90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Di Jemput Andreas (Bab 38)


__ADS_3

Aku sebelumnya tak pernah mendengar suara Jack yang begitu meninggi.


"Siapa kau hingga berani-beraninya melarang ku bertemu dengannya? Kau itu hanya anak pungut keluarga Arista. Dan camkan satu hal, aku bisa membuatmu gulung tikar sekarang juga. Apa kau lupa sekarang akulah yang memegang kendali atas grup Arista. Jadi aku bisa melakukan apa saja padamu yang hanya bekerjasama dengan grup Arista." Ucap Arnold.


Darahku rasanya mendidih mendengar ucapan Arnold. Bisa-bisanya dia mengancam Jack seperti itu.


"Pergi kau sekarang juga. Oh ya, satu hal yang perlu kau tahu. Tidak peduli bagaimanapun kau mencoba merusak hubungan keluarga dan perusahaan ku dengan grup Arista, aku tidak perduli. Lakukan semua yang ingin kau lakukan. Tapi, aku jamin Velicia tidak akan pernah kembali padamu. Sekarang pergilah sebelum aku kehabisan kesabaran ku. Karena aku tidak perduli jika aku harus masuk penjara hanya karena menghajar wajah bodoh mu itu." Ucap Jack seraya mendorong tubuh Arnold dengan kasar.


Arnold tersungkur, ia menjadi emosi. Aku yang melihatnya dari tempat tidur segera berteriak saat Arnold mencoba melayangkan pukulannya ke arah Jack.


"Hentikan...." Teriakku.


Arnold mengentikan aksinya tepat saat kepalan tangannya tepat berada di depan wajah Jack.


"Ku mohon pergilah dari sini Arnold." Ucapku. "Atau aku tidak akan pernah mau melihat wajahmu lagi." Lanjut ku.


"Karena kau yang meminta, aku akan pergi. Tapi, aku akan kembali lagi untuk menemui mu." Balas Arnold lalu pergi.


Jack terlihat memperbaiki kerah bajunya. Sementara Merry hanya terdiam disamping ku. Jack lalu berjalan ke arahku.


"Jangan pikirkan apapun yang dia katakan. Aku sudah tidak perduli lagi kalau perusahaan ku akan bangkrut, asal kau tak lagi berhubungan dengan pria itu." Ucap Jack.


"Tapi Jack...."


"Jangan bicara lagi." Ucap Jack menyela ku. "Aku sudah mengatakan padamu. Aku tidak perduli lagi, asalkan adikku ini bisa bahagia." Lanjut Jack seraya mengusap kepalaku lembut.


Meski Jack dengan mudah mengatakan hal itu. Tapi aku tak akan bisa menerimanya, jika perusahaan yang selama ini dibangun oleh Jack akan hancur hanya karena diriku.


**********


Hari ini, akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit. Setelah sebelumnya Jack bersikeras memintaku untuk tinggal selama 2 hari untuk perawatan. Dan, semalam Jack sudah kembali terbang ke kotanya.


Ditemani Merry, aku berjalan keluar dari rumah sakit. Tepat di pintu keluar rumah sakit, sosok Andreas berdiri dengan menampilkan senyumannya. Ia mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang hitam. Dia juga menggenggam bunga mawar berwarna putih.

__ADS_1


Perlahan Andreas berjalan ke hadapanku dan menyodorkan bunga mawar putih itu.


"Untukku?" Ucapku.


Andreas mengangguk sambil tersenyum. Senyumannya yang selalu membuat jantungku berdegup dengan sangat kencang.


"Ayo ikut denganku." Ucap Andreas seraya mengulurkan tangannya ke arahku.


Aku menengok ke belakang dimana Merry sedari tadi berdiri denganku.


"Pergilah..." Ucap Merry tersenyum.


Aku berbalik dan meraih tangan Andreas, kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya. Mobilpun melaju meninggalkan pelataran parkir di rumah sakit.


Kami berdua terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulut kami setelah mobil keluar dari rumah sakit. Aku tak tahu, dia mau membawaku kemana. Aku juga malu untuk menanyakannya. Yang bisa ku lakukan sekarang adalah menahan gejolak di dada.


Degup jantungku semakin kencang, saat Andreas melirik ke arahku. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi mungkin saja ia merasakan hal yang sama sepertiku. Malu untuk memulai pembicaraan.


"Mmmm kau mau membawaku kemana?" Tanyaku akhirnya membuka percakapan.


Setelah 30 menit, akhirnya kami tiba di sebuah taman bermain yang seingat ku sudah lama terbengkalai. Andreas keluar dari dalam mobil kemudian berlarian berputar ke arah pintu yang ada disamping ku lalu membukanya.


"Ayo keluar gadis kecil." Ucapnya seraya menyodorkan tangannya.


Aku menyambut tangan Andreas dengan penuh suka cita. Kami kemudian berjalan melewati gerbang taman bermain itu dengan tangan yang saling mengait. Bunga yang diberikan Andreas, aku tinggalkan di dalam mobil.


"Gadis kecil, apa kau ingat tempat ini?" Tanya Andreas.


Ingatanku kembali ke masa silam. Dimana tempat bermain ini adalah tempat yang sering aku kunjungi bersama Andreas. Selain di sekolah lama kami, taman bermain ini adalah tempat kedua bagi kami untuk menghabiskan waktu bersama.


"Aku ingat. Tapi, kenapa kita kemari? Bukankah tempat ini sudah di tutup?" Tanyaku.


"Siapa bilang di tutup? Lihat saja." Ucap Andreas seraya menunjuk ke arah papan nama dari taman bermain itu.

__ADS_1


Aku begitu terkejut saat melihat papan nama yang tertulis adalah, 'Velicia in the Wonderland.'


"A-apa ini?" Ucapku dengan terbata-bata.


"Ayo ikut aku." Andreas bukannya menjawab pertanyaan ku, malah menarikku berjalan masuk lebih dalam ke taman bermain.


Kami berjalan melewati berbagai stand penjual makanan dan minuman serta jajanan yang lainnya. Yang membuat aku semakin heran adalah, tidak ada pengunjung lain selain kami berdua di tempat ini. Kecuali, para penjaga stand dan operator permainan.


Andreas memberikanku permen kapas berbentuk boneka beruang berwarna pink, sama persis seperti dulu.


Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya kami tiba tepat di depan bianglala. Seorang pria datang membawa sebuah map, lalu ia berikan pada Andreas.


"Ayo naik." Ajak Andreas tanpa menunggu persetujuanku menarik tanganku agar naik ke atas bianglala.


Bianglala mulai berputar dengan pelan. Aku duduk berhadapan dengan Andreas dalam diam. Tatapan mata kami beradu, ia lalu memberikan map yang diberikan seorang pria tadi padaku.


"Apa ini?" Tanyaku.


"Baca saja." Jawabnya singkat.


Aku mulai membuka map berwarna biru itu lalu mulai membacanya. Setelah membacanya sebentar, aku sontak menatap Andreas.


"Apa maksud semua ini?" Tanyaku lagi menahan air mata yang hendak luruh.


"Apa kau masih ingat? Dulu kita juga pernah duduk tepat di tempat yang sama dengan saat ini." Jawab Andreas.


Aku hanya mengangguk.


"Apa kau juga ingat dengan perkataan mu dulu? Kau pernah bilang padaku ingin memiliki taman bermain sendiri agar kau bisa leluasa bermain." Ucap Andreas. "Dan tepat di ulang tahunmu yang ke 20 tahun, aku membeli taman bermain ini khusus untukmu sebagai hadiah dariku." Lanjut Andreas dengan pandangannya yang beralih ke arah pemandangan di bawah sana.


"Tapi, aku tak pernah berani untuk memberikannya padamu karena aku sudah terlambat. Statusmu sudah berubah menjadi adik ipar ku." Ucap Andreas yang membuatku semakin terdiam. "Saat kau berulang tahun yang ke 15, Tuan Besar Setyawan memintaku untuk melanjutkan pendidikan ku ke luar negeri. Setelah aku menolak untuk mengurus perusahaan." Terlihat dari sorot mata Andreas bahwa ia begitu tertekan.


"Aku tak pernah ingin meneruskan perusahaannya karena terlalu banyak merugikan orang lain. Tuan Besar Setyawan adalah pria yang rela melakukan apapun demi perusahaannya." Lanjut Andreas lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2