
Pagi ini di rumah Merry, aku dan keluarganya tengah mencoba kostum keluarga bersama keluarga Hansen juga. Tak lupa juga aku mengundang Angelica sebagai bridesmade dari pihak Merry.
Untuk kostum keluarga, Merry memilih warna abu-abu. Keluarga Merry dan Hansen mulai mencoba pakaian yang akan mereka kenakan di acara sakral Merry dan Hansen yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
"Veli, apa Nenek cocok memakai pakaian seperti ini?" Ucap Nenek Hansen saat melihat pakaian yang disiapkan khusus untuknya.
"Nek, pakaiannya bagus dan pasti sangat cocok untuk nenek." Balasku.
"Tapi, nenek tidak suka warnanya."
"Kenapa Nek?" Tanyaku.
"Nenek mau warna yang netral dengan kulit Nenek saja. Kalau pakai warna ini, nanti terlihat tidak nyambung. Kulit Nenek ini hitam, pakai baju warna ini pasti tidak cocok." Jawab Nenek Hansen.
"Pasti cocok Nek. Lagi pula kalau Nenek pakai yang warna lain, nanti beda sendiri, kan aneh. Pakai yang ini saja ya. Biar kita seragam sama yang lain." balasku sambil menunjuk anggota keluarga Merry yang juga hadir untuk mencoba pakaian yang sudah disediakan.
Sang calon pengantin, Merry dan Hansen datang bersamaan dengan orang-orang yang mereka tunjuk sebagai bridesmaid, yaitu Angelica, Luna, seorang karyawan Merry, dan dua orang pria yang merupakan sahabat Hansen. Dan tepat dibelakang mereka ada sosok Andreas yang berjalan dengan membawa setangkai bunga mawar putih dan sebatang coklat.
"Wah wah wah, aura calon pengantin teh beda ya." Ucap keluarga Merry.
Merry yang mendorong kursi roda Hansen tersenyum malu-malu.
"Sudah jangan digoda terus calon pengantinnya. Coba lihat wajah Merry sudah merah seperti kepiting rebus." balas Angelica.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Angelica.
Andreas berjalan mendekat ke arahku yang berdiri mematung.
"Hei gadis kecilku...." Sapa Andreas.
"Hai...." Balasku tersenyum.
"Ini untukmu." Ucap Andreas menyodorkan setangkai mawar putih dan sebatang coklat yang dibawanya itu kepadaku.
"Terima kasih ya." Ucapku dibalas anggukan Andreas.
Semua orang lalu mulai sibuk mencoba pakaian mereka masing-masing. Untuk pihak keluarga mengenakan warna abu-abu. Sementara para bridesmaid wanita mengenakan dress berwarna peach, dan yang laki-laki mengenakan tuxedo warna hitam.
Setelah selesai mencoba pakaiannya, Andreas mengajakku pergi ke taman bermain. Tiba di taman bermain ternyata sudah ada banyak orang yang datang dan menunggu di pintu gerbang utama.
"Ada apa ini?" Tanyaku.
"Hari ini aku akan resmi membuka taman bermain ini. Karena kamu lah pemilik aslinya jadi kau yang harus memotong pita nya gadis kecilku." Ucap Andreas.
__ADS_1
Aku begitu terharu, saat orang-orang bertepuk tangan melihat kedatanganku dan berdiri di depan mereka semua. Seseorang mulai berpidato panjang tentang taman bermain ini. Aku tak tahu dia siapa. Yang jelas perhatianku tertuju pada wajah anak-anak yang terlihat begitu bahagia.
"Semuanya selamat datang di Velicia in Wonderland. Disini akan ada atraksi seru loh. Anak-anak bisa memanfaatkan sejumlah permainan dari 35 permainan yang ada. Ada untuk anak-anak balita sampai dewasa. Serunya, anak-anak bisa menikmati permainan yang bisa memacu andrenalin tentunya ditemani ayah dan bunda. Pengunjung akan begitu gembira menikmati liburan dengan permainan yang seru dan bisa menikmati pemandangan laut dari atas bianglala. Apalagi, saat masuk kalian semua akan disambut dengan “Arabian Show” yang memang spesial ada diadakan saat pembukaan kali ini. Ada pertunjukkan puppets camel yang lucu, ada jin yang lucu. Anak-anak akan terlihat makin senang. Apalagi bisa bersalaman dengan badut dari tokoh kartun yang biasanya hanya mereka lihat di layar televisi." Ucap pria yang sepertinya menjadi MC dari acara pembukaan taman bermain ini.
“Apa boleh bersalaman dengan para badut?" Tanya seorang anak kecil yang berdiri paling depan.
"Tentu saja, siapapun boleh bersalaman dengan tokoh badut yang ada. Diantaranya Shaun de sheep, dan kalian juga akan bertemu dengan putri Jasmine dan Aladin." Jawab pria MC itu.
Teriakan kegirangan dari anak-anak semakin terdengar riuh.
"Nah, adapun permainan yang mampu memacu andrenalin anak-anak di antaranya butterfly, flying fish, dino tracker, Dolphin bay, dan splash, dan dino egg. Sedangkan bagi anak-anak balita, yang masih berumur dibawa lima tahun bisa menikmati menikmati Bumper car, hello kiddies, bubble cab, Jelly swing, happy journey, happy Ocean, Ocean Chair. Dan masih banyak yang lainnya." Sambung MC itu.
"Jadi mari kita sambut dan persilahkan pada Nona Velicia Arista untuk memotong pita sebagai tanda bahwa taman bermain ini mulai dibuka untuk umum." Ucap pria yang sedari tadi berbicara itu.
Andreas memegang tanganku, menuntunku untuk menggunting pita berwarna merah. Setelah pita terputus, anak-anak mulai berlarian senang. Tanpa sadar aku memeluk Andreas dan berterima kasih padanya.
"Terima kasih, terima kasih." Ucapku pada Andreas.
Andreas lalu membawaku masuk ke dalam taman bermain dengan menggandeng tanganku lembut.
Kami lalu menghabiskan waktu bersama. Seperti biasa, bermain bianglala, menaiki wahana pemacu adrenalin lainnya. Hingga akhirnya Andreas membawaku ke depan komedi putar.
"Apa aku tidak terlalu tua untuk bermain permainan ini?" Tanyaku pada Andreas.
Kami lalu menaiki komedi putar. Aku tertawa lepas, rasanya menyenangkan. Rasanya seperti kembali menjadi anak kecil yang sangat senang menaiki komedi putar untuk yang pertama kalinya.
Aku benar-benar bahagia hari ini.
**********
Hari yang dinantikan pun tiba, semua orang mulai sibuk bersiap-siap. Acara pernikahan Merry dan Hansen akan segera berlangsung. Semua orang sudah hadir di kediaman Merry.
Merry berjalan menuju tempat pernikahan yang terletak di taman rumahnya yang sudah di sulap sedemikian rupa dengan dekorasi berwarna putih dengan bunga-bunga yang menggantung.
Merry tampil anggun dengan makeup flawless, mengenakan gaun putih dan sebuah tiara diatas kepalanya. Aku dan Angelica berdiri disampingnya, mendampingi. Di belakangnya ada Luna yang memegangi ekor gaun Merry yang menjuntai panjang ke belakang. Bisa ku katakan bahwa kami bertiga juga tampil anggun mengenakan gaun senada berwarna peach.
Pandanganku beralih pada Hansen yang duduk di kursi roda mengenakan tuxedo warna putih dan celana hitam. Dia tampil sempurna dihari pernikahannya. Di samping Hansen, seseorang mengerlingkan matanya ke arahku. Siapa lagi kalau bukan Andreas.
Pria yang bisa ku sebut sebagai lelakiku itu, juga tampil sempurna. Sebagai groomsmen, dia tampil tak kalah tampan dengan mempelai pria. Aku tersenyum membalas senyumannya yang sedikit menggoda itu.
Pernikahan Merry dan Hansen pun berlangsung. Suasananya benar-benar mengharukan saat Merry dan Hansen mengucapkan janji sehidup semati, mencintai dalam suka maupun duka, dalam susah ataupun senang.
Aku ikut menitikkan air mata saat Merry berucap bahwa ia akan selalu mencintai segala kekurangan yang ada pada diri Hansen. Hansen membalas ucapan Merry dengan penuh rasa terima kasih.
__ADS_1
Aku rasa semua orang yang menyaksikan pernikahan mereka pasti ikut terharu dengan kedua pasangan yang kini sudah resmi menjadi suami isteri itu. Dengan senyuman bahagia, Merry mendorong kursi roda Hansen melewati para tamu undangan yang melemparinya dengan kelopak bunga mawar warna merah.
Merry memelukku dengan sangat erat.
"Aku turut bahagia untukmu." Ucapku.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kau akan menemukan kebahagiaanmu bersama Andreas." Balas Merry.
"Aku yakin, Kakak ku yang ini pasti bisa membahagiakan sahabat kesayanganmu ini." Ucap Angelica yang membuat aku dan Andreas tersenyum.
'Terima kasih Tuhan....'
Tepat saat acara pernikahan Merry sudah mulai santai dengan jamuan makan, aku yang tengah duduk di sebuah kursi tamu menunggu Andreas kembali dari toilet, mendapat sebuah pesan singkat dari Arnold.
(Kau semakin berani saja. Sudah aku katakan, aku tidak akan melepaskan mu. Jika kau tak setuju berbaikan dan kembali denganku, dalam waktu 24 jam aku akan merusak semua perusahaan keluarga Ardana. Kau yang bertanggung jawab atas semuanya.)
Aku memijat keningku setelah membaca pesan itu. Kemudian menulis pesan balasan.
(Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Yang jelas, aku tidak akan pernah kembali bersamamu. Berhentilah bermimpi.) tulis ku.
Aku mengirim pesan itu, lalu mematikan ponselku.
'Sepertinya aku harus mengganti nomor ponselku.'
Bersambung....
Terima kasih ya, buat kalian yang selalu stay buat baca novel karya author receh ini. Jangan lupa berikan.....
Like 👍
Komen 💭
Hadiah 🎁
Vote 🎟️
Baca juga yuk, novel karya La-Rayya yang lainnya. Gak kalah seru kok... 🥰🥰
Oh ya, buat kalian yang punya IG, follow juga akun author receh ini di ; @la_rayya
Salam sayang....
La-Rayya ❤️
__ADS_1