90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
6. I Love You Adam Wijaya


__ADS_3

Lapangan basket sudah mulai kosong. Hanya tersisa sekitar 20 orang mahasiswa termasuk Claudia dan teman-temannya. Endra sudah lebih dulu pulang karena ada urusan. Tersisa Claudia, Rose dan Diana. Ketiganya hendak berjalan keluar dari kampus. Namun langkah Claudia tiba-tiba terhenti saat ia melihat sosok pria itu baru saja keluar dari ruang Dekan.


Pria yang tak lain adalah suaminya itu berjalan diikuti Dekan dibelakangnya. Pandangan keduanya bertemu, Adam menatap Claudia dengan dingin. Claudia bahkan tak berkedip memandang suaminya. Sejujurnya ia senang melihat Adam ada di kampus, karena ia memang ingin Adam melihat aksinya yang menyatakan cinta padanya. Claudia tengah merencanakan sesuatu. Namun ayang ditakutkannya adalah tentang pertemuan Adam dan Dekan.


Apakah Dekan akan mengatakan yang sesungguhnya pada Adam, bahwa dia adalah isteri Adam. Tapi Claudia sudah memintanya untuk tutup mulut saat itu.


"Tuan Adam, sebenarnya ini hanya...."


"Aku ingin kau mengeluarkannya segera, bila perlu minggu depan." Ucap Adam memotong ucapan Dekan yang ingin menjelaskan tentang Claudia padanya, namun Adam ingin Claudia dikeluarkan dari kampus.


Claudia tiba-tiba terbahak, dia begitu puas melihat wajah kesal yang ditunjukkan Adam. Claudia bahkan hampir tertawa sambil berguling-guling di rumput, tapi Dekan memperingatkannya dari dean ruangannya, Claudia pun bisa mengontrol dirinya.


"Apa ini semua Claudia?" Tanya Dekan saat Claudia sudah mendekat ke ruang Dekan. "Apa kau tahu kenapa dia sampai datang kemari?" Lanjut Dekan yang kembali bertanya dengan suara pelan agar tak ada lagi rumor atau masalah yang terjadi.


"Bagaimana saya bisa tahu? Bapak yang seharusnya memberitahu saya." Balas Claudia.


Sebenarnya setelah pertandingan tadi, Adam akan mengadakan konferensi pers mengenai jersey yang diproduksi oleh perusahaannya dan juga menjadi sponsor terbesar acara itu. Tapi, Erik, bertanya sesuatu padanya.


"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Erik dan dibalas anggukan kepala oleh Adam. "Kenapa Anda sangat membenci gadis itu?" Tanya Erik, padahal ia sendiri sudah mengetahui jawabannya.


Adam menatap Erik sesaat sebelum akhirnya ia menatap ponselnya.


"Karena dia itu gadis modern yang sangat tidak beretika dan juga lebih mirip berandalan." Balas Adam kemudian.


Erik tersenyum, "tapi bukankah dia bukan satu-satunya gadis yang memiliki sifat seperti itu di seluruh dunia ini. Kenapa Anda hanya membenci dia saja?" Tanya Erik lagi.


"Sebenarnya 80 persen orang-orang di dunia ini memiliki sifat seperti dia. Tapi aku sangat membenci dia. Karena sudah mencuri ciuman pertama ku." Ucap Adam tanpa rasa canggung.


Dalam hati, Erik sangat bahagia mendengar ucapan bos nya itu.


"Ciuman pertama?" Ulang Erik.


"Ya, ciuman pertama. Kau tahu benar hubungan yang seperti apa yang aku jalani selama ini. Aku tidak pernah punya pacar. Aku tidak pernah punya waktu untuk bermesraan. Ah, aku pernah melakukannya sekali, tapi tidak pernah sampai berciuman di bibir. Dan aku berhenti berhubungan dengan siapapun setelah menikah. Aku tidak pernah mencium seseorang atau dicium seseorang. Aku juga tidak pernah berencana untuk segera menikah. Tapi semuanya terjadi begitu saja, suatu hari aku malah menikah. Dan istriku malah meninggalkan sebuah catatan yang mengatakan ia tak menginginkan pernikahan ini tanpa penjelasan apapun. Tapi aku masih punya sisi lembut yang berharap bisa membangun keluarga bersamanya, aku ingin cinta pertamaku, ciuman pertamaku dengannya. Yah meskipun kami belum pernah bertemu sekalipun. Tapi tetap saja untuk pertama kalinya aku ingin fokus pada hubungan kami selain fokus dari pekerjaan. Tapi berandal itu dia mencurinya, dia mencuri ciuman pertamaku." Ujar Adam panjang lebar dengan raut wajah yang begitu kesal.


"Apa Tuan tahu, isteri Tuan seusia dengannya." Ucap Erik.


Adam menatap Erik, "memangnya kenapa? Tidak masalah, tapi jangan sekali-sekali membandingkan istriku dengan berandalan itu."


Erik ingin sekali tertawa, tapi ia terus berusaha menahan diri.


"Ngomong-ngomong, isteri Tuan juga kuliah disini, sama dengan berandalan itu." Ucap Erik sengaja memberitahu Adam, agar Adam bisa mencari tahu tentang istrinya lalu menemukan kebenaran dengan sendirinya.


Itulah kenapa Adam berada di kampus Claudia untuk bertemu Dekan membahas tentang istrinya. Bagaimana mungkin dia tidak bertemu dengan Dekan setelah mengetahui istrinya berkuliah di tempat dimana dia berada saat ini. Andai saja hari ini bukan weekend, dimana para mahasiswa libur, sudah dipastikan bahwa ia ingin bertemu secara langsung dengan istrinya.


"Hai Om, apa kabar?" Tanya Adam menyalami Dekan saat ia baru tiba di ruang Dekan.


"Aku baik Dam, akhirnya kau kembali." Balas Dekan. "Aku sangat kesal padamu atas semua ini. Kau membiarkan dia melewati semuanya sendiri, kau tak tahu apa saja yang sudah dialaminya."


"Tapi dia yang menginginkan semua ini. Dia yang ingin aku menjauh darinya." Balas Adam dengan nada penuh penyesalan dan kepalanya yang menunduk.


"Tapi setidaknya jangan terlalu jauh dari negara ini. Apalagi selama dua tahun."


"Aku tahu Om, tapi aku sangat sibuk disana." Balas Adam semakin menyesal.


Dekan menghela napas.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong ayo duduk. Aku pikir, aku tahu kenapa kau kemari."


"Om, bagaimana perkembangan belajarnya di kampus?" Tanya Adam.


Dekan kembali terlihat menghela napas panjang, ia tampak kesal dan juga kecewa.


"Dia mahasiswi yang sangat pintar. Tapi dia tidak suka belajar. Hal itu tidak diragukan lagi. Ia selalu tidak hadir saat ujian berlangsung. Tak pernah mengumpulkan tugas, bahkan datang kuliah saat ia mau saja. Sekarang kau sendiri yang bayangkan, bagaimana hasil akhir ujiannya nanti."


"Tapi, kenapa tak ada seorangpun yang memberitahukan padaku tentang hal ini? Kenapa dia begitu tidak perduli dengan pendidikannya. Yang aku tahu sesuai cerita Papa nya, dia punya mimpi yang besar. Dia gadis yang ambisius. Lalu kenapa dia bisa jadi seperti ini? Apa yang dia lakukan selama ini jika tak datang kuliah?" Tanya Adam dengan ekspresi kecewa.


"Apakah kau ada disana, jadi orang-orang bisa melaporkan semuanya padamu?" Ucap Dekan bertanya balik. "Kau adalah walinya, orang yang bertanggung jawab atas dirinya. Kau harusnya ada disana membimbingnya mengingat kalian itu sudah menikah. Aku tetap berpikir, seandainya saja kau ada disana bersamanya, aku yakin semuanya akan jadi lebih baik."


Adam merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri.


"Tapi, aku pikir semuanya sudah terlambat sekarang." Lanjut Dekan.


Adam begitu terkejut.


"Terlambat? Kenapa Om berkata seperti itu?" Tanya Adam.


"Dia sudah memutuskan untuk berhenti kuliah, dia ingin bekerja. Dia ingin mandiri, tak ingin hidup dengan uang yang kau berikan. Aku sudah berusaha untuk membujuknya, tapi selalu saja gagal." Ucap Dekan menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Adam terkejut dan juga bingung, namun ia tak menunjukkan ekspresi itu dari wajahnya.


"Tenang saja Om, percaya padaku. Aku tidak akan membiarkannya menyerah untuk mengejar masa depannya. Aku akan memenuhi janji yang aku buat dua tahun yang lalu. Akulah orang yang bertanggung jawab atas dirinya. Aku tidak akan mengecewakan kalian semua. Aku janji, dia akan menjadi yang paling baik tahun ini." Ucap Adam.


"Adam, apa kau serius? Dia tidak datang kuliah selama tahun ini, hanya datang beberapa bulan saja. Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi." Ucap Dekan tak percaya.


"Aku akan membuat semuanya terjadi Om, percaya padaku. Aku akan membuat masa depannya bersinar dan terjamin. Aku tahu aku telah membuat kesalahan dengan meninggalkannya sendirian. Dia masih terlalu muda untuk menghadapi semuanya seorang diri. Aku baru menyadarinya sekarang. Tapi jangan khawatir, aku sudah ada disini sekarang. Dan Om harus membantuku untuk mewujudkan semuanya." Ucap Adam penuh optimis.


"Tentu saja. Kami semua ingin dia bahagia pada akhirnya, dan Om juga tahu kau menginginkan hal seperti itu. Jadi, kami pasti akan selalu mendukungmu."


"Lebih baik kau mencari tahu sendiri. Dia sudah memperingatkan kami semua untuk tidak memberikan fotonya padamu, tidak juga memberitahu mengenai informasi tentang dirinya padamu. Aku tahu itu kekanakan. Tapi seperti itulah dia. Dia berpikir bahwa dirinya sudah tumbuh menjadi dewasa dan matang, tapi tetap saja pada akhirnya dia itu masih gadis muda. Ku beritahu, ini semua adalah tantangan untukmu. Kau harus mencari tahu tentang isteri mu seorang diri." Ucap Dekan tersenyum.


Adam ikut tersenyum.


"Dia ingin aku menyerah untuk menghadapi dirinya. Dia ingin aku mencari tahu sendiri tentang dirinya, benar-benar kekanakan namun juga menggemaskan. Baiklah, aku akan memburunya, aku akan menemukannya sendiri. Tapi, apa aku boleh tahu bagaimana ciri-cirinya?"


"Claudia gadis yang cantik. Kulitnya putih dengan rambut yang selalu diikat tinggi. Itu saja yang bisa aku beritahu." Jawab Dekan.


"Baiklah Om, terima kasih. Setidaknya kau sudah memberitahuku sedikit tentangnya. Bahkan Erik dan Naomi tidak mau memberitahuku." Ucap Adam dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


(Bagaimana menurut kalian tentang Adam dan Claudia? Bagaimana mungkin mereka menikah tapi tak pernah saling melihat. Terlebih Adam yang bahkan tak tahu identitas asli isterinya sendiri.)


Tapi Dekan tak mengatakan semuanya pada Claudia. Ia hanya mengatakan bahwa kedatangan Adam ke kampus hanya untuk mengecek tentang bagaimana perkembangan belajar Claudia di kampus.


Sejujurnya dalam hati kecil Claudia, ia merasa bahagia karena akhirnya sang suami datang ke kampusnya untuk menanyakan dirinya kepada Dekan.


*************


Di lain tempat, Lisa ternyata telah melakukan kesalahan yang amat besar. Saat Claudia berjalan masuk ke area kampus keesokan harinya, semua orang menatapnya dan mulai membicarakannya. Itu bukan hal yang baru bagi Claudia, jadi dia tak menghiraukan mereka semua dan terus berjalan menuju lapangan basket.


Saat Rose berlari cepat ke arahnya, Claudia terlihat bingung.


"Siapa yang mengejar mu? Apakah hantu atau pria tampan?" Tanya Claudia.

__ADS_1


Diana ikut berlari dibelakang Rose.


"Di, kau dalam masalah." Ucap Rose dengan wajah panik.


Claudia menatap kedua sahabatnya dengan malas.


"Apalagi sekarang? Apa aku sudah membunuh seseorang dalam mimpi?" Tanya Claudia.


Ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah panggilan dari Naomi.


"Di, apa semua ini? Prank apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau selalu mencari masalah dengan menguji kesabarannya?" Tanya Naomi yang kini membuat Claudia bingung.


Di dalam sebuah ruangan ber-ac, di gedung perusahaan milik Adam, Adam tengah mengadakan meeting. Ia tengah menyampaikan beberapa data yang dilihatnya dari laptopnya yang tersambung dengan proyektor.


Ia menerima sebuah notifikasi dari email yang tak diketahui, tentang sebuah link yang Adam sendiri tak tahu apa itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengklik link itu karena dalam email itu bertuliskan, 'lihat apa yang dilakukan gadis ini pada Adam Wijaya'.


Tiba-tiba, ruangan meeting yang tadinya hening dan sepi seperti gurun sahara berubah bising karena suara teriakan dari video itu.


"I LOVE YOU ADAM WIJAYA."


Terlihat seorang gadis yang duduk di sebuah dahan pohon berteriak menyatakan perasaan pada Adam.


Semua orang terkejut, termasuk Adam yang terkejut beberapa detik. Adam dapat mendengar suara keterkejutan dari orang-orang yang berada dalam ruangan meeting. Namun wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia tetap terlihat dingin.


Adam lalu menghentikan video itu dan melanjutkan meeting nya.


"Sampai mana kita tadi..." Ucap Adam yang membuat suasana meeting kembali hening.


Meeting pun usai. Naomi dan Erik berlarian menghampiri Adam berusaha mengatakan sesuatu.


"Tuan..."


Adam mengangkat tangannya, membuat Erik tak melanjutkan ucapannya.


Naomi dan Erik tampak tegang dan takut. Lisa telah meng-upload video itu ke internet, dan tidak butuh waktu lama sudah menjadi viral di media sosial bahkan televisi. Orang-orang mulai bergosip tentang hubungan Adam dan Claudia.


Naomi tahu, untuk meredakan amarah Adam, ia hanya perlu memberi tahu Adam yang sebenarnya. Tapi dia tak bisa melakukan semua itu karena Claudia akan marah padanya. Jadi, baik Naomi maupun Erik memilih diam, karena masalah seperi ini tidak begitu besar bagi Adam. Akan sangat mudah baginya untuk menyelesaikan semuanya.


"Erik, temukan penyebar video itu dalam waktu 24 jam. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus semua ini. Aku harus mengatur waktu untuk bertemu Claudia agar bisa memintanya untuk melanjutkan kuliahnya. Aku juga tak mau Claudia berpikir buruk tentang aku karena adanya video ini. Segera hapus semua video yang sudah tersebar." Titah Adam dengan wajah tenang.


Naomi dan Erik terlihat terkejut. Mereka berpikir bahwa Adam akan marah-marah.


Naomi lalu bergegas menemui Claudia dan memperlihatkannya video itu. Claudia tampak terkejut. Ia tak menyangka bahwa Lisa akan bertidak sejauh itu.


Naomi tiba-tiba tertawa yang membuat Claudia menjadi bingung.


"Aku pikir kau akan memarahiku dan memintaku untuk minta maaf padanya. Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Claudia.


Naomi berhenti tertawa dan menarik napas dalam-dalam kemudian mulai menjelaskan.


"Karena semua yang kau lakukan itu diluar dugaan ku. Terima kasih ya sudah melakukan semua ini. Kau sudah melakukan semuanya sendiri. Dengan melakukan semua ini, orang-orang akan mulai mencari tahu tentang hubungan kalian. Dan itu artinya Adam akan dengan sangat mudah mengetahui siapa dirimu. Dan untuk membereskan semua kekacauan yang kau buat ini. Aku dan Erik hanya perlu membuat statemen kecil pada media." Ujar Naomi. "Tebak apa yang akan kami katakan."


Claudia terdiam.


"Kami hanya tinggal bilang, bahwa istri Adam tengah mengungkapkan perasaan kepada suaminya sendiri. Jadi, tidak ada yang salah kan dengan hal itu?"

__ADS_1


Mata Claudia sontak membelalak.


Bersambung....


__ADS_2