90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Bertemu & Dilamar (Bab 44)


__ADS_3

Keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk pergi ke pantai.


Pantai adalah perbatasan darat dengan laut. Di pantai semuanya bermuara, termasuk perasaan. Pantai memang selalu jadi tempat paling baik untuk melepas semua beban ku.


Aku duduk di dermaga biru nan kokoh, sambil terus memandangi lautan yang membiru, desiran ombak yang seakan melambai-lambai memanggil untuk sekedar melepaskan derai, menghempaskan rindu yang berkecamuk.


Gulungan ombak yang datang menghempas kaki ku. Namun, tak membuatku bergeming. Hembusan angin pantai yang menusuk tulang tak bisa membuat ku mengalihkan pandangan ke samudera yang luas.


Hari ini langit tak berawan, aku terus memandangi laut biru sampai sang cakrawala mulai kembali ke peraduannya. Aku melihat para nelayan yang tengah menepi membawa hasil tangkapan ikan yang cukup banyak. Dalam pikiranku tersirat kenangan akan sosok Papa.


Para nelayan itu tampak begitu sumringah dengan hasil tangkapan mereka. Mungkin saja karena mereka sangat bahagia. Hari ini mendapat tangkapan yang cukup banyak dan tentunya bisa menyenangkan hati isteri dan sudah tentu anak-anak mereka juga.


Sekuat apapun aku berusaha tegar, jika sudah mengingat sosok Mama dan Papa, aku akan menjadi gadis yang sangat cengeng.


Gemuruh yang senantiasa getarkan dada dan gelombang yang selalu geram memukul dunia seakan membisu kan suara tangis ku yang terdengar lirih.


Ribuan kata tak mampu menuturkan duka yang aku alami, jutaan rasa tak akan mampu melukiskan lara hati yang aku rasa, ratusan purnama tak akan mampu menggantikan hari-hari yang telah lalu, di mana bahagia pernah menghampiri ketika aku masih bersama kedua orang tuaku.


Berulang kali aku katakan dan yakinkan pada diriku sendiri bahwa aku ikhlas dan aku kuat menghadapi semuanya. Tapi, lagi dan lagi aku merasa tersakiti.


Sejak bertemu pria bernama Arnold Setyawan dan menikah dengannya, hidupku jadi berubah. Setiap hari hanya ada duka dan air mata. Kini, setelah lepas darinya pun, pria itu seolah tak mau membiarkan hidupku tenang.


Andai saja Mama dan Papa masih ada. Mungkin jalan hidupku tak akan sesuram ini.


Aku menghela nafas panjang. Mencoba mengatur nafasku yang sejak tadi naik turun karena isakan. Kembali ku tatap laut yang begitu luas. Aku percaya rahmat Tuhan jauh lebih luas dari samudera yang ada di hadapanku ini.


Sesaat ku pejamkan mata, bayangan Andreas seolah tengah tersenyum dihadapanku. Sepertinya aku merindukan pria itu.


Ah, sudahlah. Aku harus bisa move on dan terlepas dari semua ini.


Aku lalu bangkit dari dudukku dan berjalan untuk kembali pulang ke rumah. Ku buka sandal yang aku kenakan, lalu berjalan di tepian pantai. Entah takdir apa yang Tuhan berikan lagi padaku. Langkahku terhenti karena di depan mataku berdiri seorang pria yang baru saja aku bayangkan.


'Andreas!'


Entah bagaimana ceritanya hingga kami berdua kini bisa duduk bersisian di pasir tepi pantai. Aku seolah lupa dengan apa yang terjadi barusan.


Apa yang aku katakan, atau apa yang sudah dia katakan? Aku lupa semuanya. Hingga kami berdua akhirnya bisa duduk bersama.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Andreas.


"Aku baik." Jawabku. "Kau sendiri?"


"Aku tidak baik." Jawab Andreas.


Bibirku seolah tertutup rapat saat ingin bertanya lebih lanjut.


"Aku jadi gila beberapa hari ini. Maafkan aku." Ucap Andreas lagi.

__ADS_1


"Kau tidak bersalah. Aku lah yang salah." Balasku.


"Aku akan mengalah demi kebahagiaanmu." Ucapnya yang membuatku bingung. "Maaf, tanpa sengaja hari itu aku melihat kejadian saat kau bersama dengan Arnold." Ucapan Andreas terhenti.


Terlihat ia menarik nafasnya dalam-dalam.


"Hari itu aku menjemputmu dengan membawakan bunga dan cokelat seperti yang kau suka. Aku melihat sebuah mobil yang aku tahu itu mobil Arnold. Aku ragu untuk masuk karena tak ingin terjadi keributan lagi. Tapi, aku tak bisa menahan diriku. Aku berjalan melewati teras rumahmu dan mendapati Arnold tengah.... Ah sudahlah, kalian memang pantas untuk bersama." Ucap Andreas yang membuat hatiku begitu terluka.


"Jadi benar kau melihat kejadian itu? Kau ada disana dan tak berusaha menolongku? Apa kau pikir aku menikmatinya? Apa kau pikir aku senang melakukannya? Apa aku semenjijikan itu, sampai mau melakukan hubungan itu tanpa pikir tempat?"


Sorot mata Andreas terlihat berubah kaget.


"Apa aku terdengar mendesah kenikmatan?" Tanyaku dengan derai air mata. "Apa kau tak bisa membedakan mana yang menikmati dan tidak?" Ucapku lagi. "Aku kecewa padamu. Kau benar-benar telah salah menilai ku." Aku terisak.


"Ma-maafkan aku. Ku pikir...."


"Sudahlah. Semuanya sudah berakhir, kita memang tak pantas bersama lagi. Aku bukan wanita yang pantas untukmu." Ucapku.


"Tidak, jangan bicara begitu. Aku yang salah. Aku salah paham. Aku pikir, kau memang mencintai Arnold. Bagaimanapun juga kalian telah bersama selama 3 tahun. Sementara aku baru datang dalam hidupmu. Jadi, aku berpikir bahwa kau hanya menganggap aku sebagai pelarian karena...."


"Sudah cukup. Aku tak mau dengar lagi. Lebih baik kau pergi." Ucapku penuh kekecewaan.


"Tidak, jangan begini. Berikan aku kesempatan satu kali saja. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku mengaku salah..." Andreas mencoba mendekap ku dalam pelukannya. Namun, aku berontak.


Aku merasa kotor, aku tak pantas untuknya.


"Tidak ada masa depan dalam hubungan kita. Pertama aku ini bekas adik ipar mu. Kau tahu betul apa itu bekas. Aku pernah dipakai oleh adikmu."


"Tapi aku perduli, karena kedua kau tidak percaya padaku."


"Aku percaya padamu, aku hanya tidak percaya pada diriku sendiri. Ku mohon maafkan aku. Kalau kau memang mencintai aku, berikan aku kesempatan karena aku memang benar-benar mencintai kamu." Ucap Andreas.


"Tidak, lepaskan aku. Aku tidak pantas untukmu. Aku...."


Cup!!!


Aku tak dapat melanjutkan ucapan ku karena Andreas tiba-tiba mencium ku, rasanya begitu hangat. Bibir Andreas terasa bergetar, dia tak bergerak. Ku rasakan tubuhnya gemetar. Ia lalu melepaskan ciumannya dan membuat dahi kami beradu.


"Aku belum pernah melakukannya. Ini pertama kalinya bagiku." Ucap Andreas yang membuatku terkejut.


Pantas saja tadi saat ia mencium ku, ia sama sekali tak bergerak. Bahkan tubuhnya gemetar. Aku kehilangan suaraku, tak tahu apa yang harus aku katakan.


Andreas memegang kedua pipiku untuk menatapnya. Mata kami beradu, dapat ku lihat mata Andreas tampak berkaca-kaca.


"Aku tidak pernah berbohong padamu gadis kecil. Aku belum pernah mencium gadis manapun sebelumnya. Karena aku selalu berharap bahwa kau lah wanita pertama yang akan aku cium. Sejak pertama bertemu denganmu yang saat itu masih berusia 14 tahun, aku sudah ingin melakukannya. Tapi aku menahan diriku, menunggumu hingga dewasa. Dan, seperti yang kau tahu. Aku terlambat, kau menjadi milik orang lain. Tapi, aku tak pernah bisa mencintai orang lain, hingga akhirnya hari ini aku mendapatkan ciuman pertamaku dari gadis kecil yang sejak dulu aku idamkan." Ucap Andreas.


Ucapan Andreas benar-benar membuatku terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Dari sorot matanya, aku bisa memastikan semua yang dikatakan Andreas adalah kejujuran.

__ADS_1


"Gadis kecil, menikahlah denganku." Ucap Andreas yang kembali membuatku terkejut.


"A-apa?" Ucapku tiba-tiba menjadi gagap.


"Aku tidak perduli bagaimanapun masa lalu mu. Yang aku tahu, aku hanya mencintaimu dan hidupku akan sempurna bersamamu."


Andreas merubah posisi duduknya menjadi berlutut dengan satu kaki. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kalung yang ia kenakan di lehernya. Aku dengan jelas dapat melihat, yang menjadi liontin dari kalung itu adalah sebuah cincin bertahtakan berlian.


"Kau tak tahu berapa lama aku menunggu waktu ini. Aku sudah ingin menikahi mu sejak pertama bertemu denganmu. Usiaku saat itu sudah 22 tahun, sedangkan kau masih 14 tahun. Aku tidak mungkin bisa menikahi gadis dibawah umur. Jadi, karena sekarang kau sudah dewasa dan sudah lajang. Maka aku kembali memiliki kesempatan itu."


Andreas tampak menunduk dan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Velicia Arista, maukah kau menikah denganku dan buat aku menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini?"


Air mataku luruh, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku takut ini terlalu cepat. Tapi....


"Ayolah gadis kecil, kakiku bisa kesemutan." Ucap Andreas yang membuyarkan lamunanku.


Aku menahan senyum.


"Pikirkan baik-baik, jika kau menikah denganku hubunganmu dengan Arnold..."


"Aku tidak perduli." Andreas menyela ucapan ku.


"1 hal yang paling utama, aku tidak akan bisa memberikanmu keturunan..."


"Kita bisa mengadopsi anak." Balas Andreas cepat.


"Cepatlah, aku tak sabar untuk menyematkan cincin ini di jari manis mu."


"Aku belum mengatakan iya."


"Aku akan memaksamu." Ucap Andreas yang membuatku tertawa dengan air mata yang ikut menetes.


Aku lalu mengangguk yang membuat Andreas bersorak.


"Aku janji akan melindungi mu. Aku janji akan mempercayaimu, aku janji...."


"Ucapkan itu di sumpah pernikahan nanti." Ucapku.


Andreas tersenyum, lalu menyematkan cincin itu di jemariku. Ia kemudian mencium keningku lalu memelukku erat.


"Aku ingin berciuman, tapi takut kau menertawai ku karena belum terbiasa. Bisakah kau mengajariku?" Ucap Andreas saat memelukku.


Sontak aku mencubit pinggangnya. Ia mengaduh kesakitan, kemudian dengan cepat memegang kedua pipiku lalu mulai mencium bibirku. Rasanya aneh, karena pria ini sepertinya memang tak tahu cara berciuman. Aku pun berinisiatif membalas ciumannya. Perlahan ia mulai terbiasa dan mulai melepas ciumannya.


"Hentikan sekarang juga. Atau aku tidak akan bisa mengontrol diriku." Ucapnya kemudian memelukku erat.

__ADS_1


"Ayo, aku antar pulang." Ucapnya karena hari memang sudah beranjak gelap.


Bersambung....


__ADS_2