
Sudah dua hari berselang.....
Hari ini, Adam pulang ke rumah lebih awal dari hari biasanya, karena kemarin dia terlambat pulang dan istrinya sangat marah kepadanya. Karena hal itu Claudia bahkan tidak mau mencium Adam tadi malam. Jadi Adam memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini, dia sangat merindukan ciuman istrinya itu.
Saat kembali ke rumah, Adam tidak menemukan istrinya berlari kearah dirinya seperti seekor kelinci. Membuka jas dan dasinya, menciumnya seperti biasanya saat dirinya tiba di rumah dan hal lain-lainnya.
Adam menanyakan kepada Nila tentang dimana Claudia. Nila pun menjawab.
"Tuan... Terima kasih Tuhan, Tuan akhirnya sudah ada di sini. Nona Muda ada di taman sejak jam 11.30 tadi. Nona bahkan tidak makan siang."
"Apa? Jam 11.30 dan sekarang sudah jam 04.00 sore. Kenapa dia tidak makan? Ada apa? Apa yang dia lakukan disana?" Tanya Adam bertubi-tubi dengan wajah yang bingung.
"Tuan, Nona Muda melihat video tentang pembuatan gerabah di ponsel, dan memutuskan untuk membuat pot bunga untuk hasil buatan Nona sendiri. Nona juga meminta tukang kebun yang setuju untuk membantu Nona. Tapi sejak pertama membuatnya, Nona belum bisa membuat satu pun pot bunga dengan benar. Itulah mengapa Nona berdiam diri di sana dan terus melakukannya sampai bisa berhasil. Nona mengatakan kepada saya, bahwa Nona tidak akan makan apa pun dan tidak akan pergi dari sana sampai Nona setidaknya membuat satu pot yang sempurna hari ini." Ucap Nila menjelaskan semuanya secara detail dengan wajah yang terlihat khawatir.
Tapi di sisi lain, Adam malah tertawa kecil dengan tingkah menggemaskan istrinya itu. Dia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya, lalu pergi ke arah taman.
Nyonya Adam terlihat tengah duduk disebuah bangku kecil, dengan posisi duduk seperti anak kecil. Rambutnya diikat tinggi, dia menggunakan hoodie dan celana pendek. Wajahnya dipenuhi lumpur dan tanah, tangannya menggunakan sarung tangan taman, dengan wajah yang terlihat cemberut dan ingin menangis, bibirnya manyun karena rasa kecewa. Dia terlihat sibuk membuat gerabah tapi selalu saja gagal.
Adam mendekat dan duduk di samping Claudia tanpa mendapatkan perhatian apapun dari istrinya itu. Adam lalu memberikan tanda kepada Nila dan tukang kebun untuk meninggalkan mereka berdua. Kedua orang itu langsung pergi begitu saja.
"Selamat sore sayang." Ucap Adam dengan menghela napas dan suaranya yang terdengar begitu lembut.
Claudia menjadi sangat kesal karena perhatiannya untuk fokus memutar gerabah itu menjadi buyar.
"Aaaaaarrrrrggggghhhh.... Adam Wijaya. Apa yang sudah kau lakukan?" Teriak Claudia lalu melihat kearah Adam dengan kedua tangan dan kakinya yang di hentakkan di tanah karena frustasi dan menangis seperti anak kecil.
Adam tidak bisa tertawa, apalagi karena melihat istrinya mulai menangis. Dia berusaha menahan tawanya yang hendak keluar lalu berusaha menjelaskan kepada istrinya.
"Sayang, sudahlah. Tidak apa-apa.... Sssshhhh... Tenanglah, aku akan memberitahukan mu cerita lucu tentang aku yang mencoba membuat gerabah untuk pertama kalinya. Dengarlah, kumohon sayang.... Ssssshhh... Tolong jangan menangis sayang... Sayang kau mau kemana sayang... Sayang tidak... tidak... tidak... tidak.. sayang, jangan lakukan itu. Dengarkan aku... CLAUDIAAA..." Adam berteriak kepada Claudia yang sudah berlari dari dirinya dan hendak masuk ke dalam rumah.
Claudia hendak melempar sebuah vas saat Adam memanggil dirinya dengan nama lengkapnya. Hal itu membuat Claudia mematung di posisinya.
Adam bergegas mendekat ke arahnya dan mengambil vas itu dari tangan Claudia. Claudia masih berdiri di sana, matanya melihat kearah lantai. Bibirnya sudah terlihat menggantung karena begitu cemberut.
Adam mulai berbicara.
"Sayang dengarkan aku. Ku mohon." Ucap Adam menarik Claudia lalu membuatnya duduk di pangkuan nya dan menarik Claudia kedalam pelukannya.
"Tidak, aku kotor. Pakaian mu akan kotor nanti." Ucap Claudia yang akhirnya berbicara membuat Adam tersenyum.
"Aku tidak peduli tentang pakaian ku. Yang aku pedulikan adalah aku tidak mendapatkan pelukan dan ciuman selamat datang dari istriku. Aku hanya ingin itu." Ucap Adam.
Claudia tersenyum dan memeluk suaminya. Mencium pipi dan kening juga bibir suaminya. Kemudian berkata,
"Aku minta maaf. Aku sangat sibuk, sini biarkan aku membuka jas dan dasi mu lebih dulu. Kau pasti merasa tidak nyaman." Ucap Claudia melepaskan dasi dan jas Adam.
Adam memeluk Claudia kembali dan berkata,
"Kau tahu sayang. Ketika aku masih muda dan berada di panti asuhan, membuat gerabah adalah salah satu hobi ku. Saat itu papa mu adalah orang yang selalu mengajariku setiap hari sabtu. Membutuhkan waktu satu setengah bulan untukku membuat sebuah pot yang sempurna. Kau tidak bisa belajar apapun dalam waktu hanya satu hari sayang. Jangan menjadi tidak sabaran oke." Ucap Adam kepada istrinya itu.
Merasa heran dengan informasi baru yang diberikan oleh suaminya itu membuat mata Claudia membesar.
"Satu setengah bulan. Adam Wijaya yang sempurna ini, membutuhkan waktu satu setengah bulan. Berarti butuh waktu satu setengah tahun untukku bisa membuat sebuah pot dengan sempurna."" Ucap Claudia yang membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Tidak sayang, jangan meragukan kemampuan mu sendiri. Semua kemungkinan bisa terjadi. Kau bisa saja memerlukan waktu yang lebih sedikit untuk mempelajari itu semua." Ucap Adam dengan serius.
Mereka berdua lalu makan secara bersama-sama. Adam membawa Claudia untuk makan malam di luar.
Adam dan Claudia sekarang tengah sibuk mengobrol sambil makan di sebuah ruangan pribadi di dalam restoran yang ada di mall starlight. Sebenarnya Claudia lah yang berbicara dan Adam hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Adam sibuk menyuapi istrinya dan juga dirinya sendiri.
Ponsel Adam tiba-tiba berdering.
Nama yang tertera di layar ponsel membuat senyuman keduanya mendadak menghilang. Itu adalah sebuah panggilan dari Megan.
__ADS_1
Adam sebenarnya malas untuk menjawab panggilan telepon itu, tapi Claudia memaksanya.
"Halo." Ucap Adam.
"Halo Om Adam. Aku menghilangkan anting-anting itu." Ucap Megan dengan suara yang panik dan hampir terdengar menangis.
"Apa apakah kau bercanda Megan? Bagaimana kau bisa menghilangkan nya?" Teriak Adam.
Teriakan Adam itu bahkan membuat Claudia kaget. Megan pun mulai menangis sekarang.
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu Om. Itu... itu... sebenarnya..." Ucap Megan berusaha untuk menjelaskan.
" Aku akan datang." Ucap Adam sebelum memutuskan panggilan telepon itu.
Claudia tampak terkejut melihat suami nya yang terlihat panik itu. Ini adalah pertama kalinya Claudia melihat wajah yang biasanya tenang dan dingin milik suaminya itu mendadak terlihat panik dan khawatir.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau begitu marah?" Tanya Claudia.
Claudia berusaha menenangkan suaminya, tapi itu tidak berhasil. Untuk pertama kalinya Claudia gagal menenangkan suaminya. Adam melihat Claudia dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak.
Adam terdiam sesaat.
"Aku harus pergi sayang. Tolong jangan kesal atau marah kepadaku. Ini sangat penting. Aku janji, aku akan menjelaskannya kepadamu nanti." Ucap Adam.
Claudia memeluk suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, aku tidak akan marah padamu. Kau pergilah, aku akan menunggu mu di rumah nanti." Balas Claudia.
"Terima kasih karena sudah mengerti sayang. Jangan menggunakan taksi atau apapun itu. Telepon saja Erik dan tunggu di sini dengan aman, sampai dia tiba oke."
Claudia melihat kearah suaminya dengan ekspresi yang bingung.
"Iya... iya sayang. Aku tidak akan menggunakan taksi. Aku akan menelpon Erik. Kau tidak perlu khawatir. Kau pergi saja cepat dan catat dalam pikiranmu. Aku akan menunggumu di rumah. Jangan buat dirimu masuk ke dalam masalah yang akan membahayakan nyawamu, ku mohon sayang." Ucap Claudia lalu mengeratkan pelukannya pada suaminya.
******************
Di rumah Megan....
Adam langsung mengetuk pintu rumah Megan dengan kasar dan saat pintu terbuka dia langsung berteriak.
"Megan, bagaimana kau bisa menghilangkan itu? Kau tahu benar bahwa hal itu sangat penting untuk ku. Aku sudah meminta mu untuk memberikan itu kepadaku. Tapi kau tidak mau dan sekarang katakan, ke mana kau pergi terakhir kalinya?"
Megan terdiam sesaat, tapi saat Adam menatapnya dengan tatapan penuh amarah, Megan mulai mengeluarkan air matanya dan berkata,
"Sebenarnya kemarin sore aku menunjukkan anting itu kepada teman-temanku. Karena itu adalah pemberian terakhir yang diberikan papa kepadaku. Dan berlian nya juga sangat langka. Tapi kemudian, aku tidak ingat dimana aku menyimpannya. Aku tidak dapat menemukannya sejak pagi tadi." Ucap Megan menjelaskan kepada Adam.
Adam kembali memarahi Megan.
"Yang benar saja Megan? Kau tahu itu sangat penting dan kau malah menunjukkan nya kepada teman-temanmu, hanya karena berlian nya langka? Berapa kali harus aku katakan kepadamu, anting itu bukanlah hadiah dari papamu. Benda itu punya history lain." Teriak Adam lagi membuat gadis itu menangis dengan keras karena ketakutan.
"Sejak hari dimana Om mendapatkan anting-anting itu, Om selalu dan hanya peduli kepada anting itu. Om bertingkah seolah anting-anting itulah yang berada dalam bahaya, bukan aku. Bahkan ketika mereka menyerang ku, Om lebih dulu meminta aku untuk mengamankan anting-anting itu. Apa sebenarnya ini? Ada apa dibalik anting-anting itu.
Om sudah berubah begitu banyak. Kenapa aku harus memberikan Om hadiah yang dibelikan papa untukku. Papa memberikan itu kepadaku disaat nafas terakhirnya. Kenapa ada orang lain yang ingin mengambil itu dariku kenapa?" Megan tidak dapat menahan dirinya dan berteriak balik ke arah Adam.
Selama ini Adam dan ketiga teman-temannya selalu menjaga Megan seperti boneka kaca yang begitu rapuh. Tapi sejak malam itu, di malam pesta ulang tahun Megan, Adam sudah berubah. Kapanpun keduanya mengobrol, pertanyaan pertama yang selalu ditanyakan Adam adalah, apakah anting-anting itu aman atau tidak.
Adam mengambil nafas dalam kemudian berkata,
"Aku minta maaf. Aku tahu seharusnya aku lebih sopan. Tapi Megan, katakan kepadaku bahwa kau tidak menghilangkan itu dimana pun di luar sana bukan? Jadi, anting itu pasti berada di suatu tempat di dalam ruangan rumah ini. Cobalah untuk mengerti. Biarkan aku memberitahukan yang sebenarnya lebih dulu.
Anting-anting itu bukan diberikan oleh papamu untukmu. Dia menemukannya entah dari mana. Anting-anting itu sebenarnya memiliki sebuah chip memori didalamnya. Yang memiliki beberapa informasi tentang misi kami dan musuh dari papamu oke. Jadi itu itulah kenapa para pria itu selalu mengejar mu. Sekarang jika kau menyerahkan itu kepadaku, mereka tidak akan menyakitimu lagi, tidak juga menyerang mu. Kau bukan lagi target dari mereka oke. Aku harap kau mengerti sekarang.
Ayo cepat temukan anting-anting itu lebih dulu. Lalu akan menyimpannya di tempat yang aman dalam pengawasan ku sendiri mulai sekarang. Kemudian kita akan makan es krim. Es krim krim yang kau sukai. Aku janji. Sekarang ayo kita temukan anting itu."
__ADS_1
Adam berusaha berbicara dengan nada setenang mungkin ketika sebenarnya pikirannya tidak tenang.
Mereka mencari anting-anting itu di seluruh rumah. Kemudian tiba-tiba pintu terdengar di ketuk dengan sangat keras. Pertama, keduanya saling menatap satu sama lain hingga mereka tidak menjawab panggilan dari siapapun yang ada di luar sana. Kemudian pintu terdengar diketuk dengan sangat keras lagi.
"Buka pintunya." Seseorang berteriak dari luar dengan suara yang begitu dalam.
Adam tahu suara siapa itu. Wajah Adam langsung berubah masam dan wajahnya terlihat sedikit takut. Tidak sebenarnya bukan takut untuk berkelahi melawan orang yang di luar sana. Tapi itu adalah ketakutan akan suatu hal yang lainnya.
Adam lalu menarik Megan bersama dirinya menuju basemen dan kemudian berbisik di telinga Megan.
"Pergi dan buka pintu. Jangan biarkan mereka tahu bahwa aku ada di sini, oke."
Megan sangat bingung.
"Apa? Om mau aku membuka pintu! Bagaimana jika mereka menculik atau membunuhku?" Ucap Megan panik.
"Tidak Megan. Mereka tidak akan melakukan itu. Mereka tidak akan melakukan apapun kepadamu. Bahkan jika mereka akan melakukan sesuatu, aku ada disini melihat semuanya, kau tenang saja. Aku akan menyelamatkan mu. Kau pergi saja dan buka pintu. Jangan biarkan mereka berpikir sesuatu." Ucap Adam lalu mendorong megan.
Megan menelan ludah beberapa kali sebelum membuka pintu. Disana lah mereka, hanya ada 3 orang. Dua orang berpakaian seperti bodyguard dan yang berdiri ditengah menggunakan pakaian serba hitam.
Ada masker juga yang menutupi wajahnya. Saat dia membuka masker itu, Megan melangkah mundur membiarkan mereka masuk ke dalam rumah seperti yang diperintahkan Adam.
Pria itu masuk ke dalam rumah dan langsung melihat kearah Megan dengan bibir yang tersenyum. Tapi senyuman itu bukan senyuman yang hangat dan ramah. Senyuman itu menandakan suatu arti yang berbeda. Senyuman itu seperti tengah menantang seseorang.
Megan benar-benar ketakutan.
"Tidak! Jangan khawatir, aku tidak akan menanyakan kepadamu tentang anting-anting itu kali ini. Anting-anting itu berhubungan dengan wanitaku. Mereka tidak pernah melihat wanitaku secara langsung. Tapi sekarang aku ada disini. Aku tahu siapa wanitaku dan aku tidak membutuhkan petunjuk lainnya untuk mengetahui dan mengenal wajah dari cintaku itu.
Iya, aku di sini datang untuk mengatakan kepadamu, bahwa kau bisa menyimpan berlian itu untuk dirimu sendiri. Jika kau memang sangat sangat membutuhkannya. Sekarang aku ada di sini, aku bisa menemukan cintaku itu dengan caraku sendiri." Ucap pria itu.
Megan ketakutan dan juga bingung disaat yang bersamaan. Dia tetap diam, pria itu lalu mendekatinya dengan perlahan-lahan.
"Tapi karena dirimu, semuanya menjadi begitu lambat dan terkendala. Bahkan aku sendiri yang harus datang ke sini. Jika sejak awal kau dengan senang hati memberikan anting-anting itu kepada orang-orang ku, kesayanganku bisa saja sudah bersamaku sekarang, tapi tidak. Kau dan para penjaga mu itu bertingkah keras kepala. Jadi aku akan membalas apa yang kalian perbuat suatu hari nanti saat aku sudah menemukan cintaku. Sebelum aku meninggalkan negara ini, aku akan memberikan kau dan para pengawal mu itu suatu hadiah yang paling berharga untuk kalian, hmmmm....??" Ucap pria itu membuat Megan semakin bergetar ketakutan.
Orang-orang itu lalu pergi, pria itu juga pergi.
Megan pergi ke arah Adam.
Adam terlihat tengah termenung. Wajahnya yang biasa nya tenang, kini terlihat datar. Tidak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang tengah dipikirkan atau apa yang tengah dirasakan oleh Adam saat ini.
"Om..." Ucap Megan dengan suara yang begitu rendah masih terdengar ketakutan.
Adam melihat kearah Megan dengan ekspresi yang masih sama, bahkan tanpa mengatakan satu kata pun. Adam mulai mengacak-acak seisi rumah Megan. Adam menghempaskan seluruh isi rumah.
Megan hanya berdiri di sana masih terlihat ketakutan dan dia juga penasaran. Semuanya terlihat seperti, sesuatu tengah merasuki Adam. Dia bertingkah seperti seorang phsyco. Megan tidak berani untuk mengganggu Adam.
Setelah hampir 1 jam, Adam akhirnya menemukan anting-anting itu berada di belakang rak buku di dalam sebuah pot bunga. Megan mulai menelan ludah. Dia menundukkan kepalanya ketakutan karena takut untuk melihat mata Adam.
Adam bergegas mendekat arahnya melihat Megan dengan mata penuh kemarahan. Sebuah lubang terasa menganga dalam hati Adam.
"Apa kau bahagia sekarang? Kau hanya ingin mengganggu hariku bersama istriku, itu saja. Kau ingin mendapat perhatian dariku. Malam ku menjadi rusak. Kau ingin membuat aku selalu sibuk disini. Kau yang membuat masalah ini sendiri, tapi aku pikir perlakuan yang kau terima hari itu dengan aku membawamu ke mall sudah bisa membantumu untuk membersihkan pikiranmu yang kotor itu. Jadi kau bisa fokus dengan hidupmu sendiri dengan aman.
Aku beritahu kau Megan, Claudia adalah hidupku. Aku mencintainya dengan cara yang kalian semua bahkan dia sendiri tidak bisa imajinasi kan. Tidak peduli seberapa keras kau mencoba, aku tidak akan membiarkan mu menang dalam permainan ini, tidak juga orang lain. Dia adalah Claudia Wijaya. Dia itu Claudia Wijaya dan akan selalu menjadi Claudia Wijaya selamanya dan selama-lamanya. Tidak kau ataupun orang lainnya yang bisa mengambil dia dari hidupku. Aku sangat peduli kepadamu dan sebenarnya di suatu tempat di dalam hatiku, aku juga mencintaimu. Tapi hanya sebagai keponakanku saja. Berhentilah mencampuri kehidupan pribadi ku, terutama jika itu menyangkut dengan istriku. Atau kau akan tahu bahwa tidak akan ada orang lain yang lebih kejam daripada aku."
Bersambung....
Megan dengan sengaja menyembunyikan anting-anting itu. Dia tidak mengetahui tentang apa tujuan sebenarnya dari mengamankan anting-anting itu. Tapi Megan akan mengetahui semuanya sebentar lagi.
Lalu, apa yang akan dilakukan Adam selanjutnya? Bagaimana dia akan menyelamatkan istrinya dari leader mafia itu? So stay terus disini ya...
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah juga ya...
Selanjutnya...
__ADS_1
Bertempur lagi...