90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
13: Layaknya Papa


__ADS_3

Claudia keluar dari dalam rumah dengan membawa barang bawaannya berupa koper berisi pakaian dan barang lainnya. Sopir dengan cepat mendekati dirinya.


"Nona Muda mari biar saya yang membawanya. Terima kasih Tuhan, karena akhirnya Nona Muda mau kembali ke rumah. Kami selalu tahu itu." Ucap sopir itu seraya mengambil barang bawaan Claudia dan memasukkannya ke dalam mobil.


Setelah 1 jam perjalanan, mobil akhirnya memasuki halaman rumah Adam. Seorang sekuriti menunduk saat melihat mobil yang ditumpangi Claudia masuk melewati pintu gerbang. Claudia memutar mata malas, ia tak suka diperlakukan sebagai istri dari pria itu.


Mobil berhenti tepat di depan rumah. Claudia melihat sekitar rumah dari dalam mobil lalu menghela napas. Dia menutup matanya beberapa saat lalu mengambil napas dalam-dalam.


Claudia keluar dari dalam mobil, dia menggigit bibirnya untuk menahan amarahnya. Dia tidak menginginkan semua ini. Dia tidak pernah menginginkan untuk tinggal di rumah ini, tapi hari ini disinilah dia.


"Nona Muda, akhirnya Anda datang kemari. Ayo masuk. Mari masuk lewat sini." Ucap seorang pelayan yang membukakan pintu dengan wajah yang begitu gembira.


Claudia masuk ke dalam rumah dan hal pertama yang dilihatnya adalah pria itu yang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana pendek dengan kedua tangannya di dalam saku celananya. Claudia berusaha menahan emosi yang ingin meledak dari kepalanya. Namun dia, memilih tetap terdiam. Semua pelayan yang berada di rumah keluar dari setiap sudut untuk menemui Claudia dan menunduk dengan sopan di hadapannya.


Semua orang terlihat terpesona dengan kehadiran Claudia yang sudah berubah menjadi lebih dewasa setelah 2 tahun lamanya. Mereka sangat senang karena kedua pasangan itu akhirnya bisa hidup bersama lagi.


"Nila, dia pasti kelelahan. Cepat antar dia ke kamarnya." Titah Adam seraya berjalan mendekati Claudia.


Claudia tetap memilih diam. Hari ini dia merasa begitu lelah dan tak ingin ada masalah yang lebih banyak lagi. Hari ini ia sudah terlalu lelah, baik secara fisik maupun batin.


Adam berjalan mendekat ke arah Claudia lalu memeluknya. Claudia tidak bergerak sedikitpun ia memilih untuk diam. Adam lalu berbisik di telinganya.


"Selamat datang ke rumah Nona Claudia Wijaya. Rumah ini sudah begitu lama menunggu kedatangan mu, jadi selamat datang kembali." Ucap Adam.


Claudia tidak merasakan sedikitpun kehangatan dari ucapan selamat datang yang dikatakan Adam. Baginya, tinggal di rumah ini hanya sebatas untuk melancarkan keinginannya untuk bercerai. Jadi hanya butuh waktu 3 bulan dan setelah itu ia bisa segera pergi dari rumah ini dan hidup dengan bebas.


Adam kembali ke kamarnya lalu tersenyum melihat ke wallpaper hp-nya.


"Kau begitu harum. Ya Tuhan, bagaimana caraku untuk bisa mengontrol diriku selama 3 bulan ini. Sepertinya aku tidak akan tahan." Ucap Adam tersenyum lalu memejamkan matanya berusaha untuk tidur.


*********


Adam keluar dari dalam kamar menggunakan pakaian kasual nya. Semua pelayan yang tengah menyiapkan sarapan terlihat terkejut karena untuk pertama kalinya mereka melihat cara berpakaian Tuan Muda mereka yang seperti itu, karena biasanya Adam selalu menggunakan pakaian formal berupa jas.


Adam mendekat ke meja makan.


"Tunggu dulu Nila, aku akan segera kembali." Ucap Adam melarang pelayannya menyiapkan sarapan di piring.


Adam bergegas kembali naik ke lantai atas menuju kamar Claudia.


Claudia tertidur seperti orang yang sudah mati di dalam kamarnya. Saat Adam masuk ke kamarnya, bibirnya mengukir senyum. Adam menyentuh pipi Claudia dengan punggung tangannya. Ia lalu mencium lembut pipi Claudia.


"Selamat pagi sayang." Ucap Adam dengan suara yang pelan.


Adam kemudian berjalan menuju jendela dan membuka gorden yang membuat sinar matahari masuk ke dalam kamar Claudia dan menyinari wajahnya, lalu membuat gadis itu memutar tubuhnya karena silau oleh cahaya matahari yang terasa menusuk mata.


Adam menggelengkan kepala karena melihat Claudia yang tak kunjung bangun. Ia lalu memutar musik dengan keras dari ponselnya, dan menaruhnya di samping telinga Claudia.


"Sialan! Siapa yang berani-beraninya memutar musik sekeras ini?" Teriak Claudia yang melompat dari atas tempat tidurnya.


Claudia lalu melihat ke arah seorang pria yang berdiri dengan melipat tangan di dada melihat ke arahnya. Claudia awalnya bingung dengan apa yang terjadi dan akhirnya ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di dalam kamarnya yang sebenarnya melainkan berada di rumah Adam. Seluruh tubuh Claudia menjadi lemas.


"Ada apa ini?" Tanya Claudia.


"Sekarang sudah jam 8 pagi dan sebagai seorang siswa yang ingin memperbaiki nilainya, kau seharusnya tidak bangun kesiangan. Dan seperti yang sudah kau setujui, bahwa mulai besok kau akan bangun jam 6 pagi kemudian jogging bersamaku lalu jam 8 pagi kau harus duduk di meja makan untuk sarapan bersama denganku." Ucap Adam berusaha menjelaskan kepada Claudia yang terlihat masih mengantuk dan menguap.


Adam berusaha menahan tawa melihat tingkah Claudia yang dianggapnya lucu itu.


Tapi, malah Claudia sendiri yang tertawa histeris. Ia bahkan memegang perutnya sembari berguling-guling diatas tempat tidur.


Adam sendiri, tidak bereaksi sedikitpun. Ia bahkan masih berdiri tegap dengan melipat tangan di dada dan memandang Claudia, hingga menunggunya berhenti tertawa.


"Jam 6 di pagi hari? Hahaha yang benar saja? Aku tidak pernah tahu bagaimana rupa dan suasana pagi hari jam 6 itu. Dan masalah joging itu, heh apa kau lupa, bahwa aku ini seorang pelari handal." Ucap Claudia sombong.


Adam menaikkan sebelah alisnya memandang Claudia yang masih saja terlihat congkak.

__ADS_1


"Berhenti menjadi kekanakan. Kau harus melupakan semua yang terjadi di masa lalu mu dan disini, selama tiga bulan kedepan kau harus mematuhi semua yang aku katakan mulai hari ini. Jika kau belum sempat membaca semua isi dokumen yang kau tanda tangani, maka baca semuanya nanti agar kau bisa memahami semuanya." Ucap Adam tegas.


Adam memandang Claudia dengan tajam.


"Sekarang, bersiaplah untuk sarapan dalam waktu 10 menit." Perintah Adam sebelum keluar dari kamar Claudia.


Claudia menjadi marah saat ini.


"Bajingan itu berani-beraninya memerintah aku. Aku akan.... Aaarrgghhh.... Tenang Claudia, jangan lupa kau membutuhkan tanda tangan perceraian darinya. Tetap tenang." Ucap Claudia seraya menarik napas dalam-dalam.


Claudia keluar dari dalam kamar mandi, lalu mendekat ke arah lemari hendak mengganti pakaiannya. Namun, ia bingung karena tak ada satupun pakaian miliknya. Seingatnya, ia sudah membawa pakaian miliknya dari rumah semalam.


Claudia ingin bertanya pada pelayan, tapi dia kehabisan waktu. Dia harus segera berada di meja makan dalam waktu dua menit. Jadi Claudia mengambil baju sembarangan untuk ia kenakan.


Claudia turun dari lantai atas, dan mendapati Adam tengah terlihat sibuk dengan tabletnya. Sementara di sisinya berdiri pelayan yang siap mengikuti perintahnya. Claudia baru menyadari bahwa pria yang berstatus sebagai suaminya itu hari ini tampil kasual. Mengenakan baju kaos berwarna hitam yang membuat lengan hingga sikunya terlihat jelas, dipadukan dengan celana pendek yang juga berwarna hitam.


Untuk pertama kalinya Claudia melihat pria itu tidak dalam balutan jas formal.


Adam berhenti memandangi tabletnya saat menyadari kehadiran Claudia yang berdiri di depannya. Claudia terlihat begitu menggemaskan, karena mengenakan baju kaos yang ukurannya dua kali lipat dari ukuran badannya dan berwarna merah. Claudia tak pernah mengenakan pakaian berwarna cerah, jadi Adam membuang semua pakaian yang dibawa Claudia dari rumah ke dalam tong sampah. Dimana semua pakaian itu dominan berwarna hitam, abu tua, dan warna gelap lainnya.


Adam mengganti semua pakaian Claudia dengan pakaian yang terlihat berwarna dan lebih cocok dengan usianya yang masih muda. Beberapa pakaian terlihat menggemaskan, ada yang terlihat elegan dan ada juga yang terlihat seksi. Dan dengan melihat Claudia yang berdiri dihadapannya dengan tampilan yang menggemaskan, membuat Adam merasa bangga dengan dirinya sendiri, tapi Adam tetap berusaha menahan senyuman rasa bangganya itu untuk keluar.


Adam menatap Claudia yang berdiri dengan canggung dan berjarak agak jauh dari meja makan. Dia lalu memberikan isyarat dengan mata agar Claudia duduk.


Claudia duduk, tapi...


"Dengar Pak, aku tidak terbiasa sarapan di pagi hari. Perutku sudah kenyang, hmmm sepertinya. Aku akan sarapan di kantin kampus nanti. Aku sudah terlambat untuk kuliah." Ucap Claudia tenang tanpa rasa amarah sedikitpun lalu hendak berdiri dari duduknya, kemudian....


"Duduk." Titah Adam."Makanlah apa yang sudah dihidangkan. Aku benci orang yang menyia-nyiakan dan tidak menghormati makanan. Dan kau tidak boleh makan sembarang makanan yang tidak sehat selain yang dibuat langsung oleh koki di rumah ini, mulai hari ini. Karena itu semua akan berpengaruh baik untuk kesehatan dan juga belajarmu. Jadi, duduklah dan nikmati sarapan mu. Jono adalah koki yang handal, kau tidak akan menyesal jika menyicipi makanan yang dia buat." Ujar Adam.


Claudia memutar mata dengan malas.


'Kenapa dia bertingkah seperti seorang Ayah dan memperlakukan aku seperti anak kecil? Apa aku harus memanggilnya Om?' pikir Claudia dalam hati.


Claudia lalu menggigit pancake yang disajikan dihadapannya ke dalam mulutnya. Dia tak bisa berbohong, bahwa pancake itu sangat enak. Kemudian dia menyadari bahwa pelayan tengah menuangkan susu coklat untuknya yang membuat matanya berbinar.


Claudia memang sangat menyukainya. Dia menjadi sangat bahagia setelah mendapat susu coklat itu. Dan tanpa menyadari bahwa seseorang sedari tadi terus memandanginya dengan sudut bibir yang menahan senyum.


Setelah sarapan, Claudia bangun dan berlalu untuk mengenakan sepatu bergegas pergi kuliah. Dia hendak keluar saat Adam menghentikannya.


"Tunggu dulu. Kau mau kemana? Pergi ke taman?" Tanya Adam yang membuat Claudia bertanya-tanya.


Claudia berdiri bengong dihadapan Adam.


"Nilaaa...." Teriak Adam.


Dan tak lama setelah itu, wanita yang bernama Nila itu datang dengan membawa sebuah ransel dan memberikannya kepada Claudia yang langsung membuka tas itu.


Terdapat sebuah tablet, notebook, beberapa buku catatan, sebuah tas kecil berisi alat tulis, sebuah kotak makan siang dan sebuah dompet kecil berisi uang tunai dan beberapa lembar pecahan besar dan yang terakhir dua kotak susu coklat.


Claudia menatap Adam dengan mulut yang terbuka dan alis yang mengkerut.


"Beginilah seharusnya isi tas dari seorang siswa. Kartu kredit mu sudah diblokir, begitu juga yang diberikan mendiang Papa mu. Kau akan mendapat uang jajan setiap hari, kau akan membawa makan siang setiap hari, dan aku akan memeriksa buku catatan mu setiap hari selama kau rajin menulis. Oh ya, aku akan mengantarmu ke kampus setiap hari dan David yang akan menjemputmu saat pulang kuliah." Ujar Adam panjang lebar.


Claudia berdiri tegak dihadapan Adam dan memandangnya tajam.


"Apa aku terlihat seperti anak kecil bagimu? Aku tidak akan pergi ke kampus seperti ini. Aku bukan siswa yang baru masuk sekolah dasar. Dan beraninya kau memblokir kartuku. Aku tidak menggunakan kartu yang kau berikan." Ucap Claudia dengan wajah marah lalu menjatuhkan dirinya diatas sofa dengan kasar, duduk dengan melipat tangan melihat ke arah Adam tajam.


Adam meminta Nila untuk meninggalkan mereka berduaan. Ia lalu duduk di sofa berhadapan dengan Claudia dan hanya terhalangi meja saja.


"Aku tidak akan pergi ke kampus seperti ini. Mengenakan pakaian yang aneh, membawa tas berisi banyak buku dan membawa bekal makan siang. Apalagi harus pergi ke kampus denganmu. Aku tidak akan mau pergi denganmu." Ucap Claudia seraya menunjuk Adam.


Adam hanya diam dan membiarkan Claudia bicara.


"Apa yang akan dikatakan teman-temanku nanti. Mereka akan berpikir bahwa kau itu sugar daddy ku. Dalam mimpi pun mereka tidak akan pernah bisa membayangkan jika kau itu sua...." Claudia menghentikan ucapannya. "Aku tidak akan pergi denganmu." Lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Oh, jadi kau tahu apa itu sugar daddy? Hmmmm otak mu encer juga. Aku mengerti. Hmmm, kita haris melakukan sesuatu tentang hal itu." Ucap Adam mengatakan hal terakhir itu pada dirinya sendiri. "Ngomong-ngomong, jika kau tidak menginginkan semua ini, kau boleh mengakhiri kontrak ini." Ucap Adam.


Rahang Claudia mengeras, dia tahu membatalkan kontrak berarti tidak ada perceraian. Jadi dia berdiri dan mengambil tas ransel yang disiapkan untuknya itu lalu berjalan keluar.


Adam mengikutinya dari belakang dengan tersenyum penuh kemenangan.


Keduanya tiba di kampus...


Suara mobil terdengar begitu pelan. Tapi saat mobil berhenti tepat di depan kampus, membuat semua orang menjadi melihat ke arah mereka. Kaca jendela mobil yang berwarna hitam, membuat semua orang tak dapat melihat siapa yang mengantar Claudia. Tapi semua pandangan dan bisikan yang terdengar membuat Claudia menyadari bahwa dirinya akan menjadi bahan perbincangan dalam waktu yang lama, setidaknya dalam waktu tiga bulan ke depan, karena Adam akan terus mengantarnya ke kampus.


Claudia memandang Adam dengan mata penuh kemarahan, ia lalu keluar dari dalam mobil dan menghempaskan pintunya dengan keras.


Adam juga dapat mendengar dengan jelas dari dalam mobil bahwa orang-orang di luar sana tengah bergosip tentang Claudia. Mereka juga terus melihat Claudia saat keluar dari dalam mobil. Sebagian dari mereka bergosip buruk tentang Claudia, sebagian mencibirnya, dan sebagian lagi mencacinya.


Claudia sendiri tidak memperdulikan pandangan aneh orang lain yang melihatnya mengenakan semua yang dikenakan. Dia tiba di tempat dimana teman-temannya berada. Mereka semua juga tampak terkejut melihat penampilan Claudia.


"Di, apa kau sedang kerasukan? Ada apa denganmu?" Tanya Rose.


"Kau terlihat menggemaskan dengan warna merah." Ucap Diana.


"Tas dan semuanya.... Hmmm aku mengerti." Ucap yang lainnya.


Tapi, Endra segera menarik Claudia menjauh dari yang lainnya.


"Di, ada apa dengan semua ini? Kau dari mana saja? Semalam aku pergi ke rumah mu untuk menemui mu tapi kau tidak disana. Dan pelayan di rumah mu mengatakan bahwa kau pindah ke rumah Tuan Muda. Siapa Tuan Muda itu? Dan mobil tadi? Hanya ada tiga orang di negara ini yang mempunyai mobil seperti itu. Pertama adalah seorang aktor kaya, kedua seorang kolektor mobil yang memang seorang yang sangat kaya dan yang terkahir adalah Adam Wijaya. Aktor itu sekarang sedang berada di luar negeri, kolektor mobil itu juga tengah berburu mobil di Italia. Dan orang terakhir yang sangat masuk akal adalah Adam Wijaya. Apakah dia itu milikmu?" Tanya Endra panjang lebar.


"Sugar daddy hah? Apakah itu yang ingin kau dengar dariku?" Tanya Claudia.


Endra tidak bisa berkilah, ia memang berpikir seperti itu.


"Bukan seperti itu sayang, tapi...."


"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku bisa mengerti. Kau tahu sendiri, aku paling benci menjelaskan sesuatu." Ucap Claudia seraya mendekat ke arah Endra.


Claudia lalu menaruh tangannya di di leher Endra, merangkulnya dengan lembut. Endra menatap Claudia dengan perasaan bersalah.


"Percayalah, aku tidak melakukan sesuatu yang salah, atau tidak bermoral. Aku tidak bisa mengatakan apapun lebih banyak sekarang. Tapi aku ingin kau bisa percaya padaku." Ujar Claudia.


Endra langsung memeluk Claudia dengan erat.


"Maafkan aku. Aku hanya khawatir padamu. Kepada keselamatanmu, dan semalam itu..."


"Tidak ada yang terjadi tadi malam aku hanya frustrasi karena pria itu selalu mempermasalahkan tentang ciuman yang aku lakukan padanya di lobi hotel malam itu. Jadi aku membalasnya karena sakit hati. Tapi semuanya jadi kelewatan batas dan menjadi semakin runyam hingga membawa kami ke dalam kamar itu, tapi di kamar itu juga tidak terjadi apapun. Kau percaya padaku kan? Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu." Ucap Claudia seraya balik memeluk Endra.


Claudia juga akhirnya menjelaskan kepada Ros dan Diana dan teman-temannya yang lain bahwa dia berpindah fakultas tahun ini. Teman-temannya tidak menanyakan kenapa, apa, mengapa dan bagaimana. Seperti itulah mereka selama ini. Mereka tidak pernah saling menghakimi. Dan juga tidak pernah meminta penjelasan apapun. Karena hal itulah yang membuat Claudia merasa senang dan betah berteman dengan mereka.


Beberapa saat kemudian waktu makan siang tiba, kalau dia bergegas pergi ke kantin dengan membawa kotak makan siangnya karena uang yang diberikan oleh Adam tidak cukup untuk membeli makanan. Claudia begitu kesal tetapi melihat makanan yang berada di dalam kotak makan siang membuatnya menjadi senang. Ada nasi putih, kimchi, ayam goreng, dan beberapa potong sayuran segar.


Makan siang yang dibawa Claudia terlihat seperti makanan dari sebuah restoran. Bahkan para teman-temannya menyukai rasa dari makanan itu. Endra menjadi bahagia karena di manapun kalau dia berada saat ini dia yakin bahwa kalau dia bisa hidup dengan baik karena orang itu bisa membuat kalau dia berubah menjadi lebih baik seperti mengenakan pakaian berwarna, menyiapkan makan siangnya dan bahkan mengantarnya ke kampus.


Mereka tengah menikmati makanan itu saat Claudia tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telepon.


Claudia memutar mata malas saat melihat siapa yang meneleponnya.


Claudia: "Apa lagi sekarang?" Tanya Claudia kesal.


Adam: "Apakah kau menikmati makan siang mu?"


Bohong jika Claudia tidak merasakan sesuatu saat Adam bertanya padanya. Perasaan itu Claudia sendiri tidak dapat menjelaskan apa artinya.


Claudia: "Aku memberikannya pada teman-temanku."


Adam: "Bagus, setidaknya kau tidak menyia-nyiakan makanan itu. Ngomong-ngomong aku sudah menelpon pihak kampus dan menanyakan tentang dirimu mereka mengatakan bahwa kau tidak mempunyai kelas setelah ini, maka aku akan menjemputmu dalam waktu 1 jam."


Claudia: "Apa? Kenapa? Aku sudah punya rencana dengan teman-temanku. Aku akan kembali saat jam pulang dari kampus seperti biasanya. Kau bisa meminta David untuk menjemput ku nanti."

__ADS_1


Adam: "Iya aku tahu tapi pekerjaanku sudah selesai di kantor. Dan aku punya satu hal penting yang ingin aku lakukan. Aku butuh kau untuk ikut denganku. Jadi selesaikan makan siang mu. Bersenang-senanglah dengan teman-temanmu aku akan berada di situ untuk menjemputmu, jam 2 siang nanti."


Bersambung....


__ADS_2