90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
39. Bermanja


__ADS_3

Mobil tiba-tiba berhenti mendadak dan membuat suara rem terdengar berdecit panjang. Dan membuat gadis yang duduk di bangku belakang begitu kaget. Claudia menelan ludah dan mengusap dadanya untuk membuat dirinya tenang.


"Apa kau mencoba untuk membunuhku? Tunggu, tunggu dulu, apa yang coba kau...?"


Claudia menjadi bingung, karena pria yang duduk di kursi kemudi itu tiba-tiba turun dari mobil dan berputar lalu masuk dan duduk di kursi belakang disampingnya.


Claudia lalu menggeser posisi duduknya agar ia dan Adam dapat duduk di jarak yang aman.


Adam mengambil sebuah paper bag dari belakang kursi lalu menaruhnya di pangkuan Claudia dengan ekspresi datar.


Claudia tampak penasaran dengan isi paper bag itu dan melihat kedalamnya yang terdapat beberapa kotak kado yang terbungkus rapi. Tapi satu hal yang diketahui Claudia bahwa paper bag itu adalah yang sudah dilihatnya sejak pagi tadi yakni berlabel D'care. Set parfum yang diberikan Adam sejak pagi tadi.


"Aku mendapatkan kembali kotak itu dari Megan. Ada satu botol yang tidak ada karena kau menolak untuk menerimanya, dan yang lainnya adalah produk yang berada dalam satu brand itu. Sabun perawatan untuk mandi, sampo, sabun wajah, produk skincare, lipstik, lipbalm dan yang lainnya. Aku ingin kau menggunakan semua ini sebelum kami resmi melaunching nya."


Claudia tampak terlihat berpikir, dia tidak berkata apapun dan hanya menatap ke arah paper bag itu. Dia terlihat berpikir, apakah dia akan memaafkan Adam atau tidak menghiraukannya saja.


Adam secara tiba-tiba melompat seperti kucing dan berakhir dengan memeluk Claudia. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Claudia, hingga Claudia dapat merasakan hembusan napas Adam yang terasa hangat di pipinya. Claudia menelan ludah.


Adam menatap dalam ke arah mata Claudia dan mulai bicara lagi.


"Aku minta maaf. Aku tidak berpikir lebih dulu sebelum mengatakan hal itu." Ucap Adam dengan wajah yang tampak sangat menyesal.


Claudia tampak bingung.


"Mengatakan apa?"


"Aku tidak pernah tahu bahwa kau masih perawan sayang. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menghakimi mu karena hal itu. Tidak masalah juga jika kau memang sudah tidak perawan. Apa masalahnya dengan hal itu? Tapi aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu sayang, percaya padaku. Jika kau mau, aku akan berjalan diatas bara api." Ucap Adam yang membuat Claudia semakin tampak bingung.


Claudia menyampingkan paper bag itu lalu menatap Adam dan memegang bahunya.


"Apa yang barusan kau katakan?" Tanya Claudia.


'Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ingin kau berjalan diatas bara api? Aku hanya mengatakan hal itu pada Tuan A.'


"Tunggu sebentar." Ucap Claudia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Kau bajingan, berikan padaku ponselmu." Ucap Claudia dengan menarik kerah kemeja Adam dan mencebik kesal.


Sementara Adam tertawa kecil namun merasa begitu puas. Dia lalu memutar tubuh Claudia membuat gadis itu duduk diatas pangkuannya. Tangan Claudia masih memegang kerah kemeja Adam.


Adam mencium pipi Claudia dengan lembut, menyerahkan ponsel miliknya lalu memeluk Claudia agar lebih dekat dengannya. Claudia begitu menempel padanya.


Claudia lalu menatap ponsel Adam yang ternyata terkunci dengan sebuah kata sandi. Dia mengembalikan ponsel itu pada Adam dan menutup matanya sambil menghela napasnya.


"Kata sandi nya." Ucap Claudia.


Adam tidak mengambil ponsel itu dari tangan Claudia, dia malah sibuk menciumi leher Claudia.


"Claudia ku..." Ucapnya.


Claudia membuka matanya, tampak bingung dan mengerutkan dahinya menatap Adam.


"Itu password nya." Ucap Adam lagi.


Wajah Claudia mendadak memerah merona, dia mengacuhkan tatapan Adam dan fokus dengan apa yang dia lakukan.


Claudia lalu membuka akun sosial media milik Adam. Dia tidak pernah tahu bahwa Adam memiliki sebuah akun sosial media. Dia melirik ke arah Adam sekilas lalu mulai melihat ke dalam akun itu. Dan dugaannya memang benar.


Claudia menghempaskan ponsel itu ke tangan Adam.


"Dasar kau tukang penguntit." Ucap Claudia seraya memukuli dada Adam, sekali, dua kali hingga tiga kali.


Hal itu membuat Adam terbahak, dan suara tawanya memenuhi mobil. Dia lalu menaruh ponselnya di sebelahnya kemudian mencubit pipi Claudia.

__ADS_1


"Sekarang berikan aku sebuah ciuman." Pintanya dengan suara lembut.


Claudia memutar mata malas sebelum mendaratkan ciuman di bibir Adam. Tapi, saat Adam mencoba untuk meningkatkan ciuman itu, Claudia langsung menarik dirinya dan mencium pipi kiri Adam hingga membuatnya merona. Adam merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam di hatinya.


"Hei pria tua, maaf karena aku sudah menamparmu. Apakah sangat sakit?" Tanya Claudia.


Adam ingin bermanja-manja pada Claudia, jadi dia mengangguk. Hal itu membuat Claudia merasa sedih dan bersalah. Dia lalu mencium pipi kiri Adam terus-menerus dan berulang-ulang kali tanpa meninggalkan sedikit inci pun.


"Maafkan aku, aku tidak sadar. Aku sangat marah padamu, itulah kenapa aku sampai melakukannya. Tapi jangan khawatir, hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji." Claudia menempelkan pipinya ke pipi Adam.


Claudia menyadari bahwa Adam terus memeluknya semakin erat setiap menitnya. Adam merasa begitu senang. Dia tersenyum nakal dan merasa ingin semakin jauh lebih dekat dengan sang istri.


"Tapi sayang, apa kau sadar bahwa saat ini kau masih mengenakan celanaku." Ucap Adam.


Claudia begitu kaget hingga membuat matanya membelalak sempurna. Ia lalu menatap kebawah dan semakin terkejut ketika menyadari apa yang dikatakan Adam adalah benar.


Adam menceritakan apa yang terjadi padanya setelah kepergian Claudia dari kantor. Dan hal itu membuat Claudia tertawa terbahak-bahak. Dia pada akhirnya membuat seisi mobil penuh dengan tawanya yang menggemaskan. Dia tak dapat mengontrol tawanya, tanpa menyadari seorang pria dihadapannya terus memandangnya dan semakin jatuh cinta padanya jauh lebih dalam di setiap detiknya.


*****************


Bagaimanapun, akhirnya Adam dan Claudia tiba di rumah. Claudia pertama kali tiba di rumah langsung menuju dapur karena Jhon memaksanya untuk makan malam. Adam sendiri tidak makan malam dan hanya memilih meminum segelas susu dan naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Claudia begitu terburu-buru untuk menghabiskan makan malamnya. Jadi dia meminta Nila untuk terus menerus menyuapinya dengan cepat. Memang sudah menjadi tugas Nila untuk menyuapi Claudia makan malam. Karena kebanyakan waktu, Claudia tidak pernah makan malam sendirian. Dia lebih sering malas dan terkadang kelelahan, sehingga baik Adam sendiri kadang memaksa untuk menyuapi Claudia, dan memerintahkan Nila untuk menjalani tugas itu. Mengingat dirinya yang sering pulang larut malam.


Claudia tiba di kamarnya. Ia melompat dengan kegirangan.


Tapi ketika dia membuka pintu kamar, dia mendapati bahwa Adam ada disana tengah duduk di lantai dengan kepala bersandar ke tempat tidur. Mencoba untuk membuka kotak kado itu.


"Hei pria tua." Teriak claudia.


Dia menatap Adam dengan tajam lalu bergegas mendekati Adam dan merampas kotak yang berada di tangan Adam. Claudia lalu duduk di antara sela kaki Adam yang membuat Adam tidak bisa melakukan apapun. Claudia duduk membelakangi Adam seraya mulai membuka kotak itu satu persatu.


"Pria tua, ini adalah hadiah milikku, aku sangat suka membuka kotak hadiah. Jangan pernah mencoba untuk membuka kotak hadiah ku lagi." Ucap Claudia dengan wajah yang kesal.


Claudia sendiri tampak bersandar di dada Adam dan Adam menempatkan dagunya di pundak Claudia.


"Dam, apa aku bisa memberikan beberapa produk ini kepada teman-temanku? Jangan salah paham, aku bukannya tidak menghargai pemberianmu. Tapi aku yakin mereka juga akan sangat bahagia." Ucap Claudia.


Adam sangat menyukai sikap Claudia yang seperti ini dan dia semakin mencintai sikap yang ditunjukkan Claudia padanya. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Claudia sebelum menjawab pertanyaan darinya.


"Sayang, semua ini adalah milikmu, jadi kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan."


Claudia sangat bahagia. Dia lalu mulai memilah satu persatu produk yang akan diberikan kepada teman-temannya. Menandai setiap produk yang mana akan diberikan kepada siapa.


"Dan yang satu ini untuk Nila, karena selama ini dia selalu menjagaku." Ucap Claudia.


Adam memegang dagu Claudia dan mencium bibirnya lalu mengangguk.


"Dam, sekarang aku sudah tahu bahwa akun itu adalah dirimu. Jadi bisakah kau menghapus foto profil itu dari sana. Itu sangat memalukan." Pinta Claudia.


Claudia lalu mulai mengutak-atik profil Adam karena profil itu memang terlihat membosankan. Jadi Claudia mulai mendekorasi nya dan mengajar Adam bagaimana cara menggunakan akun sosial media itu.


"Berhentilah bermain ponsel. Sekarang ayo, kau harus segera mandi. Aku akan mempersiapkan semuanya untukmu. Kau harus mencoba produk lulur, sabun mandi dan face wash nya juga. Ayo bangun." Titah Adam.


"Ya Tuhan apa harus hari ini juga? Apa aku tidak bisa mencobanya besok saja?" Protes Claudia.


"Tidak, tidak. Harus hari ini, ayo cepat." Balas Adam seraya menarik tangan Claudia masuk ke dalam kamar mandi.


Adam mulai mempersiapkan segala keperluan Claudia untuk mandi. Seperti menyiapkan bathtub yang sudah diberi wewangian dan busa sabun beraroma mawar yang banyak. Claudia yang malu meminta Adam untuk keluar lebih dulu sebelum dia masuk kedalam bathtub. Setelah seluruh tubuhnya masuk kedalam bathtub, dan hanya menyisakan kepalanya, Adam lalu kembali masuk dan mulai memilih salah satu varian sampo, menaruh nya di kepala Claudia. Adam lalu mulai memijat kepala Claudia dengan lembut.


Claudia merasa begitu nyaman dengan pijatan yang diberikan oleh Adam hingga membuatnya menutup matanya.

__ADS_1


'Jadi inilah hak istimewa menjadi Nyonya Adam. Diperlakukan penuh dengan kasih sayang oleh Adam Wijaya. Siapa yang menyangka bahwa dia bahkan sampai memijat kepalaku, menyuapiku makan, memelukku kala tidur, bahkan dia benar-benar ingin bercinta denganku. Para gadis di luar sana hanya bisa memimpikan semua ini. Tapi aku pikir aku harus melakukan sesuatu untuknya. Dia sudah melakukan banyak hal untukku. Iya benar aku harus melakukan sesuatu.' Ucap Claudia dalam hati.


Adam lalu keluar dari dalam kamar mandi memberikan privasi kepada Claudia agar menyelesaikan mandinya.


Adam lalu kembali ke kamarnya dan menelepon seseorang bernama Samuel.


"Samuel, lupakan semua tugas yang aku berikan padamu siang tadi. Aku memberikanmu tugas untuk menemukan berlian yang gambarnya sudah aku kirimkan padamu tadi, di manapun itu kau harus menemukannya dan warnanya harus sama persis. Tidak boleh warna lain karena itu merupakan warna favoritnya." Ucap Adam.


"Dia? Siapa Tuan?" Balas Samuel memberanikan diri untuk bertanya.


"Kesayangan ku." Jawab Adam sebelum menutup telepon.


Warna yang dikatakan Adam adalah warna biru menyala. Dimana selama ini, Adam selalu melihat Claudia sangat menyukai warna itu.


**********


Pagi berikutnya Adam terlihat tengah menyuapi sarapan untuk Claudia, sementara Claudia sendiri tengah sibuk mencatat sesuatu di bukunya. Dia tidak menyelesaikan tugasnya semalam. Dan Adam tidak bisa mentolerir hal itu.


Hilda dan Nadia ada di sana, berdiri disamping meja dan membaca laporan kepada Adam. Dan Adam tengah mendengarkan mereka, sembari terus menyuapi sang istri.


Nadia dan Hilda tampak begitu terkejut dan merasa aneh saat pertama kali melihat momen yang terjadi di hadapan mereka. Hal pertama yang diketahui oleh Hilda adalah bahwa Claudia itu adalah istri dari Adam.


Saat keduanya baru tiba di rumah itu, Adam sedang tidak ada di ruang tamu, jadi mereka berdua diminta oleh pelayan menunggu kedatangannya.


Kemudian setelah beberapa saat, Adam turun dari lantai atas dengan menampilkan raut wajahnya yang seperti biasanya, tampak begitu dingin. Nadia dan Hilda berdiri lalu membungkuk memberi hormat kepada Adam, mengucapkan selamat pagi. Adam mendekat dan duduk di sofa lalu mulai bekerja. Dia berpikir bahwa dia bisa sarapan nanti di jalan, saat menuju kantor saja.


Tapi seorang gadis terlihat berlari dengan cepat menuruni tangga dengan wajahnya yang tampak menggemaskan. Dia terlihat memegang buku, tas dan alat tulis di tangannya. Rambutnya terlihat berantakan dan wajahnya masih basah.


Perhatian Adam buyar seketika terhadap pekerjaannya. Dia langsung berdiri dan tubuhnya berbalik menatap kearah Claudia.


"Nila tidak ada waktu untukku sarapan, jadi jangan paksa aku untuk hal itu..." Teriak Claudia melihat Nila yang tengah menyiapkan sarapan untuknya.


Adam sekarang sudah berjalan mendekat kearah meja makan diikuti oleh dua orang wanita yang tampak terkejut di belakangnya.


"Diii.... Berapa kali lagi aku harus memberitahumu untuk tidak pernah melewati sarapan..." Ucap Adam memarahi Claudia tapi ajaib nya suaranya terdengar begitu lembut. "Dan apa ini? Kau bahkan tidak mengeringkan rambutmu dengan benar. Kau bisa saja demam dan terkena flu sayang." Ucap Adam seolah memberikan sinyal kepada para pelayan.


"Dam, aku tidak punya waktu. Aku harus menyelesaikan tugas ini. Bagaimanapun juga, kau sendiri yang akan memarahi ku nanti di kelas. Jadi jangan ganggu aku suh... suh... Pergi sana." Ucap Claudia seraya tampak sibuk dengan bukunya.


Hilda berbisik di telinga Nadia.


"Apa dia baru saja mengusir Tuan Adam? Ya Tuhan, kenapa gadis itu begitu manja."


Nadia memutar mata malas melihat kearah Claudia.


"Dia bertingkah untuk mendapatkan perhatian."Balas Nadia berkomentar.


Kemudian seorang pelayan datang dengan membawa handuk dan satu orang lagi membawa sepiring sarapan yang tampak lezat.


"Kalian berdua bisa membaca laporan itu dengan suara yang lantang. Aku akan mendengarkan kalian." Titah Adam pada Nadia dan Hilda.


Adam kemudian mulai mengeringkan rambut Claudia dan setelahnya duduk di samping Claudia dan mulai menyuapinya sarapan. Claudia tampak sama sekali tidak bisa diganggu bahkan dia tidak sedikitpun melirik kearah Adam.


Dan ditengah-tengah berjalannya waktu, Adam terus saja mengomeli Claudia.


"Sayang, cepat kunyah makanan mu..."


"Sayang, tulisanmu berantakan dan ejaannya tidak benar..."


"Jangan gunakan kata yang sama. Coba gunakan sinonim yang berbeda..."


Awalnya Nadia dan Hilda berpikir bahwa Adam tidak mendengarkan apa yang mereka katakan sejak tadi. Tapi kenyataannya, dugaan mereka itu salah. Saat tiba-tiba Adam berteriak kepada mereka karena kesalahan yang mereka ucapkan.

__ADS_1


Perbedaan kemarahan Adam kepada Nadia dan Hilda sangat jauh berbeda dengan omelan yang ia tujukan kepada Claudia. Seperti antara surga dan neraka.


Bersambung....


__ADS_2