
Mereka menunggu di luar mobil Claudia merasa tidak baik-baik saja. Dia tahu bahwa dirinya sedang merasa cemburu dan dia ingin mengontrol perasaan itu. Dia tahu dengan baik bahwa dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga harapan semua orang seperti Jolie, Nina, Rose, Diana, Endra dan juga Bam. Semua orang berharap bahwa Megan tidak akan menjadi alasan bagi Claudia dan Adam untuk bertengkar lagi.
Claudia tengah mengusahakan semua itu, berusaha keras untuk tidak bersikap berlebihan. Tapi semuanya menjadi semakin sulit setiap menitnya. Karena dia melihat Adam yang begitu khawatir terhadap gadis itu.
'Jika aku tidak berada disini bersamanya, dia mungkin sudah pergi ketempat itu dan menyelamatkan gadis itu seorang diri. Aku hanya menjadi penghalang baginya di sini. Dia begitu panik dan khawatir. Aku tidak pernah melihatnya begitu ketakutan seperti ini.' pikir Claudia.
Iya kenyataannya, Adam memang sangat khawatir. Tapi siapa yang tahu alasan sebenar dari ketakutannya itu
Will menurunkan Megan dan pergi dengan cepat menggunakan mobilnya karena dia tahu mobilnya sedang diikuti. Dia tidak berhenti dengan lama di sana. Megan langsung berlari dan segera memeluk Adam. Claudia terlihat geram dan begitu frustrasi. Adam lalu menarik tangan Megan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Cepat masuk ke dalam." Ucap Adam.
Claudia menggigit bibirnya, berpikir untuk bisa pergi. Dia tidak ingin pulang bersama gadis itu. Dia tidak ingin tinggal di rumah yang sama dengan gadis itu.
Adam hendak memegang tangan Claudia, mengajaknya masuk ke dalam mobil tapi sebelum dia melakukannya, ponsel Claudia berdering. Claudia merasa begitu senang karena ada alasan yang bisa dia katakan agar segera pergi.
Dia melihat kearah Adam dan dengan cepat menjawab panggilan itu.
"Halo. Iya Rose. Ada apa...?" Tanya Claudia.
"Hai Di, aku lagi di pesta ulang tahun sepupuku. Bisakah kau memberitahuku di mana kau membeli anggur merah yang kau minum terakhir kali kita...."
"Apa? Kau mabuk? Ya Tuhan. Kau dimana sekarang?" Tanya Claudia menyela ucapan Rose.
"Kenapa? Tidak... tidak... Aku tidak mabuk, aku ingin..."
"Baiklah. Tunggu disana, aku akan segera pergi kesana. Jangan panik." Claudia lagi-lagi menyela ucapan Rose.
Claudia memutuskan sambungan telepon kemudian melihat kearah Adam yang memang sudah menatapnya sejak tadi.
"Eeeehhh.... Mmmmmm Adam, aku harus pergi harus membutuhkan ku. Dia sedang mabuk aku akan pergi sekarang. Oke." Ucap Claudia dan berbalik tanpa menunggu balasan dari Adam.
Berbalik badan, Claudia menutup matanya.
'Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Aku berbohong padanya. Sekarang dia dan gadis itu akan berduaan di dalam rumah sepanjang malam. Oh tidak. Ada apa denganku ini? Cepat panggil aku, hentikan aku, kumohon. Jika kau menghentikan aku, aku tidak akan pergi ke manapun, kumohon hentikan aku Adam.' Claudia berdoa dalam hati.
Adam ingin menghentikan Claudia, tapi Megan memanggilnya dari dalam mobil.
"Om, apa yang terjadi? Kenapa kita tidak segera pergi? Disini tidak aman kan?" Ucap Megan.
Sebuah taksi berhenti di depan Claudia. Claudia berbalik untuk melihat apakah Adam menghentikannya. Tapi tidak, Adam malah tengah berbicara dengan Megan. Memasukkan kepalanya lewat jendela mobil. Claudia akhirnya menghela napas yang dia tahan sejak tadi dan melangkah masuk ke dalam mobil.
"Megan aku sedang menunggu sampai sopir datang. Dia akan membawamu pulang ke rumah. Aku harus mengantar Tante Claudia pergi ke suatu tempat. Ini sangat penting. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, oke. Tunggu di sini ya." Ucap Adam dan hendak menghentikan Claudia.
Adam pikir, dia dapat menghentikan Claudia dan memintanya untuk menunggu beberapa saat sampai sopir datang. Kemudian mereka bisa pergi untuk menemui Rose yang mabuk. Tapi saat dia berbalik melihat kearah jalanan, sudah tidak ada siapapun disana. Claudia sudah pergi.
Adam tidak menyadari perasaannya, tapi matanya mulai menangkap situasi yang terjadi. Dia tahu bahwa Claudia akan salah paham padanya lagi. Dia masuk ke dalam mobil, menghela napas dengan perasaan sedih.
*************
Sudah pukul 10.45 malam....
Adam tengah duduk di ruang tamu rumahnya, memijit keningnya. Claudia belum juga kembali ke rumah. Adam menelpon Claudia beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Claudia hanya mengirimkan pesan.
'Aku sibuk, jangan telepon aku. Aku akan berada di rumah Rose.'
Pikiran Adam pun berkecamuk.
Pertama kali dia dan Claudia begitu intim. Dia jadi mengingat bagaimana dia menghentikan aksi mereka saat tengah bercinta karena ingin menghukum Claudia. Cara claudia mengatakan hal itu.
'Aku akan membuatmu memohon akan hal ini.'
Cara Claudia mengutuk dirinya malam itu.
Entah bagaimana Adam merasa bahwa kutukan Claudia memang benar tengah terjadi. Bukan Claudia yang sengaja melakukan semua ini. Tapi setiap kali mereka menjadi begitu dekat dan intim, momen dimana mereka bisa berduaan sesuatu selalu saja terjadi setiap kalinya.
Adam tidak menyadari sejak kapan dia mulai menangis.
'Tolong kembalilah sayang. Aku mencintaimu. Aku... aku membutuhkanmu sayang. Aku melakukan semua ini hanya untukmu. Ku mohon, kau segalanya untukku. Hanya kau keluargaku. Aku tidak punya orang lain selain dirimu sayang. Kumohon. Aku tidak akan pernah keras padamu. Aku tidak akan pernah menghukum mu. Tidak akan pernah menghukum mu dengan segala yang kau takutkan.' ucap Adam dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba dia mendapat sebuah notifikasi dari kartu kredit Claudia yang digunakan untuk membooking sebuah kamar hotel. Adam begitu terkejut.
'Dia bilang dia akan pergi ke tempat Rose, lalu apa ini...?' pikir Adam.
Dia lalu menelpon petugas yang berwenang di hotel. Kemudian memutuskan panggilan dan membuang ponselnya dengan keras ke lantai, dia begitu marah.
Manajer hotel mengatakan padanya bahwa kartu tersebut digunakan untuk memesan kamar oleh 2 orang, yaitu Claudia Arista dan Septiawan Endra.
'Hanya aku yang berjanji padamu untuk tidak menghabiskan waktu berduaan semenit pun dengan Megan. Aku disini mati-matian menunggumu di ruang tamu. Aku bahkan tidak naik ke lantai atas, tidak juga pergi ke kamar lain. Disana kau... Wah, wah... Claudia, kau bisa menghakimi ku dan berpikir apa yang aku lakukan setiap saat. Tapi aku tidak bisa menghakimi mu. Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa kau harus menghabiskan malam di hotel berduaan dengannya? Aku tahu dengan sangat baik bahwa dia memang begitu dekat denganmu. Tapi kau bisa saja pergi ke asrama kampus atau pulang ke rumah mu. Tidak, kali ini kau harus menjawab pertanyaan ku.' ucap Adam dalam hati sebelum beranjak keluar dari dalam rumah.
*************
Sebelumnya.....
Claudia menelpon Rose saat dia masuk ke dalam mobil.
"Hai, kau dimana? Aku tidak mendengar mu dengan baik tadi..."
"Claudia sayang. Aku bilang, aku lagi di pesta ulang tahun sepupuku. Aku menanyakan padamu, dimana kau..."
"Iya, iya, iya aku dengar. Baiklah, aku akan mengirimkan alamat toko itu padamu." Balas Claudia lalu memutuskan sambungan telepon.
Claudia lalu pergi ke sebuah kafe dia pikir dia tidak punya kesempatan untuk bekerja hari ini. Tapi ternyata dia bisa melakukannya.
'Begitu ironis bukan, aku bekerja untuk memberikan hadiah untuk nya dan dia tengah....' pikir Claudia.
Jadwal kerja Claudia biasanya 2 jam tapi dia bekerja lebih saat ini. Para pelanggan terus memintanya bernyanyi dan dia juga menuruti permintaan mereka. Claudia selesai bekerja pukul 10.00 malam dan tidak tahu harus pergi kemana. Dia lalu menelpon Endra.
"Claudia sayang, apakah kau harus menelpon aku sekarang. Aku sedang, aaaarrrrggghhhh... Ada apa di jam seperti ini kau menelpon ku?" Endra saat itu tengah bersama seorang teman dekatnya.
"Tolong jemput aku di kafe. Aku tidak tahu harus pergi kemana." Pinta Claudia, suaranya terdengar tidak normal, Endra dapat merasakan hal itu.
Jantung Endra berdegup kencang, dia berusaha menenangkan dirinya.
"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu? Baiklah, diam disana. Aku akan berada di sana beberapa menit lagi." Ucap Endra dan bergegas pergi meninggalkan gadis yang bersamanya sendirian.
Beberapa saat kemudian, Endra mengendarai mobil dan Claudia duduk disampingnya dengan menangis.
Tidak mau berdebat dengan Claudia, Endra pun mengikuti kemauan Claudia dan membawanya ke hotel seperti yang dia inginkan. Endra memang tidak pernah bisa menolak apapun yang dinginkan Claudia.
Setelah selesai memesan kamar, Endra langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sementara Claudia masih berdiri di pintu termenung.
Endra lalu menarik Claudia masuk dan mengunci pintu. Dia membuat Claudia duduk di atas pangkuan nya, sementara dirinya duduk bersandar di tempat tidur. Dia tahu kapan pun Claudia sedih, dia butuh perhatian lebih. Cara ini dapat membantu Claudia untuk mencurahkan segala isi hatinya.
Endra memang mengetahui kebiasaan dan bagaimana cara menghadapi Claudia yang tengah bersedih. Endra menyeka rambut Claudia yang tengah menangis ke belakang telinganya. Kemudian menarik Claudia mendekat dan memeluknya lalu menjatuhkan tubuh mereka ke tempat tidur. Hal itu membuat Claudia tertawa kecil. Mereka tetap berada di posisi seperti itu dengan Endra yang memeluk Claudia dari belakang.
Ketika Endra menyadari bahwa gadis yang berada dalam pelukannya sudah bernapas dengan tenang, dia mulai berbicara.
"Apa alasan pertengkaran kalian hari ini? Apakah karena Megan lagi?"
Claudia tidak berbalik tapi hanya mengangguk.
"Sebenarnya ini bukan pertengkaran. Aku hanya pergi untuk menghindari pertengkaran kami." Jawab Claudia dengan suara lembut yang pelan.
Claudia lalu menjelaskan apa yang terjadi dan dia mulai menangis lagi.
"Tapi Claudia...." Endra menghentikan ucapannya sendiri menyadari dengan siapa dia berbicara.
Dia tahu bahwa Claudia punya masalah terhadap kepercayaan pada seseorang. Endra tahu bahwa orang lain bisa diajak bicara dan diberikan penjelasan secara normal tapi tidak untuk Claudia, karena untuk menjelaskan sesuatu dan membuktikan sesuatu kepadanya akan sangat sulit setidaknya tidak dengan masalah ini. Claudia berpikir berbeda tentang masalah ini.
"Beritahu aku satu hal. Apa yang sedang kau lakukan disini, di ruangan ini, berduaan dengan ku di jam seperti ini. Tanpa diketahui oleh suamimu?"
Claudia lalu berbalik. Sekarang dia menghadap wajah Endra. Dia terlihat malu karena mereka masih berbaring di tempat tidur. Claudia menatap Endra dengan matanya yang berbinar.
Endra secara diam-diam menghidupkan perekam suara dari ponsel nya. Dia tahu Claudia tengah berada dibawah pengaruh kata-katanya.
"Katakan padaku Claudia, apa yang kita lakukan disini, di kamar hotel?"
Claudia: "Kau adalah sahabatku."
__ADS_1
Endra: "Megan juga bisa menjadi temannya, dia adalah keponakan Tuan Adam."
Claudia: "Om dan keponakan mana yang bertingkah begitu mesra dan terlihat begitu penuh cinta antara satu sama lain."
Endra: "Kapan Tuan Adam bertingkah penuh cinta padanya?"
Claudia: "Megan yang seperti itu."
Endra: "Lalu?"
Claudia: "Tapi Adam tidak pernah protes akan hal itu. Meski Megan selalu mendekatinya."
Endra: "Dan bagaimana dengan kita? Bukankah kita berdua selalu bertingkah begitu mesra?"
Claudia: "Kenapa orang-orang selalu berpikir bahwa mereka itu adalah pasangan kekasih? Apakah mereka buta?"
Endra: "Orang-orang juga berpikir kita seperti itu. Bukankah selama ini mereka berpikir bahwa kita pacaran. Mereka juga tidak buta kan?"
Claudia: "Megan punya perasaan padanya dan Adam tahu itu. Tapi dia selalu berbicara manis padanya, memeluknya dan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia."
Endra: "Aku juga mempunyai perasaan padamu dan kau tahu itu dengan baik. Tapi kau juga tetap bersamaku bahkan tetap dekat dan tampil mesra denganku. Bukankah itu artinya kau juga selingkuh?"
Claudia: "Kita tahu batasan kita."
Endra: "Mereka juga tahu batasan mereka."
Claudia: "Tidak. Megan tidak tahu. Bagaimana jika dia menggoda Adam? Dia mungkin sudah menggoda Adam beberapa kali."
Endra: "Tuan Adam bukanlah anak kecil. Dia mungkin memang menggoda Tuan Adam dan Tuan Adam pasti menghindar dengan pergi. Dia sangat mencintaimu."
Claudia terdiam beberapa saat sebelum tatapannya berganti dengan tatapan sayu.
Claudia: Bagaimana jika Megan sudah mencoba untuk menggodanya beberapa kali saat mereka berduaan? Tidak mungkin kan untuk seorang lelaki yang bisa terus menerus menahan dirinya jika seperti itu. Sama seperti yang dia lakukan padaku malam itu di kapal pesiar."
Endra terdiam, Claudia memang tidak salah berpikir tentang hal itu.
Endra menghela napas, dia mengusap wajah Claudia dengan tangannya.
"Claudia tenanglah, kau tidak bisa hanya...." Ucapan Endra terhenti saat mendengar suara pintu digedor dengan keras.
Mereka berdua saling menatap.
Adam masuk ke dalam kamar, membuka pintu kamar itu dengan kunci utama yang dia minta paksa kepada manajer hotel untuk diberikan padanya. Apa yang dia lihat pertama kali saat masuk ke dalam kamar benar-benar membuat darahnya mendidih.
Dia melihat istrinya tengah berbaring di tempat tidur dengan berada di dalam pelukan Endra. Dengan wajahnya yang saling berhadapan dengan wajah Endra, mereka berdua begitu tampak sangat dekat.
Endra yang pertama kali melihat Adam, langsung berdiri dengan tegap dari tempat tidur.
"Tuan Adam, ini tidak seperti apa yang Anda pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya, kami hanya...."
"Diam lah Endra. Kenapa kau berbohong? Dan Adam, ini memang seperti yang kau pikirkan. Aku dan Endra memang tengah melakukan suatu hubungan intim bersama, kau mengganggu kami. Aku benar-benar sedang ingin bercinta. Kau selalu sibuk dengan Megan mu itu. Melindunginya, selalu menjaganya, juga bercinta dengannya. Aku sudah seharusnya melakukan sesuatu untuk menyenangkan diriku sendiri kan. Lagipula aku ini masih gadis muda tidak seperti dirimu yang sudah tua. Aku memiliki kebutuhan ku sendiri aku dan Endra...."
Ucapan Claudia terhenti karena sebuah tamparan. Dia termenung sesaat lalu mengangkat kepalanya dan melihat Endra yang tengah menatapnya tajam.
Adam juga begitu terkejut tapi sebelum dia bisa melakukan sesuatu, Endra sudah mengangkat tangannya hendak menampar Claudia lagi.
Adam tidak bisa mentoleransi hal itu, dia dengan cepat mendekat kearah Endra dan menendang perut Endra. Hingga membuat Endra jatuh ke lantai.
Claudia dan Endra dapat melihat dengan jelas api amarah dari mata Adam.
"Beraninya kau menamparnya." Teriak Adam dan hendak meninju wajah Endra, namun Claudia dengan cepat mendorongnya menjauh.
"Berhentilah bertindak berlebihan Tuan Adam. Bagaimana jika kau juga menghabiskan malam mu sama seperti yang kami lakukan. Kau menghabiskan malam mu bersama Megan di rumahmu, dan biarkan kami menghabiskan malam kami disini. Apa masalahnya dengan hal itu?"
"Dengarkan aku, aku tidak melakukannya. Aku tidak menghabiskan 1 menit pun berduaan dengannya. Aku menunggumu, aku hanya menunggumu. Kamu..." Teriak Adam.
"Tuan Adam, mari ikut aku. Tinggalkan dia, dia telah kehilangan akal sehatnya. Kumohon. Aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu, sebelum kau mengatakan apapun yang bisa membuatmu menjadi lebih marah lagi. Tolong, ikutlah dengan ku." Pinta Endra.
Endra lalu menarik Adam keluar dari kamar menutup pintu dari luar. Claudia ditinggalkan di dalam kamar sendirian.
__ADS_1
Bersambung....
Guys, jangan salah paham pada Claudia. Dia tidak sepenuhnya salah. Adam juga tidak sepenuhnya salah, tapi jangan khawatir Adam akan mengatasi semuanya....