90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
22. Ketakutan


__ADS_3

Hari berikutnya tampak begitu aneh...


Claudia sudah bertingkah aneh sejak pagi hari. Adam juga tampak penasaran dan bingung. Gadis itu bangun pagi hari lalu ikut bersama Adam untuk lari pagi bertingkah seperti gadis yang baik. Dia juga sarapan tepat waktu dan tidak mengatakan hal apapun dia terus diam. Dan seperti biasanya adam juga mengantar nya ke kampus. Sepanjang perjalanan Claudia juga tetap diam.


Pukul 01.00 siang Claudia dipanggil oleh Dekan untuk menuju ruangannya. Claudia merasa sedikit khawatir. Dia tidak bertengkar dengan siapapun, tidak juga membolos dari kelasnya. Claudia berpikir sepanjang jalan saat menuju ruang Dekan lalu mengetuk pintu dan masuk ke dalamnya.


Setelah masuk ke dalam ruangan Dekan, mata Claudia menangkap sosok seorang pria yang duduk berhadapan dengan Dekan. Claudia hanya mampu melihat bagian belakang pria itu, tapi dia sudah sangat bisa menebak siapa pria itu.


'Kenapa dia ada disini lagi? Apa dia tidak punya pekerjaan di kantor? Kenapa dia selalu ada dimana pun aku berada? Dasar penguntit.' Ucap Claudia dalam hati sebelum membungkukkan badannya ke arah Dekan.


"Kemari lah. Kami punya berita besar yang akan diumumkan pada seluruh kampus. Tapi sebelum itu, Tuan Adam ingin kau tahu lebih dulu. Maka aku memanggilmu kemari." Ucap Dekan.


Claudia merasa penasaran sekarang.


'Apa yang ingin diumumkan Adam kepada seluruh kampus? Apa dia ingin memberitahu seluruh kampus bahwa aku ini adalah istrinya? Oh tidak, tidak, tidak. Dia tidak akan merencanakan hal seperti itu kan?' Claudia terus berpikir.


Adam menatap Claudia lekat, ia mencoba menebak apa yang tengah dikhawatirkan istrinya itu. Adam tersenyum dalam hati.


"Begini sebenarnya, Tuan Adam akan bergabung bersama kita di kampus sebagai Dosen tamu yang akan mengajarkan tentang Bahasa Inggris. Semua mahasiswa harus menghadiri kelas yang akan dipimpin Tuan Adam. Mengingat di zaman sekarang ini Bahasa Inggris sangat berguna dan bermanfaat untuk siapapun, tidak perduli bekerja dimana atau apapun pekerjaannya. Tuan Adam akan datang setiap hari selama dua jam. Dan jadwal di kelas mu adalah pada minggu ketiga nanti, hari rabu dan jum'at." Ucap Dekan menjelaskan.


Claudia sangat terkejut dari dalam.


Tapi, hal yang aneh adalah, Claudia tidak sedikitpun memandang ke arah Adam. Dia bahkan tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya pada Dekan dan juga Adam. Claudia hanya mengangguk, lalu berucap, "mengerti Pak. Saya akan mengingatnya dalam kepala, terima kasih. Boleh saya pergi sekarang?" Tanya Claudia.


Adam jelas sangat terkejut. Dia berharap Claudia akan bereaksi dengan keras dan sangat marah dengan semua ini. Adam sangat yakin, bahwa Claudia tidak akan dengan mudah menerima semua ini. Itulah alasan kenapa Adam meminta Dekan untuk memberitahukan semuanya lebih dulu pada Claudia dibanding semua mahasiswa. Tapi reaksi Claudia malah diluar ekpektasi Adam.


Dekan lalu mengumumkan hal itu kepada seluruh kampus yang langsung heboh. Baik Dosen maupun mahasiswa mereka semua tampak terkejut sekaligus senang.


Para gadis di kampus tampak begitu senang. Mereka seperti todak mempercayai apa yang mereka dengar. Mereka mulai berbicara satu sama lain, membahas tentang impian mereka di masa depan. Tapi sebenarnya itu bukan mimpi, mereka semua sudah mulai merencanakan bagaimana caranya untuk menarik perhatian pria paling kaya dan bujangan paling tampan di negeri ini. Bagaimana cara untuk menggodanya. Bagaimana cara untuk bicara dengannya. Semua orang tampak browsing di internet tentang Adam. Bagaimana kehebatannya dalam berbahasa inggris.


Setelah selesai bertemu dengan Dekan dan sang istri tercinta, Adam kembali lagi ke kampus. Dia masih memikirkan tentang keanehan respon yang diberikan Claudia tadi.


Adam tengah berdiri memandang keluar dinding kaca ruangannya, menatap jalanan yang terlihat ramai lancar saat ia mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Fendi, pengawal pribadinya.


"Tuan, istri Anda, Nona Claudia Wijaya. Terlihat berada di bandara internasional dua menit yang lalu dengan membawa paspor dan koper di tangannya. Nona sedang berada di terminal keberangkatan."


"APA? APA YANG DIA LAKUKAN DISANA? DIA MAU PERGI KEMANA?" Teriak Adam saat mendengar kabar yang dilaporkan pengawalnya itu.


"Jangan khawatir Tuan, saya akan mencari informasinya secepat mungkin."


"Tidak. Pertama blokir semua akses jalan keluar dari bandara. Aku akan kesana sekarang juga." Perintah Adam seraya mengambil kunci mobilnya yang ada diatas meja lalu bergegas keluar kantor.


Hanya dalam waktu setengah jam, bandara sudah di blokir. Claudia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, atas pengumuman darurat tentang isu keamanan yang baru saja disampaikan. Orang-orang tampak terkejut dan ketakutan. Apa hal yang membuat bandara sampai diblokir karena keamanan darurat itu. Orang-orang ketakutan dan berpikir bahwa bandara tengah dibajak.


Claudia yang tengah duduk, tiba-tiba didekati oleh dua orang pria berpakaian serba hitam membawanya menuju ruangan pemeriksaan keamanan. Awalnya Claudia merasa begitu bingung, tapi ia akhirnya menyadari apa yang terjadi saat melihat Adam berada di dalam ruangan itu.


Claudia menggigit bibirnya saat pertama kali ia melihat Adam di dalam ruangan itu. Sementara Adam memandangnya penuh kemarahan. Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu termasuk petugas keamanan keluar meninggalkan Claudia dan Adam berduaan.


Adam menghela napas lalu meninju tembok keras dengan rasa frustrasi dan penuh kemarahan. Claudia menutup mata kali ini. Adam mengeluarkan rokok dari dalam sakunya lalu menyalakannya. Dia tak bicara sedikitpun sekarang. Suasana saat ini membuat Claudia gugup dan sangat ketakutan. Dia tidak pernah menyangka bahwa Adam akan memiliki kekuasaan sebesar ini. Claudia terus menelan ludah.


Adam menghabiskan rokoknya dalam waktu kurang daro satu menit, kemudian berjalan mendekat ke arah Claudia.


Claudia merasa semakin takut dan perlahan berjalan mundur saat Adam sudah semakin dekat dengannya. Hingga membuat punggungnya membentur tembok.


Adam semakin mendekat, dan detik berikutnya ia mendorong tubuhnya ke arah Claudia dan membuat kepalanya bersandar di leher Claudia. Dia tidak mengangkat kepalanya bahkan sampai saat ia mulai bicara.

__ADS_1


"Kau tidak bisa kabur dariku sayangku. Tidak akan semudah itu. Akulah bosnya disini. Aku benci saat seseorang mencoba untuk mengambil milikku dan membawanya pergi jauh dariku. Dan sampai tiga bulan berakhir, kau adalah MILIKKU. Jangan pernah lagi mencoba untuk membuat keputusan bodoh seperti saat ini selamanya. Atau, hukumannya akan lebih buruk dari yang kau bayangkan." Ucap Adam lalu mencium leher Claudia dengan kasar hingga meninggalkan bekas kebiruan disana.


Claudia mematung. Ia sangat takut dan marah. Claudia penasaran, hukuman apa yang akan didapatnya kali ini. Apakah tanda biru dilehernya ini atau lebih dari itu.


Claudia menegang.


****************


Mobil berhenti di suatu tempat yang semuanya terlihat gelap. Claudia melihat sekitar tempat itu dari dalam mobil, tapi belum bisa menebak dimana ia berada. Fendi membuka pintu mobil untuk Claudia, dia sendiri yang menyetir mobil. Adam langsung kembali ke kantor setelah dari bandara, sementara Claudia diantar pulang ke rumah oleh Fendi.


"Tempat apa ini Fendi? Kemana kau membawaku?" Tanya Claudia yang tampak sedikit takut.


"Saya hanya mengikuti perintah Tuan Adam, Nona Muda. Tuan meminta saya untuk mengantar Anda kemari." Jawab Fendi.


Claudia masih tampak bingung. Fendi mengarahkannya turun ke tempat gelap itu. Claudia tidak dapat melihat apapun dalam kegelapan. Dia hanya bisa merasakan bahwa ia sedang berada di tanah lapang atau apapun itu di tempat terbuka. Karena Claudia dapat menyadari dengan sangat jelas bahwa tidak ada bangunan tinggi atau apapun di tempat itu.


Claudia tersandung akan sesuatu yang keras. Seperti anak tangga atau apapun itu yang terbuat dari semen. Dia menapaki sesuatu yang keras itu. Dia kembali melihat sekeliling dan akhirnya memilih berjongkok untuk mencari tahu, dimana sebenarnya ia berada. Claudia akhirnya menebak dimana ia berada saat ini.


Tempat pemakaman.


Mata claudia melotot.


"Fendi.... prank macam apa ini? Aku akan membunuh bos mu itu. Bawa aku keluar dari tempat ini sekarang juga." Teriak Claudia pada pria itu tapi tidak mendapatkan respon apapun.


Claudia lalu menatap sekeliling dan tidak menemukan siapapun disana termasuk Fendi. Claudia menjadi semakin takut dan tubuhnya menggigil. Ia bahkan merasakan ada udara dingin yang berhembus di telinganya. Hal itu semakin membuatnya ketakutan. Iya, benar saja. Claudia takut akan hantu.


Hanya ada dua hal yang ditakuti oleh Claudia di dunia ini, yaitu hantu dan ular. Dan Adam Wijaya baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Bagaimana mungkin ia tidak menggunakan kesempatan ini untuk memberikan hukuman kepada Claudia. Jadi dia melakukannya sekarang.


Rencananya untuk menghukum Claudia saat ini memang menjadi begitu kejam. Gadis itu ketakutan dan terus saja mengumpat. Adam sebenarnya ada di tempat itu memandangi istrinya tidak jauh dari sana.


Berdasarkan pandangan Claudia, dia bisa melihat bahwa dirinya sudah dikelilingi sepuluh sampai dua puluh zombie, yang menariknya untuk membawanya pergi ke dunia mereka. Dan hal itulah yang membuat Claudia akhirnya pingsan karena memikirkan hal itu.


Adam berlari mendekati Claudia lalu mengangkat tubuhnya seperti pengantin baru. Mereka kembali ke rumah saat jam 09.00 malam. Claudia tidak mengatakan apapun sampai mereka tiba di rumah. Dia masih terlihat ketakutan.


Di sisi lain Adam sangat menyukai hal ini karena Claudia yang terus menggandeng tangannya dengan erat sejak ia bangun dari pingsan sampai saat ini. Claudia bahkan tidak mau makan malam, bahkan Nila sampai menyuapinya dengan tangannya yang terus menggandeng erat tangan Adam. Wajahnya yang begitu pucat dan ketakutan.


Adam terus berusaha untuk menahan agar tidak tersenyum dan tetap tampak dingin. Setelah makan malam ia berjalan naik ke lantai atas dengan gadis itu yang masih melingkar kan tangannya ke lengan Adam. Adam tiba di depan kamar Claudia dan membuka pintunya lalu berkata...


"Masuklah ke dalam kamar mu dan tidurlah. Besok kau harus pergi kuliah, ingat itu."


Claudia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan Adam, karena dia masih saja ketakutan. Dia lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan pelan.


**************


Sekitar pukul 12.00 malam, Adam tengah tidur di tempat tidurnya saat ia merasakan napas seseorang yang berada di atas dirinya. Adam membuka mata lalu mendapati seorang gadis yang dengan mata bulat bibir yang tipis dan pipi yang sangat putih berada diatasnya.


"Woooaa wowowo.... Apa yang kau lakukan disini." Ucap Adam lalu duduk dengan posisi melindungi diri.


Adam lalu menyadari bahwa itu adalah istrinya. Gadis itu menatap suaminya dalam diam.


"Aku hanya mengecek apakah kau sudah tidur." Ucap Claudia dengan suara yang lembut.


Adam menatap istrinya.


"Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba ingin mengecek ku?" Tanya Adam.

__ADS_1


"Aku datang kemari untuk tidur denganmu."


"APA?" teriak Adam dengan kaget.


Menyadari akan kata yang ia gunakan salah dan maksud yang ditangkap suaminya, Claudia langsung menggeleng dengan keras.


"Tidak. Maksudku, aku ingin menemani mu tidur disini. Di kamar ini, di tempat tidur ini." Ucap Claudia menjelaskan.


"Tapi kenapa? Aku tidak perlu untuk ditemani." Adam lalu menyadari apa alasannya dan berpura-pura tampak bingung.


"Aku pikir kau pasti merasa kesepian karena tidur sendirian. Sangat tidak enak untuk tidur sendirian, dengan tidak ada orang didekat mu. Kau juga pasti takut di kamar ini sendirian. Jadi, kemari lah. Jangan khawatir, aku sudah ada disini. Jangan takut. Ayo tidur." Ucap Claudia seraya menepuk bantal yang berada disamping Adam lalu duduk.


Sangat sulit bagi Adam untuk menahan ekspresi diwajahnya.


"Tidak sayang, aku tidak takut terhadap hantu atau apapun itu. Kau bisa pergi dan tidur di kamarmu sendiri. Sampai kau mau tidur denganku dengan maksud seperti itu." Ucap Adam menggoda.


"Waaaaaaahh, tidak akan pernah. Dasar mesum. Aku hanya ingin bersikap baik padamu. Aku tahu kau menyangkal semuanya demi menutupi aura kuat mu itu. Tapi kau sebenarnya takut, jadi tutup saja mulutmu dan tidurlah. Jika kau masih merasa tidak nyaman, kau boleh memegang tanganku. Itupun jika kau mau." Ucap Claudia berusaha bicara dengan nada yang normal.


Adam sangat ingin mencubit pipi istrinya yang bertingkah menggemaskan itu, tapi dia tak melakukannya.


"Sayang, yang aku takutkan sekarang hanyalah kau akan memperkaos aku. Hanya itu saja."


Claudia membelalakkan mata, tampak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Dasar kau pria tua. Berhentilah bersikap mesum seperti itu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu." Teriak Claudia. "Dan aku ini masih istrimu sampai sekarang. Kenapa kau masih merasa tidak nyaman dan menolak untuk berbagi tempat tidur denganku. Ah, biar aku tebak, wanita mu di luar sana akan marah padamu kan. Yaah benar, kau takut karena itu."


Ucapan Claudia selanjutnya tidak bisa ia lanjutnya karena Adam sudah mencium bibirnya. Adam langsung menjatuhkan tubuh Claudia ke tempat tidur, menjamah seluruh tubuhnya dengan kasar dan beralih menciumi leher Claudia dengan kasar. Claudia tidak dapat melawan.


"Dam, hentikan. Aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Claudia.


"Kau sendiri yang mengingatkan aku bahwa kau adalah istriku. Jadi aku akan melakukan yang seharusnya aku lakukan dengan istriku di jam seperti ini." Balas Adam.


"Tidak, tidak, tidak Dam. Ku mohon. Aku datang kemari hanya karena aku takut tidur sendirian di kamar itu. Tolong jangan siksa aku." Pinta Claudia.


Adam akhirnya berhenti mencumbu Claudia, tapi ia tak juga kunjung bangun dari tubuh Claudia dan menempatkan kepalanya di leher Claudia.


"Aku tidak keberatan kau tidur disini tanpa alasan apapun. Aku akan sangat senang."


Adam kemudian kembali mencium bibir Claudia untuk yang terakhir kalinya.


"Maafkan aku Di. Hukuman yang aku berikan sepertinya terlalu berlebihan. Tapi kau bertindak begitu nakal jadi..."


"Itu adalah ide Endra untuk menyuruhku pergi dari negara ini." Ucap Claudia memotong ucapan Adam. "Aku marah padamu sejak kemarin."


Entah kenapa Claudia merasa nyaman dan aman sekarang.


Claudia memang berusaha kabur dari negara ini tapi itu semua semata bukan atas ide dan keinginannya sendiri. Semalam setelah pertengkarannya dengan Adam, ia kembali menelepon Endra dan mengatakan semua rasa frustrasinya lewat telepon.


Endra sebenarnya berpikir bahwa Claudia hidup dengan penuh kekangan di rumah Adam. Maka dia menyarankan pada Claudia untuk kabur. Claudia juga berpikir bahwa itu ide yang sangat bagus. Tapi, saat dia berdiri di area pemeriksaan barang bawaan di bandara, Claudia merasa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Claudia tidak tahu perasaan apa itu, tapi yang jelas di sudut hatinya yang paking dalam, ia merasakan sakit membayangkan untuk pergi.


Dia merasa tidak nyaman pergi ke luar negeri tanpa diketahui oleh Adam.


Claudia tengah memikirkan keputusan yang lainnya tapi saat dia menyadari semuanya, dirinya sudah dibawa ke dalam ruangan keamanan itu dan semuanya berubah kacau.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2