
Sudah tiga hari berlalu dan kondisi Adam begitu cepat membaik. Dia terus bekerja di rumah sejak tiga hari yang lalu. Dan sejujurnya, Claudia benar-benar menjadi gadis yang baik. Adam selalu berdiam diri di kamarnya beberapa hari ini. Claudia sendiri selalu bangun tidur di pagi hari dengan berada dalam pelukan Adam. Meski dengan tubuhnya yang masih terluka dan memerlukan pengobatan, Adam sedikitpun tidak pernah terlambat bangun dibandingkan Claudia.
Tidak ingin membuat Adam khawatir atau stress, Claudia selalu pergi ke kampus setiap hari, dan tidak ketinggalan pelajarannya, makan selalu tepat waktu. Bahkan ia juga menyuapi Adam. Dan hanya pada makan siang saja mereka tidak makan bersama, karena Claudia yang berada di kampus. Tapi Claudia tidak pernah lupa untuk selalu mengirimkan pesan pada Adam mengingatkannya dengan segala rutinitas dan kondisinya yang harus minum obat tepat waktu. Dia juga selalu memberitahu Adam apa yang sedang dia lakukan, kecuali satu hal. Adam tidak pernah tahu kemana Claudia pergi sejak pukul lima sore hingga tujuh petang. Claudia hanya memberitahunya bahwa dia tengah pergi ke asrama kampus untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
****************
Hari keempat.....
Claudia baru saja menyelesaikan mata kuliahnya, ketika dia menyadari sebuah pesan masuk ke ponselnya.
'Sayang aku berada di kampus sekarang. Aku ada kelas mengajar di fakultas biologi semester dua. Kau bisa menemui aku nanti saat kau sudah selesai.'
Claudia tersenyum membaca pesan itu, tapi dia sedikit khawatir akan keadaan Adam. Kenapa dia harus ke kampus dengan kondisinya yang seperti itu. Padahal dia bisa saja izin dan datang minggu depan.
Masih sibuk dengan pikirannya, Claudia memilih berjalan menuju ruangan suaminya. Baru saja setengah jalan, ia berhenti karena melihat kerumuman beberapa mahasiswi lainnya yang tengah membicarakan sesuatu. Claudia melihat ke arah mana mata para gadis itu memandang, dan diapun akhirnya mengetahui dari mana asal kegembiraan para gadis itu.
Adam ada disana, berdiri di depan ruangannya berbicara dengan Dekan. Berdiri tegap dan wajahnya yang datar dan ekspresinya yang dingin dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana. Claudia memutar mata malas dan juga menggelengkan kepalanya melihat kebodohan para gadis itu yang histeris melihat Adam.
'Dia bahkan tidak melirik ke arah kalian sedikitpun para gadis ganjen. Mundur lah. Matanya hanya tertuju padaku.' ucap Claudia dalam hati.
Tiba-tiba sebuah ide jahat muncul dalam pikiran Claudia setelah melihat kerumunan para gadis itu dan tertuju pada salah seorang gadis disana.
"Hei Lisa, berhentilah tersenyum aneh, otot di rahang bawah mu bisa mati rasa dan akan tetap seperti itu." Teriak Claudia.
Kenapa Claudia malah berfokus pada Lisa? Karena selama ini gadis itu memang menjadi musuh bebuyutannya dan juga Claudia mendengar ucapan Lisa tentang suaminya. Lagi pula selama ini Claudia jarang sekali bisa menantang Lisa lebih dulu.
Tanpa memberikan respon apapun, Lisa memutar matanya dengan malas dan tak menghiraukan Claudia.
"Hei, kau selalu saja menantang ku selama ini. Bagaimana kalau hari ini aku yang menantang mu?" Ucap Claudia lagi.
Kali ini ucapan Claudia membuat Lisa tertarik, dia pun berbalik dan menatap ke arah Claudia.
"Tantangan seperti apa?" Tanya Lisa.
"Mmmm aku akan mengakui perasaanku pada Tuan Adam lagi, tapi kali ini secara langsung. Dan jika dia tidak menolak cintaku, maka kau harus menyanyikan lagu 'bad romance' Lady Gaga di seluruh penghuni kampus dengan bernyanyi di pohon yang sama di lapangan basket dimana aku pernah mengakui perasaanku dulu." Ucap Claudia.
Lisa berpikir apakah dia akan setuju dengan tantangan ini. Mengingat bahwa Adam pernah membela Claudia saat di mall dulu. Dan Lisa yakin bahwa ada sesuatu diantara Claudia dan Adam.
'Tapi, bahkan jika Tuan Adam memang memiliki hubungan sesuatu dengan gadis berandalan ini, apakah dia akan membiarkan Claudia mengatakan perasaannya dihadapan publik? Orang kaya seperti dia biasanya selalu merahasiakan sugar babies mereka bukan begitu? Bukankah dia akan marah jika melihat Claudia mempublikasikan hubungan rahasia mereka di hadapan semua orang?' pikir Lisa.
"Baiklah. Tapi, jika dia menolak mu. Kau harus menjadi pembantuku selama satu minggu." Balas Lisa.
'Ya Tuhan, gadis ini. Kenapa dia tidak bisa memikirkan tentang hal-hal yang menyenangkan saja sebagai taruhannya. Kenapa selalu menjadi pembantu dan yang lainnya? Tapi, kenapa aku harus peduli? Lelakiku juga tidak akan mungkin menolak ku.' ucap Claudia dalam hati.
"Baiklah, aku siap." Ucap Claudia.
Di depan pintu ruangan Adam, Dekan tengah membicarakan berbagai macam hal.
Saat sebuah suara lembut terdengar mendekat di telinga mereka dari arah belakang.
”Halo Pak, Hai Tuan Adam…”
Adam berbalik dan mendapati seorang gadis yang mendekat dengan senyum lebar di bibirnya. Jantung Adam berdegup kencang, tapi dia tetap berusaha menampilkan ekspresinya yang dingin.
“Apa yang kau lakukan disini. Bukankah kau sudah terlambat masuk ke kelas mu? Kelas mu akan dimulai dalam waktu sepuluh menit lagi.” Ucap Adam.
Dalam hati Claudia memutar mata malas, tapi dia tetap berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya.
“Aku akan membiarkan kalian berdua untuk berbicara. Aku harus pergi. Sampai jumpa sayang. Jaga dirimu. Kau sudah melakukan yang terbaik dalam pembelajaran mu.” Ucap Adam hendak pergi dengan menampilkan ekspresinya yang masih datar.
Claudia melhat kearah Adam dengan tersenyum penuh cinta dan juga terlihat sedikit malu. Adam menjadi bingung.
‘Kenapa istri berandalan ku ini tampak malu? Apa yang sedang dia rencanakan sekarang?’ pikir Adam kemudian menarik napas panjang.
“Dua puluh detik berlalu, kau sudah terlambat masuk ke kelas mu.” Ucap Adam.
Tapi bukannya berlari ke kelasnya atau takut dengan nada suara Adam, Claudia malah berjalan mendekat kearah Adam. Dan kemudian melingkarkan tangannya ke leher Adam dan menyandarkan kepalanya di dada Adam.
“Aku menyukaimu Tuan Adam, aku sangat menyukaimu.” Ucap Claudia yang terdengar seperti hampir berteriak.
Adam menjadi terkejut, jantungnya seperti berhenti sesaat. Dia terdiam sesaat sebelum menyadari ada beberapa orang mahasiswa yang juga terkejut melihat kearah mereka. Mereka berada di jarak yang cukup dekat. Hal itu membuat Adam menyadari bahwa istrinya tengah melakukan suatu permainan dan menggunakan dirinya sebagai pion.
__ADS_1
Tapi Adam tidak mempermasalahkan hal itu. Kata-kata yang diucapkan Claudia tadi, sudah membuat dirinya bisa merasa senang dan melupakan hal lainnya.
Adam menarik tangan Claudia mendekat ke dadanya lalu berbisik di telinganya.
“Aku mendengar apa yang kau katakan. Sekarang berpikirlah, apa yang akan kau lakukan agar aku bisa memaafkan mu karena kau yang terlambat masuk ke kelas mu?”
Claudia tampak ketakutan sekarang. Dia menelan ludah dan ingin segera melepaskan dirinya dari pegangan Adam, tapi tidak bisa.
“Dan yaah, aku juga mencintaimu, lebih dari yang bisa kau bayangkan.” Ucap Adam lalu melepaskan Claudia.
Adam lalu pergi meninggalkan Claudia dengan dada yang masih berdegup kencang dan wajah yang memerah. Dia tidak mengerti apakah dia harus takut dengan apa yang akan dilakukan Adam padanya atau malu karena pengakuan cinta yang dilakukannya dihadapan banyak orang lain. Claudia hampir saja berlari menuju kelasnya dan melupakan semuanya, tapi tentu saja ia langsung dikerumuni banyak orang. Terutama para gadis yang heboh bertanya padanya.
‘Bagaimana semuanya terjadi?’
‘Kenapa Adam bisa menarik mu?’
‘Kapan kalian mulai begitu dekat?’
‘Kenapa Ada malah berbalik memelukmu?’
‘Apakah kalian berkencan?’
‘Apakah Adam adalah kekasihmu atau sekedar sugar baby mu?’
Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Claudia tampak putus asa ingin keluar dari kerumunan mereka semua.
Seorang gadis tampak ingin berlari dari sana, tapi endra dengan cepat menghadangnya.
“Hei… heii.. hei… cantik, kau mau kemana? Aku benar-benar ingin mendengar mu bernyanyi. Ayolah gadis cantik, mulailah bernyanyi.” Ucap Endra pada Lisa.
‘Tuan Adam, aku sudah berada di kelas sekarang. Jangan khawatir.’ Tulis Claudia mengirimkan pesan pada Adam.
Claudia kemudian berlari cepat kearah Lisa.
“Iya Nona Lisa. Sekarang ayo mulai pertunjukannya. Apakah kau ingin memperbaiki riasan di wajahmu atau yang lainnya lebih dulu?” Ucap Claudia memanasi Lisa.
Para gadis lainnya kembali histeris setelah mendengarkan ucapan Lisa.
“Ya Tuhan, Claudia. Apa itu benar?”
“Bisakah kau memberikan nomor Tuan Adam kepada kami?”
“Wow Claudia, kau memang hebat.”
Para gadis itu mulai bertanya tentang nomor Adam dan hal lainnya pada Claudia, yang membuat Claudia kembali frustrasi.
“Oh ayolah. Kau jangan sampai berpikir untuk bisa kabur setelah mengatakan semua hal aneh ini. Cepat jalan dan lakukan hukuman mu secepatnya.” Ucap Claudia lagi.
Setelah selesai menikmati penampilan Lisa secara langsung dan bersenang-senang dengan Endra, Claudia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Lisa masih dikelilingi banyak orang. Saat ini dia menjadi topik pembicaraan di seluruh kampus setelah kemampuan menyanyinya yang begitu buruk ditampilkan di depan semua orang.
Claudia dan Endra tengah berjalan melewati koridor tertawa sembari berkirim pesan. Claudia menerima pesan lainnya dari Adam.
‘Apa kau menikmati semuanya? Pelajaran di kelas mu sudah usai. Sekarang bersiaplah untuk hukuman mu sayang.’
Mata Claudia membelalak, ‘ya Tuhan, apa pria ini punya enam mata? Bagaimana dia bisa mengetahui semuanya?’
‘Apa maksudmu Dam, aku masih berada di dalam kelas sampai saat ini.’ Balas Claudia.
‘Benarkah? Apa kau ingin aku memperlihatkan mu CCTV yang ada di kampusmu?’
Claudia ingin berteriak sekencang-kencangnya.
‘Ah sayang, bagaimana kalau kita pergi makan malam nanti?’ Balas Claudia.
‘Aku tidak menerima sogokan.’ Balas Adam.
‘Yaah, Tuan Adam Wijaya. Aku sebenarnya sudah ingin pergi ke kelas, oke. Tapi semua gadis yang mengidolakan mu itu menghalangi ku. Merekalah yang menjadi alasan kenapa aku sampai terlambat. Mereka bertanya banyak hal tentang dirimu padaku. Ya Tuhan, jika mereka sampai tahu bahwa aku ini adalah istrimu, mereka sudah pasti akan membunuhku. Aku tidak akan pernah mengakui pernikahan kita di depan publik. Tidak akan pernah.’ Balas Claudia.
Saat membaca pesan balasan Claudia, adam merasa sedikit terluka, tapi dia hanya bisa menghela napas.
__ADS_1
‘Baiklah, aku akan menjemputmu sore nanti. Kita akan pergi makan malam.’ Balas Adam.
Claudia tidak menyadari bagaimana perasaan Adam saat ini. Dia merasa begitu senang membaca pesan balasan Adam.
Setelah jam kuliah berakhir, Claudia memang dijemput suaminya dan dibawa menuju restoran. Mereka berada di ruangan privasi di sebuah restoran mewah. Claudia tengah memijat pundak Adam.
“Sayang, kau pasti sangat lelah kan. Biarkan aku membantumu dengan memijat mu sampai makanan kita datang.” Ucap Claudia dengan suara yang manis.
“Sayang, aku sudah mengatakan padamu, tidak perlu. Aku tidak menerima sogokan.” Ucap Adam menepis tangan Claudia.
Claudia mencebik kesal lalu kembali duduk ke kursinya.
Makanan pun datang. Adam menghentikan tindakan pelayan yang ingin menyajikan makan untuk Claudia karena dia sediri yang ingin menyajikannya. Kemudian pelayan beralih menyajikan makanan dip ring Adam lalu pergi.
Claudia masih saja mencebik kesal, tapi ia tetap makan. Dalam hati, Adam ingin tertawa. Claudia terus saja makan tapi dengan wajahnya yang terlihat begitu dongkol. Dia kemudian memanggil adam.
“Sayangggg….”
“Hmmmmm…..” Balas Adam dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
“Hukumannya jangan dengan menonton film horor atau pergi ke kuburan ya?” Tanya Claudia penuh harap.
“Tidak, tidak sama sekali. Hanya seekor king kobra yang akan mencium mu kali ini. Itu saja.”
(Ketakutan terbesar Claudia. Ular dan hantu. Apa kalian ingat?)
Claudia melompat dari tempat duduknya dan berdiri dengan bibirnya yang bergetar. Kedua matanya kini membulat sempurna. Claudia dengan cepat berlari kearah Adam dan duduk di pangkuannya, memeluknya dengan sangat erat , melingkarkan tangannya di leher Adam.
“Jangan sayang, kumohon. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong sayang. Aku adalah istrimu, milikmu seorang. Siapa lagi yang aku miliki selain dirimu. Sama seperti aku, siapa lagi yang kau punya selain aku. Iya kan? Kumohon sayang, jangan. Aku tidak akan pernah terlambat masuk ke kelas lagi. Aku mohon.” Claudia terus berbicara sambil menangis dengan wajahnya yang menghadap dada Adam.
Apa yang dilakukan Claudia, entah mengapa membuat Adam terpancing. Bagaimana bibirnya yang bergerak menyentuh kulit leher Adam saat berbicara. Bagaimana rasa napas hangat Claudia yang berhembus di kulitnya. Claudia yang duduk tepat diatas pangkuannya, membuat bagian sensitif Adam bereaksi. Padahal Claudia masih menangis sejadi-jadinya.
Adam tak pernah menyangka bahwa dia juga bisa tergoda dengan wajah istrinya yang tengah menangis itu. Bibir Claudia tampak menggantung karena menangis. Seluruh wajahnya juga memerah tampak seperti tomat. Adam benar-benar ingin menggigit wajah istrinya itu.
Claudia awalnya terkejut dan begitu gugup. Tapi, bercinta dengan suaminya di tempat tidur jauh lebih baik dibandingkan dengan berurusan dengan seekor ular. Diapun menganggukkan kepalanya, mengusap ujung hidungnya.
"Baik." Balas Claudia.
Adam tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu menggendong istrinya seperti seekor koala dan membawanya keluar menuju mobil. Dia mulai mencium bibir Claudia, tidak dapat mengontrol dirinya dan semakin memeluknya dengan sangat erat.
Adam menghidupkan mobilnya dan bergegas pulang.
Mereka tengah berada dijalan pulang ke rumah saat Adam mendapat panggilan dari Megan. Wajah Claudia tampak kesal.
"Sayang, aku tengah mengemudi. Bisakah kau mengangkat telepon Megan dan menekan speakernya?" Tanya Adam.
Claudia mengangguk.
"Halo, Om Adam, para pria itu kembali. Mereka berada di depan rumahku berkeliling dan membicarakan sesuatu. Mereka... Mereka mencari seorang gadis di rumahku. Aku takut Om." Ucap Megan.
Adam terkejut, dia melihat ke arah Claudia yang juga menatapnya dengan terkejut. Claudia tak pernah melihat Adam begitu gugup atau ketakutan seperti sekarang.
"Megan, pergilah ke ruang keamanan sekarang. Jangan lupa untuk membawa anting-anting mu. Tolong jangan lupa bawa itu. Pergilah cepat." Titah Adam.
"Anting? Oh iya, baiklah. Tapi, cepatlah datang." Balas Megan panik lalu memutuskan panggilan telepon.
Adam menepikan mobilnya lalu mengambil ponsel dari tangan Claudia dan mulai menelepon Will.
"Iya Will, bawa Megan dan anting-anting itu keluar dari sana sekarang juga. Orang-orang itu kembali. Ku mohon Will, lakukan sesuatu." Ucap Adam.
Claudia benar-benar terkejut. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Adam begitu ketakutan. Dia tidak tahu apa yang dikatakan Will diseberang telepon. Dia hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan Adam.
"Tidak, aku tidak bisa pergi kesana. Istriku sedang bersamaku. Aku tidak bisa menolongnya dengan memperlihatkan dia bersamaku pada mereka. Aku akan menunggu di jalan melati. Bawa dia keluar dari rumahnya lalu antar dia padaku. Aku akan mengurus semuanya setelah itu. Kau bisa mengalihkan perhatian mereka setelah mengantar Megan padaku." Ucap Asam lalu memutuskan panggilan telepon.
Claudia tampak begitu bingung dan terkejut dengan apa yang tengah terjadi sampai dia sama sekali tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan Adam.
Bersambung....
Episode berikutnya Claudia akan kembali berulah yang membuat Adam marah padanya....
Tunggu terus ya kelanjutannya... 😁😁
__ADS_1