
Dalam perjalanan kembali ke rumah, di kursi belakang mobil Adam....
Adam baru saja selesai merokok dan Claudia duduk disampingnya.
"Dam, tolong hentikan Erik sekarang juga. Kau tidak perlu membeli tempat itu. Semua ini berlebihan. Ini tidak adil, aku ini masih terlalu muda, aku seorang mahasiswa, tidak cocok untukku memiliki tempat seperti itu." Rengek Claudia.
"Aku membelinya bukan sebagai hadiah, aku tahu kau tidak suka hadiah mahal. Aku membelinya sebagai investasi masa depan." Balas Adam tenang.
"Tapi Dam, aku tidak mengerti apapun tentang bisnis. Tempat itu akan bangkrut dalam waktu kurang satu bulan. Tolong hentikan semua prosedurnya."
Adam mengusap pipi gadis itu dengan kanan kanannya, gadis itu duduk di sebelah kirinya.
"Kau tidak perlu melakukan apapun. Sudah ada orang terbaik yang akan menghandle semuanya. Kau tidak perlu melakukan apapun. Tapi hanya menghitung keuntungan yang kau dapat diakhir bulan."
Claudia hendak mengatakan sesuatu, tapi Adam dengan cepat menaruh jari telunjuknya di bibir Claudia.
"Apa kau sudah makan sesuatu? Ini sudah malam."
Claudia tidak senang dengan topik pembicaraan yang tiba-tiba diganti. Namun dia tetap merespon pertanyaan Adam.
"Kami sudah makan siang lalu menari di lantai dansa. Dan saat malam datang kami sudah memesan makan malam tapi...." Ucapan Claudia terhenti. "Apa kau marah padaku? Apa aku sudah membuatmu malu dihadapan teman-temanmu?" Tanya Claudia merasa bersalah.
Adam menarik Claudia dalam pelukannya.
"Tidak sama sekali. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kenyataannya semua yang kau lakukan sudah benar. Mereka semua seharusnya ditembak. Mereka semua yang sudah melakukan kesalahan terhadapmu." Ucap Adam.
"Lalu, kenapa kau mengatakan bahwa Endra membawa pengaruh buruk terhadapku?" Tanya Claudia penasaran.
Adam menghela napas sebelum berbicara.
"Karena kau bertindak sesuai dengan apa yang ada di dalam dirimu. Tapi dia tidak. Dia memilih untuk tidak menghentikan mu, tapi malah semakin menyulut api amarah dalam dirimu."
Claudia tertawa kecil.
"Jadi, ayo makan malam. Apa yang ingin kau makan?"
"Ummmm... Aku ingin makan.... Aaah, aku tahu... Aku ingin makan pizza durian."
Wajah Adam mendadak lesu.
Dia sebenarnya tidak menyukai rasa dari durian pizza. Tapi dia tidak menunjukkannya dihadapan Claudia. Dia mengambil napas dalam-dalam karena gugup.
"Baiklah sayang, tunjukkan padanya lewat mana jalan ke tempat yang ingin kau tuju. Dia akan membawa kita kesana." Ucap Adam menunjuk supir yang duduk di kursi kemudi.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lokasi. Adam turun dari dalam mobil, lalu berjalan mengikuti istrinya dari belakang. Dan saat pertama kali melihat tempat itu, ia tampak kaget dan tak dapat berkata-kata.
Tempat itu adalah sebuah cafe kecil, yang terletak di sudut kota.
"Waaahh aku senang sekali. Kau tahu, akhirnya aku bisa kembali lagi kesini setelah waktu yang begitu lama. Tempat ini adalah salah satu tempat favoritku."
Mereka masuk ke dalam cafe. Adam dapat melihat dengan jelas kebahagiaan di wajah istrinya. Claudia tampak tersenyum dan melompat-lompat kecil. Dia mengajak Adam untuk duduk di sebuah meja kecil di dekat jendela.
"Ini adalah meja favoritku."
Untuk Adam, ia sama sekali tak melihat sesuatu yang menarik dari cafe ini. Tapi kebahagiaan dan keceriaan dari wajah sang istirnya yang membuatnya menjadi takjub.
l
Sesimple ini dia menjawab tawaran Adam untuk makan malam. Dia bisa saja memilih untuk pergi ke sebuah restoran mewah dan berkelas tinggi untuk kencan pertama mereka. Tapi dia malah memilih sebuah cafe kecil yang tidak ada apa-apanya ini.
__ADS_1
Adam akhirnya tahu sekarang, bahwa istrinya ini memang sedikit pemarah, tidak sabaran, dan gadis yang belum dewasa, tapi gadis isi memiliki hati yang bersih dan jiwa yang murni. Adam tidak pernah melihat Claudia berkelahi karena alasan yang tidak pantas. Dan Naomi memang benar, bahwa Claudia adalah sebuah permata yang sangat indah dan langka.
Adam menarik kursi untuk diduduki Claudia, lalu dirinya duduk dihadapannya. Setelah duduk berhadapan, Claudia terlihat sibuk mengambil foto selfie lalu mempostingnya di akun sosial medianya.
"Jadi, ini adalah tempat favorit mu?" Tanya Adam yang dibalas anggukan kepala dan kata 'hmmmm' yang keluar dari bibir Claudia yang masih sibuk berselfie.
Kemudian tiba-tiba sesuatu menyadarkan Claudia, ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
"Tidak Dam, sama sekali tidak. Kau jangan sampai melakukan hal bodoh seperti itu. Ku mohon." Ucap Claudia panik.
Adam hanya tertawa kecil melihat kelakuan istrinya yang menggemaskan.
"Baiklah, tapi sebuah renovasi dan perbaikan kecil tidak akan masalah kan?" Tanya Adam.
"Tidaaak. Hmm oke baik. Tapi, kau tidak boleh melakukan apapun. Kau hanya boleh memberikan kepada mereka biayanya. Biar mereka sendiri yang memutuskan bagaimana cara untuk memperbaiki dan merenovasi semuanya. Jika kau yang melakukannya, kau akan merusak rasa dari tempat ini. Kau akan merubah tempat ini menjadi tempat makan malam yang berkelas. Tolong, interior tempat ini adalah favoritku, ada rasa kehangatan dan kenyamanan sebuah tempat tinggal disini." Rengek Claudia.
Seorang pelayan datang.
"Pizza durian ukuran besar." Ucap Claudia memesan.
"Dan Anda?" Tanya pelayan itu pada pria yang duduk dihadapan Claudia.
Adam sama sekali tidak sedang ingin makan sesuatu. Dia tadi sudah makan di restoran bersama teman-temannya.
"Aku sudah kenyang sayang." Balas Adam seraya memegang tangan Claudia.
Pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan Claudia.
"Jika kau memang sudah makan malam, lalu kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Claudia.
"Kerena istriku lapar." Jawab Adam santai.
"Tapi, aku bisa makan malam di rumah juga kan." Claudia tampak terkejut sekaligus malu.
Sementara itu, Claudia tampak malu-malu. Dia kembali mengingat segala situasi yang terjadi di satu bulan terakhir. Sekarang sudah satu bulan setengah setelah mereka berdua bersama. Adam sangat begitu perhatian terhadap Claudia selama ini.
Claudia berpikir dalam hati bahwa ia akan memberikan kesempatan pada pernikahan mereka. Perceraian sudah hilang dalam pikirannya. Satu hal yang sangat dia ketahui adalah, Adam tidak pernah menginginkan perceraian. Itu adalah keinginan Claudia sendiri selama ini.
Tapi, karena adanya rasa ketidakpercayaan dalam dirinya itu yang menghalangi semuanya. Hingga membuat Claudia masih merasa bingung dalam hatinya.
Tak lama, pizza datang bersamaan dengan kembalinya Adam setelah menerima telepon.
Claudia hendak mengambil pisau pemotong pizza, namun Adam menghalanginya. Dengan cepat ia mengambil pisau itu dari tangan Claudia. Lalu dengan cara yang halus dan elegan. Adam memotong pizza itu, kemudian menaruh sebuah potongan ke piring Claudia. Ia lalu tersenyum seraya memberi isyarat agar Claudia mulai makan.
Claudia merasakan sesuatu yang menggelitik dalam hatinya. Karena selama ini dia selalu mandiri dan memiliki aura yang buruk hingga membuat tak ada seorang pun yang pernah memperlakukannya penuh perhatian seperti itu. Calvin selalu mengkritiknya karena cara makannya yang buruk. Dia juga tidak pernah menarik kursi untuk Claudia, tidak pernah menyediakan makanan lebih dulu untuknya, tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Saat itu, Claudia memang masih sangat muda, dan saat itu ia sangat baik dan lembut.
Dan Endra, yang mengatakan bahwa menyukai dirinya. Tapi dia juga tidak pernah memperlakukan Claudia seperti ini. Tidak juga Erik atau yang lainnya. Semua orang tahu bahwa dirinya wanita yang sangat mandiri, kasar dan pemarah. Jadi mereka tak pernah menunjukkan perhatian padanya.
Tapi, Adam selalu memperlakukannya dengan baik. Bicara padanya dengan suara yang lembut. Selalu menghadapinya dengan sabar, melakukan tindakan kecil yang sangat menyentuhnya seperti menarik kursi, membuka pintu mobil untuknya, dan selalu lebih dulu menyiapkan makanan untuknya lebih dulu pada setiap kali mereka makan bersama. Selalu merapikan rambutnya, selalu mengeceknya apakah terluka atau tidak setiap kali ia bertengkar. Padahal dialah yang selalu memukul orang lain. Karena itulah orang lain tak pernah berpikir bahwa ia bisa terluka. Tapi Adam selalu memperlakukannya seperti itu. Sama halnya dengan hari ini. Dia terus saja bertanya apakah Claudia terluka atau tidak.
Claudia mulai makan, dan setelah beberapa saat ia sudah menghabiskan setengah dari pizza itu.
"Hei Dam, apakah kau tidak akan mencoba pizza ini meski satu gigitan saja?" Tanya Claudia.
Claudia sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya itu sama sekali tidak menyukai durian. Jadi, dia merasa tidak enak hati karena makan sendiri sementara Adam tidak.
Adam mulai merasa gugup, tapi berusaha tidak memperlihatkannya pada Claudia. Dia tersenyum oe arah Claudia lalu menatap piring yang ada dihadapan Claudia. Dari pada mengambil potongan yang baru dari pizza itu, ia malah memilih untuk mengambil pizza yang ada ditangan Claudia dengan merebutnya. Claudia sudah menggigitnya dua kali. Claudia berusaha menghentikannya, tapi Adam, sudah lebih dulu menggigit pizza itu.
"Tidak, tidak, tidak. Jangan yang itu. Aku sudah..."
__ADS_1
Adam sudah mengunyah habis pizza itu.
"Sudah memakan pizza itu." Ucap Claudia menyelesaikan kalimatnya.
Adam mengangguk setelah selesai menelan pizza nya.
"Aku sudah tahu bahwa kau sudah memakannya. Karena itulah aku memakannya."
Claudia tak dapat menyembunyikan rona malu diwajahnya. Ia lalu melanjutkan makan dan menghabiskan sisa pizza yang ada.
Adam mengambil tisu lalu mengelap mulutnya.
"Ya Tuhan, aku sangat malu. Aku menghabiskan semua pizza yang berukuran besar itu sendirian. Kau pasti berpikir bahwa aku ini kerbau yang sangat rakus." Ucap Claudia.
"Tidak sama sekali. Kau memang sedang lapar. Aku akan sangat marah, jika kau tidak makan dengan baik dan dengan sengaja menahan dirimu seperti gadis-gadis lainnya. Bagaimanapun, makan dengan baik itu sangat penuh dengan berkah." Ucap Adam.
Calvin selalu meminta Claudia untuk tidak makan banyak, agar ia bisa menjaga tubuh supaya tidak gemuk. Tapi Adam tidak, ia justru akan marah jika Claudia melewati waktu makannya dengan sengaja. Tapi tidak dengan makanan cepat saji, Adam selalu meminta Claudia untuk makan makanan rumah yang dibuat oleh koki handal dan menyehatkan. Sangat banyak sekali perbedaan antara kedua pria itu.
Mereka akhirnya keluar dari dalam cafe. Adam dengan cepat berlari ke arah mobil lalu membawa air botol dari dalam mobil dan mulai berkumur-kumur. Claudia terlihat kebingungan.
"Ada apa Dam?" Tanya Claudia.
"Aku tidak suka rasa dari pizza durian. Kau juga harus berkumur-kumur." Balasnya lalu membuang air dari dalam mulutnya itu ke dalam tempat sampah.
Claudia terlihat khawatir.
'Dia tidak menyukai rasanya tapi tetap memakannya. Itu semua hanya karena aku memintanya. Kenapa dia bertingkah seperti ini. Kenapa Yang Mulia Adam Wijaya yang ditakuti semua orang malah bertingkah seperti ini terhadapku? Apakah dia memang mencintaiku sebesar itu?'
Tapi, suatu ide yang nakal muncul dalam pikirannya. Ia tersenyum nakal lalu berlari mendekati suaminya. Ia kemudian berdiri dihadapan Adam, yang masih berdiri di depan tempat sampah.
Adam baru saja selesai berkumur-kumur. Ia tampak bingung, tapi belum sempat ia bereaksi dan berpikir tentang apa yang sedang dilakukan Claudia dengan berdiri tersenyum dihadapannya. Gadis itu sudah merangkul leher sang suami lalu mulai menciumnya.
Claudia mencium Adam sangat dalam. Adam sangat terkejut awalnya, namun akhirnya dia mengerti, prank apa yang tengah dilakukan Claudia terhadapnya. Dia mencoba untuk mendorong Claudia agar menjauh darinya. Tapi tidak bisa karena Claudia yang sudah mengeratkan pelukannya pada leher Adam. Karena Adam yang lebih tinggi darinya, Claudia bahkan sampai berjinjit.
Adam hanya bisa menghela napas dalam hati. Apa yang dilakukan gadis nakal ini memang sudah berhasil, dan mustahil untuk menghentikannya. Jadi Adam memutuskan untuk mengambil jalan satu-satunya, yaitu menyerah.
Claudia akhirnya menghentikan ciumannya. Setelah menyelesaikan misinya, meninggalkan rasa durian kembali di mulut Adam. Ia tersenyum penuh kemenangan melihat ke arah Adam. Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya dan hendak masuk kembali ke dalam cafe, berniat untuk membeli air lagi. Tapi....
"Aku mau pulang, SEKARANG." Teriak Claudia seraya menghentakkan kakinya ke jalanan seperti anak kecil berusia lima tahun yang menangis ingin dibelikan permen.
Claudia berlari mendekati Adam kemudian memegangi lengannya dan menariknya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Cepatlah, aku mengantuk."
Sebenarnya Adam bisa saja melepaskan dirinya dengan mudah, tapi dia tidak melakukannya.
Adam kemudian memutuskan untuk menarik Claudia kedalam dekapannya. Kali ini ia tak tak membiarkan Claudia untuk bisa melepaskan diri. Keduanya berhadapan, dengan Adam yang memeluk erat Claudia. Lalu Adam mulai mencium Adam dengan penuh nafsu. Kali ini dirinya yang memegang kendali.
Claudia terkejut, ia tak bisa mendominasi ciuman mereka. Adam yang memegang kendali. Ia memegang bokong Claudia seolah memintanya untuk melompat agar bisa digendong. Seolah mengerti Claudia melompat dan melingkarkan kakinya ke pinggang Adam. Adam memeluk pinggang Claudia sangat erat, kemudian berjalan ke arah mobil tanpa melepas ciuman mereka sedikitpun.
Pasangan itu berciuman seolah dunia milik berdua. Adam membaringkan tubuh mereka di kursi belakang mobil dengan Claudia yang berada dibawahnya. Ia kemudian menekan sebuah tombol lalu dengan tiba-tiba sebuah tirai langsung menutup supir hingga tak terlihat. Supir langsung menyalakan mesin mobil dan bergerak menuju rumah.
Di kursi belakang yang tertutup...
Ciuman itu semakin dalam dan dalam lagi. Tangan Adam sudah sibuk meraba bagian dada Claudia. Kancing kemeja yang dikenakan Claudia sudah terbuka. Dari dalam mulutnya ia mulai mengeluarkan suara yang menikmati semua yang terjadi. Dan Adam tak bisa menghentikannya.
Claudia menghentikan ciumannya.
"Dam, apa yang kita lakukan? Kita harusnya berhenti..." Ucap Claudia.
__ADS_1
Suaranya terdengar lemah dan sedikit terluka.
Bersambung....