90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
67. Kabur


__ADS_3

Pagi berikutnya, Adam bangun dan melihat disisinya sudah kosong. Dia mengerang sebentar sebelum memanggil istrinya.


"Sayang, sayang... Kau dimana?" Panggil Adam dengan suara yang terdengar galak.


Tapi tidak ada respon apapun.


"Sayang.... Apa kau ada di kamar mandi?" Tanya Adam lagi. "Sayang....!"


Tetap tidak ada respon juga.


Adam akhirnya menyerah dan menunggu Claudia untuk muncul dengan sendirinya.


'Dia mungkin saja keluar ke halaman.'


Itulah yang dipikirkan Adam.


Waktu terus berjalan dan sekitar 30 menit setelah Adam bangun, dokter datang dan memeriksa keadaan Adam seperti biasanya. Setiap pagi dokter akan datang mengunjungi Adam, tapi Claudia tidak ada didekatnya, dan itu terasa aneh bagi Adam. Claudia selalu mendengar apa yang dikatakan dokter dan tetap berada di sana saat dokter memeriksa suaminya. Claudia akan bertanya tentang keadaan luka Adam kepada perawat, kadang-kadang membantu mereka saat mengganti perban pada luka Adam. Bagaimanapun dia tidak pernah keluar dengan waktu yang begitu lama. Dia selalu berdiam diri, berada di dekat Adam dan berbicara dengannya. Adam lah orang yang kadang memaksanya untuk keluar sebentar, hanya untuk berjalan-jalan di sekitar taman agar Claudia bisa merasa sedikit nyaman. Claudia sendiri selalu menolak untuk pergi ke manapun untuk meninggalkan Adam sendirian. Jadi semuanya terasa sangat aneh bagi Adam, saat Claudia tidak ada didalam ruangan itu dalam waktu yang cukup lama.


Tapi Adam tidak mengatakan apapun. Dia tidak juga memanggil Claudia. Dia tahu bahwa Claudia akan kembali lagi.


"Hai bro, bagaimana kabarmu sekarang? Apakah semuanya baik-baik saja? Bagaimana luka mu?" Tanya Will.


Adam melihat Will saat dia sedang membaca buku dan tersenyum ketika dia melihat teman-temannya berdiri di pintu bersamaan.


"Aku baik-baik saja. Sedikit merasa bosan sekarang, aku mau pulang. Tolonglah Kim, bicaralah dengan dokter. Aku tidak mau tinggal disini lebih lama lagi." Ucap Adam.


"Woooaaahh, apakah kau merindukan sesuatu hah? Itukah alasan kenapa kau sangat ingin pulang?" Tanya Dom dengan bercanda.


Kim langsung meninju Dom untuk menghentikannya. Will juga menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyumannya itu.


Di sisi lain Adam hanya memutar mata malas.


"Oh ayolah, kalian tahu aku. Aku Adam Wijaya, apa yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan. Dan aku sudah mendapatkannya tadi malam. Ruangan rumah sakit ini, tidak bisa menghentikan aku untuk melakukannya, oke!" Ucap Adam.


Tiga sahabatnya itu tampak terkejut, rahang mereka tampak menganga sempurna.


Mereka melihat kearah masing-masing sebelum berbicara.


"Disini? Diatas tempat tidur ini?" Tanya Dom.

__ADS_1


"Yang benar saja, dengan pundak yang terluka?" Tanya Kim.


"Dam, kau benar-benar orang yang berasal dari planet berbeda. Kau itu hewan buas, bagaimana kau bisa... Oh Tuhan, aku rasa kau perlu di terapi." Ucap Will berkomentar.


"Terapi dari kesayanganku bukan? Terapi cinta." Ucap Adam lagi.


Semua sahabatnya menghela napas dengan rasa tidak percaya.


"Ngomong-ngomong, dimana kelinci kecil kita itu?" Tanya Kim.


"Itulah yang ingin aku tahu. Aku tidak melihatnya sejak aku bangun tidur." Ucap Adam sangat penasaran.


"Aku rasa, dia pergi melihat Endra mungkin." Ucap Will.


"Tidak, dia tidak ada disana. Aku baru saja dari sana." Ucap Dom.


Sekarang hal itu membuat para pria itu merasa khawatir. Adam hendak mengatakan sesuatu, tapi sahabatnya menghentikan dia.


"Tidak Dam, jangan panik. Tenanglah, rumah sakit ini sudah diamankan oleh para pengawal. Jadi jangan khawatir, dia mungkin ada di sekitar sini. Kami akan pergi mencarinya, kau tenanglah." Ucap Will.


"Iya, tentu saja. Ayo kita pergi, aku akan memanggilnya. Ayo kita keluar." Ucap Kim.


"Kau dimana sayang? Apakah kau baik-baik saja?" Ucap Adam di sela-sela nafasnya.


Setelah 1 jam lamanya, mereka semua kembali ke dalam ruangan Adam dengan wajah yang tampak panik. Melihat mereka seperti itu, Adam dapat menyadari sesuatu yang salah sudah terjadi.


"Ada apa?" Tanya Adam pada para pria itu dengan wajah penuh kecemasan.


Seluruh ruangan terdiam....


"Teman-teman, di mana dia?" Kali ini Adam terdengar begitu marah.


Will akhirnya mengambil inisiatif untuk berbicara.


"Dam, kami akan memberitahukan semuanya padamu. Tapi kau harus tenang dan rileks lebih dulu. Kau tidak boleh bereaksi berlebihan, oke?" Pinta Will.


"Hentikan semua omong kosong ini Will! Kau tahu bahwa aku sudah sangat baik sekarang dan aku tidak bisa dibodohi. Katakan saja kepadaku apa yang terjadi dengan nya? Apakah dia baik-baik saja dan apakah dia aman saat ini? Dimana dia?" Teriak Adam dengan menggelegar.


"Claudia menghilang, dia tidak ada di sini. Aku sudah mencari ke seluruh rumah sakit." Ucap Kim.

__ADS_1


"APA? BAGAIMANA? Will kau bilang bahwa seluruh bangunan ini telah dijaga oleh para pengawal. Sekarang bagaimana bisa seorang gadis keluar dari dalam gedung ini? Apa kau ingin mengatakan bahwa dia menghilang begitu saja?" Teriak Adam.


Will yang sejak tadi menundukkan kepalanya menatap Adam.


"Itulah yang kami pikirkan awalnya. Tapi kemudian kami berbicara kepada staf rumah sakit. Claudia sendiri yang meminta bantuan dari staf untuk keluar dari rumah sakit tapi mereka menolak. Dia lalu mengetuk pintu petugas pembersih ruangan dan dia mencuri seragamnya. Kami mencoba mencari dirinya di sekeliling bangunan. Lalu kami menemukan fakta, bahwa dia masuk ke dalam ruangan petugas pembersih ruangan berdasarkan CCTV yang terlihat. Tapi kami tidak pernah menemukan dia keluar dari ruangan itu. Kami pun mencoba menebak dengan cepat. Jadi kami menemukan fakta bahwa petugas kebersihan itu pingsan di lantai dan Claudia mungkin saja memukul nya dari belakang gadis nakal itu, memang tahu cara untuk memukuli orang." Ujar Will panjang lebar.


"Kami berbicara dengan petugas kebersihan sesaat setelah dia kembali sadar. Dia pun mengkonfirmasi tentang apa yang kita pikirkan itu ternyata benar. Kelinci kecil itu meminta bantuannya pada awalnya tapi pria itu menolak. Jadi dia memukuli pria itu dan mencuri seragamnya." Ucap Kim.


Adam tidak bisa berkata apa-apa. Setelah beberapa menit terdiam dia pun mulai berucap.


"Tapi kenapa? Kenapa dia harus melakukan semua ini? Kemana dia pergi? Dia tidak akan melakukan sesuatu hal seperti ini jika dia hanya ingin pulang bukan, lalu kenapa dan apa ini?" Ucap Adam bingung.


"Dam aku rasa, aku tahu kemana kelinci kita pergi. Kau tahu...." Ucap Will.


Adam melihat kearah Will, tapi tidak mengatakan apapun. Semua seperti tengah berbicara dengan kontak mata mereka, tetap saling melihat satu sama lain setelah itu Adam hanya....


"Aaaaaaaaarrrrrggggggg kenapaaaaaaaaaa?" Teriak Adam seperti seorang maniak. "Kenapa, kenapa, kenapa Claudia? Kau bilang, kau bisa percaya kepada ku. Kau bilang, kau tidak akan pergi ke manapun menjauh dariku lalu kenapa?" Adam terus aja berteriak.


Ketiga sahabatnya itu berlari mendekati Adam untuk menenangkan dia.


"Tidak Dam, jangan. Kau tidak boleh kehilangan kendali seperti ini. Kita harus menemukan dia, kita tahu dia melakukan semua ini untuk berkorban demi kita. Untuk keamanan kita, dia mengorbankan dirinya sendiri. Dam, jadi kendalikan dirimu sendiri. Kita harus menyelamatkan dia, kita harus membawa dia kembali. Kendalikan dirimu." Mereka semua mencoba untuk membuat Adam tenang dan mengembalikan fokus Adam kepada hal yang utama tetapi mereka tetap tidak bisa.


Adam Wijaya mulai menangis seperti anak kecil di lengan Will, memeluk Will seperti anak kecil. Dia menangis seperti seseorang telah mengambil mainan favoritnya dari dirinya.


Pintu ruangan itu lalu dipenuhi orang-orang, dokter, perawat, para pengunjung, resepsionis, bahkan para pasien lainnya. Semua orang berdiri di depan pintu ruangan Adam, mendengar suara tangisan dari pria itu.


Meski Will dengan cepat mencoba untuk menghentikan Adam menangis karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan rumah sakit, tapi orang-orang disana tidak komplain apapun. Mereka di sana karena begitu penasaran. Mereka mengetahui siapa pria yang tengah menangis itu. Mereka ingin mengetahui apa yang bisa yang bisa membuat Tuan Adam Wijaya yang berkuasa itu menangis seperti anak kecil.


Tidak ada seorang pun bahkan teman-temannya sendiri yang pernah melihat Adam seperti itu.


Ketika mereka sudah mendapatkan informasi tentang Claudia, Kim sudah berbicara dengan otoritas rumah sakit tentang masalah pribadi yang terjadi itu. Jadi tidak ada informasi apapun tentang Claudia yang kabur yang bisa tersebar ke media.


"Adam saudaraku, tolong hentikan. Dia akan aman-aman saja. Bajingan itu tidak akan menyakiti nya, itu sudah pasti. Kita hanya perlu untuk menemukan dia secepat mungkin, sebelum dia pergi keluar dari negara ini dengan gadis kita. Ku mohon, ini bukan saatnya untuk menjadi lemah seperti ini saudaraku. Ku kumohon tenanglah." Mereka semua mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk menyemangati Adam.


Sementara itu seluruh internet mulai bergejolak lagi dengan berita tentang Nyonya Adam Wijaya yang diculik.


Tidak ada yang tahu siapa yang menculik nya. Tidak ada yang tahu, kapan itu terjadi. Tidak ada yang tahu hanya dengan sebuah video klip berdurasi 2 menit 30 detik dari Adam Wijaya yang tampak menangis seperti anak kecil berusia 5 tahun yang tersebar di internet begitu cepat dan berita tentang Nyonya Adam yang diculik tersebar dengan begitu liar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2