
Hari ini adalah hari jumat dan Claudia tidak mau melewati mata kuliah yang diajarkan suaminya.
Adam masuk ke dalam kelas...
Seperti semua gadis lainnya dan beberapa laki-laki, Claudia juga tidak bisa fokus dengan apa yang disampaikan Adam di kelas. Dia malah fokus menatap pesona sang suami yang terlihat begitu mempesona.
'Waah, dia sangat tampan. Aku tidak pernah melihat pria setampan ini seumur hidupku. Suaranya.... Ya Tuhan, terdengar seksi dan manly sekali. Dia sangat sempurna.'
"Baiklah, bisakah seseorang mengatakan apa yang baru saja aku sampaikan kepada kalian?" Tanya Adam.
Para gadis terlihat heboh dan kegirangan, mereka semua berlomba-lomba mengangkat tangan, melambai ke arah Adam, mereka semua. Para laki-laki juga, tapi kebanyakan laki-laki malah senang melihat kehebohan yang diciptakan para gadis-gadis yang mengidolakan dosen tampan mereka itu.
"Yang pertama, aku minta kau yang disana. Yang duduk di baris ke delapan, mengenakan kaos warna hitam. Berdiri dan katakan apa yang baru saja kau pelajari." Tunjuk Adam.
Semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka pada orang yang ditunjuk Adam, untuk melihat siapa yang beruntung itu.
Setelah mengetahui siapa orang yang ditunjuk Adam, mereka semua mulai bergosip.
"Bukankah dia orang yang menghalangi pintu masuk kelas tadi?"
"Iya, dia Claudia. Gadis yang dihukum kemarin, yang mentraktir kita es krim sebagai hukumannya."
"Iya, dia gadis berandalan paling terkenal di kampus ini."
****Flashback****
Pintu masuk ke dalam kelas dihadang oleh dua orang mahasiswa yang paling terkenal karena kenakalannya di kampus, Claudia Arista Setyawan dan Septiawan Endra. Keduanya berdiri di depan pintu, memblokir jalan masuk para mahasiswa.
Claudia terlihat tengah mengunyah permen karet, tampangnya terlihat begitu mendominasi. Hari ini ia benar-benar memperlihatkan kekuasaannya kepada para mahasiswa lain. Ia dan Endra memilih mahasiswa mana yang boleh masuk ke dalam kelas. Tindakannya itu tentu saja tidak adil, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan karena mereka takut pada Claudia dan Endra.
"Hei Di... Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak membiarkan para gadis yang over bahagia itu masuk ke dalam kelas. Tapi kau malah melakukan yang sebaliknya." Protes Endra.
"Karena aku ingin mengetes sesuatu. Bagaimana tingkah dan reaksi Tuan Sempurna itu pada gadis-gadis yang tergila-gila padanya di dalam kelas nanti. Itu ujian baginya hari ini." Ucap Claudia dengan bangga seolah dia adalah seorang penjaga perbatasan antar negara.
Tapi saat para lelaki mulai protes, "lihatlah guys, ada banyak mahasiswa yang ingin mengikuti kelas Pak Adam. Kami disini untuk mengawal keinginan kalian," ucap Claudia. "Dan bagi kalian para lelaki, kenapa kalian tidak bisa membiarkan para wanita cantik ini untuk mengikuti kelas. Jadilah pria gentleman, biarkan para gadis ini yang masuk." Lanjut Claudia.
"Guys, hari ini cuacanya sangat cerah. Ayolah, aku akan mentraktir kalian makan apapun nanti di kantin. Ikuti saja kemauan Claudia." Ucap Endra mencoba membantu Claudia mengatasi para lelaki yang juga ingin masuk ke dalam kelas.
Saat Adam masuk ke dalam kelas, ia merasa terkejut karena seluruh kelas dipenuhi dengan wangi parfum wanita. Dan hanya ada beberapa laki-laki yang menghadiri kelasnya.
Adam lalu menaruh barang-barangnya diatas meja lalu menatap ke arah para mahasiswa. Mencari dimana sosok yang ingin ia lihat. Pandangan keduanya bertemu, dimana gadis itu tersenyum seolah tengah memenangkan sesuatu. Adam lalu bisa menebak apa yang sebenarnya tengah terjadi, ia lalu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
****Flashback off****
Gadis yang dibicarakan semua mahasiswa masih sibuk dengan pikirannya. Mahasiswa yang duduk disampingnya langsung menyenggolnya dengan sikunya.
Claudia tersadar. Ia lalu melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa semua orang tengah menatap dirinya.
"Apa? Kenapa semua orang menatapku seperti ini?" Tanya Claudia bingung.
Gadis disampingnya berbisik, "hmmmm Di, Pak Adam memintamu untuk menjawab pertanyaannya."
"Apa yang dia tanyakan? Aku tidak tahu apapun." Ucap Claudia seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Malu, Claudia berdiri dan mulai membuka bukunya, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari dalam mulutnya.
"Karena kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku, maka majulah kemari dan berdiri di depan kelas." Ucap Adam dengan suara yang tenang.
Claudia melangkah maju, lalu berdiri di belakang Adam.
"Tetap berdiri disitu dan dengarkan apa yang dikatakan dosen mu ini sampai kelas berakhir." Ucap Adam kemudian melanjutkan kelas.
Claudia merasa begitu malu. Ini adalah pertama kalinya ia dihukum oleh dosen. Sembilan dari sepuluh dosen tidak akan berani untuk menghukumnya walaupun dia telah melakukan kesalahan. Tapi, pria ini. Dia bukan sembilan dari sepuluh dosen itu.
Sepanjang perkuliahan, Claudia berdiri dibelakang Adam. Claudia sebenarnya mulai menikmati pemandangan bagian belakang suaminya itu. Beberapa saat kemudian, ia mulai menghitung helaian rambut suaminya itu seraya berucap, "orang pengangguran itu sebenarnya iblis pekerja keras."
"Jadi, Nona Claudia. Bisakah kau mengulang apa yang baru saja aku katakan?" Tanya Adam.
"Ah, Anda mengatakan.... Aku..." Claudia bingung harus berkata apa, dia mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Adam mulai terlihat marah, kemudian...
__ADS_1
"Nona Claudia, aku ingin kau menemui ku di kantor setelah kelas ini berakhir. Topik perkuliahan hari ini sangat penting untuk tes berikutnya. Jadi aku ingin kau memahami semuanya."
Mahasiswa yang lainnya terkejut.
"Apa? Pak Adam ingin mengajarinya secara langsung di dalam ruangannya? Berduaan? Kenapa gadis itu yang selalu beruntung. Aku juga mau berada di posisinya."
"Jangan khawatir, masih ada waktu lain kali."
"Yah, gadis berandalan itu selalu saja beruntung."
Di ruangan Adam....
Adam menaruh semua peralatannya diatas meja lalu duduk di kursinya.
Adam menyadari bahwa gadis dihadapannya tetap diam sejak dia dihukum. Sebenarnya Adam berharap bahwa gadis itu akan marah-marah, tapi yang ada, dia terus menundukkan kepalanya berdiri disana.
Adam berdiri lalu mendekat ke arah Claudia, kemudian meraih tangan Claudia menggenggamnya dan menariknya untuk duduk di pangkuannya saat Adam kembali duduk di kursinya. Adam lalu mulai memijit lutut Claudia, sementara tangan kirinya menyeka rambut Claudia yang menutupi pandangannya.
"Apakah sakit disini?" Tanya Adam.
Tapi Claudia langsung menepis tangan Adam dari lututnya.
"Kenapa kau peduli? Lagipula aku ini bukan orang tua sepertimu." Ucap Claudia dengan suara yang terdengar marah, seperti tengah protes.
Tapi Adam malah tertawa kecil, ia lalu memeluk Claudia dengan sangat erat dari belakang.
"Tapi kau sendirilah yang bersalah. Kau tidak fokus pada apa yang aku sampaikan." Ucap Adam.
"Dan kau pikir yang lain bisa? Tidak ada yang fokus mendengarkan apa yang kau sampaikan. Mereka semua terpesona padamu. Sibuk menatapmu, bahkan berpikir yang tidak-tidak denganmu. Tapi, dari semua orang kau malah memilih aku. Kau sangat tidak adil. Hanya karena kau punya dendam denganku, kau membuat aku malu didepan mereka. Kau juga sudah melakukannya kemarin. Aku Claudia Arista Setyawan, mahasiswa yang tidak pernah dihukum sebelumnya, sekarang mereka semua mengejekku. Mereka semua akan berani melawanku. Itu semua karena perbuatan mu. Kau bahkan tidak bertanya lagi pada yang lainnya setelah aku. Aku membencimu. Dan aku tahu, aku benar tentangmu, kau selalu bertindak seperti ini padaku." Claudia terdengar marah, dan berusaha bangun dari duduknya, namun Adam menahannya dengan semakin memeluknya erat.
"Pertama, aku tahu benar bahwa para gadis itu sama sekali tidak mendengarkan aku. Tapi aku tidak peduli. Satu-satunya tujuanku adalah kamu, dan masa depanmu. Kedua, aku sama sekali tidak punya dendam denganmu sayangku. Dulu semuanya terjadi karena aku tidak mengetahui identitasmu yang sebenarnya. Kapan kau akan mengerti. Dan yang terakhir, apa kau akan bahagia jika gadis lain sekarang yang berada di posisimu? Kau masih saja tidak mengerti. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berduaan denganmu. Coba kau pikir Di, bagaimana jika, gadis lain berada di posisimu. Aku bisa saja diperkaos oleh mereka, aku ini suamimu Di, pikir tentang itu." Ucap Adam panjang lebar.
Claudia memutar mata malas.
"Suami? Tapi yang aku lihat dan rasakan selama ini adalah, kau bertindak seperti seorang Papa bagiku. Kau malah memperlakukan aku seperti putri mu."
Adam menjadi terbahak.
"Jadi, kau ingin aku melakukan sesuatu yang hanya dilakukan oleh seorang suami hah?" Ucap Adam kemudian mulai memegangi bagian dada Claudia.
"Pak Dosen, kau mengambil kesempatan dariku. Aku kemari untuk belajar seperti yang kau minta. Jika kau berharap yang aku akan bertindak seperti gadis-gadis yang menjadi penggemar berat mu itu yang rela untuk tidur denganmu, kau salah mengenai aku." Ucap Claudia dengan mengerutkan alisnya. "Dan berhenti mencium ku, setiap kali kau punya kesempatan. Tidakkah kau tahu seberapa besar bekas yang kah tinggalkan hanya karena sebuah ciuman itu." Ucap Claudia sebelum keluar dari ruangan Adam.
Adam menghela napas dan juga tersenyum. Dia tahu, bahwa Claudia benar. Claudia bukanlah gadis seperti kebanyakan gadis yang mengeluh-eluhkan nya, dimana mereka akan dengan sukarela tidur dengan Adam hanya dengan sekali kedipan mata saja. Dan itulah perbedaan antara Claudia dan mereka. Claudia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya terhadap kekayaan yang dimiliki Adam dan tidak juga ingin tidur dengan Adam, ataupun menggodanya. Siapa yang tidak menginginkan suami seperti Adam Wijaya?
"Kau memang berbeda, istriku sayang." Ucap Adam seraya bersandar di kursinya.
Adam lalu mengirim sebuah pesan pada Claudia.
(Btw, apa kau mau nonton film? Ada film horor baru yang tayang hari ini. Mau pergi kencan sambil nonton?)
(Kencan saja sendiri, dasar pria tua mesum.)
Itulah pesan balasan yang di dapat Adam, ia terbahak dan dapat membayangkan bagaimana wajah istrinya saat ini, bahkan tanpa harus melihatnya.
********
Claudia tengah berada di jalan menuju kelas tari, saat dia menerima sebuah permintaan pertemanan dari sebuah akun bernama 'A'. Claudia tidak tahu siapa itu, dan langsung menerima permintaan pertemanan itu karena berpikir akun itu bisa jadi salah seorang teman kelasnya. Claudia lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Namun, Claudia mengingat suatu hal, ia kembali mengambil ponselnya dan menulis sebuah status.
'Dia adalah serigala berbulu domba.'
'Siapakah khem* khem* mu itu?' tulis Endra berkomentar.
Orang-orang lain juga mulai berkomentar.
'Siapa?'
'Apakah akhirnya kau punya pacar?'
'Oh, apa itu Sugar Daddy mu?'
__ADS_1
Apa kau bicara tentang Pak Adam? Dia memanggilmu ke ruangannya kan hari ini.'
'Yah, yah, yah, apakah dia menggoda mu? Jangan bilang kalau dia mencoba untuk melakukan sesuatu padamu. Kau sama sekali bukan tipenya.'
Komentar seperti itu terus berdatangan, membuat Claudia memutar mata malas lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya tanpa membalas satupun komentar itu.
****************
Hari rabu berikutnya, adalah kelas Adam mengajar lagi.
Adam masuk ke dalam kelas, kali ini kelas tidak sepenuh biasanya. Adam kembali mencari sosok yang selalu dirindukannya, dan akhirnya ia menemukan gadis itu duduk di bangku paling depan. Hal itu membuat Adam sedikit terkejut.
'Apa yang sedang ada dalam pikirannya hari ini?' pikir Adam sebelum mulai perkuliahan.
Tidak terjadi apapun, semuanya berjalan normal. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini Claudia tampak mengikuti perkuliahan dengan sangat serius. Dia bahkan mencatat sesuatu di buku catatan kecilnya. Namun, hal yang paling aneh terjadi adalah, setiap kali mata mereka berpandangan, Claudia selalu mengedipkan matanya.
Awalnya, Adam berpikir bahwa dirinya salah lihat. Tapi tidak, dia memang benar. Gadis itu tetap memperhatikan perkuliahan yang disampaikannya, tapi juga tetap mengedipkan mata padanya.
Adam menjadi begitu bingung. Ia tak pernah merasakan apapun saat para wanita mengedipkan mata padanya. Baik itu supermodel, aktris, diva, ataupun sosialita cantik, semuanya tidak berpengaruh bagi Adam. Tapi kedipan mata gadis ini, membuat Adam kehilangan fokus dan konsentrasinya. Adam mencoba untuk mengalihkan pandangannya agar tak melihat ke arah istrinya itu, tapi tidak bisa. Karena hatinya terus memintanya untuk melihat ke arah gadis itu.
Kelas akhirnya berakhir, begitu juga dengan perasaan gemetar yang dirasakan Adam. Dia mulai merapikan barang bawaannya, saat tiba-tiba para gadis berlarian mengerumuni dirinya. Mereka saling dorong, berebutan untuk berhadapan dengan Adam.
Mata Adam mencari sosok gadisnya diantara semua kerumunan gadis yang mendekatinya. Ia akhirnya dapat melihat gadisnya yang masih duduk dengan menyilang kakinya, tangan yang melipat di dada dan pandangan yang sangat tajam. Adam tahu pasti apa yang dirasakan sang istri dari tatapan matanya itu.
"Pak Adam, ada yang masih saya tidak mengerti. Apa Bapak bisa menjelaskannya pada saya...?"
"Pak Adam, saya tidak bisa mengerti bagaimana cara penulisan tugas yang selanjutnya. Apa Bapak bisa membantu saya?"
Mata Claudia menatap begitu tajam ke arah Adam seolah langsung bisa menusuk ke hatinya. Adam berusaha menjawab pertanyaan para gadis itu secepat mungkin agar ia bisa segera pergi dari kerumunan ini. Karena terus saling dorong, seorang gadis hampir saja jatuh. Adam dengan sigap menarik tangan gadis itu menyelamatkannya agar tidak terjatuh ke lantai. Gadis itu merona malu dan berterima kasih padanya.
Adam menerima sebuah pesan baru, lalu membacanya.
❤️Istriku Sayang ❤️
'Adam Fucking Wijaya, jangan pulang ke rumah malam ini. Aku tidak mau melihat wajahmu.'
Adam ingin berteriak, lalu bergegas meninggalkan para gadis itu.
Claudia tampak menunggu balasan, tapi tidak ada respon.
Malam harinya, Claudia tengah berbaring di kamarnya dan tampak memasang telinga agar mendengar setiap suara yang berasal dari depan rumah lewat jendela dan pintu kamarnya. Suaminya belum juga pulang sampai malam hari. Terakhir kali Claudia melihatnya adalah di kelas. Adam bahkan tidak ada saat Claudia belajar di ruang kerjanya sore tadi, tidak juga saat makan malam. Bagaimanapun sekarang sudah tengah malam. Claudia tidak mendengar ada tanda sedikitpun dari kedatangan mobil Adam.
Claudia mulai khawatir sekarang.
'Apa dia memang marah padaku? Apakah dia memang memutuskan untuk tidak pulang ke rumah? Apakah aku sudah keterlaluan? Bagaimanapun, ini kan rumahnya. Bagaimana bisa aku memintanya untuk tidak pulang.'
Claudia beberapa mencoba untuk menelepon Adam, tapi tidak aktif. Dia juga mencoba untuk mengirim pesan, tapi tidak bisa terkirim. Tidak ada yang bisa dihubungi. Bahkan Naomi dan Erik tidak ada yang mengangkat telepon.
Claudia menarik napas dalam, kemudian mencoba untuk mengirim pesan pada Adam lagi.
'Dam...'
Pesan itu akhirnya bisa terkirim, Claudia tersenyum dan merasa senang.
Tiba-tiba, dia mendapat sebuah panggilan telepon dari Naomi.
"Halo Kak. Dari mana saja kalian semua sebenarnya? Aku sudah mencoba menelepon kalian semua sejak sore tadi." Ucap Claudia mencecar Naomi dengan pertanyaan.
"Sayang, sebenarnya kami tengah berada di penerbangan tadi." Balas Naomi.
"Penerbangan? Dimana kau sekarang? Dimana dia? Kenapa dia tidak mau mengangkat teleponku?" Claudia begitu khawatir, ia tak menyadari bahwa dirinya tengah gemetar.
"Kami sekarang berada di Singapura. Dia juga ada disini bersama kami. Kami berangkat dengan buru-buru. Tepat setelah perkuliahan di kampusmu. Dia sedang meeting sekarang." Jawab Naomi.
"Kapan kau akan kembali?"
"Tidak tahu sayang, bisa jadi sebulan, bisa juga lebih. Kami belum tahu. Aku akan kembali besok, tapi dia akan tetap tinggal disini. Projects yang ada disini membutuhkan dirinya sekarang. Ada keadaan darurat tentang projects disini dan klien memintanya untuk tetap berada disini sampai semuanya selesai. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya."
Claudia memutuskan panggilan telepon lalu melempar ponselnya. Dia lalu menarik selimut menutupi tubuhnya, lalu mengusap matanya dengan selimut itu. Iya, dia memang menangis. Dia takut masa lalu akan terulang lagi. Lagi dan lagi, dia ditinggalkan sendirian. Alasannya juga sama, tidak lain karena urusan perusahaan. Claudia ketakutan, dia benar-benar sangat ketakutan. Dia tidak tahu kenapa, tapi dirinya benar-benar di penuhi rasa takut sekarang.
'Aku memang bodoh. Aku mengulang kesalahan terburuk yang pernah aku lakukan lagi.'
__ADS_1
Claudia menuliskan kata itu di ceritanya, dan dilihat oleh akun bernama 'A'. Claudia lalu menaruh ponselnya menjauh darinya. Dia tidak tahu kapan dirinya tertidur, tapi air matanya tidak berhenti mengalir.
Bersambung....