
Merry ternyata membawaku menuju kedai tehnya. Kami berdua duduk dengan meja yang sudah dipenuhi makanan.
"Ku pikir kita tidak jadi makan siang." Ucapku.
"Apa kau bercanda? Aku sudah memesan semuanya sejak tadi. Hanya saja sekarang kita hanya bisa makan berdua tanpa Angelica. Dan ku harap kau menyukai semua hidangannya." Balas Merry.
Di atas meja sudah tersedia hidangan makanan ala korea. Termasuk hot pot yang menjadi favoritku sejak dulu. Aku memang menyukai makanan pedas. Tapi, Dokter menyarankan agar aku menghindari makanan pedas.
"Sudah lama aku tak menikmati hidangan seperti ini. Sebenarnya Dokter melarang ku untuk makan makanan pedas. Tapi tak apalah sekali ini saja." Ucapku.
"Bagus, kalau begitu ayo kita habiskan semuanya." Balas Merry.
Beberapa saat kemudian, semua hidangan di meja hanya menyisakan piringnya saja. Aku dan Merry memang sangat menyukai kegiatan berburu kuliner sejak dulu. Kami akan menghabiskan waktu weekend hanya untuk hunting tempat makan baru yang dapat menggugah selera.
Namun, sejak menikah dengan Arnold, aku dan Merry jadi jarang melakukannya. Kami sama-sama sibuk dengan urusan pekerjaan. Terutama aku yang sibuk menjalankan perusahaan keluarga Arista.
"Oh ya, apa yang dikatakan Arnold padamu tadi?" Tanya Merry seraya menyesap teh khas yang dibuat khusus di kedainya ini.
Sebenarnya aku tak ingin membahas tentang Arnold lagi. Tapi, sepertinya kalau aku bercerita pada Merry apa yang tengah mengganjal di hatiku, mungkin dia punya solusi untukku.
"Arnold ingin rujuk." Balasku dengan singkat.
"Apa? Arnold memang sudah gila." Ucap Merry.
"Aku tak mengerti kenapa dia melakukan semua ini. Dulu dia ingin bercerai. Kenapa sekarang dia malah mau kembali padaku."
"Karena Arnold lelaki egois. Pertama, dia menikah denganmu tanpa cinta. Dia melakukannya demi memperbaiki kehidupan dan usaha keluarganya. Kedua, dia melakukan tugasnya sebagai suami hanya diatas ranjang. Tapi, di luaran sana dia juga berhubungan dengan cinta pertamanya. Siapa yang tahu sampai mana hubungannya dengan Viona wanita jahat itu. Setelah bercerai dan mendapat semua kekayaanmu, dia hampir menikah dengan kekasihnya itu. Tapi semuanya berubah karena dia mengetahui lelaki yang kamu suka selama ini bukan dia, melainkan Andreas. Dan yang aku dengar, bahwa hubungan Arnold dan Andreas tak pernah baik. Mereka selalu berselisih dan bersaing. Jadi, aku pikir Arnold tak akan rela kalau kau sampai bersanding dengan Andreas." Ujar Merry.
Semua yang dikatakan Merry memang ada benarnya. Arnold memang lelaki yang egois. Sangat egois.
"Mer, aku gak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Arnold. Apa kau tahu, tadi dia mengancam ku. Jika aku tak kembali padanya, dia akan menghancurkan hubungan keluarga Arista dan keluarga Ardana." Ucapku.
"Keluarga Ardana! Maksudmu, keluarga Jack?" Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Merry.
"Pria itu.... Dia benar-benar egois...." Merry terus-terusan mengumpat Arnold.
__ADS_1
Pukul 3 sore, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Tubuhku lelah dan kepalaku terasa pusing sekali.
"Mau aku antar?" Tanya Merry saat aku bersiap masuk ke dalam mobil.
"Nggak perlu Mer, aku bisa sendiri. Kamu lanjut aja ngurus kedainya. Tuh pelanggan kamu lagi banyak." Balasku menunjuk beberapa orang yang mulai berdatangan ke kedai teh Merry.
"Ya udah, kamu hati-hati ya di jalan. Sampai rumah telpon atau chat aku ya. Biar aku gak khawatir." Titah Merry.
"Siap Bu Bos." Jawabku sambil mengangkat tangan posisi hormat pada Merry.
Wanita yang memakai dress berwarna peach itu tertawa renyah kemudian melambaikan tangannya saat aku mulai melajukan mobilku pergi dari kedai teh Merry.
Sekitar 30 menit menyetir, aku akhirnya tiba di rumah. Mataku membelalak saat menangkap sosok Viona yang tengah berdiri di depan pintu. Sepertinya dia tengah menunggu aku.
Aku berjalan mendekatinya.
"Aku perlu bicara." Ucap Viona.
Aku membuka pintu dan mengajaknya untuk masuk ke ruang tamu.
"Meski kalian sudah bercerai. Namun, ada akhirnya aku tetap tidak berhasil menjadi Nyonya Setyawan." Ucap Viona.
"Untuk apa kau memberitahuku tentang hal itu?" Tanyaku sinis.
Sungguh aku tidak peduli.
"Aku hanya mau kamu tahu, bahwa kamu sudah menang. Kamu sudah berhasil memikat Arnold supaya jatuh cinta padamu. Padahal selama ini yang ada di dalam hati Arnold hanya diriku. Entah kenapa dia bisa secara tiba-tiba berubah pikiran." Jawab Viona.
"Kalau kau hanya datang untuk mengatakan hal itu lebih baik kau pulang saja. Aku lelah, aku ingin istirahat." Ucapku berusaha untuk mengusirnya keluar dari rumahku.
"Velicia, aku mengaku kalah darimu. Aku datang kemari untuk memberitahu mu bahwa aku akan meninggalkan kota ini dan melepaskan Arnold. Aku relakan Arnold untukmu. Semoga kalian berdua bisa bahagia." Viona tampak mengusap matanya yang sama sekai tak berair.
"Cih, kau pikir aku masih menginginkan Arnold. Heh tidak lagi. Aku tidak lagi membutuhkan dirinya. Untuk apa lagi aku mengambil sampah yang aku buang sendiri dan dipungut olehmu. Hem, aku tidak akan memungut barang bekas yang sudah ku pakai. Lebih baik kau simpan saja. Kau kan memang suka barang bekas yang pernah aku pakai." Ucapku penuh penekanan.
Raut wajah Viona berubah marah. Pipinya memerah, ia seperti ingin mencakar wajahku dengan kukunya yang lentik.
__ADS_1
"Hei Velicia, kau sombong sekali. Kau pikir secantik apa dirimu?"
"Yang jelas aku lebih cantik darimu." Balasku
"Dasar wanita penyakitan. Asal kau tahu tidak akan ada orang yang menyukai dirimu, Arnold tidak, dan begitu pula dengan Andreas." Viona memaki diriku dengan keras.
"Keluar kau dari rumahku." Teriakku.
"Kau tidak perlu mengusirku, aku juga akan keluar sendiri. Aku tak sudi dekat-dekat dengan wanita penyakitan seperti dirimu. Bisa-bisa penyakitmu menular." Ucap Viona berjalan keluar dari rumahku.
Brak!!!
Aku membanting pintu dengan keras. Berharap Viona segera pergi dari rumahku.
Nama Andreas yang diungkit oleh Viona tadi sangat melukai hatiku. Aku menyadari masalah ku diketahui oleh banyak orang.
'Apa Andreas mengetahui bahwa aku sudah sejak lama menyukainya?'
Aku mengambil ponsel didalam tas dan mulai menelpon Merry untuk menanyainya tentang Andreas.
"Halo Veli. Kamu udah sampai rumah ya?" Ucap Merry.
"Mer, aku mau menanyakan sesuatu sama kamu." Balasku serius.
"Ada apa sayang? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Merry.
"Mer, katakan padaku saat orang-orang berkumpul di rumah di hari kau mengatakan aku sudah meninggal itu, apakah Andreas mengatakan sesuatu?" Tanyaku penasaran.
"Aku ingat hari itu Andreas mengatakan sebuah kalimat, 'Yang disukai gadis kecil adalah aku', begitu kalimatnya." Ucap Merry. "Semua orang yang hadir di rumah mu mendengar Andreas mengatakannya."
Seketika aku memutuskan sambungan telepon dengan Merry. Aku merasa malu sekali, ternyata Andreas sudah mengetahui semuanya.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'
Andreas sudah pasti tak menyukaiku.
__ADS_1
Bersambung.....