
Claudia akhirnya berdiri saat Adam berada dihadapannya dan membuka tangannya seolah meminta untuk dipeluk. Dia tak ingin sang suami merasa malu dihadapan para sahabatnya. Jadi Claudia membalas pelukan Adam, yang langsung mencium lehernya seraya memeluknya dengan erat.
Para sahabat Claudia merasa aneh melihat sikap Adam yang penuh kasih sayang terhadap Claudia. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup mereka melihat Adam yang bersikap seperti itu.
Keduanya akhirnya melepaskan pelukan mereka.
"Dam, ku pikir kau sedang sibuk di kantor, lalu bagaimana..."
Claudia tak bisa melanjutkan ucapannya karena Adam langsung menjawabnya.
"Yah, aku sedang berada dalam perjalanan menuju tempat meeting yang lokasinya berada tepat di lantai ini, di ruangan lain. Jadi aku berpikir untuk datang melihatmu, karena kau berada di tempat yang sama denganku." Balas Adam menjelaskan dengan meyakinkan.
Tapi Erik yang berdiri di belakang berteriak dalam hatinya.
'Serius? Meyakinkan sekali! Meeting yang akan dilakukan berada di bagian lain di kota ini. Tapi saat Bos melihat postingan yang mengatakan 'sepertinya aku merindukanmu' dia langsung meminta sopir untuk memutar arah tujuan untuk datang ke tempat ini. Kau benar-benar pembohong besar Bos.' ucap Erik dalam hati.
Claudia menganggukkan kepalanya, tampak sangat percaya dengan apa yang dikatakan Adam
"Ooh, apa kau ingin bergabung bersama kami sebentar?" Tanya Claudia.
Dia tahu sahabatnya akan merasa canggung dihadapan Adam, begitu juga sebaliknya dengan Adam. Jadi dia tidak memaksa, namun dalam hatinya ia sangat ingin agar Adam bisa duduk bersamanya beberapa saat.
Adam tidak berpikir dua kali untuk setuju, dan langsung duduk di samping tempat duduk Claudia. Claudia sendiri awalnya tampak terkejut, tapi sekaligus juga senang. Dan itulah saat Adam menyadari bahwa para teman Claudia masih berdiri menatap pasangan itu dengan tatapan aneh.
"Duduk." Ucap Adam seperti memberikan perintah pada siswa di dalam kelas.
Mereka semua langsung duduk secara bersamaan.
"Lanjutkan makanan kalian, jangan hiraukan aku." Ucap Adam kemudian mulai fokus pada istrinya.
Erik hendak menyajikan makanan untuk Adam, namun Adam langsung mengangkat tangannya yang membuat Erik menghentikan aksinya. Pandangannya beralih pada Claudia lalu mengangguk sekali melihat ke arah piring dihadapannya lalu beralih menatap Claudia lagi. Claudia dan yang lainnya mengerti akan apa yang dimaksudkan Adam. Ia ingin Claudia menyajikan makanan untuknya.
Claudia tidak dapat melakukan apapun, selain menatap Adam dengan aneh. Dia tak pernah menyajikan apapun untuk Adam. Dia tahu bagaimana kebiasaan Adam dengan makanan yang tersaji sempurna di piringnya. Dia selalu melihat Jono dan Nila yang menyajikan untuknya di rumah. Tapi Claudia tidak tahu apapun mengenai seni menyajikan makanan dalam piring.
Para sahabatnya juga tahu akan hal itu. Mereka tahu bahwa Claudia tidak pernah melakukan apapun yang berhubungan dengan tugas seorang istri.
Claudia menarik napas dalam.
'Kau bisa melakukannya.' ucapnya dalam hati sebelum melihat ke arah makanan yang ada diatas meja.
Claudia melihat potongan ikan yang dibuat sushi, kemudian sebuah ide muncul dalam otaknya. Ia lalu mengambil sumpit.
Claudia mengambil ikan dengan sumpit, mencelupkannya ke dalam mustard kemudian menyodorkannya ke depan mulut Adam dengan tersenyum dan bermain mata dengan genit. Dia bertingkah menggemaskan dan manis.
Teman-teman Claudia tampak terkejut dengan aksi yang dilakukan Claudia. Sangat mengejutkan karena ia berusaha menyuapi Adam, tapi mustard itu terlalu banyak.
"Apa itu bisa dimakan?" Diana berbisik di telinga Endra.
Mereka berusaha keras untuk tidak bersuara dan terdengar berkomentar.
"Yang terpenting adalah, apakah dia akan memakannya?" Balas Rose.
Adam melihat ikan yang dilumuri dengan mustard itu sesaat. Kemudian kembali melihat ke arah sang istri. Adam lalu mencium tangan sang istri yang memegangi sumpit di depan mulutnya, kemudian tersenyum sebelum membuka mulutnya dan memakan ikan itu.
__ADS_1
Claudia sendiri juga terkejut, belum sempat ia menarik tangannya dan mengatakan sesuatu, Adam sudah lebih dulu menariknya mendekat dengan memegangi tengkuknya. Sumpit langsung jatuh ke tanah saat Claudia merasakan bibir Adam yang menempel di bibirnya.
'Ada apa ini?' pikir Claudia.
"Ya Tuhaan, aku harus mengambil gambar mereka. Mereka berciuman." Diana berjingkrak kegirangan.
Claudia dapat merasakan rasa mustard dari mulut Adam yang menciumnya. Pipi Claudia memerah dan matanya mulai berair. Teman-temannya terdengar berbisik. Adam terus menciumnya semakin dalam.
'Ya Tuhan ini bukan ciuman. Aku ingin menendangnya sekarang.' ucap Claudia dalam hati.
Claudia ingin melepaskan diri dari Adam, namun Adam semakin menariknya.
'Baiklah, kau yang memulai permainan ini.'
Claudia lalu mengalungkan lengannya ke leher Adam. Adam sama sekali tak menolak dan memeluk Claudia semakin erat. Sekarang suasananya menjadi semakin aneh bagi semua teman-teman Claudia. Endra sendiri tampak heran.
'Sejak kapan Claudia bisa mempunyai sisi lembut seperti ini? Dia tidak pernah bersikap seperti itu dengan kami.'
Endra merasa sedikit buruk. Ia kembali mengingat apa yang dikatakan Claudia kepadanya.
'Batasan mu hanya sampai pipiku saja, ingat itu.'
Endra tertawa dalam hati mengingat hal itu. Dia menyadari kenapa Claudia mengatakan hal itu. Dia tidak pernah melihat Claudia selembut ini dan terbuka seperti ini terhadap siapapun. Tidak juga saat dia memaksa untuk mencium Adam di kapal waktu itu.
"Apakah kita akan makan semua makanan ini, atau mereka berdua akan terus saling memakan?" Rose berkomentar.
"Bagaimana Adam bisa menjadi begitu luluh dan hatinya menjadi meleleh?" Diana mengajukan pertanyaan pada teman-temannya.
"Apa kita lebih baik pergi saja. Maksudku situasinya semakin panas." Kali ini Bam yang berkomentar.
Adam kemudian menuangkan air untuk Claudia dan membuatnya meminum air itu. Ia lalu kembali menaruh gelas kosong itu ke atas meja kemudian mengusap bibir Claudia dengan tissue. Mengusap sudut bibir Claudia yang terdapat bekas mustard. Adam kemudian mencium pipi Claudia dan membuatnya kembali duduk di kursinya.
Endra masih saja terkejut. Cara Adam memperlakukan gadis itu, begitu lembut dan gentle. Terlihat jelas dalam mata Adam bahwa ia sangat menyayangi Claudia dan hal itu membuat Endra sangat bahagia melihat itu semua. Karena Claudia bisa diperlakukan seperti itu.
Adam terlihat bersikap biasa saja, seolah tidak pernah terjadi apapun. Tapi Claudia tampak menghindari pandangan semua temannya.
"Makan." Ucap Adam dengan suara yang begitu lembut.
Setelah beberapa saat, Adam kemudian bertanya pada Claudia.
"Sayang, apa kau sudah jadi membelikan aku ****** *****?" Tanya Adam santai.
Mata Claudia membelalak kaget.
'Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Dia harus membicarakan topik ini dihadapan mereka semua. Ya Tuhan, kenapa dia ada disini? Apa untuk mempermalukan aku?' tanya Claudia dalam hati sebelum menatap tajam ke arah Adam.
Adam sama sekali tak berekspresi apapun. Dia justru menatap Claudia seolah menanti jawaban. Endra langsung menaruh jari telunjuk di bibirnya, memberi tanda kepada yang lainnya agar tidak tertawa. Namun wajah mereka semua sudah memerah setelah mendengar apa yang dikatakan Adam.
Claudia ingin berteriak saat melirik sekilas ke arah teman-temannya.
"Warna apa yang sudah kau pilihkan?" Tanya Adam lagi. "Tunjukan padaku."
Claudia menelan ludah dan memandang Adam dengan tajam. Memberi tanda agar Adam berhenti untuk menanyakan hal itu. Tapi Adam tak bergeming hingga membuat Claudia pun menjawabnya.
__ADS_1
"Iya, aku sudah membelikannya untukmu. Jadi kau bisa melihatnya nanti di rumah. Bukankah kau sedang ada meeting. Jadi kenapa kau tidak pergi..." Claudia berusaha menahan rasa kesalnya.
"Ya, tentu saja kita bisa melihatnya di rumah. Tapi apa salahnya aku melihatnya warnanya sekarang. Jadi aku bisa menggantinya jika tidak cocok dengan warnanya. Kau juga sedang berada di mall sekarang. Jadi akan lebih mudah bagimu jika mau menukarnya." Balas Adam.
Claudia ingin menampar wajah lugu palsu yang ditunjukkan Adam. Tapi ia tak bisa melakukannya.
"Dam, tolong..."
Adam tiba-tiba berdiri dan memperbaiki setelan jas yang ia kenakan.
"Bye sayang. Jaga dirimu, dan segera pulang ke rumah. Aku juga akan langsung pulang ke rumah setelah meeting." Ucap Adam seraya mencium pucuk kepala Claudia lalu keluar dari ruangan itu.
Seisi ruangan hening setelah kepergian Adam. Namun, hanya bertahan satu menit sebelum seisi ruangan mulai terdengar penuh tawa yang menggema. Teman-teman Claudia terbahak sampai berguling ke lantai dengan menatap wajah Claudia.
Merasa malu, merona, memerah, marah dan semuanya. Claudia menatap ke arah mereka semua dengan tajam, lalu melempar sumpit ke arah mereka yang masih tertawa.
"HENTIKAN...." Teriak Claudia.
Namun para teman-temannya masih saja tidak bisa berhenti tertawa.
Claudia sendiri heran pada dirinya. Bagaimana mungkin ia bisa lepas kendali dengan bermesraan dihadapan teman-temannya. Claudia berjanji akan memberikan pelajaran pada Adam atas kejadian hari ini.
Setelah selesai makan siang, mereka semua lalu hendak kembali pulang ke rumah masing-masing. Claudia dan teman-temannya keluar dari dalam lift, saat ia bertemu dengan Calvin yang tepat berdiri di hadapannya.
Claudia memutar mata malas dan seolah tak menganggap keberadaan Calvin. Ia lalu berjalan begitu saja seperti tak mengenal Calvin. Tapi, Calvin menghalangi jalannya.
"Sayang, tolong berhenti. Aku hanya ingin bicara denganmu sekali saja. Setidaknya dengarkan aku dulu. Tolong." Pinta Calvin.
"Hei bro, aku tidak pernah bermaksud untuk ikut campur, tapi kau itu memang keras kepala dan bodoh. Apa kau lupa sebelumnya dia sudah mengatakan padamu bahwa dia itu sudah menikah. Dan dia tidak lagi menunggu kehadiranmu ataupun kembali padamu lagi." Kali ini Endra berteriak.
Calvin sama sekali tidak melihat ke arah Endra. Pandangannya fokus pada Claudia, menunggu respon darinya.
"Guys, kalian boleh kembali ke rumah. Aku juga akan pulang sendiri nanti." Ucap Claudia akhirnya setelah diam beberapa saat.
Endra hendak protes.
"Endra jangan khawatir. Biarkan aku mendengarkan apa yang ingin dia katakan. Bagaimanapun juga dia akan tetap membuntuti dan menggangguku. Dan aku akan baik-baik saja. Aku bukan anak kecil, oke. Pulanglah, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku berada di tempatku sendiri. Ingatkan?" Ucap Claudia meyakinkan Endra untuk membuatnya pergi.
Setelah teman-temannya pergi, Claudia berbalik lalu menatap Calvin dengan tajam.
"Apa yang kau inginkan, hah? Kenapa kah terus mengikuti aku kemanapun aku pergi?" Tanya Claudia dengan tangan yang melipat di dada.
"Sayang, aku ingin minta maaf. Aku benar-benar menyesali keputusanku. Aku tahu, aku sangat menyakitimu. Aku berselingkuh darimu, tapi percaya padaku, aku menyesali semuanya sejak dua tahun yang lalu. Aku tahu kau berbohong padaku hari itu. Kau belum menikah. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa kau sudah menikah, aku menanyakan teman-teman di kampus mu. Aku tahu kau berusaha untuk melupakan aku, tapi kau tidak bisa menyangkal bahwa kau tidak bisa melupakan semua kenangan indah yang pernah kita lalui bersama, benarkan? Aku pria yang sangat jujur saat itu..."
Claudia memotong ucapan Calvin.
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu. Apa kau mengatakan bahwa kau saat itu sangat jujur, huh? Benarkah Calvin? Kau tidak pernah bersikap jujur padaku. Kau selalu punya masalah dengan segala yang ada padaku. Kau selalu berusaha untuk mengubah diriku. Dan aku memang sangat bodoh. Aku membiarkanmu melakukan itu semua. Setelah itu, semuanya menjadi sangat benar setelah aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Karena kau, aku tak percaya lagi pada cinta, aku takut untuk mempercayai seseorang. Kau membuatku menjadi begitu hancur. Kau tahu benar bahwa sejak awal aku memang sudah terluka dan kehilangan. Tapi kau malah semakin membuatku terluka. Kau tidak berusaha untuk membuatku bahagia, yang kau inginkan hanyalah uang dan tubuhku, hanya itu saja. Jadi sekarang, pergilah jauh-jauh dari hidupku. Aku tidak mau bertemu denganmu, melihatmu, mendengar mu..."
Setelah mengucapkan hal itu, Claudia langsung keluar dari dalam mall dan memanggil taksi dengan cepat.
Setelah masuk ke dalam taksi, ia menyadari bahwa dirinya tengah menangis tersedu-tersedu. Ia menangis sejadi-jadinya. Supir taksi lalu menanyakan kemana ia mau pergi.
Claudia menjawab disela tangis dan sesenggukan nya. Dia mengatakan ingin pergi ke sebuah bar. Supir lalu menghidupkan mesin mobil dan bergegas membawanya ke alamat yang ingin ia tuju.
__ADS_1
Bersambung.....