1
"Baiklah jika kau tidak mau mentraktir teman-temanmu dengan es krim itu, maka kau dan seluruh mahasiswa lainnya harus memutari lapangan sebanyak 8 kali." Ucap Adam dengan tegas.
Kali ini para mahasiswa yang lainnya yang membelalakkan mata.
"Claudia memutari lapangan ini sebanyak 8 kali sangat tidak masalah bagimu, tapi bagi kami semua. Itu sama saja mencari kematian. Kau tidak boleh melakukan ini semua kepada kami."
"Iya, kau bahkan datang ke kampus dengan menggunakan mobil mewah, kau pasti punya uang. Ayolah Di."
"Di.... Kami semua tidak akan pernah memaafkan mu jika kau sampai membuat kami harus melakukan semua itu karena rasa tidak peduli mu. Kaulah orang yang telat untuk masuk ke kelas. Jadi kau tidak boleh membawa-bawa kami untuk terjerumus atas perbuatan mu. Jadi kau harus bertanggung jawab."
Claudia tampak seperti ingin menangis.
'Lima puluh ribu untuk satu orang mahasiswa, sedangkan di dalam kelas ada 100 orang mahasiswa yang jadinya aku harus menghabiskan uang sebanyak 5 juta. Ya tuhan pria ini...'
Claudia berjalan mendekat kearah Adam. Keduanya saling pandang dengan tatapan yang tidak biasa. Hal itu membuat mahasiswa lainnya tampak kaget.
"Dam... Apa kau marah? Aku kan datang ke kelas tapi hanya telat lima menit saja. Apakah kau akan menghukum ku hanya karena kesalahan kecil ini? Bagaimana aku bisa membeli es krim sebanyak itu. Aku tidak punya uang lima juta cash, kau sendiri yang telah memblokir kartuku." bisik Claudia.
Fendi yang berada di sekitar kampus melihat kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala.
'Kenapa Nona Muda begitu naif. Bos sedang tidak menghukumnya. Alih-alih bos malah memintanya untuk menikmati es krimnya di bawah pohon. Itu hanyalah hukuman palsu untuk menunjukkan kepada mahasiswa lainnya bahwa dia memang dihukum. Bos sendiri nanti yang akan membayar tagihan es krim itu. Ya tuhan, berilah kepintaran kepada Nona Muda ini. Suaminya malah sebenarnya sedang melindunginya siapa yang akan memberitahu gadis muda ini?' pikir Fendi.
Fendi lalu berjalan mendekat kearah Adam.
"Nona Claudia, pengawal ku ini akan membantumu untuk membawa semua es krim itu nanti. Jadi sekarang cepatlah. Aku tidak punya waktu seharian untuk berada di sini." Ucap Adam dengan suara yang keras agar semua orang bisa mendengarnya.
Fendi yang mengerti akhirnya memberikan isyarat kepada Claudia untuk mengikutinya. Tapi Claudia sendiri tidak mengerti akan isyarat itu. Namun dia terus mengikuti Fendi yang berjalan keluar kampus kemudian bergegas pergi dengan mobil dengan tatapan dari semua mahasiswa yang lainnya.
Saat keduanya meninggalkan kampus..
"Nona Muda, Nona Muda kami yang begitu menggemaskan. Jangan khawatir, Tuan Adam sudah memberikan kartunya kepada saya untuk membayar semua es krim itu." Ucap Fendi kepada gadis yang hampir menangis dan terlihat menggigit kukunya dengan perasaan gugup itu.
Setelah 30 menit, mereka kembali dengan Fendi yang memegang lima tas besar berisi es krim. Sementara Claudia berjalan lebih dulu dan terlihat menggemaskan seperti kelinci dengan memegang cup es krim lainnya di tangannya menikmati es krim rasa coklat mint kali ini. Adam yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah menyerah dengan tingkah istrinya itu, namun dia juga bahagia.
***********
Claudia pulang ke rumah dan langsung berlari kearah ruang kerja adam dengan penuh semangat dan tampak sangat bahagia.
"Dam..."
"Di.... Berapa kali aku harus mengingatkan mu untuk tidak masuk ke dalam ruangan ini dengan masih menggunakan pakaian yang basah karena keringat dan juga sepatu." Ucap Adam yang membuat Claudia berhenti di tempat.
"Sebenarnya aku ingin bicara denganmu. Aku ingin sekali... Tapi baiklah, aku pergi membersihkan diri dulu baru kembali ke sini." Ucap Claudia seraya keluar dari dalam ruangan dengan meninggalkan tasnya, bermaksud untuk langsung belajar nantinya di ruangan ini.
Dia akhirnya kembali beberapa saat kemudian dengan menggunakan tanktop berwarna navy dan celana pendek. Adam merasa bahwa Claudia terlihat seksi bukannya menggemaskan seperti biasanya. Tapi dia berusaha untuk menahan perasaannya untuk tetap tenang. Claudia mendekat lalu duduk di kursi biasanya.
"Dam, apa kau sebodoh itu?" Tanya Claudia yang membuat Adam tampak heran.
Adam lalu menatap claudia.
"Tidak, maksudku kau seharusnya menghukum ku karena terlambat masuk ke dalam kelas tapi kau malah membuatku untuk mentraktir mahasiswa lainnya, tapi kau sendiri yang membayarnya bahkan sebanyak 5 juta. Apa kau tidak berpikir lebih rasional sebelum memutuskan hal itu?" Tanya Claudia.
Claudia sebenarnya penasaran kenapa Adam memilih hukuman yang seperti ini. Apakah dia salah atau memang benar-benar bodoh.
Adam menghela napas, ' kau benar-benar sangat naif'
__ADS_1
"Aku menghukum mu sebagai seorang dosen, dan aku membayar semua es krim itu sebagai seorang suami. Itu adalah hal yang sederhana yang kau tidak bisa mengerti." Balas Adam.
Claudia sebenarnya mengerti. Cara Adam menjelaskan semuanya membuatnya mengerti dan hal itu membuat pipinya merona. Untung saja Adam tengah sibuk memeriksa kertas yang ada dihadapannya, jadi dia tidak menyadari bahwa istrinya itu merona malu.
"Di.... Sekarang buka buku mu, aku ingin kau belajar tentang bahasa inggris karena tadi kau tidak fokus di kelas. Kali ini, aku mau mengajari mu, tapi lain kali jika kau masih melakukan hal yang sama, aku tidak akan mau mengajari mu lagi di rumah. Sekarang tulislah sebuah paragraf berbahasa inggris tentang liburan yang pernah kau alami. Kau harus belajar bahasa inggris lebih giat karena dee masa depan itu akan sangat berguna dengan profesi yang akan kau geluti sebagai pembuat film. Kau akan berada di luar negeri di mana di sana menggunakan bahasa inggris. Bahkan kau bisa berada di negara-negara lain dimana bahasa inggris merupakan bahasa universal yang bisa kau gunakan untuk berbicara dengan orang asing yang akan kau temui nantinya." Ujar Adam panjang lebar.
Claudia sangat gugup, dia sangat buruk dalam berbahasa inggris. Tapi apa yang dikatakan Adam ada benarnya, jadi dia memang harus lebih giat untuk mempelajarinya.
Claudia mulai menulis paragraf nya. Sudah setengah jam berlalu tapi dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat dan baru menuliskan 4 kata saja. Dia menggigit ujung pena yang ada di tangannya dan tampak berpikir dengan sangat keras. Tiba-tiba claudia menyadari bahwa suaminya berpindah duduk ke sisinya di sofa yang sama. Lantas kalau dia langsung menjatuhkan kepalanya di atas paha suaminya.
"Aaaaiiihhh, aku sangat bodoh dalam hal ini aku tidak mau belajar bahasa inggris." Ucap Claudia seraya melempar pensil ke atas meja.
"Bangun Diiii, kau tidak boleh menyerah. Ayo bangun." Ucap Adam berusaha mendorong tubuh istrinya agar kembali duduk. "Aku akan membantumu." Lanjutnya.
Claudia akhirnya kembali duduk dan iya mulai tersenyum dengan nakal.
Kali ini Claudia mendekat kearah Adam dan langsung merangkul Adam dengan menempatkan kedua tangannya di leher Adam dan tersenyum nakal.
"Dam, sebenarnya aku merasa sangat horny saat ini. Bisakah kita melewati pembelajaran ini dan kau bisa membantuku untuk mengatasi masalah hormon ini. Maksudku aku tahu kita sebenarnya tidak berhubungan secara emosional. Tapi aku akhirnya menyadari bahwa aku seharusnya melakukan tugas tugasku sebagai seorang wanita yang sudah menikah." ucap Claudia berusaha mencium Adam.
Tapi dia merasa kecewa karena Adam menghindar darinya.
"Sebenarnya aku juga sudah lama menginginkannya, tapi bagaimana kalau kita menyelesaikan ini dulu setelah itu aku akan membantumu mengatasi hormon mu itu."
Claudia tidak menyadari apa ucapkan terakhir yang dikatakan adam yang dia tahu adalah bahwa rencananya sudah gagal jadi dia mengikuti apa yang dikatakan adam dengan mulai menulis paragraf nya dengan bantuan Adam.
Tapi Claudia terus saja berusaha menggoda Adam.
"Aduhh leherku. Leherku sakit rasanya begitu kaku. Dam bisakah kau memijit nya?"
Claudia lalu mengganti posisi duduknya yang kini membelakangi Adam.
"Aaauu... Dam, punggungku juga tiba-tiba sakit."
Adam hanya bisa berusaha menahan diri dan mengikuti semua permainan yang dilakukan Claudia, hingga pada akhirnya Claudia tetap menyelesaikan tugas yang diberikan Adam padanya.
Setelah selesai belajar, keduanya lalu makan malam. Claudia tampak begitu lelah, ia bersiap untuk tidur. Keduanya berjalan bersamaan menuju lantai atas, bersiap untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Tepat di depan pintu kamar Claudia, Adam menghentikan langkah Claudia lalu menariknya ke dalam pelukannya. Claudia mulai tampak gugup.
"Jadi sayangku, kau mau kemana? Ku pikir kau sedang bermasalah dengan hormon mu. Ayo, biarkan aku membantumu. Seperti yang sudah aku katakan. Aku bisa memuaskan mu sepanjang malam. Tergantung padamu kau ingin cara yang bagai...."
Claudia menutup mulut Adam menggunakan tangannya, ia terlihat marah.
"Diam lah, dasar mesum. Aku tidak sedang horny atau apapun itu. Eh, pria tua. Kau tidak akan sanggup mengimbangi stamina yang aku punya, oke. Aku yakin itu." Ejek Claudia.
Adam langsung gemas, dia ingin melakukannya sekarang juga, di tempat ini juga. Dia mengangkat tubuh Claudia memasuki kamarnya dengan gaya pengantin baru. Adam lalu menjatuhkan tubuh Claudia ke atas tempat tidur, wajah wanita itu sudah memerah seperti buah ceri.
"Dam, hentikan semua ini. Aku bilang, aku hanya bercanda." Ucap Claudia dengan nada lembut dan tidak berani menatap Adam.
Adam langsung mencium bibir Claudia, kali ini lebih lama dari biasanya. Setelah itu ia mengusap pipi dan bibir Claudia menggunakan ibu jarinya.
"Tenang saja, aku ini pria yang gentleman. Aku tidak akan melakukannya sebelum kau yang meminta. Dan percaya padaku sayang, hari itu sudah dekat." Adam mengerlingkan matanya setelah berucap.
Claudia menghembuskan napas kasar, lalu memukul Adam dengan bantal.
"Keluar dari kamarku, dasar mesum. Gentleman apanya, dasar." Ucap Claudia dengan suara yang menggemaskan.
__ADS_1
Adam tertawa terbahak-bahak, dan berjalan keluar dari dalam kamar Claudia.
Bersambung....