90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Arnold VS Andreas (Bab 35)


__ADS_3

Kami mengobrol panjang dan makan siang bersama. Aku tetap berada di kedai teh Merry hingga Hansen harus istirahat di kamar belakang yang memang disediakan Merry sebagai tempat untuknya beristirahat.


Tak lama kemudian Merry kembali dan duduk dihadapanku. Kami melanjutkan perbincangan kami.


"Siapa yang memberikanmu coklat itu? Bukankah kau sudah terlalu dewasa untuk menenteng sebatang coklat kemanapun kau pergi?" Tanya Merry mencecar ku dengan pertanyaannya.


Aku hanya tersenyum dan kembali menatap sebatang cokelat yang tersisa setelah yang satunya aku habiskan dipinggir pantai.


"Apa kau tahu Mer. Sepertinya Dewi Cinta tengah berpihak kepada kita." Ucapku asal.


"Apa maksud kamu?" Tanya Merry dengan raut wajah yang penasaran.


"Pagi tadi aku pergi ke makam Mama dan Papa. Aku kemudian berhenti di sekolah lama kita karena kebetulan lewat. Dan tebak, siapa orang yang aku temui disana, tepatnya di ruang studio musik." Ucapku.


"Apa kau bertemu Andreas?" Tanya Merry penasaran, aku hanya mengangguk.


"Lalu apa saja yang kalian lakukan?" Tanya Merry tampak antusias.


Aku menceritakan semua yang terjadi padaku dan Andreas di studio musik.


"Aku pikir ada sesuatu yang tak ingin Andreas sampaikan padamu. Dia sepertinya masih belum bisa terbuka denganmu. Tapi melihat dari sikapnya sepertinya dia memang menyukaimu." Ucap Merry berkomentar.


"Apa kau yakin tentang itu?" Tanyaku.


"Tentu saja yakin. Aku masih ingat hari dimana semua orang berkumpul di rumahmu saat berita kematian palsu mu itu. Andreas tampak begitu kehilangan dan raut wajahnya begitu sedih saat memainkan piano dengan lagu kesukaanmu itu." Jawab Merry.


'Apakah benar bahwa Andreas memang menyukai aku? Tapi rasa suka yang bagaimana? Jangan-jangan dia menyukaiku hanya karena dia menganggap ku hanya sebagai adik saja.'


"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Merry membuyarkan lamunanku.


"Ah, tidak ada." Balasku.


Aku hanya bisa berharap. Semoga suatu hari nanti Andreas dapat memberikanku jawaban atas pertanyaan yang ku ajukan padanya tadi saat pertemuan kami.


Sore menjelang, aku bergegas untuk pulang ke rumah. Lelah rasanya seharian beraktifitas.


"Mer, aku pulang dulu ya. Kalau ada yang perlu aku bantu, telepon aja." Ucapku pada Merry.


"Hati-hati ya." Balas Merry seraya memelukku.


Aku mulai melajukan mobilku lagi membelah jalanan yang mulai ramai dengan mobil dan motor yang lalu lalang. Memang karena sudah jam pulang kantor hingga jalanan mulai ramai.


Entah kenapa aku merasa ada yang tengah mengikuti aku. Sejak tadi ku lihat mobil berwarna kuning mengikuti ku terus. Aku menginjak pedal gas mobilku agar melaju lebih cepat. Untungnya aku bisa melaju lebih cepat dan tak terjebak lampu merah. Sementara mobil kuning itu harus berhenti karena lampu sudah merah.


Baru saja merasa lega, sebuah mobil sporty warna hitam tiba-tiba mengerem mendadak di depanku.


'Siapa sih.'


Aku turun dari mobil hendak marah-marah. Namun, aku seketika menghentikan langkahku dan berbalik ingin kembali masuk ke dalam mobil. Tapi sudah terlambat.

__ADS_1


"Velicia..." Teriak laki-laki yang sama sekali tak ingin aku temui itu.


"Lepaskan aku. Apa mau mu?" Teriakku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya yang begitu erat.


"Ikut aku." Titahnya berusaha menarik ku.


"Arnold!" Teriakku. "Apa kau lupa bahwa diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."


"Aku tidak peduli. Kau hanya akan menjadi milikku Velicia. Tak ada orang lain yang boleh menyentuhmu selain aku." Arnold balik meneriaki ku.


"Lepaskan aku. Atau aku akan berteriak." Ancam ku.


"Teriak saja. Lihat sekelilingmu, kau pikir akan ada orang yang berhenti untuk menghalangiku. Orang-orang akan berpikir bahwa kita adalah pasangan yang tengah bertengkar." Ucap Arnold.


Arnold menarik ku mendekatinya lalu mencengkram daguku berusaha untuk mencium ku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk berontak.


"Sialan kau Arnold." Teriakku.


Arnold malah menyeringai lalu melepaskan genggamannya pada tanganku. Ia justru berjalan mendekati mobilku dan membuka pintunya lalu menunduk seperti tengah berusaha mengambil sesuatu.


"Apa yang mau kau lakukan?" Teriakku.


"Siapa yang memberikanmu ini?" Tanya Arnold dengan raut wajah yang begitu marah sambil mengacungkan sebatang coklat yang diberikan Andreas padaku.


"Bukan urusanmu." Jawabku ketus.


"Apa ini dari si Andreas itu?" Tanya Arnold lagi.


Tapi yang terjadi Arnold malah mematahkan coklat itu lalu membuangnya ke tanah dan menginjak-injaknya berulang kali.


"Buang. Aku bisa memberikanmu yang lebih banyak. Kalau kau mau aku bisa membelikan mu sekalian dengan toko-tokonya." Ucap Arnold.


"Kau jahat." Teriakku.


Arnold menarik ku mendekat ke arahnya. Genggaman tangannya begitu erat membuat tanganku menjadi sakit.


"Katakan padaku, siapa yang sebenarnya jahat. Aku sudah memintamu untuk menjauh dari Andreas tapi kenapa kau malah semakin dekat dengannya bahkan berduaan bersamanya di sekolah itu. Ha..." Tatapan mata Arnold begitu mengancam. "Kau yang jahat Velicia. Kau menyakiti hatiku. Kau sengaja membuatku terluka dengan berhubungan dengan Andreas. Kau jahat Velicia."


"Lepaskan aku." Teriakku lagi. "Apa urusanmu jika aku dekat dengan Andreas. Kau bukan lagi suamiku. Dan, kenapa kau bisa tahu apa yang aku lakukan? Apa selama ini kau membuntuti ku? Kau gila Arnold."


"Sudah berulang kali aku katakan, kau jangan mendekati Andreas. Atau aku akan berbuat yang lebih kasar padamu." Lagi-lagi Arnold mengancam ku. Pegangan tangannya semakin erat membuat pergelangan tanganku semakin sakit.


"Lepaskan aku dasar gila. Kau laki-laki gila." Teriakku.


Ucapan ku sepertinya membuat Arnold marah hingga ia mendorongku ke mobil, membuat tubuhku terbentur ke body mobil. Arnold mendekat dan berusaha mencium ku dengan paksa.


"Lepaskan aku." Isak ku dengan air mata yang berlinang.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku melihat sosok Andreas menarik tubuh Arnold dari belakang. Andreas lalu mendorong Arnold hingga membuatnya jatuh tersungkur.

__ADS_1


Andreas menatapku yang tengah berlinang air mata. Ia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ternyata sebuah sapu tangan. Ia mengusap air mata yang jatuh di pipiku dengan sapu tangan miliknya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Andreas, aku hanya mengangguk. "Ayo ikut aku." Ucap Andreas lalu menggandeng tanganku.


'Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi. Andreas menggandeng tanganku.'


Belum sempat kami berjalan menjauh dari Arnold yang sudah berdiri dengan menatap kami penuh kebencian, Arnold sudah melayangkan pukulan ke arah wajah Andreas. Dengan cepat Andreas mengelak dari pukulan itu.


"Mau kau bawa kemana isteriku? Apa kau tak tahu malu menggandeng tangan isteri dari adikmu sendiri." Ucap Arnold.


Andreas melepas genggaman tangannya padaku dan berjalan mendekat ke arah Arnold.


"Apa kau sudah amnesia, atau hanya pura-pura lupa ingatan. Gadis kecil itu bukan lagi isterimu. Kalian berdua sudah bercerai. Jadi dia bebas menentukan dengan siapa dia mau pergi." Balas Andreas.


"Kau memang cari mati denganku." Arnold kembali melayangkan pukulan ke arah Andreas.


Kali ini pukulan Arnold mengenai perut Andreas. Membuat pria yang mengenakan kemeja biru itu tersungkur.


Aku baru menyadari bahwa ternyata pakaian yang ku kenalan berwarna senada dengan Andreas.


Bersambung.....


*Hay semuanya.....


Gimana, gimana, gimana*.... 🤭🤭


Ceritanya makin seru nggak? Aku mau pendapat dari kalian nih, kira-kira Velicia cocoknya sama Arnold atau Andreas?


Kuy di komen...


Timnya VelAr (Velicia ❤️ Arnold) mana suaranya....


Timnya VelAn (Velicia ❤️ Andreas) mana suaranya...


Terima kasih ya, buat kalian yang selalu stay buat baca novel karya author receh ini. Jangan lupa berikan.....


Like 👍


Komen 💭


Hadiah 🎁


Vote 🎟️


Baca juga yuk, novel karya La-Rayya yang lainnya. Gak kalah seru kok... 🥰🥰


Oh ya, buat kalian yang punya IG, follow juga akun author receh ini di ; @la_rayya


Salam sayang....

__ADS_1


La-Rayya ❤️


__ADS_2