90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
5. Lari Maraton


__ADS_3

Hari ini pertandingan lari maraton dimulai....


Claudia terlihat tengah duduk sembari minum air. Dibelakangnya berdiri Endra yang sedang memijit pundaknya, sementara di samping Claudia ada Rose yang juga ikut dalam perlombaan dan tengah dipijit Diana.


Ada 50 kandidat yang mendaftar dari kampus mereka. Semua orang mengandalkan Claudia, meski sebesar apapun kebencian mereka kepada gadis itu, tapi mereka yakin padanya karena Claudia memang yang terbaik dalam masalah lomba lari.


Semua mahasiswa kampus Claudia bersorak mendukung peserta lainnya. Tapi dalam hati mereka bersorak untuknya.


Seluruh tempat dipenuhi oleh banyak peserta dari kampus lain yang juga ikut berpartisipasi dalam lomba itu mewakili kampus mereka masing-masing.


Lisa merahasiakan sebuah fakta pada Claudia akan keikutsertaan juara bertahan tahun lalu. Hal itu membuat Claudia kesal saat mengetahui semuanya.


"Claudia sahabatku. Aku sudah memberitahumu untuk tidak menerima tantangan ini karena provokasi yang dilakukan wanita itu. Aku sudah memberitahumu sebelumnya untuk ikut lomba ini sepeti biasa. Tapi, memutuskan sesuatu saat kamu dalam keadaan marah itu sangat tidak baik." Ucap Diana mengkawatirkan Claudia.


"Diana, sudahlah. Semuanya akan baik-baik saja. Kita semua akan tetap mendukung gadis kecil ini." Ucap Endra seraya mencubit pipi Claudia. " Dia akan menjadi pemenang, dan kalaupun tidak, siapa yang perduli. Dia hanya perlu berteriak 'I love you Adam Wijaya' di depan semua mahasiswa kampus, itu saja. Claudia pasti bisa melakukannya. Kita semua tetap mendukungnya. Lambat laun orang-orang akan melupakan semuanya dan suatu hari mereka akan mendapat topik gosip baru." Ucap Endra berusaha menyemangati Claudia dan melirik ke arah Diana agar tak lagi membahas semua itu.


Diana langsung mengerti.


"Benar sekali. Itu juga yang aku maksudkan. Tidak perduli apa yang orang lain katakan, kau tetap pahlawan kami." Ujar Diana seraya mencium pipi Claudia.


"Apa mereka pernah melihat jumlah tropi yang terpajang di ruang belajarmu? Tidak sama sekali, jadi ayo semangat dan kalahkan semua pecundang-pecundang itu." Ucap Endra lagi.


Ucapan Endra membuat Claudia tersenyum lalu menghembuskan napas pelan.


"Aku harus berusaha dan percaya akan kemampuanku sendiri. Sekarang bukan waktunya untuk mengeluh apalagi tertekan. Berusaha yang terbaik dan menangkan kompetisi ini." Ucap Claudia penuh semangat.


Seseorang mulai terdengar berbicara dengan pengeras suara, Claudia menjadi bosan karena lomba lari belum juga dimulai. Setelah beberapa saat, terdengar suara peluit ditiup dengan keras. Para peserta mulai berlari.


Para penonton yang hadir mulai bersorak mendukung jagoan mereka. Diantara riuhnya suara sorakan para penonton, Claudia mendengar namanya disebut.


"Ayo Claudia...."


"Claudia kau pasti bisaaaa..."


Claudia menutup matanya dan mengambil napas dalam lalu mulai berlari.


Para peserta mulai mulai mengambil posisi mereka paling depan. Claudia tiba-tiba menarik baju yang dikenakan Rose dari belakang.


"Hei, kita baru saja mulai. Pelan-pelan saja, kau akan cepat lelah jika terus berlari seperti itu." Ucap Claudia.


Rose mendengarkan ucapan Claudia lalu memelankan langkahnya.


Seperti yang dikatakan Claudia, setengah jam berikutnya, banyak peserta yang awalnya begitu enerjik sudah menjadi sangat lemah karena kehabisan tenaga.


Di dalam sebuah ruangan VIP di area perlombaan, seorang pria tampak begitu sombong duduk dan tengah merokok menatap layar besar yang sejak tadi menayangkan jalannya perlombaan.


"Bagaimana dengan desainnya Bos?" Tanya seorang pria dengan tanda pengenal sebagai manager kepada pria congkak itu.


"Aku harus bilang bahwa jersey itu sangat bagus. Coba saja lihat wajah para peserta yang terlihat begitu nyaman mengenakannya."


"Semua orang memuji kualitas jersey itu. Kualitas AW jersey memang sangat bagus dan terbuat dari bahan yang ramah lingkungan. Respon orang-orang benar-benar diluar dugaan." Balas salah seorang pria.


"Favoritku adalah tas dan topi yang ramah lingkungan." Ucap pria lainnya ikut bicara.


Pria yang duduk di depan layar besar sama sekali tak mendengar apa yang mereka katakan. Ia tengah fokus menatap layar televisi yang menampilkan para pelari, terkhusus matanya tertuju pada seseorang.


Seorang gadis mengenakan jersey berwarna biru dengan tulisan AW di bagian depan jersey nya, terlihat basah karena berkeringat. Gadis itu juga mengenakan sepatu sneaker yang disponsori oleh AW corporation.Dia berada diposisi paling depan maraton. Langkahnya begitu teratur, dan wajah putihnya terlihat memerah karena panas, terlebih kedua pipinya terlihat seperti warna apel merah. Terlihat sangat menggemaskan hingga bisa membuat seseorang ingin mencubitnya. Tapi, pria itu akhirnya menyadari semuanya.


"Claudia." Ucapnya dengan mata yang membelalak kaget.


Sudah satu jam lima belas menit sejak perlombaan dimulai dan Claudia terlihat memimpin digaris paling depan berlari seorang diri. Semua mata tertuju padanya, begitu antusias melihatnya berlari mendekati garis finish. Semua orang mulai meneriaki namanya.


"Claudi...."

__ADS_1


"Claudi...."


"Claudi...."


"Claudi...."


"Claudi...."


Sepuluh menit berikutnya para penonton mendadak diam. Hanya ada tiga peserta yang mulai mendekati garis finish. Claudia di urutan pertama dan ada dua orang peserta menyusul di belakangnya.


Semua orang mulai meneriaki nama Mila. Mila adalah pemenang di tahun lalu, namun kini berada di posisi ketiga dan terlihat tengah kesakitan. Semua orang merasa khawatir padanya. Claudia berbalik melihat Mila mencoba bertahan berdiri dengan memegangi kakinya lalu tiba-tiba terjatuh.


Melihat hal itu, Claudia terdiam beberapa saat. Ia menjadi bimbang, tinggal beberapa meter lagi ia akan mencapai garis finish. Para penonton mulai riuh karena pelari nomor dua sudah melewatinya. Namun Claudia malah memilih untuk berlari ke arah yang berbeda dari garis finish untuk mendekati Mila.


Pelari yang mendapat mendali perak tahun lalu, akhirnya keluar sebagai juara.


Mila berusaha menghentikan Claudia. Namun, belum sempat ia bicara Claudia sudah meraih tangannya dan membantunya berdiri lalu duduk di sisi lintasan dan menunggu kedatangan dokter.


Mila mendorongnya pergi saat dokter sudah datang.


"Sekarang selesaikan lari mu." Ucap Mila.


Claudia kemudian berlari dan akhirnya ia keluar sebagai juara ketiga. Semua penonton bersorak untuknya. Suasana menjadi begitu riuh. Euforia kemenangan Claudia sebagai juara ketiga mengalahkan sang juara pertama.


Endra berlarian masuk ke arena dan langsung memeluk Claudia disusul Diana dan juga Rose yang juga akhirnya bisa menyelesaikan larinya. Mereka berpelukan bahkan mencium pipi Claudia berulang kali. Semua orang terpana akan apa yang dilakukan Claudia. Bahkan pembawa acara juga mengeluh-eluh kan Claudia.


Pria yang berada di dalam ruang VIP menyaksikan semua. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang terjadi, tapi sedikitpun ia tak bersimpati dengan apa yang dilakukan Claudia kala ia mengingat insiden diantara keduanya.


Dia bahkan melirik ke arah orang yang menjadi tangan kanannya, Erik, yang juga terlihat berkaca-kaca menatap Claudia.


Di arena, Endra terus menghujani wajah Claudia dengan ciuman gemas.


Bahkan beberapa mahasiswa yang juga dari kampusnya mendekat untuk memberikan selamat bahkan memeluknya. Banyak mahasiswa lain yang mendekat dan mengelilinginya.


Claudia tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia hanya diam dan mengangguk kala mendapat ucapan selamat dari orang-orang. Bahkan saat beberapa rekan mahasiswi yang datang dan ikut mencium pipinya, ia hanya bisa tersenyum.


'Lihat. Dimana pun gadis itu berada ia selalu menggoda para pria. Dasar berandalan.'


*******


Kebahagiaan Claudia langsung menghilang kala mendengar pembawa acara menyebut nama seseorang yang akan menyerahkan medali kepada para pemenang.


"Apa? Adam Wijaya?" Ucap Claudia kaget berusaha mengatur napasnya. "Kenapa pria itu ada dimana-mana?"


"Di, aku harus mengakui bahwa kau dan Tuan Adam memiliki ikatan yang spesial antara satu sama lain. Lihat saja, dimana pun kau berada, dia juga akhirnya akan muncul disana." Ucap Rose.


Claudia menggigit bibirnya.


"Ikatan spesial." Ucapnya pelan.


'Tentu saja kami mempunyai ikatan spesial, ikatan yang diakui negara lebih tepatnya.' ucap Claudia dalam hati.


"Tapi aku khawatir semuanya akan kembali memburuk mengingat keduanya tak pernah bertemu dengan normal. Selalu saja ada insiden yang terjadi." Ucap Diana.


"Aku tidak akan bertengkar dengannya di acara ini. Apa kalian lupa aku bukanlah juara utamanya. Aku hanya perlu meminta seseorang untuk menggantikan aku di posisi ketiga. Maka aku tidak akan bertemu dengannya." Ucap Claudia pada teman-temannya.


"Hmmmm aku iri padamu. Kau begitu beruntung, selalu saja punya cara untuk bisa selalu bertemu dengannya. Dia itu sangat tampan. Aahh dia itu segalanya." Ucap Diana.


"Bagus, kalau begitu kau saja yang ambil posisiku untuk menerima medali darinya." Balas Claudia.


"Bodoh." Ucap Endra yang tiba-tiba ikut berkomentar seraya mendorong kepala Claudia. "Dia bahkan tidak ikut dalam perlombaan. Bagaimana bisa dia yang menerima medali."


"Aaaarrrgghhh.... Aku hanya heran, bagaimana bisa pria itu berada dimana-mana. Kenapa dia muncul disaat pemberian medali? Apa dia tidak bekerja di kantornya? Bukankah dia itu seorang CEO. Apa yang dilakukannya disini, di perlombaan maraton? Kenapa dia harus wara-wiri kesana kemari?" Ucap Claudia seraya melipat tangan di dadanya.

__ADS_1


"Dasar bodoh. Dia itu sponsor terbesar dalam acara ini." Ucap Rose. "Apa kau tak memperhatikan baju dan sepatu yang kau gunakan?" Tanyanya lagi.


Claudia memutar bola mata dengan malas saat baru menyadari semuanya.


'Sial.' umpatnya dalam hati.


Acara pemberian medali di mulai. Claudia dan para juara lainnya diminta naik ke atas panggung.


"Hei, ayo naik. Namamu sudah dipanggil." Endra menyenggol lengan Claudia yang berdiri disampingnya.


"Semangat." Ucap Rose dan Diana secara bersamaan.


Dengan raut wajah malas, Claudia melangkah naik ke atas panggung. Ia benar-benar sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia tak menyadari bahwa Adam sudah selesai berbicara dan berjalan ke arahnya. Keduanya saling menatap dengan dingin.


Ada 3 orang yang tampak begitu tegang karena momen itu, Erik, Rose dan Diana. Sementara Endra hanya menatap sosok Adam penuh pertanyaan.


Adam lalu mulai memberikan piagam dan medali kepada Claudia. Claudia yang tak ingin berdebat berusaha bersikap tenang dan sewajarnya dengan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Adam.


Adam menatap tangan kecil milik Claudia lalu beralih menatapnya.


"Tanganmu begitu dekil." Ucap Adam.


Tiga kata itu sudah mampu memancing amarah Claudia.


Untungnya tak ada satupun orang yang mendengar ucapan Adam. Pria itu lalu kembali ke posisi semula.


'Kalau saja di tempat ini, hanya ada aku dan dia. Aku akan menyeret tubuhnya itu ke Pengadilan Agama dan segera bercerai. Dan sudah pasti aku akan memukulinya sampai hancur, se hancur-hancurnya.' ucap Claudia dalam hati.


*************


Claudia dan teman-temannya kembali ke kampus setelah perlombaan selesai. Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung kampus, mereka dihentikan oleh seseorang yang tak lain adalah Lisa yang meminta Claudia untuk melaksanakan hukumannya karena kalah taruhan.


Claudia pergi ke kantin lebih dulu lalu duduk dan menghabiskan sebotol air. Teman-temannya terus mengikutinya. Begitu pun Lisa yang tak sabar melihat Claudia menjalani hukumannya. Lisa berpikir bahwa Claudia akan memilih hukuman nomor satu, dimana dia harus dikurung berduaan dalam ruangan Dekan. Lisa tak sabar menantikan semua itu terjadi.


Claudia sendiri awalnya akan memilih hukuman nomor satu. Toh ia tak perduli sekalipun ia akan menjadi bahan gosip utama di kampus. Tapi dia sudah mempunyai rencana.


Semuanya tentang Adam. Saat mengingat semua yang terjadi, bagaimana arogan, kasar, dingin dan tidak menghormati wanita sekali sosok Adam itu. Dan semua itu terjadi hanya karena satu ciuman di hotel malam itu.


'Memangnya selama ini dia tak pernah berciuman apa, sampai bersikap begitu arogan padaku hanya karena aku menciumnya sekali. Tidak mungkin dia tidak mengencani siapapun dalam dua tahun ini selama dia berada di Kanada. Siapa yang tahu, bahkan bisa saja dia sudah tidur dengan banyak wanita.'


Claudia memutar bola mata dengan malas memikirkan semua itu. Dia lalu menarik napas dalam-dalam.


'Bagaimana jika dia melihatku sedang menyatakan cinta padanya? Dia pasti akan sangaaaat kesal. Ya Tuhan, aku benar-benar penasaran dan bersemangat membayangkan bagaimana wajahnya jika melihat semua ini.' pikir Claudia.


Claudia sudah membuat keputusan. Ia lalu melangkah menuju lapangan basket disusul teman-temannya yang akhirnya mengetahui apa yang akan dipilih Claudia sebagai hukuman.


Keberuntungan berpihak pada Claudia. Hari ini merupakan akhir pekan, jadi tidak ada banyak mahasiswa yang berada di kampus. Hanya beberapa orang yang datang karena ingin mendukung acara lari maraton tadi.


Claudia tersenyum, ia lalu berjalan ke arah sebuah pohon lalu memanjatnya. Baik Rose, Diana dan Endra tak kaget sama sekali melihat Claudia yang naik ke atas pohon lalu duduk di sebuah dahan dengan kakinya yang menjulur ke bawah.


Beberapa mahasiswa tampak berkumpul untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan Claudia. Tapi tak ada yang berani terlalu dekat karena takut akan dipukuli Claudia. Jadi mereka hanya melihat dari arah yang cukup jauh dari pohon yang dipanjat Claudia.


Claudia bersiap untuk berteriak.


"I love you Adam Wijaya... I love you Adam Wijaya.... I love you Adam Wijaya...." Teriak Claudia.


Karena Lisa memintanya untuk berteriak sepuluh kali. Maka Claudia melakukannya. Setelah itu ia turun dari atas pohon. Ia berusaha memenangkan hatinya yang tiba-tiba bergejolak tak karuan.


Beberapa mahasiswa mulai bergosip, berisik, dan ada pula yang diam. Dan semua itu tidak ada masalah dengan Claudia.


Ia berjalan menuju teman-temannya dan tersenyum. Keempat sahabatnya itu mengacungkan jempol ke arahnya.


Claudia menatap ke arah Lisa dengan pandangan yang mengejek. Hal itu membuat Lisa sangat kesal. ia lalu memilih meninggalkan lapangan.

__ADS_1


"Kau hebat." Ucap Endra"


Bersambung...


__ADS_2