90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
37. Syarat


__ADS_3

Momen dimana Adam mengatakan kepada sekretarisnya agar tidak mengganggunya, Claudia tengah berada di hadapan seorang resepsionis yang pernah ia temui beberapa waktu yang lalu. Wanita itu menyapa Claudia dengan penuh sopan. Claudia penasaran, kenapa wanita itu tampak begitu baik dan tampak takut padanya.


Wanita itu bahkan langsung mengantar Claudia menuju lantai paling atas menuju ruangan Adam. Namun ia dengan cepat pergi sebelum mengantar Claudia sampai ke tujuannya. Claudia lalu hendak berjalan sendiri menuju ruangan Adam, tapi Hilda, sekretaris Adam dengan cepat menghentikannya.


"Maaf Nona, apa Anda sudah membuat janji?" Tanya Hilda.


Claudia memutar mata malas menatap ke arah wanita didepannya.


"Apa kau tahu siapa aku? Berhentilah menghalangi langkahku, aku sudah bad mood sejak tadi." Balas Claudia seraya hendak berjalan kembali.


"Maaf Nona, tapi Boss sudah meminta kepadaku untuk tidak membiarkan siapapun menganggu. Bos sedang sibuk. Anda bisa menunggu disini." Ucap Hilda menghentikan langkah Claudia.


'Siapa gadis ini? Kenapa dia bertindak begitu arogan dan marah-marah. Dia pikir dia itu siapa.' pikir Hilda saat melihat Claudia menggerutu.


Claudia menarik napas dalam.


"Panggil dia, dan katakan namaku. Aku Claudia Setyawan." Ucap Claudia.


'Seperti dia akan menghiraukan mu saja.' ucap Hida dalam hati kemudian menelepon Adam lewat ponselnya.


"Tuan, ada seorang gadis bernama Claudia Setyawan. Dia ingin..." Hilda tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena sambungan telepon terputus.


Hilda terbahak, sebelum menatap Claudia. Claudia menyadari hal itu.


"Tuan memutuskan panggilannya."


'Sekarang kau tahu siapa dirimu sebenarnya.' ucap Hilda dalam hati.


Claudia merasa marah dan sangat kesal.


"Baiklah, berikan ini kepadanya saat dia punya waktu luang." Ucap Claudia seraya berbalik badan dan hendak pergi.


Pintu terbuka...


"Di... Berhenti." Teriak seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Claudia.


Claudia memutar mata malas lalu kembali berbalik dan terkejut menatap suaminya yang terlihat begitu berbeda berdiri di depan pintu. Jas yang dia gunakan tidak ada, dan ia hanya tampak mengenakan kemeja yang beberapa kancingnya juga sudah terbuka. Rambut yang berantakan, mata yang memerah, wajah yang berkeringat dan....


Seorang gadis duduk di depan meja kerja Adam, tampak sibuk menulis sesuatu di sebuah buku. Dengan beberapa lembar dokumen yang ada di hadapannya. Megan tengah duduk di kursi kerja Adam.


Adam menyadari kemana arah pandangan Claudia, dan dia berusaha tetap tenang.


"Sayang, kau mau kemana? Ayo masuk ke dalam." Adam berbicara dengan suara yang begitu lembut.


Bagi Claudia, cara bicara nya yang seperti itu sangat normal, tapi bagi orang lain mereka terkejut mendengar nada bicara Adam yang seperti itu. Sekretaris dan bahkan Megan juga, saat itulah dia menyadari lewat pintu bahwa diluar ada Claudia.


'Jadi, inilah kesibukan yang dia katakan. Wow, hebat sekali. Sungguh sangat hebat.' pikir Claudia kesal.


Claudia menampilkan senyumnya yang palsu dihadapan sang suami.


"Tidak Tuan Adam, aku kemari hanya untuk mengembalikan paper bag itu kepadamu. Itu saja, dan aku tidak bermaksud untuk mengganggumu. Maafkan aku." Ucap Claudia dan hendak berbalik.


Megan berlari keluar dan langsung mengambil paper bag itu dari tangan Hilda.


"Waaah ini untukku ya? Om, baru kemarin Om memberitahuku tentang merk baru ini, dan Om sudah membelikannya untukku. Terima kasih banyak Om." Ucap Megan dengan melompat girang.


Mata Adam membelalak.


"Megan, itu bukan..."


"Iya, itu memang untukmu Megan. Om mu secara khusus pergi ke toko dan membelikannya untukmu." Ucap Claudia seraya tersenyum picik ke arah Adam.


Adam juga memandang ke arah Claudia dengan tatapan yang tidak percaya. Ironisnya, Claudia tidak menyadari bahwa tatapan Adam itu menyiratkan kesedihan.


Megan kembali mengucapkan terima kasih kepada mereka. Kemudian berlari masuk ke dalam ruangan Adam dan mulai sibuk membuka bingkisan itu. Sementara Claudia langsung berbalik dan hendak masuk ke dalam lift.

__ADS_1


"Di tolong, masuk ke dalam ruangan ku. Aku mohon padamu...."


Pria yang memiliki kekuasaan itu tengah meminta padanya. Sekretaris Adam tampak membelalak kaget. Cara Tuan Adam bicara padanya, memohon padanya, adalah bukti bahwa gadis itu adalah seseorang yang penting atau dekat dengannya. Siapa lagi yang bisa bicara dengannya seperti itu, selain gadis itu.


Claudia tidak berhenti, Adam dengan cepat mengejarnya sebelum Claudia berhasil masuk ke dalam lift. Adam menarik tangan Claudia, lalu menggendongnya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Lepaskan aku. Tinggalkan aku." Teriak Claudia, tapi tidak ada yang mendengarkan.


"Turunkan aku, dasar kau pria tua. Aku akan membunuhmu."


Adam membawa Claudia masuk ke dalam ruangannya.


"Megan tutup pintunya." Titah Adam tanpa melihat kearah Megan.


Claudia menyadari bahwa Adam tengah membawanya melewati suatu lorong yang mengarah ke sebuah ruangan. Pintu terbuka lalu dengan cepat tertutup begitu saja dengan menggunakan kaki Adam. Detik berikutnya tubuh Claudia dijatuhkan Adam di sebuah tempat tidur kecil.


Claudia lalu bangun dan berusaha untuk duduk. Kemudian melihat sekeliling ruangan. Itu adalah sebuah ruangan kecil yang terdapat tempat tidur kecil, sebuah lemari pendingin kecil, sebuah meja kecil dan televisi, itu saja.


"Apa-apaan ini? Kenapa kau membawaku kemari? Kau selingkuh. Aku ingin bercerai sekarang juga. Aku tidak ingin bersamamu meski hanya semenit saja." Teriak Claudia.


Adam menarik napas panjang.


"Selingkuh? Kapan aku selingkuh darimu?" Tanya Adam.


"Lihat dirimu sendiri. Apa kau pikir aku ini orang yang begitu naif. Siapapun bisa mengetahui apa yang kau lakukan disini, bersama gadis itu di dalam ruangan yang terkunci. Dan kenapa kau meminta peliharaan mu untuk tidak membiarkan orang lain untuk mengganggumu."


Adam merasa tertekan.


"Di, tidak semua titik bisa dihubungkan begitu saja. Aku tengah lelah, kepanasan dan...."


Claudia menghalau pembicaraan Adam dengan berdiri dari tempat tidur. Dia mencoba keluar lewat pintu.


"Aku tidak mau mendengar omong kosong darimu." Ucap Claudia hendak membuka pintu, namun tak dapat ia lakukan.


Adam dengan cepat menghalanginya keluar lalu menariknya kembali dan menjatuhkannya lagi di tempat tidur dan menindih tubuhnya.


Adam lalu mencium bibir Claudia berusaha membuatnya untuk diam.


Adam menemukan kedamaian. Kedamaian yang ia rasakan hilang sejak semalam. Kini ia merasa lebih tenang. Tapi tidak dengan Claudia. Dia merasa kacau. Dia terus saja mencoba untuk melepaskan diri dengan mendorong tubuh Adam tapi tetap tidak bisa. Adam menggigit bibirnya. Dia begitu agresif. Claudia berpikir bahwa Adam agresif karena sedang marah. Tapi faktanya, Adam tengah frustrasi. Dia sangat merindukan Claudia, terutama bibirnya. Rasa darah di mulutnya membuat Adam menghentikan ciumannya yang sudah berlangsung tiga menit itu.


Bibir Claudia berdarah, air matanya mengalir seolah tak bisa berhenti. Wajah, leher, dan telinganya memerah karena kekurangan oksigen. Dia tak dapat bicara, dan Adam mengambil kesempatan itu.


"Claudia Wijaya, aku tidak bisa tidur semalam karena kau tidak ada bersamaku. Kemudian aku harus pergi ke kantor pagi sekali. Aku begitu kelelahan dan kepanasan setelah meeting. Megan diantar oleh sopirnya kemari, dia hendak menunggu William. Karena mereka berdua akan pergi berbelanja. Aku masuk ke ruangan ini setelah meeting untuk beristirahat dan meminta sekretaris ku untuk tidak menggangguku. Aku tengah tidur di ruangan ini, sementara dia tengah sibuk dengan urusannya di ruangan sebelah. Kami berdua tidak melakukan apapun seperti yang kau pikirkan." Adam berusaha menjelaskan semuanya.


Claudia tidak berbicara. Ia menangis sejadi-jadinya sekarang. Ia terisak seperti anak kecil. Dia tampak begitu menggemaskan dengan hidungnya yang memerah.


"Jika kau masih saja ragu, ayo kita pergi ke ruang keamanan. Ada CCTV yang terpasang di ruangan ku. Ayo pergi, kau bisa melihat dengan jelas dimana dia berada dan dimana aku berada sejak tadi. Ayo pergi." Ucap Adam seraya menarik tangan Claudia agar mengikutinya keluar dari dalam ruangan itu.


Claudia tidak bergerak sama sekali, ia bahkan tidak berusaha untuk duduk. Ia masih berbaring di temat tidur, menangis dan mengusap air matanya dengan lengannya.


Adam menghela napas. Adam kembali berbaring di tempat tidur dan menempatkan wajahnya di leher Claudia dan menciumnya.


"Tenanglah, kenapa kau mengembalikan parfum itu?" Ucap Adam.


Kali ini, Claudia kembali bicara.


"Aku tidak suka hadiah yang mahal." Balas Claudia kesal dengan masih menangis.


"Tapi itu bukanlah sebuah hadiah yang mahal. Aku mengirimkannya padamu sebagai suatu percobaan."


Claudia tampak bingung.


"Aku baru saja meluncurkan sebuah produk kosmetik baru dengan merk menggunakan namamu, D'care. D, untuk Di, Claudia ku." Adam menjelaskan senuanya tentang produk baru itu dan kenapa dia mengirimnya kepada Claudia.


Claudia terkejut.

__ADS_1


"Aku ingin memberitahu semua orang untuk siapa D'care ini aku persembahkan, tapi kau tidak akan setuju dan menyukainya. Jadi aku tetap merahasiakan semuanya." Lanjut Adam.


Claudia tetap terdiam, dan dia sudah berhenti menangis tapi, suaranya masih tersedu. Adam terus memandangnya, sementara Claudia masih sibuk memikirkan sesuatu.


"Aku sudah terlambat pergi ke kampus, lepaskan aku." Ucap Claudia.


"Aku akan menjemputmu sore nanti, oke." Balas Adam.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa. Diana akan membawaku ke tempatnya. Aku akan tidur di asramanya malam nanti." Ucap Claudia.


Adam kembali mencium leher Claudia.


"Kau tidak boleh tidur di asrama, aku tidak bisa tidur tanpa kau di sisiku."


"Memangnya aku perduli." Balas Claudia memutar mata malas.


"Kenapa kau melakukan semua ini cintaku? Tolong, aku mati tanpamu. Ini sudah dua malam. Tolong, hentikan hukuman mu ini." Pinta Adam seperti orang normal lainnya, tidak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah Adam Wijaya.


"Baiklah, aku punya tiga syarat."


Adam menaikkan alisnya, "apa itu?"


"Pertama, bawakan aku parfum itu kembali darinya."


"Sayang, kau sendiri yang mengatakan padanya bahwa hadiah itu untuknya. Lalu bagaimana aku bisa mengambilnya lagi." Ucap Adam. "Aku akan memberikan padamu yang lain saja."


"Aku hanya mau yang itu saja, tidak mau yang lain. Tapi aku tidak menginginkan yang sudah dibuka dan dan dicobanya tadi. Parfum yang berwarna pink itu." Ucap Claudia keras kepala.


"Tapi sayang, cobalah untuk menger..." Adam hendak berbicara tapi...


"Oh, jadi kau tidak bisa memberitahu kepadanya kenyataan yang sebenarnya tentang parfum itu atau membuatnya kecewa. Baiklah, aku mengerti dia adalah Tuan Putri mu." Claudia tampak kesal dan hendak berdiri, mendorong Adam menjauh darinya.


"Dia mungkin Tuan Putri bagi kami semua, tapi bukan untukku saja. Dan kau lah Ratu bagiku. Hanya untukku." Ucap Adam tersenyum. "Baiklah, apa syarat yang selanjutnya."


"Kau tidak boleh berduaan dengannya lebih dari 5 menit. Tidak! Sebenarnya 5 menit terlalu lama bagi pria tua sepertimu. Bagaimana jika kau bisa tergoda di tempat tidur dengannya. Satu menit, yaah kau tidak boleh berduaan dengannya lebih dari satu menit." Ucap Claudia.


Tapi bukannya merespon ucapan Claudia, Adam justru kembali mencium bibir Claudia, dan kali ini jauh lebih agresif. Tangannya mulai membuka kemeja yang dikenakan Claudia.


"Mmmmmm..... Mmmm..." Claudia mengerang dibawah tubuh Adam berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa. "Tunggu Dam, kita masih mendiskusikan sesuatu. Dasar pria mesum. Aku belum setuju dengan hal ini." Umpat Claudia.


"Aku sudah setuju dengan syarat pertama dan kedua yang kau katakan. Untuk syarat yang ketiga, kau boleh menyimpannya sendiri. Aku pasti akan setuju." Ujar Adam dengan tangannya yang hampir membuka seluruh kancing kemeja yang dikenakan Claudia.


Adam sudah kembali ke aura dinginnya yang begitu agresif. Claudia tampak putus asa untuk melepaskan dirinya.


"Pertama-tama, biarkan aku menunjukkan kepadamu berapa menit lamanya kau melarang ku untuk berduaan dengan Megan atau yang lainnya." Ucap Adam seraya kembali mencium Claudia agresif.


Tangan Adam kali ini meraba kebagian dalam celana jeans yang dikenakan Claudia.


"Tidak.... Tidak... Tidaaak..... Tunggu dulu, aku tarik ucapan ku kembali Dam... Aanngghh...."


Tangan Adam mulai meraba bagian sensitif Claudia membuat gadis itu merasakan sensasi yang luar biasa. Matanya terasa seperti terbalik.


"Dam, aku..... Mmmmmmpphhhh...." Claudia kembali dicium oleh suaminya itu.


'Ya Tuhan, aku tidak menandatangani surat kontrak untuk hal ini. Apa yang sedang terjadi?'


Claudia tidak dapat berhenti mendesah.


Bersambung.....


Akhirnya.... Khem.... Khemmm....


Apakah mereka akan melakukannya untuk pertama kali? Hehehehe....


Adam adalah pria yang sangat sabar....

__ADS_1


Bagaimana menurut kalian?


__ADS_2