90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Rumah Sakit Lagi (Bab 36)


__ADS_3

"Sudah cukup kau menyakitinya. Dulu, aku sudah mengalah karena keadaan. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak akan diam jika kau menyakiti orang yang selama ini selalu menjadi orang yang paling berarti dalam hidupku." Ucap Andreas.


'Apakah Andreas baru saja menyatakan rasa sukanya padaku.'


"Bagaimana ini, kenapa jantungku berdegup begitu kencang. Aku belum siap mendengar dia mengucapkan rasa sukanya padaku dengan kondisi yang kacau seperti sekarang." Ucapku dengan panik.


Jantungku berdegup begitu kencang, aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat ini.


"Apakah itu berarti kau mengakui bahwa kau memiliki perasaan terhadap isteri adikmu sendiri? Ha?" Teriak Arnold.


"Kalau iya kenapa? Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak berhak menghalangiku untuk menyukainya. Dia sudah bukan isterimu lagi. Lagipula aku yang lebih dulu mengenal dan jatuh cinta padanya."


Ucapan Andreas lagi-lagi membuat jantungku berdegup semakin kencang.


"Bajingan kau Andreas." Teriak Arnold dan kembali melayangkan tinjunya.


Kali ini keduanya saling memukuli. Dan semua itu terjadi karena aku.


'Bagaimana ini?'


Aku berusaha menghalangi dengan berteriak. Namun keduanya tak menghiraukan aku.


"Kalian berdua hentikan." Teriakku.


Namun, tetap saja keduanya saling melayangkan pukulan satu sama lain. Aku melihat ke arah jalanan yang sepi, tak ada satu orangpun yang lewat. Kalaupun ada yang lewat mereka seperti tak peduli dan hanya lewat begitu saja.


"Ya Tuhan bagaimana ini."


Aku melihat hidung Arnold sudah berdarah, sementara Andreas mengalami luka di bagian pelipisnya.


"Cukup...." Lagi-lagi aku berteriak. Tapi tetap saja tak di dengarkan.


Aku kemudian mengambil inisiatif untuk mendekat dan melerai mereka. Namun yang terjadi pukulan Arnold malah mengenai diriku.


Sontak keduanya kaget, dengan cepat Andreas mendekat ke arahku. Dan membantuku bangun.


"Velicia..." Ucap Arnold mendekat ke arahku.


"Jangan menyentuhku." Teriakku saat Arnold hendak memegang tanganku.


Hidungku terasa lembab, dan kepalaku begitu pusing.


"Ya Tuhan. Gadis kecil, hidungmu berdarah." Ucap Andreas kemudian mengusap darah yang keluar dari hidungku dengan sapu tangan miliknya tadi.

__ADS_1


Andreas mengangkat tubuhku dalam gendongannya. Aku mengalungkan tanganku di lehernya dan sekilas ku tatap Arnold yang berusaha mendekat lagi.


"Menjauh dariku." Ucapku lagi kemudian Andreas membawaku ke sebuah mobil berwarna kuning, persis seperti mobil yang mengikuti ku tadi.


"Bertahanlah gadis kecil. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Andreas padaku.


Setelah itu semuanya gelap.


************


Mataku menyipit karena silau cahaya lampu mengenai mataku. Perlahan aku dapat membuka mataku dengan lebar dan mendapati Angelica dan juga Merry ada di sampingku.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Merry.


"Aku baik." Jawabku dengan suara yang sedikit tercekat.


Pandanganku melihat ke sekeliling ruangan, mencari sosok Andreas, tapi aku tidak mendapatinya sama sekali.


"Kau pasti mencari Kak Andreas." Ucap Angelica.


Aku tak menjawab apapun, karena aku memang berharap Andreas ada disini saat ini.


"Karena kau sudah sadar, aku tinggal ya. Merry juga ada disini. Aku harus menemani Mama di rumah." Ucap Angelica.


Merry mendekatiku dan duduk disamping tempat tidurku.


"Aku mau pulang." Ucapku.


"Kau masih perlu di rawat inap. Setidaknya untuk malam ini. Besok pagi kau baru bisa pulang." Balas Merry.


Aku menghela nafas panjang. Akan sangat membosankan bagiku berada di rumah sakit walau hanya 1 malam. Karena aku sudah begitu bosan dengan yang namanya rumah sakit setelah dirawat beberapa bulan pasca operasi.


"Apa kepalamu masih sakit?" Tanya Merry.


"Tidak." Jawabku. "Apa kau tahu dimana Andreas?" Tanyaku.


"Tadi Angelica yang meneleponku, sementara dia sendiri di telepon oleh Andreas. Saat aku datang kemari, Andreas masih ada disini. Lalu dia pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun." Ujar Merry. "Sebenarnya, apa yang telah terjadi?" Tanya Merry lagi.


"Sebelumnya aku sudah menceritakan padamu apa yang aku lakukan pagi tadi di sekolah lamaku bersama Andreas."


"Iya, lalu?" Merry terlihat begitu penasaran dengan apa yang telah menimpaku.


"Pulang dari kedai teh mu, aku merasa ada orang yang mengikutiku. Aku langsung saja tancap gas, dan apesnya malah bertemu dengan Arnold yang mencegat ku di jalan. Dan yang membuatku terkejut adalah, ternyata Andreas lah yang terus mengikutiku." Ucapku sambil mencoba mengingat apa yang telah terjadi.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Tanya Merry lagi.


"Arnold marah karena mengetahui aku bertemu dan dekat dengan Andreas. Dia memaksaku untuk ikut dengannya. Aku menolak hingga membuatnya semakin murka dan menarik tanganku dengan keras dan membuat tubuhku terbentur di mobil. Secara tiba-tiba Andreas datang. Lalu keduanya pun terlibat perkelahian." Tutur ku.


Merry malah tertawa setelah mendengar penuturan ku.


"Kenapa kau malah tertawa. Harusnya kau itu prihatin melihat kondisiku saat ini." Protes ku dengan memanyunkan bibirku.


"Maaf Veli sayang. Aku hanya iri padamu. Bagaimana bisa dua orang kakak beradik itu samai berkelahi hanya karena memperebutkan dirimu. Kau benar-benar hebat." Ucap Merry.


"Aku tidak menginginkan semua ya jadi seperti ini." Balasku.


"Iya, aku tahu. Terus-terus?" Kali ini Merry semakin terlihat penasaran. "Bagaimana bisa kau terluka? Itu yang membuatku penasaran."


"Aku berusaha melerai perkelahian mereka. Tapi yang terjadi malah Arnold meninju wajahku, dan seperti inilah hasilnya." Ucapku.


Raut wajah Merry yang tadinya masih penuh canda, kini berubah marah.


"Arnold memang lelaki brengsek. Aku heran dengannya, bukankah dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan. Kenapa dia masih saja mengganggumu. Dulu, saat kau mati-matian mencoba membuatnya mencintaimu, dia mencampakkan dirimu dan memilih wanita mata duitan itu. Kini, saat kau sudah mengetahui kebenarannya, dia malah tak mau melepaskan mu dan malah meninggalkan Viona. Apa lelaki seperti itu pantas untuk dicintai? Aku rasa tidak. Perasaannya sering berubah-ubah. Dia bisa meninggalkanmu demi wanita yang dia sebut selalu ia cintai. Dan sekarang, dia kembali meninggalkan wanita itu demi dirimu dan mengatakan cinta padamu. Benar-benar pria plin-plan." Ucap Merry.


Semua yang dikatakan Merry ada benarnya. Arnold memang pria yang tak bisa di percaya. Ia lelaki yang plin-plan. Tak bisa berpegang teguh ada keputusan yang dibuatnya sendiri.


"Iya, kau benar. Aku tak tahu harus melakukan apalagi untuk menghindari Arnold. Dia bahkan mengancam ku atas nama keluarga Ardana. Ah.... Aku menjadi semakin pusing memikirkan semuanya." Ucapku seraya memijit pelipis ku.


"Oh ya bicara tentang keluarga Ardana, aku sudah menelepon Jack tadi." Ucap Merry yang membuatku terkejut.


"Kamu pasti bercanda kan? Apa kamu memberitahu Jack tentang apa yang terjadi padaku?"


"I-iya." Balas Merry.


Kepalaku menjadi semakin pening. Dapat ku bayangkan bagaimana paniknya Jack ketika mendapat kabar tentangku.


"Merry, kau sudah melakukan suatu kesalahan." Aku menutup mataku sejenak.


"Ada apa? Kesalahan apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Merry.


"Kau tak tahu bagaimana Jack. Dia pasti akan sangat panik. Aarrgghh..."


Aku melihat ke kanan dan kiri meja yang ada di dalam ruangan. Mencari dimana tasku berada.


"Apa yang kau cari?" Tanya Merry.


"Dimana tasku?" Ucapku. "Ah, lupakan saja. Mana ponselmu. Aku mau menelepon Jack dulu." Lanjut ku.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2