
Dan disinilah aku berada sekarang, di dalam sebuah pesawat yang membawa aku dan Andreas menuju Swiss. Setelah belasan jam berada diatas awan, akhirnya kami tiba di Swiss.
Sesampainya di bandara, kami hanya menyempatkan diri untuk menarik uang di mesin ATM. Selesai mengambil uang kami lalu bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami ke Stasiun kereta Basel SBB untuk melanjutkan perjalanan menuju Lucerne. Beruntungnya kami, halte bus tepat berada di pintu keluar bandara. Kami pun tak terlalu terburu-buru menaiki bus, karena selain busnya cukup banyak, waktu keberangkatan kereta kami ke Lucerne juga masih cukup lama.
Aku sempat mengamati suasana stasiun Basel, jadi tau kalau di Swiss itu menggunakan 3 bahasa. Bahasa Jerman untuk Swiss bagian tengah dan utara, bahasa Perancis untuk Swiss bagian barat, dan bahasa Italia untuk Swiss bagian selatan. Jadilah di Basel ucapan selamat datang dituliskan dalam 3 bahasa tadi.
Saat kereta kami akhirnya berangkat menuju Lucerne, sibuk menikmati pemandangan peternakan dan ladang milik para petani Swiss. Perbukitan hijau yang menghampar dihiasi warna kuning dari bunga rape seed dan diselingi dengan peternakan sapi bikin mataku jadi segar sepanjang perjalanan.
Setibanya kami di Lucerne, energi kami sudah dalam posisi full charged untuk bertualang bertemu atmosfer baru di kota yang kata orang disebut sebagai salah satu yang terindah.
Meski harus berjalan beberapa ratus meter sambil menggeret koper dari stasiun menuju apartemen yang kami sewa, tidak menyurutkan semangat kami untuk menikmati kota ini. Mata dan kepala kami sibuk mengedarkan pandangan ke berbagai sudutnya yang kami temui. Melewati pedestarian areanya, deretan cafe dan pertokoan, hotel hingga lalu lalang orang berkendara tidak luput dari pengamatan kami.
Dan ternyata apartemen yang di sewa Andreas cukup memuaskan untuk jadi tempat melepas lelah. Tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya bersih, peralatan makan dan memasak tersedia lengkap di pantry, bahkan peralatan untuk bersih-bersih pun juga disediakan pihak apartemen. Si noni Swiss yang menyambut kami pun tak banyak menerima pertanyaan dari kami. Kami lebih memilih untuk buru-buru merebahkan diri di kasur sejenak untuk kemudian melanjutkan petualangan kami.
"Apa kau lelah?" Tanya Andreas.
"Lumayan." Jawabku.
"Kalau begitu, kau istirahatlah dulu. Aku akan pergi berbelanja." Ucap Andreas.
Andreas memang merencanakan liburan ini kami melakukan semuanya berdua. Untuk masalah makanan saja, Andreas mengatakan akan memasak sendiri. Dan ya, aku hanya bisa setuju saja.
Andreas pun pergi belanja bahan makanan dan keperluan lain di supermarket terdekat. Andreas mengatakan supermarket nya hanya berjarak sekitar 100 meter dari apartemen. Dan nyatanya aku bahkan bisa memantau Andreas yang berjalan kaki ke supermarket lewat jendela apartemen.
Malam pun datang, cuaca dingin mulai menusuk ke tulang. Andreas malam ini memasak menu makan malam untuk kami berdua. Ia memasak sup daging dan juga minuman coklat hangat. Dia benar-benar memanjakan aku.
"Bagaimana? Apa kau suka makanannya?" Tanya Andreas.
"Aku selalu menyukai apapun yang kau siapkan. Tapi sudah seharusnya aku yang memasak untukmu." Balasku.
"Sudahlah. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Aku bisa melakukan semuanya untukmu." Ucap Andreas yang membuatku tersenyum.
Setelah makan malam selesai, kami berdua duduk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi hingga pinggang.
"Apa masih lelah?" Tanya Andreas.
"Tidak." Balasku.
__ADS_1
"Aku bahagia sekali, akhirnya kita bisa memiliki waktu berduaan saja." Ucap Andreas.
Aku tersenyum. Selama satu minggu setelah pernikahan, kami memang tak pernah melakukan hubungan suami isteri. Karena aku sendiri berpikir, tak pantas rasanya melakukan semua itu saat suasana duka menyelimuti keluarga kami. Aku bisa merasakan jantung Andreas berdebar begitu kencang.
Posisi kami kini berangkulan, dan kepalaku berada diatas dada bidang Andreas.
"Apa kau juga bahagia?" Tanya Andreas lagi.
"Tentu saja bahagia. Siapa juga yang tidak bahagia dibawa berbulan madu ke Swiss." Balasku.
"Apa kau tahu, aku sebelumnya tak pernah membayangkan akan bisa menikah denganmu setelah kau menikah dengan Arnold. Aku hanya bisa mengharapkan kebahagian untukmu. Tapi, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk bisa bersatu denganmu. Dan aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik dan akan mencintaimu seumur hidupku." Ucap Andreas dengan serius.
"Terima kasih karena sudah mau menerima setiap kekuranganku." Balasku.
"Sudah aku katakan, bahwa aku akan menerima setiap kekurangan yang ada pada dirimu. Karena aku memang benar-benar mencintaimu."
"Meski aku tak bisa memberikan keturunan padamu?" Tanyaku.
"Tentu saja. Tuhan mungkin saja tidak mau membiarkan aku dan kamu memiliki anak, karena itu bisa saja pertanda dari Tuhan bahwa kita belum siap untuk menjadi orang tua. Anggap saja begitu." Jawab Andreas.
"Sayang, jangan lagi pikirkan tentang anak. Mari kita nikmati hidup kita berdua. Saling mencintai dan menyayangi hingga hari tua. Jika kau memang sudah merasa siap untuk memiliki anak. Kita bisa mengadopsinya." Ucap Andreas seraya mencium pucuk kepalaku dengan lembut.
Andreas lalu mendongakkan kepalaku untuk menatap wajahnya. Pandangan mata kami beradu dan perlahan bibir kami bersentuhan. Darahku rasanya berdesir saat Andreas perlahan membuka satu persatu kancing piyama yang aku kenakan. Ini memang bukan pengalaman pertamaku, tapi tetap saja karena aku akan melakukannya dengan pria yang benar-benar mencintaiku membuat semuanya terasa begitu berbeda.
Andreas benar-benar memperlakukanku dengan sangat romantis. Perlahan aku mulai terbiasa dengan sentuhan yang ia lakukan pada tubuhku. Nafas Andreas terdengar memburu saat ia mulai mencium telingaku. Tanpa aku sadari ternyata tubuh kami berdua sudah dalam keadaan polos.
"Bisakah kau mematikan lampu?" Ucapku.
"Kenapa?" Tanya Andreas.
"Aku malu." Balasku.
"Aku justru suka melihat wajahmu yang malu-malu. Dan jika aku mematikan lampu, maka aku tidak bisa melihat ekspresi mu yang menggemaskan ini." Ucapnya.
"Tapi..."
Andreas kembali menciumku dengan lembut.
__ADS_1
"Untuk apalagi kau malu sayang. Aku suamimu, dan kau bebas mengekpresikan dirimu. Oh ya, jangan menahan suaramu agar tak keluar. Disini tak akan ada yang mendengarkan suaramu. Meski kau berteriak sekalipun." Ucap Andreas.
'Apa-apaan dia ini? Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang semakin membuatku malu.'
Andreas lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh kami dan dengan perlahan ia mulai menyatukan tubuh kami berdua.
Sungguh, aku tak dapat mengatakan betapa bahagianya aku malam ini karena akhirnya bisa menyerahkan seluruh ragaku kepada pria yang sejak dulu memang aku harapkan. Air mataku menetes hingga jatuh ke bantal.
Andreas yang melihatku menitikkan air mata, menghentikan aksinya.
"Kenapa menangis? Apa aku terlalu kasar? Kalau kau merasa tidak nyaman, aku hentikan saja." Ucap Andreas.
"Tidak. Bukan begitu, aku hanya begitu bahagia." Balasku.
Andreas tersenyum lalu mencium tepat di mataku.
"Jangan pernah menitikkan air mata lagi." Ucapnya.
Aku berinisiatif mencium Andreas dan diapun membalasnya. Andreas lalu membenamkan wajahnya di dadaku. Hingga akhirnya kami mencapai puncak kenikmatan dari yang namanya pasangan suami isteri. Tubuhku bergetar, tak pernah aku merasakan hal seperti ini dalam 3 tahun pernikahanku dulu bersama Arnold. Malam ini Andreas benar-benar membuatku merasakan kenikmatan itu hingga tubuhku lemas tak bertenaga.
Setelah beberapa saat, aku bangun dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku mematikan lampu kamar mandi yang dari tadi masih aku biarkan menyala. Lalu mematikan lampu kamar tempat kami memadu cinta. Aku berbaring di tempat tidur, menghela napas, menghirup wangi pengharum ruangan di kamar. Aku bersiap memulai pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan seumur hidup.
“Andreas…” Aku memanggil, seraya mengusap wajah suamiku.
Grook…grooook…
Andreas terdengar mendengkur. Sepertinya dia tertidur karena kelelahan. Aku tertawa kecil. Aku juga mengantuk.
Aku kembali mencium pipi suamiku itu, lalu merebahkan kepala di dada lelaki itu sambil memeluknya. Dengkuran dan detak jantung Andreas terdengar sangat jelas.
Dengkuran dan detak jantung ini yang akan aku dengar seumur hidup di telingaku. Melodi yang lebih indah dari lagu-lagu yang diputar di televisi tadi. Dan janji kami pada Tuhan adalah pernikahan yang sesungguhnya.
Hatiku yang penuh syukur dan damai, justru kini tengah berpesta. Andai Mama dan Papa masih hidup, mereka pasti akan ikut bahagia melihat puteri mereka yang kini sangat bahagia dengan kehidupan pernikahan ini.
Dulu aku memang tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini saat bersama Arnold. Kini bersama Andreas, aku harap kebahagiaan akan selalu menyertai rumah tangga baru kami ini.
Bersambung...
__ADS_1