
Keesokan harinya claudia tidak bangun hingga pukul 12.00 siang. Dia akhirnya bangun, saat ia menyadari bahwa suaminya sudah tidak ada di rumah dan meninggalkannya seorang diri, Claudia kembali menjadi dirinya yang dulu menjadi gadis berandalan. Dia lalu menelpon temannya.
Adam sendiri telah meninggalkan sebuah kartu kredit tanpa batas untuk Claudia gunakan bersenang-senang sampai dirinya kembali lagi.
"Selamat pagi Nona Muda, Anda tampak menggemaskan dengan pipi yang tampak begitu putih dan empuk. Jono sudah menyiapkan sarapan Anda." Ucap Nila seraya menyiapkan makanan untuk Claudia di dalam piring.
"Claudia melirik kearah makanan dan kearah kursi kosong di mana pria itu selalu duduk. Kemudian secara tiba-tiba ia mengambil sebuah piring keramik dan melempar nya dengan keras ke lantai sehingga tidak berbentuk lagi. Para pelayan hanya bisa diam menatap kejadian yang terjadi secara tiba-tiba di hadapan mereka itu.
Setelah melakukan itu semua, Claudia berjalan keluar rumah dengan wajah yang tampak dingin dan tanpa sarapan.
"Berapa banyak?" Tanya Adam pada pelayan yang meneleponnya untuk melaporkan segala hal yang dilakukan oleh Claudia.
"Tiga buah piring dan sebuah cangkir kopi favorit Anda dan juga dua mangkok." Kata pelayan itu memberikan informasi kepada Adam.
"Baik, beli lagi yang banyak. Dan pastikan semua benda yang ada disekelilingnya mudah untuk di rusakkan. Dan yaah, buat dia bicara. Bila perlu mengumpat." Titah Adam.
Pelayan yang mendengarkan titah Adam via telepon membelalakkan mata kaget. Dan Naomi yang berdiri disamping Adam hanya bisa menggelengkan kepala bingung.
"Dam, apa kau sudah kehilangan akal sehat mu?" Tanya Naomi yang terlihat tampak bingung dengan apa yang dikatakan Adam kepasa pelayan itu.
"Tidak Omi, akal sehatku sangat normal dan baik-baik saja. Bukankah dia sangat menggemaskan?" Tanya Adam.
"Menggemaskan? Ya Tuhan, Adam Wijaya. Kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang menganggapnya menggemaskan." Balas Naomi.
"Naomi, saat konferensi pers nanti, semuanya akan disiarkan di negara kita juga kan? Pastikan setiap bilboard yang ada di sekitar kampusnya menayangkan berita ini secara langsung." Ucap Adam seraya menyalakan rokoknya.
"Dam, aku merasa bahwa dia akan kembali menjadi gadis berandalan seperti dulu. Kau jangan terlalu menekannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi dunia ini." Suara Naomi seperti memperingatkan Adam.
"Aku bahagia Naomi. Dan kali ini, gadis nakal ini adalah milikku. Gadis nakal ini bukanlah gadis berandalan seperti dulu. Dia adalah gadis nakal ku. Dan aku menyukainya."
Naomi memutar matanya.
"Masalah disini sebenarnya bisa diselesaikan oleh eksekutif perusahaan mu, tapi kau memutuskan untuk datang sendiri. Hanya untuk melihat apakah istrimu itu merindukanmu. Bagaimana ia akan bertindak, dan bereaksi saat kau tidak ada disisinya. Kalian berdua memang sudah gila. Kau bisa memberitahunya tentang keberangkatan mu. Kau juga bisa memberitahunya bahwa kau akan kembali daam waktu dua hari. Tidak, kau tidak melakukannya. Kau membiarkan dia berpikir bahwa kau meninggalkan dia sama seperti dulu. Kau memang aneh."
Adam tertawa setelah mendengar ceramah panjang Naomi.
"Tidakkah kau berpikir bahwa dia memang terpengaruh karena ketidakhadiran ku? Apakah kau melihat status apa yang dia posting semalam? Ya Tuhan, Naomi. Aku sangat bahagia. Aku sangat mencintainya."
"Mencintainya? Tidak, tidak, tidak Adam. Kau terobsesi padanya. Ah, aku keluar dari sini." Ucap Naomi dengan menggelengkan kepalanya.
Claudia tengah berbelanja dengan sahabatnya dan di Starlight mall dan bersenang-senang disana. Dia membolos dari kampus hari ini. Ekspresi yang ditunjukkannya tampak seperti biasa. Tersenyum, tertawa terbahak dan bahagia. Tapi Endra, Rose, Diana dan Bam tahu bahwa itu hanyalah palsu.
Claudia bukanlah orang yang gila belanja. Tapi hari ini, dia belanja layaknya gadis gila shopping. Semua laporan pembayaran dari kartu kredit yang dia gunakan masuk ke dalam ponsel Adam secara beruntun.
Adam tersenyum sangat puas melihat semua laporan itu.
Claudia dan teman-temannya sudah selesai makan siang di lantai paling atas. Sekarang mereka semua tengah berjalan menuju club, tujuan mereka selanjutnya. Claudia keluar dari dalam lift. Dan beberapa suara teriakan mengundang perhatiannya. Beberapa wanita berteriak kegirangan.
Claudia memutar mata malas. Dan yang terjadi berikutnya adalah saat dimana Endra memintanya untuk melihat ke arah bilboard. Dan Claudia melakukannya. Saat itulah dia menyadari alasan para wanita itu berteriak histeris.
Seorang pria paling berpengaruh di negara ini tengah tampil di layar besar itu dalam konferensi pers dengan seorang wanita yang berdiri disisinya. Pria itu tampak seperti biasa, dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tapi wanita disampingnya tampak tersenyum.
Claudia sesaat tetap menatap ke arah layar besar itu. Kemudian dia berjalan keluar dari dalam mall dengan penuh kemarahan.
'Jadi ini adalah keadaan darurat di Singapura itu? Wow, Adam Wijaya. Kau benar-benar penggila wanita.' pikir Claudia.
Claudia kembali lagi ke dalam mall. Kali ini dia berdiri di hadapan bilboard berukuran besar itu lalu mengambil sebuah tongkat panjang besi dan langsung menghantam ke arah bilboard tepat di wajah Adam yang tampil disana. Teman-temannya mulai terlihat sangat khawatir. Endra dan yang lainnya tak ada yang bicara. Mereka berpikir akan terkena masalah karena datang kemari bersama Adam. Dan sekarang, otoritas mall akan membuat mereka membayar semuanya. Diana mulai terlihat menangis.
Manager mall berlari turun dengan cepat dari lantai atas dan mendekati Claudia dan hampir saja meneriakinya. Tapi Direktur mall dengan cepat menghalanginya dan memaksanya untuk menjauh dari Claudia.
Dia tidak mengatakan apapun pada Claudia. Tidak juga membiarkan orang lain berkata apapun. Direktur mall itu sendiri tampak ketakutan, ia sudah mengetahui bahwa Claudia bukan saja pemilik dari semua tempat ini melainkan juga istri dari Tuan Adam Wijaya.
Teman-teman Claudia hanya bisa diam. Mereka dapat merasakan ada hal aneh yang terjadi, mereka tahu ada yang salah dari semua ini.
"Tuan, Nona baru saja merusak layar besar menggunakan tongkat besi. Tapi jangan khawatir, saya tidak membiarkan siapapun untuk mengatakan apapun pada Nona." Lapor Direktur mall.
"Wow, dia memang menakutkan, memang sudah seperti gadisku. Dan bagaimanapun dia adalah istriku. Ratu dari negara ini. Jangan risau, pastikan saja dia tidak terluka sedikitpun." Balas Adam.
"Tunjukan lagi padaku sayang. Tunjukan seberapa besar kau merindukan aku." Ucap Adam tersenyum penuh kemenangan.
Setelah beberapa saat keluar dari mall. Claudia dan teman-temannya pergi ke club. Club yang seperti biasanya ramai mereka kunjungi. Claudia dan teman-temannya duduk di lantai 2 tengah minum-minum dan menikmati camilan mereka saat tiba-tiba seseorang muncul.
"Hei sayang. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan." Claudia mendengar sebuah suara yang berasal dari arah belakangnya.
__ADS_1
Claudia bahkan tak berbalik karena sudah mengetahui siapa pemilik suara itu. Dia melanjutkan memakan camilan yang ada dihadapannya. Pria yang bicara tadi berjalan kehadapan nya.
"Wah, gadisku benar-benar cuek sekarang. Kau benar-benar sudah tumbuh lebih dewasa sekarang sayang."
Endra dan Rose tampak bingung, begitu juga dengan yang lainnya. Endra menatap pria itu. Entah bagaimana dia bisa menebak siapa pria itu. Dia sebenarnya belum pernah bertemu dengan pria itu secara langsung. Tapi Claudia pernah memperlihatkan foto dari bajingan itu padanya. Jadi Endra dapat mengenali wajahnya.
"Dengar Calvin, aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik sekarang. Jadi pergilah. Orang terakhir yang ingin aku lihat saat ini adalah mantanku..." Ucap Claudia dengan menutup matanya.
Endra dan yang lainnya mulai khawatir sekarang. Dia berpindah posisi duduk ke samping Claudia dan memegangi pundaknya.
"Benarkah? Sayangku sekarang sudah belajar untuk bisa marah dan bertingkah kasar. Perkembangan yang bagus. Jangan khawatir sayang, aku juga lebih mencintai sisi dirimu yang seperti ini. Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan menemuinya suatu hari nanti. Tapi lihatlah, takdir membuat kita bertemu disini. Sangat tidak disangka. Bahkan takdir ingin mempertemukan kita." Ucap Calvin terus berbicara.
Claudia berdiri tegak dan langsung meninju tepat di wajah Calvin. Pria itu terhuyung. Butuh beberapa menit hingga ia bisa merasakan pipi sebelah kirinya yang amat sakit dan sedikit membengkak. Dia menatap ke arah gadis cantik dan menggemaskan yang pernah dia pacari dulu. Dia tidak tahu kenapa gadis itu bisa memiliki tenaga sekuat itu. Caranya berpakaian, sifatnya, semuanya, hingga bagaimana ia bicara, semuanya berubah.
Claudia menarik kerah pakaian yang digunakan Calvin.
"Dengarkan aku. Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya bahwa aku sama sekali tidak tertarik padamu yang kembali ke negara ini atau mimpimu yang ingin kita kembali berhubungan. Aku mengatakan padamu untuk tidak mencoba bertemu denganku. Tapi kau melakukannya juga di hari yang buruk seperti ini. Jangan buat aku melampiaskan semua rasa frustrasi ku padamu. Dan apa yang kau pikirkan? Aku belum bisa move on darimu? Apa kau berpikir bahwa aku menghabiskan waktuku untuk menangisi mu setiap malam? Kau masih saja terlalu percaya diri. Biar aku beritahu padamu, aku bukan hanya sudah move on darimu. Tapi, aku juga sidah menikah. Sekarang kau sudah mengetahui intinya. Menjauh lah dariku." Teriak Claudia.
Endra lalu dengan cepat menarik Claudia agar melepaskan Calvin lalu membawanya pergi, keluar dari dalam club.
Claudia terus melampiaskan amarahnya di kursi belakang mobil. Sementara Endra terus berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, katakan padaku ada apa sebenarnya?" Tanya Endra.
Claudia tidak mengatakan apapun, dia tetap saja memukuli jok mobil.
"Di, ayolah. Tenangkan dirimu." Ucap Endra lagi.
"Aku ingin mabuk berat. Aku kehilangan perasaanku, dan tidak dapat merasakan apapun. Aku benci pada perasaan aneh yang ada di dalam hatiku. Aku tidak mau merasakan perasaan ini."
"Apa yang kau rasakan? Perasaan apa itu? Kenapa perasaan itu sangat mengganggumu?" Tanya Endra lagi.
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu." Teriak Claudia. "Aku seperti mati rasa, aku sudah dibodohi lagi. Aku kembali menjadi orang bodoh sama seperti sebelumnya."
Claudia terus mengatakan hal yang tidak masuk akal dan tidak dimengerti oleh Endra. Pikiran Claudia benar-benar kacau.
"Endra, hubungi semua orang. Mari berpesta malam ini, di rumah ku. Aku ingin mabuk berat bahkan bila perlu sampai aku tidak bisa bangun sampai dua hari kedepan." Ucap Claudia.
*****
"Tuan, Nona menyebut pria itu sebagai mantan kekasih."
"Mantan? Baiklah tetap awasi pria itu."
"Baik Tuan."
Adam memutuskan panggilan lalu menyalakan rokoknya.
"Ayo pulang Naomi." Ucapnya seraya melihat gambar seorang pria di layar laptopnya.
***********
Sudah dua hari lamanya....
Claudia tak pernah pulang ke rumah Adam, tidak juga menelepon siapapun. Bahkan dia tidak menerima panggilan dari Naomi. Dia tidak pergi ke kampus, dia juga selalu bangun pukul 12.00 siang setiap hari dan hanya untuk pergi bersama teman-temannya. Dia lalu akan kembali ke rumah saat tengah malam. Itu juga bersama Endra, mabuk dan menghabiskan waktu mereka bersenang-senang.
Beberapa orang merasa bahwa Claudia bersikap berlebihan. Tapi sebenarnya tidak. Dia tengah merasakan perasaan yang campur aduk di dalam dirinya. Masalah kepercayaannya terhadap seseorang, ketakutannya terhadap sebuah komitmen, penyesalannya karena sudah mengatakan hal itu kepada Adam. Perasaan cemburu saat melihat suaminya bersama wanita lain. Merasa malu karena dikhianati. Semuanya perasaan itu bercampur aduk dalam pikirannya.
Dia tidak dapat mengendalikan semua emosinya itu. Dan sama seperti manusia yang sedang berada dalam fase menuju kedewasaan, karena tak sanggup mengatasi semuanya, ia melampiaskan semuanya dengan minum alkohol.
*************
Adam turun dari atas pesawat lalu bergegas menuju rumah Claudia tepat pukul 01.00 malam. Setelah tiba disana, ia langsung keluar dari dalam mobil, melepaskan mantel yang ia kenakan dan melemparnya ke jok belakang. Lalu masuk ke dalam rumah.
Hal pertama yang ia lihat saat memasuki ruang tamu membuatnya menggelengkan kepala. Beberapa bantal sofa yang tergeletak di lantai. Tidak ada satu benda pun yang berada tepat di posisinya. Ada banyak botol bir dan wine yang menggelinding di lantai dan enam anak muda yang tidur di sembarang tempat seperti orang mati.
Adam mengedarkan pandangannya hanya untuk mencari dimana keberadaan gadisnya itu. Dan disana lah dia, tengah berbaring di sofa, berpelukan dengan Endra.
Darah Adam terasa mendidih. Dia berteriak memanggil semua pelayan yang langsung berlari keluar berkumpul di ruang tamu. Dan seperti yang diperintahkan Adam, para pelayan kembali dengan membawa ember berisi air lalu menyiramnya ke arah tubuh yang tampak seperti mayat itu.
Setelah merasakan air dingin mengguyur tubuh mereka, keempat mayat itu kini hidup kembali. Mereka semua langsung menatap ke arah Adam yang berdiri dengan tatapan mematikan. Meski dengan kepala yang masih terasa pusing, mereka semua dengan cepat mencoba untuk berdiri tegak.
Adam kemudian beralih menuju sofa dan menarik tubuh sang istri agar terlepas dari pelukan Endra. Dengan kasar ia memisahkan pelukan keduanya. Dan pada saat itu, Endra akhirnya tersadar lalu langsung bangun dan berdiri tegak. Adam lalu menggendong Claudia layaknya seekor koala dan berbalik tidak sebelum ia menatap semua orang yang mabuk itu dengan tatapan mematikan.
__ADS_1
"Jack, kunci pintu setelah aku keluar, dan jangan berani-berani untuk membukanya sampai semua orang bodoh ini membersihkan seluruh rumah ini." Perintah Adam sebelum ia keluar dari dalam rumah.
Jack mengikuti perintah yang diberikan Adam dengan segera. Dari kelima anak muda yang mabuk itu, hanya Endra yang mengerti akan semua situasi yang terjadi. Ia lalu berinisiatif untuk menjelaskan semuanya pada teman-temannya sebelum mereka semua mati ketakutan.
*************
Adam masuk ke dalam mobil dengan sang istri yang terus berada dalam pelukannya. Dia lalu meminta supir untuk menyalakan mesin mobil dan mulai berjalan.
Claudia, yang wajahnya menghadap dada Adam, dapat merasakan dan menghirup aroma maskulin parfum yang dikenakan Adam.
"Endra, kenapa wangi tubuhmu seperti Pria Tua ku?" Ucap Claudia mengigau.
Adam tersenyum saat mendengar kata 'Pria Tua ku' yang keluar dari mulut Claudia.
"Karena aku memang pria tuamu itu." Bisik Adam lalu mencium bibir Claudia.
"Pria tua? Hah, mana mungkin. Dia pasti tengah berpelukan mesra dengan Tante Nadia itu sekarang. Atau bahkan tidur bersama saat ini." Ucap Claudia.
Adam menghela napas panjang.
"Pria tua mu ini sampai mati hanya mencintaimu. Dan kau malah berpikir bahwa wanita itu bisa berada dalam pelukannya? Kau adalah satu-satunya kesayanganku. Orang-orang di sekelilingku menganggap aku terobsesi padamu. Dan kau malah masih meragukan cintaku."
Claudia terdiam, ia tak menjawab apapun. Atau mungkin saja dia sudah tidak mendengar apapun. Dia terlalu sulit untuk mengerti apa yang tengah terjadi saat ini.
Adam terus mencium wajah dan bibir sang istri. Tidak perduli apakah dia tidur ataukah bangun. Dia sangat merindukannya selama dua hari ini. Gadis nakal yang penuh emosional ini, kini telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Adam sangat mencintainya. Dia memang sangat terobsesi dengan gadis ini sekarang. Dan dia ingin gadis ini ada dalam hidupnya, dalam suka ataupun duka. Seseorang yang berani menatapnya dengan tujuan ingin merebutnya dari hidup Adam, akan dihancurkan oleh Adam sampai ke akar-akarnya.
Adam menempatkan tubuh Claudia dengan pelan ke atas tempat tidur, dan dengan dirinya yang berbaring disamping Claudia. Adam tidak peduli jika bau gadis itu seperti botol alkohol. Dia tidak perduli jika gadis itu akan beraksi kasar saat dia bangun besok pagi. Adam hanya ingin tidur, dengan gadis itu berada dalam pelukannya.
************
Hari berikutnya Claudia bangun tidur dengan kepala yang pusing dan menyadari bahwa dirinya sedang tidak berada di dalam kamar di rumahnya. Dia lalu menyadari dirinya berada dimana saat melihat sosok seorang pria yang berdiri di dekat jendela dengan menerima telepon. Wajah Claudia berubah merah karena marah. Ia berusaha untuk bangun namun Adam lebih dulu menyadari dirinya. Kemudian Adam dengan cepat memutuskan panggilan teleponnya.
"Selamat pagi sayang." Ucap Adam.
Claudia menatap Adam dengan tajam yang sangat pingin meninju pipi Adam dengan tangannya. Tapi Claudia memilih diam. Adam lalu duduk di sampingnya.
"Bersiaplah sayang. Kau harus pergi ke kampus denganku. Iya, kau memang sudah terlambat, tapi aku bisa mengatur semuanya."
Claudia tidak berpindah dari posisinya.
"Aku tidak mau pergi kemanapun." Ucapnya.
"Baiklah. Kita bisa menghabiskan waktu dengan mengejar ketertinggalan pelajaran mu di rumah hari ini dan besok kau bisa kembali lagi ke kampus." Ucap Adam dengan tenang.
Claudia mengambil bantal dan melemparnya ke lantai dengan marah. Dia tahu dia tidak bisa melemparnya ke arah Adam. Ketika dia tahu bahwa Adam masih duduk di dekatnya dengan arah yang berbeda, dia mulai mengambil berbagai benda dan melemparnya kembali ke lantai.
Mulai dari vas dan barang-barang yang lainnya, Claudia terus aja melempar nya dengan keras ke lantai. Adam hanya duduk melihatnya tanpa berkomentar.
Saat sudah tidak ada benda yang bisa dilempar lagi claudia bangun lalu hendak keluar dari kamar. Namun Adam dengan cepat menghalangi nya dan memeluk Claudia dari belakang. Tubuh Claudia masih bergetar karena marah dia benar-benar dikuasai amarah saat ini.
"Tenanglah sayang, tenanglah. Aku sudah ada di sini sekarang. Lihat. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian seperti dulu lagi. Aku tidak akan pernah bisa melakukan itu. Percayalah padaku. Semuanya sangat mendadak dan sangat penting. Aku harus menghadiri acara konferensi pers itu." Ujar Adam berbisik di telinga Claudia.
Setelah beberapa saat Adam dapat mendengar suara helaan napas yang keluar dari mulut Claudia lalu ia merasakan bahwa tubuh Claudia mulai bergetar. Dia lalu memutar tubuh Claudia dan memeluknya dengan erat lalu Claudia mulai menangis seperti anak kecil. Ia membalas pelukan Adam dengan tangan yang melingkar di leher Adam.
"Aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kau sendiri yang meminta aku untuk pergi. Bagaimana mungkin aku melanggar janji yang aku buat sendiri. Aku hanya ingin mengetahui satu hal sayang. Apakah kau merindukan aku?" Tanya Adam dan berharap mendapat jawaban seperti yang dia harapkan.
Gadis itu tidak menjawab tapi semakin mengeratkan pelukannya pada Adam kemudian suara gadis itu terdengar berbisik dengan pelan.
"Aku merindukanmu."
Adam akhirnya bisa bernapas lega. Ia kemudian tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada Claudia.
"Ayo bersiaplah ada banyak hal yang perlu kau pelajari untuk mengejar ketertinggalan mu." Ucap Adam lalu melepaskan pelukannya pada Claudia kemudian mengusap air mata yang ada di pipi Claudia yang memerah.
Claudia menatap Adam lalu kemudian menundukkan kepalanya lagi.
"Aku merusak banyak barang di rumah ini."
"Memangnya kenapa kalau kau merusak barang, tidak masalah. Ini adalah rumahmu. Kau bosnya di sini. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk merusak semuanya dan apapun itu." Ucap Adam.
Setelah gadis itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Adam tersenyum. Siapa yang menyangka bahwa itu adalah gadis yang sama. Merusak dan melempar benda, memukul orang dalam dua hari. Siapa yang bisa percaya Claudia yang begitu terkenal dengan sikap tempramental nya malah bisa menangis seperti anak kecil dalam pelukan suaminya.
Bersambung.....
__ADS_1