90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
31. Memeriksa


__ADS_3

Adam menyadari bahwa Claudia tampak begitu ketakutan. Dia memegang pergelangan tangan Claudia, lalu menariknya keluar dari ruangan itu. Adam terus menarik tangan Claudia untum menuju mobil, bahkan ia sedikitpun tak melihat ke arah Claudia. Keduanya kemudian terus berjalan ke arah mobil.


Claudia menghela napas. Dia tahu bahwa Adam tengah marah padanya. Dia ingin Adam memarahinya, mengatainya atau apapun itu, tapi Adam sama sekali tak berbicara sedikitpun.


Claudia terus melangkah mengikuti Adam dari arah belakang. Berusaha untuk mensejajarkan langkah mereka berdua. Setelah berjalan sekitar dua menit, Claudia tak bisa terus saja diam-diaman dengan Adam. Diapun mencoba berbicara dan mengakhiri kebisuan mereka.


"Pria Tua...." Panggil Claudia yang sudah mendekati Adam, namun Adam tak menghiraukannya dan terus berjalan menyusuri gang sempit itu.


"Adam Wijaya..." Teriak Claudia lagi dengan putus asa menginginkan pria yang berjalan dengan cepat di hadapannya itu memberi respon.


"Dam...." Ucap Claudia ketiga kalinya, dan usahanya tetap saja gagal.


Claudia menggigit bibirnya. Ia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh Adam. Jadi, sangat sulit bagi Claudia untuk mengatasi semuanya. Claudia berhenti berjalan kemudian mulai terisak dan mata yang berair dan hidung yang memerah.


"Sayang, aku terluka. Aku tidak bisa berjalan." Isak Claudia seperti anak kecil seraya mengusap mata kirinya dengan punggung tangannya.


Ajaibnya, kali ini Adam berhenti berjalan dan langsung berbalik. Ekspresinya tampak begitu datar. Ia berjalan mendekat ke arah Claudia menatapnya sesaat, kemudian setelah itu ia langsung mengangkat tubuh Claudia dalam gendongannya. Adam lalu dengan penuh kehati-hatian dan lembut, meletakkan tubuh Claudia di jok belakang mobil.


Adam sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia masuk ke dalam mobil. Sopir langsung dengan cepat menjalankan mobilnya ke tempat yang ia sendiri sudah tahu tujuannya.


Adam duduk bersandar di sofa dan memejamkan matanya. Claudia sendiri tidak ingin membuat masalah dihadapan supir. Jadi dia tetap memilih diam.


Mereka akhirnya tiba di rumah. Adam keluar begitu saja lalu membukakan pintu untuk Claudia. Setelah melihat Claudia keluar dari dalam mobil, para pelayan yang ada di rumah itu mendekat ke arahnya.


"Nona Muda, apa anda baik-baik saja?"


"Terima kasih pada Tuhan karena telah menjaga Nona."


"Kami semua sangat khawatir disini. Kami tidak pernah melihat Tuan Muda begitu panik, terhadap apapun selama ini. Terima kasih Tuhan."

__ADS_1


"Benar, terima kasih pada Tuhan yang selalu menjaga Nona. Ngomong-ngomong, Tuan Muda pasti ingin menghancurkan seluruh dunia."


Claudia merasa bersalah. Tentu saja kali ini dia merasa telah melakukan kesalahan yang membuat Adam marah padanya. Claudia berjalan menuju kamar Adam dan mulai mengetuk pintunya. Claudia biasanya tidak pernah mengetuk pintu kamar atau ruang kerja Adam, tapi kali ini dia melakukannya.


Tak ada jawaban dari dalam, tapi pintu tiba-tiba terbuka begitu saja. Beberapa saat kemudian, sebuah tangan menarik Claudia masuk ke dalam kamar itu. Claudia tentu saja sangat terkejut, tapi dia tak takut.


Adam menarik Claudia masuk, lalu membanting pintu dan menguncinya dengan cepat. Adam tak berbicara sedikitpun, tapi dia langsung membuka pakaian yang dikenakan Claudia dengan beringas. Sekarang Claudia menjadi sangat gugup. Ia berusaha menghentikan Adam, tapi tidak bisa.


"Apa? Apa yang kau lakukan Dam. Tolong hentikan." Pinta Claudia.


"Kau...." Adam tak melanjutkan ucapannya.


Dia terus sibuk berusaha untuk menanggalkan pakaian Claudia. Setelah ia berhasil membukanya, ia dengan cepat melempar pakaian itu ke lantai. Claudia menjadi sangat malu sekarang. Dia tidak pernah tampil seseksi ini dihadapan Adam sebelumnya. Claudia merasa tubuhnya terekspos. Dia sama sekali tak melihat ke arah Adam dan terus menunduk. Sementara Adam sendiri terus menatap tubuh Claudia dengan teliti.


Wajah Adam menyiratkan dengan jelas bahwa ia tengah khawatir. Dia kemudian berjalan memutar melihat ke arah punggung Claudia dan mulai menatapnya dengan teliti.


Awalnya Claudia berpikir bahwa Adam ingin melakukan sesuatu pada dirinya. Tapi sekarang dia tahu, apa yang tengah dilakukan oleh suaminya itu. Sisi baru yang ditunjukkan Adam saat ini, entah mengapa membuat Claudia merasa semakin bersalah. Setelah melihat bagian punggung Claudia, Adam langsung mendorong Claudia agar berbaring di tempat tidur.


Dan sekarang Adam terlihat meneliti setiap bagian bawah tubuh Claudia, kaki, paha dan yang lainnya.


Claudia mulai menangis sekarang. Ia sangat tahu apa yang tengah dilakukan Adam. Dan hal itulah yang membuat Claudia semakin terisak. Sekarang ia mulai terdengar terisak.


Adam hendak membuka satu sisa kain terakhir yang menempel di tubuh Claudia. Namun Claudia dengan cepat menarik tubuh Adam dengan memeluk lehernya dan kedua kaki Claudia yang melingkar di pinggang Adam hingga membuat Adam tak bisa menahan diri dan jatuh menimpa Claudia. Claudia memeluk Adam dengan sangat erat.


"Dam, aku baik. Aku sangat baik-baik saja. Aku tidak terluka di manapun, hanya di lutut dan sedikit memar di wajah. Tenangkan dirimu, aku tidak terluka di manapun lagi." Ucap Claudia dengan suara yang terisak keras.


Claudia semakin memeluk Adam dengan sangat erat dan akhirnya memeluk Claudia balik dan membenamkan wajahnya di leher Claudia lalu bernapas dengan kasar.


"Aku tidak diperkaos Dam. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhku seperti itu. Tenanglah." Lanjut Claudia.

__ADS_1


Adam tak beranjak dari posisinya dan malah mencium wajah Claudia dengan terus menerus dan disisi lain Claudia membiarkan Adam melakukan hal itu. Adam memang perlu melakukan ini semua. Dia melakukan semuanya, untuk meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa Claudia baik-baik saja, aman, dalam pelukannya.


Adam terus mencium setiap inci dan sudut wajah Claudia. Dia bahkan tidak perduli dengan air mata Claudia yang terus mengalir. Adam lalu bangun, kemudian menatap Claudia. Ia lalu menarik tubuh Claudia agar berdiri dan kembali memeluknya dengan sangat erat.


"Dam, aku sangat ingin bicara denganmu...." Claudia hendak berhenti, tapi Adam tidak mendengarkannya dan malah membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menempatkan Claudia ke dalam bathub. Ia membuat Claudia duduk, seolah ia terlihat seperti tengah memandikan anak kecil.


Claudia terus menatap Adam dengan tatapan penuh kasih sayang. Adam benar-benar pria yang tak bisa ditebak, ia begitu berbeda. Claudia dapat merasakan bahwa Adam sangat marah padanya. Tapi Adam tetap saja memberikan perhatian pada Claudia. Adam tidak memarahi atau membentak Claudia, tapi ia terus menjamin keselamatan Claudia. Hal ini yang terus saja membuat Claudia merasa bersalah pada Adam.


"Mandilah. Itu yang akan membuatmu bisa bertenaga nanti." Ucap Adam dengan suara yang dingin seraya mengusap kepala Claudia dengan lembut.


"Dam, aku tidak melanggar janjiku padamu. Aku..."


Claudia berusaha mengucapkan semuanya namun Adam menaruh jari telunjuk di tengah-tengah bibir Claudia.


"Aku akan menunggumu." Ucap Adam seraya keluar dari dalam kamar mandi.


Setelah setengah jam, Claudia kemudian keluar dari dalam kamar mandi dan dengan hanya menggunakan handuk.


Adam terlihat tengah bicara pada seseorang.


"Iya aku yakin. Dan tidak Will, kau harus bicara dengan Megan dan yakinkan dia. Aku tidak akan mengubah keputusanku. Claudia adalah prioritas utamaku sekarang."


Claudia mendengar sekilas ucapan Adam dan lawan bicaranya. Claudia sama sekali tidak mengerti apapun. Dia berjalan begitu saja keluar dari dalam kamar mandi, dan Adam merasakan keberadaanya. Adam lalu dengan cepat berbalik dan menutup sambungan telepon. Dia lalu berjalan mendekati Claudia dan tiba-tiba saja merona karena melihat Claudia yang hanay mengenakan handuk.


Adam langsung memeluk Claudia dengan erat dan Claudia membalasnya.


"Adam, aku ingin mengatakan sesuatu..."


"Ssshhhhh, diam lah. Biarkan aku yang bicara." Ucap Adam menyela ucapan Claudia. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu. Aku sangat khawatir dan takut bahwa aku akan terlambat untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Aku bisa saja...." Claudia dapat merasakan bahwa tubuh Adam bergetar, dia berusaha menahan tangisnya.

__ADS_1


Claudia mengusap punggung Adam, lalu memegangi kedua pipinya, memandang Adam kemudian mulai mencium pria itu penuh kelembutan.


Bersambung....


__ADS_2