
Adam terlihat tengah kacau saat ini. Dia terus saja mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah yang tampak panik. Naomi dan Erik tampak sibuk dengan ponsel mereka menelepon ini dan itu sesuai yang diinstruksikan Adam. Adam juga terlihat sibuk menelepon. Tapi sejak tadi, orang yang diteleponnya tak menjawab panggilannya.
Erik tampak sangat, sangat takut. Ia sudah bekerja dengan Adam selama 5 tahun. Dia tak pernah melihat CEO itu dengan wajahnya yang panik untuk apapun selama ini. Ya, Adam memang kehilangan aura dingin dan wajahnya yang selalu tanpa ekspresi kini berubah menjadi khawatir dan begitu cemas.
Naomi selesai dengan panggilan teleponnya dan bergerak mendekat ke arah Adam. Namun tetap berusaha untuk bisa menghubungi seseorang.
"Dam, kami menemukan lokasinya. Ponselnya mati, tapi kami akan pergi ke lokasi dimana ponselnya mati itu. Kau tenanglah. Kami akan pergi kesana, kami akan mengatasi semuanya." Ucap Naomi.
"Bagikan lokasinya padaku, dan ikut aku." Ucap Adam seraya berjalan keluar dengan cepat disusul Erik dan Naomi.
"Dam, dengarkan aku. Kau lebih baik diam disini, biar kami yang mengurus semuanya. Perasaanmu sedang tidak tenang." Naomi kembali meminta Adam untuk tidak pergi, namun pria itu sudah berjalan masuk ke dalam mobil.
Adam berdecak kesal.
"Dia adalah istriku, apa kau pikir aku akan menyakitinya karena tempramen yang aku punya." Ucap Adam yang terdengar memberi penekanan. "Masuk ke dalam mobil sekarang juga. Aku tidak punya waktu banyak." Ucap Adam seraya menyalakan mesin mobilnya.
Setelah berkendara selama satu jam menuju bagian selatan kota, mereka akhirnya tiba di lokasi. Mereka tiba disebuah jalan kecil, lebih tepatnya sebuah gang kecil. Lampu jalan dengan cahaya yang sudah redup. Tidak ada tempat bisnis yang terlihat buka. Dan saat ini masih pukul 6 sore menjelang malam. Tidak begitu larut, tapi gang itu tetap saja begitu sepi.
Adam melihat ke arah Naomi.
"Disana ada sebuah toko. Dari ponselnya, terakhir kali dia berada disini. Masih sekitar pukul 04.00 sore. Kemudian setelah itu kembali mati." Ujar Naomi.
Adam tidak membuang waktu dan langsung masuk ke dalam toko itu. Toko itu merupakan toko barang antik. Ada beberapa lemari pajangan dan rak yang menampilkan beberapa benda antik. Itu bisa jadi perhiasan dan yang lainnya.
Tapi, hanya dengan satu kali lihat, Adam bisa langsung mengetahui bahwa semua benda itu palsu dan hanya sebuah duplikat.
Melihat seorang pria mengenakan jas yang mewah ditemani dua orang yang berada dibelakangnya, membuat seorang pria penjaga toko berjalan mendekati Adam dan membungkuk dengan sopan.
"Selamat sore menjelang malam Tuan. Beritahu saya apa yang bisa saya bantu. Benda seperti apa yang Anda inginkan?" Tanya seorang pria botak dan gendut itu pada Adam.
Adam tidak bicara apapun, matanya sibuk melihat setiap inci ruangan itu.
'Apa yang Claudia lakukan disini? Apa dia memang ingin membeli sesuatu dari tempat ini. Tapi semua benda disini adalah palsu. Apa dia sudah membeli sesuatu. Tidak, tidak mungkin. Aku belum menerima notifikasi dari kartu kreditnya, jika dia memang menggunakannya. Lalu, kemana dia pergi setelah ini?' Semua pertanyaan itu muncul dalam benak Adam.
Sementara itu, Naomi menunjukkan foto Claudia pada penjaga toko itu.
"Dengarkan saya Pak. Lihat foto ini baik-baik. Berdasarkan info yang kami dapat, gadis ini mengunjungi toko ini sekitar pukul 04.00 sore tadi. Bisakah Anda memberitahu kami, apa yang dia lakukan. Ataukah dia membeli sesuatu dari sini? Lalu, kemana dia pergi setelah itu? Apakah dia pergi sendiri atau ada orang yang menemaninya?" Ucap Naomi bertanya.
Penjaga toko itu menatap gambar Claudia yang tampak di layar ponsel Naomi, kemudian tertawa.
"Iya, iya... Dia memang berkunjung kemari sore tadi. Dia bersama seorang pria dan mengatakan bahwa pria itu adalah kekasihnya. Dan dia ingin membelikan sebuah arloji antik untuk kekasihnya itu, sebagai hadiah. Hahahaha... Anak muda sekarang benar-benar... Mereka berdua memang pasangan yang penuh kasih sayang." Ucap penjaga toko menjawab.
Adam yang terlihat sibuk melihat-lihat tempat itu berjalan mendekat ke arah penjaga toko dengan menaikkan alisnya setelah mendengar apa yang dikatakan pria botak itu.
"Apakah dia membelinya?" Tanya Adam melangkah semakin mendekat ke arah pria itu.
Penjaga toko itu terlihat bingung saat Adam berjalan semakin mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Yah, tentu saja dia membelinya. Barang-barang disini sangat sulit di tolak untuk di koleksi." Ucap pria itu menjawab.
Adam semakin mendekat.
"Oh ya? Lalu bagaimana dia membayarnya? Apa dengan menggunakan kartu kredit, atau uang tunai?"
"Hmmmmm tentu saja cash. Hahaha mana ada orang yang datang membeli barang antik dengan uang tunai. Hahaha."
Pria botak itu semakin gugup. Dia heran kenapa dia sampai diintrogasi seperti ini.
"Lalu, kemana mereka pergi?" Tanya Adam yang kali ini dengan wajah yang dingin dan sorot mata yang begitu tajam.
"Emmm, mereka pergi untuk berkencan setelah itu. Yahh... Anak muda." Jawab pria botak itu lagi.
Adam berhenti bertanya dan melangkah mundur sebanyak dua langkah. Setelah itu ia menjentikkan jarinya sekali, dengan cepat beberapa orang pria yang mengenakan pakaian serba hitam, masuk ke dalam toko itu dengan sangat cepat.
Pria yang bertubuh gendut dan botak itu mendadak takut. Pria dihadapannya itu tengah menunjukkan kekuasaannya.
Adam kembali berjalan mendekat ke arah pria botak itu, dan tanpa aba-aba, ia langsung menarik kerah leher kemeja pria itu dengan erat dan sangat kuat, kemudian mencekiknya. Pria botak itu mulai kesusahan bernapas, wajahnya mulai membiru. Mata Adam benar-benar memperlihatkan kemarahan.
"Dimana dia?" Tanya Adam dengan suara yang terdengar begitu menyeramkan.
Jika orang lain tak pernah melihatnya sebelumnya. Maka, orang itu bisa kencing di celana jika mendapati Adam yang tampak menyeramkan seperti sekarang ini.
"Apa yang kau katakan? Siapa yang kau bicarakan? Aku sudah memberitahukan mu semuanya tentang gadis itu. Tapi kenapa kau terus saja memaksaku?" Ucap pria itu dengan suara yang tercekat.
Mendengar keributan yang terjadi. Tiga orang pria turun dari lantai atas. Adam melihat kearah datangnya tiga orang pria itu. Mereka juga awalnya menatap Adam, kemudian berusaha membantu pria botak yang kemungkinan adalah bos mereka itu.
Tapi, orang-orang Adam lebih cepat. Hingga mereka dengan begitu mudah bisa mengalahkan tiga anak buah pria botak itu. Adam lalu mendorong pria botak itu dan membuatnya jatuh ke lantai seperti seonggok sampah lalu berjalan kearah sebuah lorong.
Di ujung lorong itu, Adam mendapati sebuah ruangan yang terkunci dari luar. Adam lalu kembali keluar ke arah pajangan toko dan mengambil sebuah vas yang terbuat dari besi. Dia dengan cepat kembali ke ruangan itu dengan membawa vas.
Setelah mencapai pintu, ia lalu memukul gembok yang ada di pintu dengan vas besi itu. Setelah itu Adam berusaha menendang pintu. Apa yang dilihatnya dari balik pintu benar-benar tidak bisa ditoleransi sama sekali. Hal itu membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Wajahnya memerah penuh amarah.
Disana terdapat gadis yang sepanjang hari dicarinya itu, berbaring di lantai yang penuh debu. Dengan tangan yang diikat kebelakang menggunakan tali, mulutnya tersumbat dengan kain, kepalanya berdarah, wajahnya begitu memerah, menandakan bahwa ia dipukuli dan ditampar beberapa kali. Tidak hanya itu, lututnya juga terluka, pakaian yang ia kenakan sudah sangat koyak. Dan wajahnya juga menempel di lantai.
Cara cinta dalam hidupnya diperlakukan, membuat hati Adam begitu murka dan terluka. Adam berjalan keluar ruangan itu dengan hati yang penuh amarah, mendekati para pria yang sudah menyakiti istri yang amat dicintainya itu. Adam lalu menendang dengan keras seorang pria hingga tersungkur dan memukuli satu orang lainnya dengan membabi buta. Adan benar-benar ingin semua orang yang sudah membuat cintanya terluka itu meregang nyawa ditangannya sendiri.
Claudia membuka mata, dan menyadari kehadiran suaminya. Senyum di bibirnya mengembang dengan lemas. Namun, matanya sontak langsung membelalak. Ia tak pernah melihat suaminya semarah itu. Suaminya tengah menghajar dua orang pria sekaligus. Tapi, sedikitpun Adam tak mengotori pakaian yang ia kenakan. Justru kedua lawannya sudah terkapar dengan mulut yang mengeluarkan darah.
Adam memutar tangan pria itu hingga terdengar patah.
Claudia berusaha bangun, namun ia tak bisa melakukannya karena tangannya yang terikat begitu kencang. Suara gerakan yang ia buat, sontak mengundang perhatian Adam. Pria itu langsung berlari mendekati istrinya.
"Sayang, kau sudah bangun. Tunggu sebentar." Dengan cepat Adam membuka ikatan ditangan Claudia dan membuka sumbatan kain yang terdapat di mulutnya.
Setelah kain itu terlepas dari mulut Claudia, dia langsung berteriak histeris.
__ADS_1
"Adam...!!" Teriaknya namun terdengar begitu lemah.
Adam langsung memeluknya dengan sangat erat. Claudia dapat merasakan bahwa tubuh Adam bergetar hebat. Setelah beberapa saat, keduanya melepaskan pelukan mereka. Adam lalu menggendong tubuh Claudia membawanya keluar dari ruangan itu.
Di luar ruangan itu, orang-orang Adam sudah menangkap empat orang lainnya dan mengikat mereka semua dengan tali termasuk juga dengan pemilik toko di sudut ruangan.
Adam menurunkan Claudia dengan perlahan. Kemudian mengambil sapu tangan dari dalam sakunya dan mengusap wajah Claudia yang berdebu dan juga air matanya. Adam melakukannya dengan hati-hati agar tidak mengenai luka yang terdapat di kening Claudia.
Adam lalu mengusap rambut Claudia.
"Apa yang terjadi?" Tanya Adam dengan lembut.
Claudia tampak terkejut.
'Jadi, dia belum juga tahu apa yang terjadi. Meski sudah menghajar para pria tadi dengan membabi buta hanya demi diriku?' tanya Claudia dalam hati.
Dia lalu mulai menjelaskan semuanya.
"Aku melewati toko ini dan sebuah gelang mencuri perhatianku. Jadi aku berniat membelinya dengan harga seratus juta. Tapi aku akhirnya menyadari bahwa barang yang ada disini semuanya imitasi. Jadi aku menolak untuk membelinya dan memasukkan kembali kartu kredit ku ke dalam tas. Mereka mungkin melihat kartu kredit platinum yang aku punya. Saat aku berjalan keluar toko, mereka menghadang ku. Pria botak gendut itu mengatakan, bahwa aku harus membelinya hanya karena aku melihatnya. Mereka mulai memaksa aku untuk membayar. Dan tentu saja aku.menolak, karena itu mereka mulai menghajar ku. Tentu saja aku melawan balik, tapi karena aku kalah jumlah, mereka berhasil mengambil kartu kredit ku dan meminta pin nya. Tapi tidak aku berikan. Lalu mereka mulai memukuliku. Pria disana bahkan mencoba untuk..." Ucapan Claudia terhenti, ia terdengar seperti ketakutan.
Adam memegangi tangannya dengan sangat erat.
"Dia mencoba melakukan apa?" Tanya Adam dengan suara yang begitu dingin.
Claudia menundukkan kepalanya dan menelan ludah sebelum menjawab.
"Dia.... Dia... Dia mencoba untuk memperkaos aku." Ucap Claudia lalu menutup matanya.
Dan seketika membukanya karena mendengar suara yang begitu keras. Suara sebuah tembakan.
Mata Claudia membelalak, seluruh tubuhnya bergetar. Ia menangis ketakutan.
Adam mengambil senjata api dari seorang bodyguardnya dan mulai menembakkannya pada pria yang ditunjukkan oleh Claudia. Adam terus saja menembaki pria yang sebenarnya sudah tak bernapas itu sampai peluru yang ada di dalam senjata apinya habis.
Claudia tampak begitu ketakutan. Dia tahu bahwa Adam begitu kuat dan berkuasa, tapi semua ini terlalu berlebihan.
"Dam, tenanglah. Claudia membutuhkanmu. Biar kami yang mengurus semuanya sekarang. Aku janji mereka semua akan mendapat ganjarannya. Tapi, kau bawalah dia keluar lebih dulu." Ucap Naomi.
Mendengar nama Claudia disebut, Adam pun menjadi luluh dan melihat ke arah Claudia.
"HANCURKAN SELURUH TOKO INI. SEKARANG JUGA, DIHADAPAN KU." Teriak Adam penuh emosi.
Semua orang Adam yang ada di tempat itu mulai mengikuti perintahnya dan menghancurkan toko itu seperti sebuah buldozer.
Claudia menutup telinganya karena mendengar semua suara keras itu. Ia semakin ketakutan.
Bersambung ...
__ADS_1